Latest Entries »


_MG_0596

Hai Salam Wildlife Sueto!Kali ini kami Sueto tim mengisi kekosongan jadwal touring dengan ekspedisi touring sehari menjelajah pantai Malang. Tujuan ekspedisi kali ini langsung menuju pantai Jonggring Saloko di Malang.Tahun 2012 menjadi tahun yang penuh berkah bagi kami Sueto tim ekspedisi akhirnya sampai ke pantai Jonggring Saloko ini karena sejak 3kali ekspedisi pada tahun 2008 dan 2010 kami tim ekspedisi selalu gagal menuju pantai Jonggring Saloko ini dikarenakan faktor x yang memang membuat kami tidak bisa sampai disana selain memang jalanan menuju pantai yang memang makadam dan terjal.

Tahun 2008 kami berangkat dari Batu menuju ke pantai Joggring Saloko menaiki motor Bajaj Pulsar200 hanya 2 orang. Saat itu baru pertama kali ekspedisi kami tidak sampai karena salah perhitungan  waktu kami tiba terlalu sore akhirnya kami kembali dan belum tahu kondisi medan jalannya.  Tahun 2010 sueto tim  berangkat dari Sidoarjo dengan 6 orang dengan mengendarai 2 motor bebek dan 1 motor matic karena dari pengalaman pertama membawa motor laki yang bukan tipe offroad di jalanan menuju pantai Jonggring Saloko ini akan sangat merepotkan dan menguras tenaga tetapi saat itu ada kendala di salah satu motor dan cuaca hujan deras waktu itu. Akhirnya kami kembali. Pada tahun 2008 dan 2010 kami melewati rute Malang-Kepanjen-Pagak-Donomulyo

Kemudian Tahun 2012 ini berangkat hari Minggu bulan Mei akhir saya meneruskan ekspedisi ini mengendarai motor HSX125 hanya 2 orang. Kali ini kami berangkat dari Surabaya daerah Perak jam setengah 8 pagi . Menuju Sidoarjo mengambil peralatan perjalanan ditempuh 1 jam setengah jam 9 sampai Sidoarjo karena macet ada car freeday, Sidoarjo Menuju Singosari 1jam sampai jam10 untuk mengambil barang lagi, kemudian langsung lanjut menuju pom bensin kepanjen untuk mengisi bensin melewati rute berbeda karena disinyalir rute ini lebih cepat karena jalannya sudah lumayan bagus yaitu melewati bendungan Karangkates-Sumber Pucung -Donomulyo-Matraman-Jonggring Saloko dari pada rute kami sebelumnya lewat kepanjen menuju selatan. Sampai kampung awal Jonggring Saloko kami membeli bekal minuman untuk bekal melewati trek cadas dan terjal.

Masuk Kampung awal Jonggring Saloko jaraknya sampai pantai adalah 11km hanya 3km ada perkampungan penduduk sisannya hutan dan tebing kami lewati sejauh 8km dan selamanya 1jam setengah. Perjalanan kami lewati dengan penuh tantangan dan ihktiar karena memang jalanan sungguh cadas batu-batu besar kecil, makadam, lumpur kering, dengan lebih banyak tanjakan dari pada turunan padahal kita menuju pantai seharusnya lebih banyak turunan akhirnya selama perjalanan pun kami benar-benar penasaran  dengan trek jalanan disini. plang demi plang pun kami lewati dan kamipun terus semakin penasaran.

Akhirnya setelah melewati plang terkhir bertuliskan 1km kami pun sampai terlihat sebuah pos pintu masuk tak berpenjaga. Kamipun semakin penasaran hebat sekali kalau pantai yang jalannya sangat susah seperti ini masih ditarik tarif masuk….ha2…kami pun tertawa kenapa juga ada yang membangun pos masuk kurang kerjaan ini yang membangun dahulu. Sebelumnya kami sampai di pantai ini sekitar jam1an.

Sampai pantai kami pun disambut indahnya pantai Jonggring Saloko sesuai namanya yang berarti khayangan…AMAZing!!(yah kami berfikir kenapa jalannya semakin menanjak semakin dekat kepantai ya mungkin karena itu pantai ini disebut pantai Jonggring Saloko) memang semuanya terbayar kelelahan kami selama 11km bertempur dengan jalan terjal dan cadas. Saat dipantai kami hanya bertemu beberapa orang pengunjung bisa dihitung dengan jari tidak sampai 10 orang dan hanya ada beberapa rumah penduduk yang tak berpenghuni di pantai.

_MG_0493

Kami langsung cari spot yang bagus untuk tempat foto-foto sambil menyisir pantai dan menikmati perawannya pantai Jonggring Saloko ini, Sambil kami berjalan lanscape pantai ini mirip sebuah pantai yang pernah kami kunjungi juga di Malang yaitu pantai Goa Cina bisa dilihat di link berikut https://suetoclub.wordpress.com/2011/08/05/touring-24-jam-mengitari-pantai-selatan-malang-pantai-goa-cinapart1/ nah agak miripkan tipikal pantainya juga hampir sama karang pasirnya. Kami pun foto2 menikmati pemandangan di pantai ini.

_MG_0506

Oh iya di pantai ini juga ada yang dinamakan watu gebros sebuah bilahan-bilahan karang yang terkena ombak dan menimbulkan bunyi semburan ombak. Cuman waktu itu kami tidak sempat mengabadikannya karena tidak kerasa setelah foto-foto haripun menjelang sore dan kami harusnya mempersiapkan tenaga  untuk menghadapi medan perang 11km lagi. Saya tetapi masih penasaran dengan jalan kecil yang saya lewati masih ingin mengexplore apakah ada jalan lain selain melewati jalan yang kita lewati tadi karena jalan yang kami lewati sangat kecil dan ada truk angkut kayu seandainya terjadi saling bentrok maka saya pikir jalan satu-satunya adalah mundur dan mencari tempat menepi dikarenakan kanan kiri jalan sudah jurang. Tapi karena diburu waktu kamipun berfikir sambil pulang. Treknya juga asyikk untuk orang-orang yang hobi trekking dan camp di pantai.

_MG_0508

Setelah keluar dan sampai kecamatan  Donomulyo kami langsung menuju Perak Surabaya untuk bersiap mengahadapi aktifitas hari senin. Sekian terima kasih, harpan kami para Sueto tim ekspedisi mudah-mudahan kebersihan alam pantai ini tetap terjaga dan jalanannya mungkin agak sedekit diperbaiki paling tidak layak dan tidak menguras tenaga supaya seluruh dunia dan Indonesia tahu bahwa kekayaan alam di Indonesia itu melimpah dan masih banyak tempat-tempat tersembunyi yang indah seperti surga kecil di nusantara ini pantai Jonggring Saloko salah satunya.

_MG_0516

_MG_0518

_MG_0528

_MG_0533

_MG_0549

_MG_0552

_MG_0564

_MG_0575

_MG_0590

_MG_0602

_MG_0606

_MG_0704

_MG_0707

_MG_0728

_MG_0736

Eh iya waktu pulang kok ada tempat yang bagus akhirnya kami coba photo-photo sebentar….

_MG_0740

_MG_0741

_MG_0745

_MG_0749

Berikut videonya :


Kali ini Sueto memposting sebuah perjalanan salah satu anggota Sueto yang ada di Yogyakarta. langsung saja kita simak ceritanya.

Hari Minggu, 3 Juni 2012 kemarin, saya dan beberapa teman saya pergi ke salah satu obyek wisata andalan wonosari, yaitu Air Terjun Sri gethuk. Air terjun ini terletak sekitar 40 KM dari kota Yogyakarta, unutk menuju ke air terjun tersebut kita dapat menempuhnya dengan segala kendaraan, mulai bis hingga motor. Akhirnya berangkatlah kami sekitar pukul 08.30 dari kota Yogyakarta.

Rute menuju wisata Sri Gethuk Waterfall

Detail Rute

Tujuan utama kami memang untuk menuju  Air terjun Srigethuk. Untuk rute dari arah Jogja kita lewat jl yogyakarta-wonosari-patuk, setelah sampai pertigaan Gading belok kanan menuju Playen, dari Playen cari jalur menuju Paliyan dengan jarak kira – kira 1,5 km setelah itu para pengunjung akan menjumpai papan penunjuk arah dan pengunjung tinggal mengikuti arah menuju ke Objek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Air terjun Sri Gethuk yang dahulu oleh penduduk disebut dengan Air Terjun Slempret.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit, kami pun akhirnya sampai di pos masuk objek wisata itu. Secara keseluruhan perjalanan terhitung lancar, walaupun perjalanan masih ada jalan yang tidak layak untuk dilewati dengan sepeda motor.

Di pos ini terdapat info mengenai objek wisata yang ada di daerah tersebut. Ternyata dalam satu kawasan wisata tersebut ada 2 objek yang cukup menarik, yaitu Goa Rancang dan Air terjun Srigethuk. Setelah membayar karcis masuk seharga 3000/orang dan 1000/orang (untuk mobil 7000/orang) kami memutuskan untuk menuju ke gua rancang terlebih dahulu sebelum kita berbasah-basah ria di air terjun srigethuk.

Gua rancang ini pintu masuknya sangat besar, berbentuk seperti kubah dengan tinggi sekitar 10-15 meter di mulut pintu masuk terdapat pohon besar yang sudah tua yang saya lupa namanya hahaha, kata pemandu lokal pohon itu dapat berbuah dan buahnya berasa manis gimana gitu.

Gua Rancang

Akhirnya kami masuk lebih dalam ke gua rancanng. Untuk masuk kita harus melewati sebuah lubang yang cukup kecil. Mungkin untuk ukuran Mas Tomb akan lumayan kesulitan untuk melewati lubang ini. Setelah melewati lubang ini, terdapat ruangan sebesar 4×5 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Konon katanya tempat ini digunakan untuk bertapa nya orang sakti jaman dulu. Di dinding gua ini terdapat semacam lambang negara kita yaitu burung garuda yang digambar oleh para pejuang pada masa itu.

Sekilas sejarah tentang gua rancang ini, kata pemandu lokal, dahulu kala ada 3 orang (saya lupa namanya) pergi dari madiun/magetan (saya juga lupa hahah) karena terdesak oleh penjajah. Kemudian 2 dari 3 orang tersebut menemukan gua rancang tersebut. Asal kata dari gua rancang itu ya gua untuk merancanang strategi melawan penjajah. Untuk sejarah yang mistisnya, di dinding gua tersebut terdapat ukiran berupa kunci, yang konon katanya kalau seseorang menemukan makna sejati dari kunci tersbut maka gua rancang tersebut akan langsung menembus hingga pelataran merapi. Yah setelah mendengar cerita ngalor-ngidul dari pemandu lokal tersebut kami berfoto2 terlebih dahulu dan langsung menuju air terjun srigethuk. Oh ya, untuk biaya pemandu lokal tersebut sebenarnya tidak ada patokan harga resmi, kasih saja yang layak sesuai dengan jumlah rombongan kita….

Akhirnya, kami sampai di tempat parkir areal air terjun srigethuk. Air terjun srigethuk ini berupa mata air setinggi sektiar 50 meter terletak di dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Meski tak setinggi grojogan sewu di tawamangu, pemandangan di sekitar air terjun tersebut juga tak kalah indahnya. Dikelilingi tebing tinggi dihiasi pepohonan membuat tempat itu semakin teduh walaupun matahari kian tinggi, air sungai berwarna hijau namun jernih di bawah  air terjun pun sangat menggoda kita untuk segera menceburkan diri ke pelukannya, sawah-sawah yang membentang selama perjalanan menuju air terjun pun turut menambah nilai dari objek wiasata yang satu ini.

Rute1 lewat sawah

rute 2 pakai gethek

Akses dari tempat parkir menuju air terjun bisa dilewati melalui 2 jalur melalui sungai dengan getek atau berjalan melewati hamparan sawah hijua keemasan yang sangat sejuk. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati sawah terlebih dahulu. Perjlanan darat tersebut kira kira sekitar 500 meter dengan hamparan sawah disekeliling kita dan sedikit menaiki tangga yang  cukup pendek. Setelah kira2 15 menit kita mencapai tujuan utama hari ini, Air Terjun Srigethuk!!

Wah begitu kita sampai air terjun bau air yang terbawa angin sangat sedap, mata pun terbelalak melihat hamparan sungai dibawahnya yang membuat kita ingin menceburkan diri. Tanpa panjang pikir kami segera berubah kostum dan menceburkan diri di sungai tersebut. Sebenarnya sih cukup aneh juga dari tujuan awal yang kita ingin melihat air terjun malah kita nyebur ke sungai dulu dari pada melihat air terjunnya. Tapi sebenarnya view air terjun dari sungai pun cukup menarik kita dapat melihat air terjun secara keseluruhan!! Kita menghbaiskan waktu sekitar 2 jam di sungai dan air terjun itu. Mulai foto-foto, berenang susuri sungai meski nggak jauh-jauh, dan ada juga spot untuk melompat dengan tinggi sekitar 5 meter dari sungai. Seperti yang telah saya tulis diatas, sungai ini ditutupi oleh tebing yang tinggi sehingga jangan khawatir kepanasan saat berenang siang2. Setelah puas berenang kami menepi dan istirahat sebentar sambil membeli beberapa gorengan unutk menemani istirahat siang itu. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat parkir untuk bersih diri, namun kali ini kami memilih naik gethek, sebuah perhu kecil bermesin, setiap orang ditarik biaya 5000 rupiah untuk naik gethek ini. Jika tadi kita bolak-balik naik gethek ini biaya menjadi 7000/orang.

Yah secara keseluruhan, objek wisata ini memuaskan sekali, mulai dari harga yang cukup murah, akses yang mudah, dan objek wisata pun terjaga keindahan dan kebersihannya. Jadi kalau maen ke Jogja jangan hanya muter2 malioboro, benteng vrederbug, tamansari, dan keraton. Masih bnyak wisatadi DIY ini. Oke sekian dulu CatPer dan sekilas review dari saya tentang objek wisata ini. Tetap jalan2 dan tetap bahagia! Salam Wildlife! (gema)

Berikut videonya sebagai bahan referensi :


_MG_0256

Besok Hari Jumatnya kami teruskan perjalanan di pagi harinya langsung menuju Waduk Sermo setelah sarapan.  Perjalanan dari Purworejo ke Waduk Sermo ini kurang lebih 1jam lebih perjalanan. Waduk SERMo terletak di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta. Diresmikan Presiden Soeharto, 20 November 1996. Saat kini debit air yang mengisi waduk sudah hampir sampai batas maksimum. Banyak orang datang, selain untuk rekreasi juga memancing ikan.

Waduk Sermo sendiri menurut Pemkab Kulonprogo memiliki luas genangan kurang lebih 157 Ha dengan keadaan air yang jernih membiru serta bentuknya yang berkelok-kelok menyerupai jari tangan dengan latar belakang perbukitan menoreh yang hijau. Wisatawan dapat menikmati panorama waduk dengan berkeliling menggunakan perahu wisata atau melewati jalan lingkar aspal sepanjang 21 km. Selain sebagai obyek wisata yang nyaman, pengunjung bisa memancing di area waduk. Banyak ragam ikan yang ada di Waduk Sermo, tetapi kebanyakan pemancing mendapatkan Ikan Nila. Meski pengunjung bebas memancing di Waduk Sermo ada kawasan-kawasan tertentu yang dilarang karena berbahaya.

Masyarakat sekitar Waduk Sermo juga ada yang memanfaatkan waduk ini untuk membangun keramba. Malah ada yang menggunakankeramba tersebut untuk dijadikan rumah apung untuk beristirahat dan makan bersama. Waduk Sermo yang pada mulanya secara hanya untuk diupayakan agar dipelihara sebaik-baiknya bakal jadi salah satu objek yang bisa diunggulkan di Yogyakarta. Sayang, waduk yang dibuat pada tahun 1993 tersebut hanyalah satu-satunya waduk yang ada di DIY.

 Material

Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Dasar dari waduk sermo itu adalah Formasi Nanggulan (banyak batupasir kuarsa, dan juga batulempung yang Moluska-nya melimpah). Dinding waduknya sebagian besar adalah Formasi Andesit Tua. Bendung tipe urugan tsb diurug dari batuan andesit yang quarry nya juga dari Formasi Andesit Tua di sekitar waduk. Meluncur ke arah hilir dari Waduk ke arah Kokap atau Wates, kita akan menemukan jejak-jejak penambangan bijih Mn yang pernah top di tahun 1970-1980.di Kliiripan itu, yang secara stratigrafi endapan nodul-nodul pirolusit tsb berada pada transisi batas endapan vulkanik ke endapan karbonat miosen bawah.

Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi — 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau alias “bedol deso”.

Transportasi

Letak  Waduk Sermo dari kota Wates hanya berjarak kurang lebih delapan kilometer. Perjalanan menuju ke waduk Sermo dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Karena lokasinya yang berada di bukit jalanan menanjak dan berkelok-kelok namun cukup menyenangkan. Rute termudah adalah dari Kota Wates — RSUD Wates ke arah barat selanjutnya ikuti saja papan petunjuk. Bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri ada angkutan Umum yang melayani rute Wates — Kokap, akan tetapi angkutan ini tidak masuk sampai Lokasi Waduk Sermo, anda harus turun sebelum pintu gerbang Waduk Sermo. Retribusi masuk Waduk Sermo juga cukup murah hanya seribu rupiah per orang dan parkir roda 2 seribu rupiah juga, untuk mobil dua ribu rupiah.

Meski pemandangan dan suasana Waduk Sermo cukup eksotik tetapi sangat disayangkan minim warung makan yang cukup lengkap. Hanya ada beberapa warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman ala kadarnya. Jika hanya sekedar untuk melepas dahaga dan mengganjal perut mungkin sudah cukup, tetapi untuk wisata kuliner masih kurang. Apa mungkin karena kami datang terlalu pagi, tetapi memang keadaan wisatanya masih sangat sepi didaerah sini.

Kamipun tak lama di waduk Sermo hanya mengelilingi waduk dan langsung naik gunung ke daerah puncak selayang pandang di Kalibiru. Kami hanya di tarik tarif parkir sepeda motor atau mobil karena diharuskan berjalan kaki jika ingin samapai gardu pandang. Di Kalibiru ini pemandangan sangat bagus anda bisa melihat keseluruhan bentuk waduk sermo juga ada tempat flyingfox dan gerdu pandang pemandangan alam wilayah kulonprogo ini juga bisa diliat dari sini. Jika cuaca cerah anda pun bisa melihat pantai Congot dari atas puncak Kalibiru ini.

Setelah selesai menikmati keindahan alam dari Kalibiru kami pun bersiap prepare kembali ke Yogya untuk jumatan dan ke Malioboro untuk pulang kembali menuju Surabaya. Sebenarnya kami masih ingin menjelajah lagi tempat-tempat lainnya di kabupaten Kulon Progo ini tetapi karena keterbatasan waktu tiap personel tim kami akhirnya putuskan untuk kembali ke Surabaya pada sore harinya setelah dari Malioboro. Alhamdulillah kamipun samapai dengan selamat dari Surabaya sekitar jam 1 sabtu pagi dan akhirnya bisa menulis artikel ini untuk di share bagi pecinta alam dan Traveller semoga berguna.

Berikut foto-fotonya :

_MG_0262

_MG_0260

_MG_0309

_MG_0318

_MG_0332

_MG_0342

_MG_0363

_MG_0366

_MG_0372

Iseng-iseng Foto saat di Malioboro :

_MG_0395

_MG_0407

_MG_0412

_MG_0416

SUETO1

 Sebenarnya waduk ini katanya banyak menyimpan misteri tapi bagiku yang penting kemanapun kita berada kesadaran untuk menikmati dan melindungi alam itu harus ada. Salam wildlife Sueto!

Berikut Videonya :

http://www.youtube.com/watch?v=CiHy6PffH38

 


_MG_0099

Setelah lama tak posting tentang perjalanan karena memang banyak kesibukan dan tertunda-tunda akhirnya kami Suetoclub mengadakan event Tour menjelajah wisata alam yang ada di daerah kabupaten Kulon Progo yang masuk wilayah DIY. Perjalanan yang dilakukan April 2012 ini beranggotakan 5orang 3motor dari Surabaya dan berangkat kamis pagi jam 2 dari Sidoarjo. Perjalanan dari Sidoarjo melewati Mojosari-Jombang-Nganjuk-Caruban-Ngawi-Sragen-Solo-Klaten-Yogyakarta-KulonProgo-Purworejo. Kami ambil moment untuk tour karena waktu itu bertepatan dengan libur panjang dan tanggal merah sehingga perjalananpun bisa lebih santai. Kami melakukan perjalanan dan berhenti di Nganjuk untuk istirahat kemudian Caruban untuk istirahat mengisi bensin dan subuhan dan langsung dilajutkan sampai pom bensin Klaten untuk istirahat sejenak karena waktu itu ramai dan macet sekitar jam8 pagi kami sampai Klaten istirahat sekitar setengah jam untuk langsung menjeput anggota terakhir yang ada di Yogya pada saat itu perjalanan sangat macet Klaten-Yogyakarta kami tempuh bisa 2jam padahal biasa hanya 30 menit lebih. Setelah sampai Yogyakarta kami prepare dan ishoma di yogya. Setelah formasi Suetotim lengkap kami langsung cabut menuju ke tujuan pertama yaitu pantai Glagah dan pantai Congot supaya bisa lebih santai dan hari tidak terlewat sore. Perjalanan kami tempuh dengan santai sekitar 1jam lebih kami sudah sampai di pintu masuk pantai Glagah. Masuk pantai Glagah dan Congot kami ditarik tarif retribusi Rp 4000,- untuk sepeda motor dengan 1 orang atau tarif perorangan Rp3000,- Sesampai pantai kami langsung mencari tempat singgah karena pada hari itu matahari sangat terik sambil istirahat dan berputar-putar pantai Glagah sambil melihat suasana pantai.Pantai Glagah berada di daerah KabupatenKulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).Sebagaimana kebanyakan pantai di pesisir selatan pulau jawa, pantai glagah memiliki ombak yang cukup besar.

_MG_0104

Dataran pantai yang lapang dan garis pantai yang panjang juga memberikan anda sejumlah lokasi alternatif untuk melihat keindahan pemandangan pantai. Masing-masing lokasi seolah memiliki nuansa yang berbeda walau masih terletak dalam satu kawasan. Di setiap lokasi itu, anda bisa menikmati seluruh keindahan pantai dengan leluasa, sama sekali tak ada karang-karang raksasa yang kadang menghalangi pandangan mata. Lokasi pertama yang sangat tepat untuk melihat pemandangan pantai adalah sebuah lokasi yang akan dijadikan pelabuhan beberapa tahun ke depan. Anda bisa menjumpainya bila telah sampai di belokan pertama dari pos retribusi, tandanya adalah sebuah plang bertuliskan PP. Pertemuan aliran sungai dengan ombak lautan yang penuh harmoni bisa disaksikan dengan menaiki sebuah gardu pandang yang terdapat di sana. Sepanjang lokasi pertama hingga beberapa ratus meter ke arah barat, anda bisa menjumpai sebuah laguna dengan aliran air yang menuju ke arah muara sungai. Laguna ini membagi kawasan pantai menjadi dua, lokasi yang masih ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan pantai dan rerumputan dan lokasi gundukan pasir yang langsung berbatasan dengan lautan. Anda bisa menyeberang ke lokasi gundukan pasir melewati jalan penghubung yang terletak tak jauh dari muara sungai. Berjalan lebih ke barat, anda bisa menyaksikan aktivitas warga sekitar dan beberapa wisatawan memancing ikan. Daerah pantai yang cukup landai memberi anugerah ikan dalam jumlah yang cukup besar. Sejumlah kios yang menjajakan sea food juga terdapat, menyajikan beragam menu yang pantas untuk dicoba. Fasiltas Selain pemandangan pantai yang indah, Pantai Glagah juga memiliki beragam fasilitas wisata pantai. Salah satu adalah area motor cross yang terletak persis di pinggir pantai dengan luas yang cukup besar, memberi kepuasan bagi anda penggemar olahraga ini. Biasanya Kejuaraan motocross diselenggarakan setiap tahunnya dengan memperebutkan piala bergilir Bupati Kulon Progo. Disamping tu terdapat juga kejuaraan nasional bola volley pantai pada tahun 1997. Di sini juga biasa diadakan upacara adat Merti desayang bertujuan untuk memohon keselamatan penduduk desa Glagah. Sementara itu, jalan beraspal yang menghubungkan pantai Glagah dengan pantai-pantai lain bisa dimanfaatkan sebagai arena olah raga sepeda pantai. Anda bahkan bisa menikmati fasilitas agrowisata pantai dengan mengunjungi perkebunan Kusumo Wanadri. Di sana, anda bisa mengamati proses budidaya beragam tanaman obat mujarab, seperti buah naga dan bunga roselle. Selain itu, anda juga bisa menyewa gethek, kano dan bebek dayung yang bisa digunakan untuk tur menyusuri laguna atau sekedar menyeberang lewat jembatan kayu menuju lokasi gundukan pasir di tepi pantai. Lelah berkeliling, anda bisa beristirahat di gubug lesehan dalam kawasan areal perkebunan Kusumo Wanadri. Sejumlah menu makanan dan minuman eksotik pantas untuk dicoba. Anda bisa mencicipi jus buah naga yang menyegarkan dan dikenal mampu menyembuhkan beragam penyakit, atau memesan es sirup bunga roselle yang mampu melepas dahaga sekaligus menetralisir beragam jenis racun dalam tubuh. Transportasi Untuk menikmati keseluruhan keindahan pemandangan pantai Glagah, anda bisa melaju melintasi dua alternatif jalan. Pertama, berjalan ke selatan melewati jalan Bantuldan berbelok ke kanan menuju jalur Bantul – Purworejo setelah sampai di Palbapang. Kedua, berjalan ke barat melewati lintasan jalan Yogyakarta – Wates – Purworejo dan berbelok ke kiri setelah menjumpai plang menuju Pantai Glagah. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi untuk lebih mudah mengaksesnya. Perjalanan ke pantai ini tak sesulit perjalanan menuju pantai di wilayah Gunung Kidul. Jalan-jalan yang dilalui cenderung datar dan tak banyak tanjakan sehingga anda bisa menempuhnya sambil bersantai. Lintasan menuju kota Purworejo itu juga menghubungkan Pantai Glagah dengan pantai-pantai lain di Kabupaten Kulon Progo. Jadi, sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, anda bisa mengunjungi pantai-pantai lain setelahnya.

Petunjuk arah mengemudi ke Pantai Glagah Indah Sari Yogyakarta – Kodya Yogyakarta 1. Ke arah utara di Jalan Ireda menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso 400 m 2. Belok kanan menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso 700 m 3. Ambil ke-3 kiri menuju Jalan Senopati 500 m 4. Terus ke Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan 950 m 5. Terus ke Jalan RE Martadinata 900 m 6. Terus ke Jalan Wates 2,0 km 7. Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Wates 2,7 km 8. Terus ke Jalan Yogyakarta – Bantul 7,6 km 9. Terus ke Jalan Wates 12,6 km 10. Terus ke Jalan Kolonel Sugiono 1,2 km 11. Terus ke Jalan Khuduri 600 m 12. Terus ke Jalan Ahmad Dahlan 4,2 km 13. Terus ke Jalan Raya Wates 4,9 km 14. Belok kiri 650 m 15. Belok kanan 600 m 16. Belok kiri 1,3 km 17. Belok kiri 8 m 18. Ambil ke-1 kanan 1,4 km Setelah kami puas beristirahat di pantai Glagah kami menuju area pantai Congot yang ada disebelah barat pantai Glagah. Pantai Congot ini adalah pantai wisata yang paling tepat dikunjungi setelah bertandang di Pantai Glagah. Kedua pantai itu berjarak sangat dekat dan dihubungkan oleh jalan beraspal halus yang bahkan cukup mudah ditempuh menggunakan sepeda. Terletak di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Pantai Congot menjadi pusat kegiatan warga sekitar yang menggantungkan hidup dengan mencari ikan. Keindahan pemandangan bisa dijumpai bahkan selagi anda masih dalam perjalanan menuju pantai ini. Sepanjang jalan yang menghubungkan Wates dengan Pantai Congot, anda bisa bisa menyaksikan hamparan sawah hijau dan aktivitas warga desa di Kulon Progo yang umumnya menjadi petani. Seperti dataran dekat pantai di wilayah lain, jalan-jalan menuju Pantai Congot juga dihiasi oleh deretan pohon kelapa. Pantai Congot memiliki pesona tersendiri dibanding pantai-pantai lainnya sebab nuansa nelayan dan perikanannya yang begitu kuat. Di sepanjang garis pantainya, anda bisa melihat aktivitas warga sekitar dan wisatawan lokal memuaskan kegemaran memancing. Di sudut lain, terdapat para nelayan yang tengah menjala ikan di tepi pantai, menghancurkan cangkang rajungan yang melekat di jala ataupun membersihkan perahu. Terutama daerah muara di tempat ini sangat bagus untuk di buat foto dan mengabadikan moment, daerah ini disebut muara sungai bogowonto. Perjalanan dari pantai Glagah ke pantai Congot Meski tak begitu banyak jumlahnya, sejumlah warga sekitar membuka warung kecil yang menjajakan sea food sebagai menu utamanya. Mungkin menikmati hidangan sambil melihat aktivitas para nelayan tentu memberikan nuansa berbeda dibanding jika menikmatinya di restaurant tengah kota. Bau sedap ikan goreng dan bakar akan segera menyergap hidung ketika hidangan tengah dimasak, mengundang selera untuk segera menikmatinya.tapi waktu itu kami hanya menghirup bau ikan bakar karena memang sudah kenyang dan hanya lewat saja menuju muara bogowonto. Transportasi Untuk berkunjung ke Pantai Congot, anda tak perlu membayar biaya tambahan. Kunjungan ke pantai ini sudah termasuk dalam tiket wisata menuju Pantai Glagah. Letak Pantai Congot yang sangat dekat dengan Pantai Glagah tentu cukup menjadi alasan untuk mengunjunginya. Nuansa nelayan dan perikanan yang begitu kuat menjadikan pantai ini tetap memiliki kekhasan dan tak bisa begitu saja disamakan dengan Pantai Glagah. Setelah selelsai menikmati kawasan pantai Glagah dan Congot kami langsung menuju Purworejo untuk menginap ditempat salah satu sodara teman kami  dikarenakan hari itu sudah terlihat mendung dan akan hujan. Sesampai di Purworejo kami makan lagi dan istirahat untuk persiapan besok pagi menuju waduk Sermo tapi sambil menunggu mata terlelap saya menikmati dulu suasana asri sebuah desa pedalaman yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Terasa tenang benget sampai benar-benar merasa mengantuk dan selamat malam. Berikut Foto-Foto saat di Muara Bogowonto

_MG_0131

 

_MG_0168

_MG_0181

_MG_0188

_MG_0208

_MG_0209

_MG_0221

Berikut Videonya :

Pesannya tetap dijaga kelestarian dan keindahan kalau berkujung dimanapun yah…maknai setiap perjalanan sebagai GreenTraveler/GreenTour.


Salam Wildlife!Selama masih ada nyali di setiap benak setiap orang SuetoCommunity pasti akan terus dan selalu menjelajah alam Indonesia.

Tour ke Dieng kali ini memang salah satu agenda Sueto yang memang belum dituntaskan. Sebenarnya banyak agenda touring sueto yang memang akan menjadi tujuan berikutnya tapi karena dengan segala kesepakatan bersama akhirnya kami putuskan berangkat menuju Dieng dari Surabaya.

Perjalanan kali ini kami tidak langsung dari Surabaya menuju Dieng. Kami akan mampir dulu di Yogya untuk istirahat dulu dan menyusul anggota dan partisipan yang lain untuk ikut dalam acara tour to Dieng. Jadi kamipun ada tempat istirahat di homebase salah satu anggota  di Yogya.

Hari kamis tepat tengah malam jadi sudah masuk jumat pagi kamipun berangkat dari Surabaya menuju yogya beranggotakan 4 orang 2 motor HSX125 dan PZ00. Perjalanan kami mulai dari post 1 Mojosari menuju post 2 Caruban. Saat melewati daerah Mojosari-Jombang-Kertosono perjalanan waktu itu perjalanan terasa berkabut agak tebal kira jarak pandang 30-40meter tapi lama-lama mata kami perih ternyata itu adalah sebuah kabut hasil polusi pembuangan truk angkut berat yang membuang berkilo-kilo karbon pada saat malam hari mungkin kami pikir inilah yang disebut ABC’s(Atmospheric Brown Cloud‘s)pernah di bahas di post http://suetoclub.wordpress.com/2012/01/08/atmospheric-brown-cloudsabcs-efek-polusi-yang-ada-dikota-kota-besar-asia-termasuk-indonesia/.

     Bentuknya agak sedikit berbeda dengan kabut seperti efek rumah kaca jadi awan coklat kabutnya hanya berkecimpung didaerah itu saja seperti tidak bisa keluar akhirnya setelah kami melewati kota kertosono kabut coklatnya menghilang dan mata kami tidak perih lagi. Jadi memang telah parah polusi di Indonesia terutama di jalur utama yang dilewati  truk angkut  berat. Ini terjadi waktu tengah malam mungkin akan lebih parah bila terjadi sianghari atau saat jam aktif. Efeknya secara tidak langsung akan berpengaruh kepada penduduk sekitar wilayah itu. Polusi kian merambah dimana-mana tidak hanya dikota-kota besar. Memang efek paling terasa dari truk angkut berat dari pada mobil dan motor yang terus diperbarui produsen otomotif yang mana memang kebanyakan kondisi truk angkut berat untuk distribusi industri  tidak layak pakai dan tidak sesuai standar Euro2 atau 3 tapi selalu lolos dalam pengcekan uji emisi. Bagaimana mengatasinya?kalau masalah sudah sedemikian rumit ya memang harus ada kesadaran diri dari berbagai pihak juga masyarakat akan pentingnya kesehatan dan minimalisasi efek polusi.

Perjalananpun kami teruskan menuju post2 berhenti di Indomaret kota Caruban untuk istirahat dan ngopi. Setelah itu langsung kami lanjutkan menuju post 3 Sragen untuk istirahat dan subuh sambil menunggu kesiapan tuan rumah yang ada di Yogya. Sekitar jam 7 kami sampai Yogya jadi total perjalanan SBY-Yogya 7jam terhitung +-300km banyak kemacetan dijalan sekarang mungkin karena padatnya penduduk Indonesia dan aktifitasnya.  Akhirnya kami istirahat dulu di pombensin awal masuk Yogya sambil menunggu tuan rumah menjemput. Sampai di Home kamipun Jumatan dan langsung istirahat.

Pada malam harinya kami sempatkan berkeliling Yogya juga sambil mencari makan. Menyusul partisipan lain yang ada di Yogya terus dinner deh. Setelah berkeliling Yogya akhirnya kami sampai di Resto SegoSambel, rata-rata memang banyak makanan khas SegoSambel ini di Yogya. Setelah makan kenyang kamipun kembali beristirhat di homebase untuk persiapan berangkat ke Dieng besok paginya.

Paginya Sueto Tim bersiap prepare menuju Dieng Plateau Wonosobo beranggotakan fix 8orang 4motor sekitar jam7 pagi dari Yogya kami berangkat melalui jalur Magelang-Temanggung-Wonosobo-Dieng yang jaraknya +-150km dari Yogya. Perjalanan melewati Magelang menuju post1 Temanggung untuk sarapan kemudian langsung menuju kota Wonosobo untuk post2. Perjalanan waktu berangkat cuacanya cerah jadi kami bisa tepat waktu.

Sebelum memasuki kawasan Dieng kami ditarik karcis retribusi Rp2500,-per orang karena 8 orang total jadi Rp20.000,- ada retribusi tapi jalur untuk penarikan karcis retribusi  jelek dari jalur utama yang dialihkan. Kami kira ada sedikit ketidakberesan disini kalau memang kawasan wisata yang termasuk skala internasional seharusnya  tempat penarikan karcis retribusi seharusnya yang layak juga.

Kemudian perjalananpun kami teruskan menuju perkampungan Dieng plateau waktu itu disekitar jalan menuju Dieng banyak plakat-plakat di dieng yang memang sudah usang contohnya seperti gapura Dieng plateau. Tapi kami terus berjalanan dan terkesima melihat pemandangannya yang masih bagus. Diiringi cuaca yang kian dingin dan berkabut kami terus mendaki melewati bukit-bukit sampai menuju kawasan Dieng Plateau yang  terletak pada ketinggian 2000 meter dpl.

     Sejarahnya nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “di” yang berarti tempat, dan “hyang” yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata “edi” yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan “aeng” yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.

     Memasuki Dieng Plateau area kami mencoba berkeliling di area Dieng ini mencari referensi spot yang bagus untuk diabadikan sambil memutuskan spot wisata mana yang dituju. Akhirnya kami putuskan untuk memasuki kawasan utama komplek Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Telaga Warna memang tiga tempat ini yang paling sering dikunjungi dan yang benar-benar berbeda dari tempat yang lainnya. di Dieng ini ada sekitar 20 spot yang masih dikunjungi sebenarnya. Tapi karena waktu kami terbatas jadi kami utamakan 3spot dulu. Karena kami pikir spot yang lainnya juga tidak berbeda dengan spot wisata diluar Dieng seperti telaga, candi-candi, kawasan industri dan lainnya.

    Pertama kami menuju spot komplek candi arjuna biaya retribusi tiket masuknya Rp10.000,- per motor 2 orang sudah dapat dua tiket tiket ke komplek candi dan ke kawah sikidang kalau minta peta kawasan Dieng juga dikasihkok, tapi ongkos segitu belum biaya parkir yang ditarik Rp 2000,- mobil motor tarifnya sama. Pada awalnya kami kaget ternyata bayar segitu masih pakai biaya parkir. Tapi ya sudahlah kita menikmati perjalanannya saja.

      Kompleks Candi Arjuna yang merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa masih berdiri dengan tegaknya di tengah deraan waktu dan cuaca, menjadi bukti warisan kekayaan budaya yang luar biasa. Meskipun beberapa bagian candi mulai aus dimakan usia, namun candi pemujaan Dewa Siwa yang dibangun pada tahun 809 M ini tetap kokoh berdiri memberikan nuansa kedamaian di tengah keheningan alam pegunungan.

    Di komplek ini kami memanfaatkan moment untuk berfoto dan dokumentasi sambil menikmati suhu yang dingin di pegunungan Dieng ini yang katanya Suhu udara pada siang hari berkisar antara 15-20 derajat celcius sementara pada malam hari berkisar antara 10 derajat celcius. Pada bulan Juli dan Agustus suhu bisa mencapai 0 derajat celcius pada siang hari dan -10 derajat celcius pada malam hari. Wah!makanya sampai ada salju turun di Dieng kalau lagi bulan Juli dan Agustus ternyata suhunya bisa mencapai minus derajat celcius.

Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti “kidang” atau kijang.

     Setelah dari komplek Arjuna kami menuju spot ke-2 yaitu kawah sikidang letaknya tidak jauh dari spot komplek arjuna. Ternyata setalah masuk di area kawah sikidang ada sebuah pasar kecil yang menjajakan buah atau sayuran khas Dieng seperti Carica, pepaya, Kentang, Kubis dll. Tidak lama kami langsung menuju spot kawah sikidang mengambil view kawah dari atas bukit sungguh pemandangan yang indah. Sementara beberapa teman kami menunggu di bawah. Ketika mau bernjak dari spot-2 ada sebuah kejanggalan lagi bagi kami karena waktu itu ada 2 orang teman kami yang memang menjaga sepedamotornya dan tidak parkir hanya menunggu di luar area karena memang 2 orang itu alergi bau kawah yang menyengat tetapi mereka masih ditarik retribusi parkir Rp 2000,- padahal tidak parkir. Mungkin orang parkirnya pikir setiap memasuki kawasan wisata parkir atau tidak yang penting membayar dan memang tidak ada karcis retribusinya. Anehnya lagi parkir mobil sama motor tarifnya sama Rp 2000,- seharusnya dibedakan.

     Spot terakhir yang kami tuju adalah telaga warna. Spot ini menjadi yang terakhir karena memang ada keterbatasan waktu dan cuaca yang memang bakal tidak bersahabat mulai turun hujan jadi terpaksa kami undurdiri setelah spot telaga warna. Waktu akan memasuki telaga kami ditarik lagi retribusi parkir Rp 2000,-. Sebelum masuk kami membeli jajanan khas Dieng yaitu tempe kemul. Setelah masuk loketnya Rp 5000,- per orang . Mencoba mengitari kawasan sekitar danau ternyata banyak gua tapi kami tidak catat namanya juga patung Dewi beserta patung Gajah Mada di cat emas akhirnya kami melepas lelah disebuah padepokan di telaga. Sebenarnya apa yang ingin kami dapatkan di spot terkhir ini adalah bagaimana mendapatkan gambar dengan view dua telaga warna dari atas bukit tapi sebelum kami menuju spot tersebut cuaca  mulai tidak bershabat akibatnya nanti waktu pulang bisa bahaya lagi pula jalannya menuju spot itu ternyata sudah longsong karena erosi alam yang tak tahu apa penyebabnya. Akhirnya sebelum keluar tempat wisata saya ambil view dari atas saja yaitu Museum Theater Dieng. 

Keunikan proses terbentuknya kawasan Dieng menghasilkan bentang alam yang eksotik dan tidak ada duanya. Telaga Warna yang memantulkan warna hijau, biru dan ungu.

     Pada faktanya kami tidak menemui perubahan warna di telaga warna kami kira telaga warna ini seperti telaga warna kelimutu. Setelah kami cari informasi ternyata telaga warna ini bisa berwarna dikarenakan adanya batu seperti safir yang bisa berubah warna tapi pada saat ini batu safir itu telah tiada karena telah dijual ke investor yang berasal dari Jepang. Pada saat mendengar seperti ini kami Suetoclub benar-benar kecewa kenapa kekayaan alam yang sebetulnya adalah sebuah warisan harta dari nenek moyang yang perlu dilestarikan kenapa malah dijual ke negara lain dan tidak dijaga sebaik-baiknya. Mungkin kami tidak tahu pelakunya dari pemerintahan atau masyarakat Dieng tapi pada akhirnya inilah awal sebuah kerusakan di Dieng. Terus kalau dijual buat apa uangnya?pembangunan di Dieng juga pelestariannya juga tidak benar-benar tampak secara realistis manfaatnya.

     Secara langsung kami berkesimpulan bahwa kami terkesima bukan karena tempat wisata karena memang yang menantang kami adalah serunya perjalanan  dan indahnya geografis alam di Dieng ini. Begitu dengan biaya retribusi yang tak masuk akal untuk kualitas wisata yang kurang memadai misal seperti tiap spot ditarik karcis masuk Rp 5000,- dan tarif parkir Rp 2000,- jika ada 20 spot kawasan wisata berarti dikalikan saja 20×7000=Rp 140.000 paling tidak kita kurang lebih mengeluarkan biaya segitulah tapi ini hanya misal apa tidak terlalu over. Tapi mungkin ini hanya pandangan  kami semata.

    Satu lagi alasan kami menulis judul Dieng Plateau belum habis  karena kami sendiri memang belum mengexplore spot wisata di Dieng secara keseluruhan tapi paling tidak kami sudah paham secara garis besar. Tentunya kawasan wisata ini juga belum habis wisatawannya asalakan bisa mengalirkan retribusi dengan tepat guna dan pengolahan kawasan wisata yang benar sehingga patut menjadi kawasan wisata internasional yang bisa dibanggakan Indonesia.

    Pulang dari Wonosobo-Temanggung-Yogya perjalanan kami diguyur hujan deras. Sesampainya di homebase kami langsung istirahat dan bersantai selama satu hari lagi sambil cari oleh di Malioboro. Kemudian pulang kembali ke Surabaya. Perjalanan Yogya-Surabaya juga diguyur hujan pulangnya tetap stay to step by step on post sampai Sidoarjo. Yang paling mengejutkan ternyata konsumsi PZoo sama kayak HSX125 PP Sidoarjo-Yogya cuman Rp 70.000,- premium ngirit deh.  Terima kasih sekian liputan perjalanan dari Sueto Tim Tour to Dieng. Tetap semangat menjelajah Indonesia tercinta!

Simak Videonya :


Salam wildlife!Tour kali ini memang hanya sebuah acara penutupan di tahun 2011 dan membuka lembar perjalanan baru di tahun 2012 tapi kali ini memang hanya tour penyambutan tahun baru saja karena memang cuaca sedang tidak memungkinkan untuk mengadakan tour jauh. Waktu malam tahun baru Sueto mengadakan event tahunan(tergantung cuaca)biasanya untuk menikmati keindahan kembang api tahun baru kota Batu Malang dari atas perbukitan bumiaji memang kebetulan teman sueto mempunyai persinggahan di Batu yang bisa digunakan untuk istirahat jadi perjalanan tengah malam paginya kita bisa istirahat jadi tidak terlalu capek karena memang tahun baru pasti ramai sekali jalanan.

Berangkat beranggotakan 5 orang 3 sepeda motor kami berangkat sekitar jam 9 malam dari Sidoarjo menuju Wonoayu itemani hujan deras  sampai melewati kota Mojosari terus arah Pacet…Di Pacet ini kami agak sedikit terhambat dengan arak-arakan anak muda alay seperti geng motor gitu..Karena kami memang lewat jalan pacet agak sedikit kemalaman jadi agak ramai tapi denagan keahlian tertentu kami dapat melewati gerombolan itu..Kemudian lewat pegunungan Cangar disini ditulis 30km arah Batu deketkan cuman jalannya lewat hutan jadi mengendarai motor atau mobil disini harus penuh skill dan mental yang mapan soalnya banyak pohon tumbang kadang-kadang terus tanjakan-tanjakan extreme yang licin karena Suetoclub didukung oleh pengalaman maka mudah saja jalanan dilewati…Hujan deras mulai jadi rintik-rintik kecil yang bakal sangat indah untuk menemani di malam pergantian tahun…Karena memang suhu cuaca memang benar-benar dingin akhirnya kamipun berhenti di post Bumiaji untuk menghangatkan badan, meminum segelas kopi dengan pemandangan indahnya mlalam hari kota Batu dari Bumiaji.

Selagi anak-anak makan, minum, update status bbm, twitter, facebook, whatsapps dan foursquare. Saya sempatkan untuk mengambil sebuah pemandangan dari bukit berikut fotonya.

Setelah pesta kembang api selesasi kami bersiap untuk turun bukit menuju persinggahan melewati BNS dan Jatim Park2 ternyata sudah sepi jalannya jadi bisa mulus ke persinggahan untuk beristirahat menyiapkan tenaga buat perjalanan besok paginya..Paginya terlihat cuaca masih sangat cerah bagus untuk jalan-jalan. Setelah sarapan dan persiapan kami ingin berangkat ke pantai selatan Malang melanjutkan misi menjelajah pantai selatan Malang sebenarnya pantai yang dituju adalah pantai Modangan tapi cuaca ternyata agak siangan sudah tidak mendukung kayaknya. Berangkat dari Batu melewati kota Malang keadaan waktu itu macet banget arah jalan utama akhirnya kami putuskan lewat belakang UIN tembus di pemberhentian pertama Kepanjen setelah dari Kepanjen hujan lagi-lagi jadi teman kita menemani perjalanan menuju ke selatan akhirnya sampai di daerah Donomulyo kelihatannya langit masih tidak bersahabat untuk mengijinkan kami melihat pantai akhirnya kita putuskan untuk memutar kembali lewat lewat waduk Karangkates/ir Sutami..Waktu perjalanan menuju waduk Karangkates ada spot yang bagus saat track menuruni bukit tempat ini bisa menjadi spot bagus untuk berfoto. Karena kondisi waktu itu hujan dan tidak memungkinkan untuk mengambil foto akhirnya kita lewati…

Terus turun kebawah sampai ke bendungan hujan pun semakin deras mau berhenti diwadukkok sudah kadung basah semua akhirnya kami teruskan balik melewati Kepanjen istirahat makan bakso sejenak kemudian sampai kota Malang langsung berwisata kuliner ke Burger Buto!

Kalau pernah makan burger yang besar yang satu ini memang layak dicoba. Nah, di Malang ada sebuah restoran di Jalan Sarangan No. 27 Malang yang menyajikan burger dari keluarga Buto alias Raksasa. Hmm, burger yang bisa dicicipi disini pastinya fresh from the oven, karena roti dan dagingnya diproduksi sendiri oleh rumah makan ini. Yang Istimewa adalah ukurannya yang Luar Biasa Besar, ada tiga pilihan ukuran yang bisa anda pilih, Burger Buto dengan diameter 17cm, ada Buto Long dengan panjang 40cm dan satu lagi yang tidak kalah ekstrim adalah Buto Keceng, dengan lebar yang tidak terlalu besar,cocok dengan lebar mulut kita, dengan panjang 60cm..Wah sekali kelihatannya.

Disana juga ada burger jumbo ukuran kepala orang yang dikenal dengan nama Burger Buto Ijo di Kedai 27, Jalan Sarangan, Malang.Kota Malang sebagai tujuan wisata terbaik 2011 memang banyak menjual wisata kuliner yang unik.

Melihat bentuknya seperti ukuran loyang kue cake pandan wangi diameter sekitar 30 centimeter. Karena namanya Burger Buto Ijo, maka bahan roti dalamnya juga berwarna hijau disesuaikan dengan nama burgernya. Di bagian tengah roti berbentuk lobang seperti kue cake disesuaikan dengan cetakan rotinya. Isi lapisan dalamnya sama dengan burger kebanyakan yaitu berisi daun selada, tomat, timun, mayoinase, daging  burger, dan keju.

Ukurannya cukup untuk dimakan  empat atau lima orang, dan pemesan yang makan di kedai tersebut otomatis disediakan piring kecil dan garpu untuk empat orang. Harga tidak mahal cukup Rp 27.500 bisa dimakan empat orang sehingga jatuhnya harga per orang hanya sekitar Rp 7.000. Ditambah telur harga burger buto ijo menjadi Rp 35.000.

Rasanya seperti burger biasa terasa gurih keju, manis saos tomat dan pedas cabe, isinya seperti kebanyakan campuran rasa saos tomat, keju dan daging sapi burger. Meski roti burgernya ukuran besar isinya perlengkapan burgernya cukup mengelilingi isi roti.

Jenis burger yang dijual  ukuran  lainnya adalah burger long bentuknya lebar dan panjang harga Rp 11.500; burger keceng ukuran rotinya kecil panjang kayak ular harga Rp 11.500; dan burger buto ukuran bundar sedang sebesar piring kecil harga Rp 10.000.

Semua jenis burger isinya sama jenisnya hanya burger keceng isinya daging cincang karena terlalu besar kalau diisi lapisan daging burger yang berbentuk bulat. Semua roti diproduksi sendiri karena ukuran rotinya spesial tidak memungkinkan diproduksi pabrik roti lain.

Kedai yang terletak di pojokan jalan ini sengaja diberi nama Kedai 27 karena lokasi kedainya bernomor rumah 27 di  Jalan Sarangan, Malang. Kedai 27 telah beroperasi di Malang selama sembilan tahun tetapi menu burger buto ijo ukuran jumbo baru terinovasi empat tahun terakhir.

Jam operasional buka kedainya mulai pukul 11.00 WIB sampai 21.00 WIB. Tetapi khusus menu burger jumbo buto ijo selalu cepat habis. Pada hari libur menu tersebut pada pukul 16.00 WIB sering sudah habis. Penulis juga mengalami kehabisan burger buto ijo ketika pesan untuk dibawa pulang.

Menu lain di kedai ini  ada bermacam-macam nasi bakar dengan lauk unik seperti kikil sapi seharga Rp 10.000, ceker ayam hanya Rp 6.000, dan nasi bakar tempe tahu penyet hanya Rp 5.000 sangat cocok buat kantong mahasiwa di kota pelajar ini. Menu lain yang sempat kami coba adalah bebek goreng resep ibu sama ayam gorengnya juga harganya di kisaran Rp12.000-an.

Kebanyakan pengunjungnya anak muda yang suka nongkrong. Banyak remaja yang sengaja merayakan ulang tahun di tempat ini. Kapasitas kursi sekitar  80 orang. Kursi kayu dan meja persegi disusun berdempetan sehingga terlihat suasana ruangan sesak kalau ramai pengunjung. Waktu kami kesana kebetulan lagi hujan jadi suasana di kedai burger agak renggang tidak seramai biasanya karena banyak orang yang memesan dibawa pulang yang paling sering dibawa pulang biasanya burger keceng karena pembungkusnya mirip pembungkus lampu neon jadi terlihat unik dan burger buto spesial.

Kalau lagi ramai pemesanan di kedai burger 27 ini bisa sampai setengah jam tapi waktu itu kita lagi sibuk foto-foto jadi gak kerasa..Untuk rasa tidak terlalu eneg dan membosankan karena memang isinya bakal sedikit berbeda dengan burger pada umunya. Tapi yang pastinya kita rasakan adalah murah dan kalau mau makan kenyang ya di burger buto. So tunggu perjalanan-perjalanan kuliner Sueto berikutnya.

Info mengenai Burger Buto :

Location
Hours
Tue – Thu: 11:30 - 21:00
Fri: 00:30 - 21:30
Sat – Sun: 11:30 - 21:00
About
Burger Buto kedai 27
Description
Burger Buto : burger dengan diameter 17cm:Rp.10.000,-
Burger Long : burger dengan panjang 40cm:Rp.11.500,-
Burger Keceng : burger dengan diameter 60cm:Rp.13.000,-
Parking
Car park
Email
burgerbuto@yahoo.com
Phone
Website
Facebook : Burger Buto
Twitter : Burgerbuto

All About Tour to Sipelot Beach


Kali ini Sueto melakukan perjalanan XTour Sehari lagi tujuannya adalah pantai Sipelot Malang

Dalam Tour kali ini berawal dari salah satu anggota Sueto yang baru bergabung mempunyai ide saat jadwal touring sedang kosong…Bagaimana kalau kita ke pantai Sipelot saja karena memnag sebelumnya sang anggota ini pernah kesana kebetulan memang Sueto belum pernah jadi karena intinya adalah ada hal baru yang bisa di explore maka kami siapkan dua tim Sueto yang satu tim survey yang satunya tim observasi dan penjelajah…

3 minggu setelah lebaran puasa 2011 tim pertama pun bersiap untuk survey lokasi…kali ini memang perjalanan hanya survey jadi beranggotakan 6 orang kami berangkat sabtu pagi sekitar jam 8 pagi lama perjalanan sekitar 5jamlah dari Surabaya ke pantai Sipelot ini jadi jam1an lebih kita sampe…itupun udah  sambil istirahat di kota-kota seperti Malang, Dampit dan makan siang di kecamatan terkhir Pujiharjo  sebelum Sipelot..kira-kira begini rute perjlanannya

Jadi kami melewati SBY-SDA-Porong-Malang-Turen-Dampit-Pujiharjo-Sipelot….perjalanan setelah melewati dampit menuju Pujiharjo kami melewati gunung2 bukit2 yang serasa tak habis2 tapi karena kami sudah pengalaman lewat pantai-pantai malang jadi tidak begitu gusar saat perjalanan ha2..Jalannya lumayan masih aspal bisa delewati mobil sedan pun bisa kelihatannya…

Perjalanan melewati bukit2 ini memang paling seru selain jalannya yang berkelok-kelok udara dingin dan kabut yang turun dari gunung semeru membuat susana jalanan menuju Sipelot ini terlihat semakin asri, sejuk dan dingin…Sampai dimana kamipun akhirnya turun gunung menuju perkampungan Sipelot yang terlihat seperti kota kecil dipinggir pantai dengan kebudayaan sangat pesat..Mungkin ini tempat satu2nya yang ada di pantai Malang selatanyang ada sinyal HP..

Turun dari bukit melihat jalur lava vulkanik dari gunung Semeru yang dimanfaat untuk perkebunan oleh penduduk setempat..Jadi kalau ada abu vulkanik dari semeru turun seharusnya penduduk sipelot dalam melaksanakan evakuasi harus lebih jeli kelihatannya karena kotanya memang terletak di Jalur Vulkanik Mahameru meskipun dipinggir pantai.. Sesampainya dipantai apa yang kami lakukan..

Berdiam diri sejenak menikmati tenangnya pantai Selatan..padahal ciri khas Pantai Selatan adalah ombaknya yang menggebu-gebu jadi maklum karena pantai Sipelot ini pantainya seperti teluk yang dalam jadi ombak disekitar pantai sangat tenang..

Pantai Sipelot ini juga diapit dua bukit karang besar sehingga pemandangannya akan tampak bagus.. Kemudian kami berfikir untuk memarkir motor karena memang disini bebas parkir tapi kami titipkan saja pada penduduk sekitar nanti dikasih bayaran sukarela. ..Pantai Sipelot ini sangat sepi pengunjung dari luar kota hanya penduduk setempat saja padahal tempat pantainya sangat bagus ada sinyal, ramai penduduk…Disekitar pantaipun ada kampung Nelayan merekapun menjual ikan2 hasil tangkapan kepada wisatawan..

Survey kami lanjutkan mulai menyisir karang pantai bagian Barat sampai ke air terjun kecil dipantai Barat Sipelot melewati jalan yang curam membuat kami hampir terpeleset ke dalam jurang…Sebenarnya ada 3 cara menuju air terjun :

1. Memanfaatkan Nelayan setempat  untuk mengantarkan kita kepantai barat sipelot

2. Naik bukit melewati jalan pintas yang curam dan hanya jalan kaki(Sangat bila musim hujan)

3. Naik bukit dengan jalan bagus tapi memutar sekitar 3km(bisa naek motor asalkan handal)medan tanjakannya berat

Kami mencoba memilih alternatif kedua sementara yang lain menunggu diatas bukit saya berdua dengan teman saya menuruni bukit untuk sampai ke air terjun yang begitu extremenya inikan cuman survey jadi asalkan tahu lokasi jalannya nanti tim kedua yang akan camp dan explore lebih dalam..

Memandang pantai Sipelot dari ketinggian ternyata Sipelot ini mempunyai warna pasir yang beragam mulai dari Hitam, coklat, putih sampai abu-abu pantai yang termasuk lengkap dalam kategori wisatawan..kemudian warga sekitar juga sering memancing ada banyak spot2 untuk memancing disipelot ini untuk berenang juga bisa karena mesti tetap hati2 karena ubur-ubur atau landak laut mengintai tpi populasinya sedikit jadi masih aman..

Kemudian setelah turu bukit dan menjelajah karang2 kami pun menyisir bagian pantai timur…melihat muara dari terusan sungai kecil melihat2 spot camping yang enak dan pasti dokumentasi…

Sedikit bercerita pantai Sipelot ini sangat bagus untuk dijadikan tempat wisata secara fasilitas memang mendukung ada perkampungan nelayan, kota kecil, warung-warung makanan…tapi sebagai wisatawan yang menjunjung ekowisata kita seharusnya juga menjaga kebersihan pantai saat wisata dan tidak merusak kealamian sebuah tempat wisata…Bergaul dengan penduduk mungkin akan membuat mengerti apa yang diharapkan penduduk untuk kemajuan pariwisatanya dan hasilnyapun diharapkan bisa kembali untuk perkembangan penduduk setempat juga agar makmur dengan cara learning by doing yang menimbulkan efek positif sehingga wisatawan yang datang dan penduduk setempat bisa singkron…. Dilihat dari kesempatanya pantai Sipelot ini memang bisa dijadikan gacoan pariwisata kabupaten Malang asalkan itu tadi ekowisata dan geotourism harus dijunjung tinggi disetiap mindset pengunjung, pemerintah, maupun penduduk setempat sehingga hasil positifpun bisa dimanfaatkan..Kan sayang pantai seindah ini jika penanganannya salah akan menjadi terciderai keindahan alaminya oleh pihak-pihak vandalisme yang tak bertanggungjawab…

Hari pun semakin sore kami pun memuaskan berfoto-foto untuk dokumentasi karya Mahakuasa yang indah ini..Harapan kami semoga semakin kita tahu masyarakat Indonesia bahwa negerinya ini sangat indah….Karena mungkin salah satu cara  yang mempersatukan sebuah bangsa adalah dengan berkumpul di suatu tempat wisata dan menikmati sebuah keindahan alam Ciptaannya secara bersama-sama dengan berbagai cara mencapai tujuan..

Sekian Tim 2 observasi berangkat 2 minggu kemudian setelah tim1 survey..


Secuplik Video :

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/

 


Berikut Next posting ini Sueto Tim kembali lagi ke kawah ijen. Memang kebetulan mengisi masa waktu liburan yang senggang rekan-rekan Sueto yang belum pernah ke kawah ijen mengajak untuk mengantarkan dan menjelajah lagi kawah ijen..Mungkin aq pikir ini saatnya menjelajah daerah yang belum terjelajah waktu perjalanan ke kawah ijen terdahulu…

Akhirnya pun berangkat jam 10 WIB dari Surabaya kali ini perjalanan naik mobil berisi 5 orang anggota tim…Saat perjalanan memang terasa lambat tapi hampir sangat santai kami berhenti di kota seperti Probolinggo,Paiton, Situbondo..agaknya perjalanan tidak seperti dulu yang terasa sangat cepat karena naik sepeda motor dan juga mengejar sunrise…Tapi kali ini kami mencoba rute yang berbeda ke kawah ijen lewat Banyuwangi itung-itung jelajah jalanlah..

Sebenarnya ada 2 cara ke kawah ijen lewat Bondowoso bisa lewat Banyuwangi kota bisa tapi  kami pilih Banyuwangi yang belum pernah kami lewati dari kota Banyuwangi setelah subuh terus menuju arah barat sekitar 38km melewati melalui Licin, Jambu, Paltuding (1,600 mdpl). nah dari Paltuding ini jaraknya memang sudah sangat dekat 13km an menuju pusat pendakian kawah ijen tapi jalannya memang sangat curam untuk mobil sekelas Avanza tapi karena dasar tekad extreme yang diusung Sueto tim yah kamipun sampai di post pendakian dengan sedikit bantuan pola jalan dari orang sekitar karena kami memang awam lewat jalan ini jalannya memang kecil, licin(apalagi hujan), berkerikil, juga tanjakan dan turunan berkelok-kelok jadi bagi yang lewat Banyuwangi pakai mobil yang kurang sesuai untuk medan offroad diharapkan hati-hati…Oh iya sebaiknya juga mengisi bensin dulu di pom terakhir di daerah licin karena kalau nantinya mau balik lewat Banyuwangi(13km) lagi atau Bondowoso yang jaraknya lebih jauh sekitar 80km tidak kehabisan bensin..tersedia sih bensin eceran tapi hanya di desa-desa tertentu dan tidak bisa diprediksi stoknya…

Perjalanan dari Banyuwangi memang berbeda kami langsung berhenti di post terakhir pendakian berbeda kalau lewat Bondowoso harus melewati 3 post dulu baru kependakian…Setelah sampai ke tempat rest dan parkiran kendaraan kami prepare dulu dan mendaftarkan diri sebelum  mendaki..Sebelumnya memang saya dikira guide yang mengantar turis karena memang ada salah satu anggota tim yang memang jauh-jauh dari Belanda sih…Disini htm turis lokal Rp4000,- kalau turis interlokal sekitar Rp 75.000,- Check up dan kami siap mendaki..berikut foto-foto saat mendaki..

Nah ini sedikit cerita sambil mendaki tanjakan demi tanjakan. Kawah Ijen, terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Wisata ini pernah dipublikasikan dan terkenal Sampai Negara Perancis melalui Tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah

Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.
Selama perjalanan kami ditemani seorang penambang bapak ini telah mengantarkan dan menolong kami waktu ada di tanjakan curam Banyuwangi…Selama perjalanan pun kami cerita-cerita jug selama itu pula kami banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam. Perjalanan yang kami lalui kali ini tergolong cepat hanya 1 1/2 jam saja mungkin karena kondisi kami yang prima saat ini berbeda kala naik motor waktu itu  bisa 2jam pendakian. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas.
Setelah sampai di atas apa yang ada dipikiran saya adalah turun dasar kawah karena rute ini belum kami lewati waktu itu jadi saatnya mencoba. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tsb., kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan dan saya rasa ini sangat extreme sering kali kami pun tiarap berlindung dibalik batu juga perlu diperhatikan jika asap putih anda masih bisa bergerah sambil menutup hidung tapi kalau sudah asap kuning aduh minta ampun untuk bernafas saja susah apalagi bergerak mata juga sangat perih dan tenggorokan serasa dicekik dan batuk-batuk adakalanya saat seperti ini anda berlindung desikitar batu dan menghirup bau batu sambil menutup mulut dan hidung dengan kain basah untuk mengantisipasi asap kuning yang mencekam.
Didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur dari pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang.
Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedlm keranjang. Bernapas dlm lingkungan spt. ini dibutuhkan perjuangan tersendiri, para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara.
Selain langsung menuju muka danau, berkeliling kaldera dapat dilakukan dengan memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian.
Bagi yang mau menginap untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat di Bondowoso, kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai. Jika anda menyukai suasana perkebunan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata-rata di sekitar kawah Ijen adalah 13 oC di siang hari dan 2 oC di malam hari.
Setelah selesai berfoto mendokumentasikan moment kami pun langsung turun bukit..perjalanan turunpun kali ini juga terasa cep-at mungkit cuman 45menit kami nyampai dibawah  seperti biasa istirahat dan makan di warung yang ada kemudian lansung pulang ke Surabaya lewat arah Ijen-Bondowoso..Next cerita perjalanan lagi semoga berguna..
Sebelumnya bisa mampir ke perjalanan pertama ke Kawah Ijen di http://suetoclub.wordpress.com/2010/08/01/wonderfull-kawah-ijen-with-sueto/

Perjalanan kali ini di posting oleh salah satu admin Sueto yang akun twitternya @creeckard…Perjalanan ke kondang Iwak ini memang mengisi kekosongan jadwal touring selama liburan…Saya(@creeckard) pada awalnya dimulai dari teman-teman kampus saya yang mengajak touring setelah melihat salah satu posting di blog Sueto ini tentang pantai selatan Malang…akhirnya saya diajak untuk menjadi guide sekaligus mengantarkan  perjalanan touring sekalian…Sebenarnya saya mengajak Tombz Sueto untuk ikut bergabung tapi karena beliau berhalangan akhirnya saya mengantarkan teman-teman kampus sendirian padahal saya agak sedikit lupa jalannya…Tapi masalah itu bisa diatasi lah kan bisa mengontak teman-teman Sueto lainnya lah…Perjalanan kami mulai dengan berangkat pagi hari dari Surabaya dengan naik mobil avanza setelah menjemput teman-teman yang kediaman yang tersebar di area Surabaya dan sekitar kemudian berkumpul dan mendiskusikan ke pantai mana yang dituju maklum di Malang pantai bernama depan Kondang banyak banget akhirnya berdasarkan pengalaman saya diputuskan menjelajah pantai Kondang Iwak saja…

Perjalanan yang ditempuh dari Malang ke pantai Kondang Iwak ini sekitar 3 jam lebih mungkin karena kami naik mobil jadi agak sedkit melambat tapi yang penting kan sampai…Pantai Kondang Iwak ini sekitar 69 km ke selatan dari Malang di Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo. Untuk mencapai Kondang Iwak, pengunjung dapat mengambil transportasi publik yang bisa diakses bernama “Mikrolet” dari Gadang – Kepanjen – Sumbermanjing Kulon (Cross jalan) Donomulyo dan jalan-jalan sekitar 2 km ke pantai.

Sebelum kami nyampe di pantai kami sempat berfoto di muara sungai karena memang pemandangannya bagus. Kemudian langsung berjalan menuju pantai ya jalan kaki saja mobilnya di freeparkir karena jalannya yang memang belum mumpuni. sesampai di pantai ternyata sepiiii…..hanya rombongan kami dan beberapa pemancing..jadi masih alami dan belum terjamah pantai ini. Mungkin karena akses jalannya yang memang masih susah.

Secara lanscape pantai ini berpasir hitam dan memiliki hamparan yang sangat luas, ombak yang lumayan besar seperti layaknya pantai-pantai disekitar selatan pulau jawa dengan muara sungai yang  langsung menuju laut.

Menurut cerita orang-orang sekitar berdasarkan namanya saja “Kondang Iwak” bisa di artikan sebagai pantai yang terkenal akan ikannya, pantai ini merupakan salah satu resor pantai di bagian Selatan Kabupaten Malang, yang memiliki sungai kecil dan besar tidak melewati pantai. Sehingga memiliki kesan yang baik dan khusus untuk pengunjung dengan mengamati dan memancing ikan-ikan yang renang di sungai.

Setelah kami berpuas diri untuk berfoto-foto menkmati indahnya pantai yang masih sepi ini kami sempatkan untuk bersantap siang sebelum pulang lagi ke Surabaya. Segini dulu cerita saya(@creeckard) mewakili Sueto Touring ke Kondang Iwak…next simak terus cerita touring dari Sueto jelajah Indonesia. Salam Hijau from @creeckard!

Ini videonya saat melewati muara sungai Kondang Iwak

Ini Video kondisi medan jalanan ke Kondang Iwak

Ini Video Lanscape Pantai Kondang Iwak

Oh iya jangan lupa mampir di blog saya(@creeckard) http://edutelekomunikasi.wordpress.com/


Yapp…setelah mampir ke Gua Gong perjalanan Sueto tim diteruskan langsung menuju pantai Klayar…Pantai Klayar ini kurang lebih jaraknya 45km dari kota Pacitan berada di kecamatan Donorejo keluar dari perempatan gua gong pas diperempatan belok kiri langsung ikuti jalan kira2 10km lah dari gua gong…Kalau dari arah Yogya jarak yang ditempuh kurang lebih sekitar 110 km, dengan rute Jl. Wonosari – Pathuk – Wonosari – Pracimantoro – Giritontro yang ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam.

Saya kaget melihat jalannya ternyata sampai Klayar sudah mulus dalam setahun ini cepat sekali perkembangannya..Jalan dari arah Watukarung juga sudal mulus beralaskan aspal padahal waktu tahun kemaren  jalan masih makadam dengan medan yang termasuk berat mobilpun susah lewat sekarang mobil sekelas sedanpun bisa sampai ke pantai Klayar..

Tiket masuk pantai ini cmn Rp3500,- per orang kalau Untuk masuk ke pakai motor dikenakan tarif sekitar Rp 6.000,- (satu motor plus dua orang)setelah masuk pantai memang pantai ini benar-benar indah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata…ha2…kami langsung parkirkan motor dan langsung berfoto-foto serasa tidak kenal lelah…selesai foto di bibir pantai kami menuju ujung pantai setelah ujung pantai kami  naik ke bukit karang di sebelah kanan dan menikmati pemandangan landscape Klayar yang indah dari sebuah gardu pandang. Ternyata dari sini keren sekali pemandangannya diatas sini juga ada warung yang menyediakan makanan es degan juga ada.

Spot foto dipantai Klayar sangat banyak jadi mumpung sekalian disini harus banyak yang di explore…Karena hari sudah agak siangan dan mulai panas kami istirahat di pendopo atas sebentar sampai sorean terus turun menuju spot pantai yang mengarah ke timur di sini ada spot lagi yaitu Seruling Laut, Batu Sphinx, dan Karang Bolong.

Selesai istirahat kami langsung turun menuju bagian timur pantai Klayar melewati sebuah muara kecil yang membelah pantai setelah itu main kartu sebentar kemudian diteruskan lagi deh foto2 di spot timur..

Di ujung timur  Sueto tim  disapa oleh sebuah laguna yang jelita. Diapit 2 gugusan batu karang, laguna ini terlihat indah dengan gulungan ombak jernih yang menghantam dinding karang dan kemudian memecah dan berputar di hamparan pasir putih. Laguna kecil ini memang mempesona dan membuat betah berlama-lama duduk santai memandangnya. Ombak berkali-kali menghempas batu karang dengan kuatnya dan menimbulkan efek air terjun di dindingnya dengan buih-buih putih yang cantik.  Menjelajahi area karang di belakangnya, terlihat beberapa lubang kecil berisi air yang nampaknya menjadi rumah bagi kepiting-kepiting kecil. Nun jauh di sebelah kanan, nampak bukit karang dengan terowongan alami di bawahnya

Terus spot batu-batuan karang disini juga mirip patung sphinx yang dari mesir itu sekilas memang terlihat seperti itu..ha2..Penasaran dengan gebros(Sebutan kalau di pantai Jogring Saloko Malang Jatim) di Pantai Klayar ini namanya Seruling Laut sebuah fenomena alam luar biasa. Ada sebuah celah di batu karang ini. Ketika ombak datang dengan cukup deras, sebagian airnya masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas seolah sebuah air mancur raksasa yang bisa mencapai ketinggian hingga 10 meter. Air mancur ini juga disertai dengan suara mirip siulan makanya sering disebut sebagai seruling laut dan dasyatnya kalau sore hari air mancur ini terkena bias matahari muncul pelangi jadi terlihat semakin indah fenomena alam ini….kami mencoba berfoto dengan fenomena Seruling Laut akhirnya basah semua tapi keren emang..Biuuuhh sampai merasa capek kami baru pulang setelah ishoma dulu…

Soal fasilitas di pantai Klayar(Klayar Kluyur yang artinya jalan-jalan) ini fasilitas seperti warung makan minum ada, WC kamar mandi juga ada, mushola ada yang belum ada penginapan, transportasi umum, sinyal hp atau internet dan listrik…Hmm satu lagi bisa dibuat tempat camping yang asik..

Kali ini Sueto Tim tidak kembali pulang lewat Arjosari karena dikarenakan hari yang sudah gelap malas jalannya jelek soalnya makanya kami pilih jalan yang aman dan bagus dari Donorejo Pacitan langsung Wonogiri saja terus istirahat di akringan solo kemudian bablas Surabaya deh…Sekian perjalana Sueto Tour de Pacitan tunggu saja perjalanan menarik lainnya..

Berikut video pantai Klayar sebagai referensinya

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/


Weeerrrrr???dinginnya tidur di pantai teleng ria ini…udah malam2 ada orang yang bingung nyari WC lagi..ha2.

Wisata pantai Teleng Ria adalah pantai terdekat dari Pacitan, adalah sekitar 5 menit dari kota.Pantai ini dihadapkan kepada ‘di Pantai Selatan’ dengan luas pasir putih panjang sekitar 3 km. Jarak dari Ibukota Kabupaten Pacitan ke lokasi hanya 3,5 km, dan mudah dicapai dengan berbagai kendaraan.

Pantai Teleng Ria memang menjadi sarana rekreasi yang menyenangkan untuk berenang dan juga untuk piknik bersama keluarga.Memiliki pasir putih dan panorama yang indah dijaga oleh gunung limo.

Berbagai fasilitas pendukung yang telah dibangun; Watch Tower untuk menikmati gelombang laut selatan, kolam renang dan taman bermain, sebuah panggung untuk acara budaya untuk Bonggo Budoyo dan area berkemah, daerah penangkapan, hotel, dan makanan tradisional Pacitan. Di pantai ini juga terdapat  Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sehingga pengunjung dapat membeli ikan segar.

Kemudian paginya kami  terbangundan langsung bergegas prepare menuju gua gong nih sarapan dulu ah..perjalanan dari kota Pacitan sekitar 30 Km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan transportasi darat. Gua Gong terletak di daerah perbukitan, di desa Bomo, Kecamatan Punung.

Dari gu gong kami kepagian jadi belum buka..sambil menunggu loket buka yang belum mandi mandi deh…setelah loket buka htm nya seharga rp 7000,-saja kalau mau menyewa center rp 3000,- kalau mau menyewa guide untuk memasuki Gua Gong,ya sudah tersedia disamping mereka sudah mengenal daerah didalam gua, kita juga dapat mengetahui sejarah Gua Gong dengan harga seikhlasnya. Tetapi kami waktu itu g menyewa soalnya juga sebelumnya juga sudah pernah kesini kalau masalah peralatan mah sueto tim cukup lengkap..

Didalam Gua Gong, terdapat lampu berwarna-warni, merah, hijau, kuning, biru cukup membuat jelas pandangan. Didalam Gua juga terdapat kipas angin berukuran besar untuk mengantisipasi panas di dalam gua, sehingga udara dalam gua tidak pengap dan terdapat 7 titik pemberhentian untuk kita beristirahat.

Gua Gong memiliki kedalaman sekitar 256 m dan mempunyai 5 buah sendang, yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, sendang Kamulyan, dan sendang Ralung Nisto yang kono memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit.
Sendang adalah kolam yang biasanya terletak di pegunungan, yang airnya berasal dari mata air didalam kolam tersebut.

Keindahan Stalagnit dan stalagmitnya sangat memukau diabadikan dengan nama Selo Cengger Bumi, Selo Gerbang Giri, Selo Citro Cipto Agung, Selo Pakuan Bomo, Selo Adi Citro Buwono, Selo Bantaran Angin dan Selo Susuh Angin.

Masih di gua gong setelah foto2 perjalanan masih diteruskan memasuki lorong-lorong. Menembus di antara stalagmit dan stalagtit. Membentuk tiang-tiang tinggi penyangga lorong, mengukuhkan keberadaan mereka di sana. Diselang-selingi dengan tirai tipis batuan, menimbulkan kekaguman saat mencoba mengetuknya. Terdengar suara berdengung, yang menggema di seantero lorong. Rupanya inilah sebab mengapa gua ini disebut Gong. Karena tiap kita memukul bagian ornamen di dalamnya, akan terdengar suara berdegung, mirip suara yang dihasilkan gong gamelan kesenian khas Jawa.

Setelah keluar gua kami langsung menuju pantai Klayar memang tempat ini yang ditunggu-tunggu makanya kami pingin lama-lama di Klayar lanjut saja ke Tour de Pacitan(Part4 Klayar Beach).

Nah didekat gua gong ini juga ada wisata gua lain yang patut dikunjungi yaitu gua Tabuhan..Gua Tabuhan ini 40km dari kota Pacitan..Gua yang berada di Dusun Tabuhan, Desa Wereng, Kecamatan Punung ini termasuk salah satu situs peninggalan sejarah penting dan disinyalir sebagai salah satu gua hunian kering manusia purba. Hasil penelitian membuktikan bahwa gua ini telah dihuni manusia purba sejak 50 ribu tahun yang lalu. Terdapat jejak bengkel alat batu dari masa 10 ribu tahun yang lalu, temuan moluska, dan bahkan fosil gigi manusia yang masih menempel pada dinding gua. Tapi karena  langsung menuju ke Klayar jadi Sueto tim g sempet mampir ke gua Tabuhan…Next Trip..

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/


Nah sekarang setelah melewati jalan2 kecil diteruskan menuju pantai watukarung yang berada di dusun ketro watukarung kurang lebih 15km dari kota pacitan lah…sesampai di daerah pantai ternyata dikenai biya masuk sekitar 3000rupiah persepeda motor sudah plus orangnya murah sih…tapi padahal tahun sebelumnya masih gratis dan pantainya masih sepi sekarang sudah ada resortnya udah dibangun bagus lagi jadi memisahkan jarak kepada alam…mendingan di buat kcamping ground saja …

Masuk ke pantai udah ramai  nih pantai tapi karena datengnya tidak saat liburan ya belum banget ramainya tapi kelihatannya kalau liburan bakalan ramai nih soalnya sudah ada bule2 asing mampir untuk surfing mencoba ombak pantai watukarung ini…karena masih panas sueto tim mencari tempat teduhan untuk berisirahat tidur sejenak agar sorenya bisa fit untuk main air di pantai ha2 kayak anak kecil….setelah main air sorenya sambil menikmati bule2 surfing(teringat waktu berada di plengkung alas purwo)terus laper deh..kemudian mencari warung makan di pantai watukarung sebelah yang tempat pesinggahan perahu nelayan pencari ikan…eh ada mercusuar juga disini kalau sempet main2 deh di mercusuar melihat pantai watukarung dari atas…

Terus malamnya kami mau hunting bintang malam mumung cuacanya cerah nih…Sebenarnya pinginnya camping di sini malam ini tapi pingin juga camping di pantai Klayar juga akhirnya kami kembali ke kota Pacitan untung ngecharger malah ceritanya ini camping di pantai Teleng Ria werrr dingin banget udaranya mending cepet tidur ah…soalnya besok diteruskan  Tour de Pacitan(Part3 Klayar Beach and Gong Cave)…Zzzz…Zzzzz..(indah sekali malam ini liburan ini jadi asyiikk***Dream***)

 

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/


Masih meneruskan perjalanan di 2011 liburan kali Sueto team akan menelusuri sebuah kota di ujung selatan agak ke barat jawa timur yaitu Pacitan city…Memang sudah direncanakan akan tour ke Pacitan soalnya waktu itu memang pernah ke Pacitan tapi tak tak sampai jadi ini ceritanya mentuntaskan tour de Pacitan sebelumnya…Hmm perjalanan kami mulai dari Surabaya berangkat sekitar jam 1 pagi ke persinggahan Tombz Raider di Sidoarjo langsung berangkat menuju Pacitan..Menurutku begini rutenya Surabaya-Pacitan..

Berangkat sekitar jam 2 an kurang eh sampe Jombang kota perut sudah keroncongan akhirnya makan dulu deh di stasiun Jombang sambil ngopi terus dilanjutkan perjalanan…Kemudian subuh dulu didaerah Caruban sekitar setengah 5 an lah langsung menuju Madiun-Ponorogo-Tegalombo-Arjosari..Nah di daerah sebelum masuk ke Pacitan ini Tegalombo-Arjosari pemandangan di daerah ini memang bagus karena memang melewati perbukitan tinggi tapi juga daerah ini sangat rawan longsor terus jalannya hanya satu ini jadi kalau longsor ya harus menunggu longsornya dibersihkan dulu menurut cerita dari salah seorang teman dari Pacitan jalannya juga meliuk2 jadi kalu yang naik bis atau mobil hati2 bisa mabuk saja..ha2..Apalagi kalu sedang hujan mah licin banget ni jalan..sekitar 10-20km terakhir menuju kota Pacitan jalannya juga agak jelek dan kecil hanya bisa dilewati satu bus saja Hmmm…mungkin karena ada perbaikan jalan karena longsor2 sebelumnya..Tapi memang daerah ini bagus dibuat foto2 makanya kami berhenti sejenak untuk foto2..

Setelah puas foto2 perjalanan kami teruskan menuju kota Pacitan tetapi sebelum masuk kota kami sarapan sekitar jam 7an…Berikut rencana perjalanan kami Sueto Tim pertama menuju kota Pacitan istirahat sejenak setelah langsung menuju ke pantai Srau untuk istirahat dan menikmati pantai agar lebih lama…

Sekitar jam 9 Sueto tim sudah nyampe pantai Srau bayar sekitar Rp3000,-per orang sekalian motor..Pantai Srau ini terletak di Desa Candi Kecamatan Pringkuku, berjarak kurang lebih 25 Km arah Barat Pacitan. kalau dari Solo sekitar 245km. Pantai Srau mungkin obyek wisata yang tak boleh terlewatkan apabila kita berwisata ke kota Pacitan. Pantai Srau terkenal dengan pasir putihnya yang sangat indah. Kita bisa mencapai lokasinya dengan kendaraan umum yang biasa disebut colt atau kendaraan pribadi baik roda 2 maupun roda 4. Jalannya 2011 sekarang sudah lebih baik sudah beraspal dari pada tahun 2009-2010 aku pikir pembangunan pariwisata di Pacitan ini memang sangat pesat.

Secara informal, Pantai Srau dibagi menjadi 3 lokasi. Lokasi pertama yang terletak paling dekat dengan pos penjagaan masuk ke lokasi pantai ini. Pada lokasi pertama ini, yang paling menonjol dan merupakan keunikannya dibandingkan tiga lokasi lain adalah bebatuan karang yang mencuat dan banyak membentuk bukit di sekeliling bibir pantai.

Untuk masalah perairannya, sangat jernih dengan dominasi warna biru artinya tidak banyak alga dan kedalamannya cukup mengerikan. Untuk kondisi wilayah pasang surutnya berpasir bukan berbatu, serta ombaknya cukup ganas walau kadang tidak terlalu tinggi.

Lokasi kedua terletak setelah kita menyusuri jalan aspal kecil dari pos penjagaan di pintu masuk ke arah barat. Lokasi kedua ini merupakan lokasi favorit bagi pengunjung atau wisatawan serta muda-mudi yang sedang dimabuk asmara untuk berpacaran. Pada lokasi kedua ini disediakan tempat duduk yang terbuat dari beton dengan posisi menghadap ke pantai. Di lokasi inilah, bisa kita temui pedagang-pedagang minuman maupun makanan menggelar dagangannya. Untuk kondisi pantainya sendiri, lokasi kedua ini memiliki ombak yang cukup jinak, namun tetap berbahaya. Kondisi pantai berpasir namun juga terdapat karang-karang namun tidak sebanyak lokasi pertama. Bagian Pantai Srau inilah yang sering dijadikan lokasi surfing, bukan hanya oleh penduduk lokal, namun juga oleh wisatawan mancanegara. Yang khas dari tempat kedua ini dan wajib dikunjungi adalah gua laut yang terletak pada di bagian paling timur dari lokasi kedua ini.

Lokasi ketiga,  terletak di sebelah barat lokasi kedua atau terletak pada bagian paling barat dari Pantai Srau tersebut. Pada bagian ini terdapat fasilitas berupa anjungan kecil. Dari anjungan tersebut kita dapat menikmati pemandangan sunset yang menawan. Pantainya sendiri tidak terlalu menarik karena hanya merupakan teluk kecil yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, dengan kondisi pantai berpasir dan ombak yang relatif kecil namun perairannya cukup dalam.

Selain itu, di lepas pantai dapat kita saksikan karang yang menyembul dan bentuknya mirip seperti ekor Hiu.
Dasar wilayah pasang surut di bagian pantai ini bukan berupa pasir melainkan batuan karang sehingga kita dapatmenyusuri pantai tanpa kaki kita harus terbenam pada pasir pantai dan di celah-celah batuan karang ini, terutama di tempat yang benar-benar terlindung dari sinar matahari, dapat kita temukan berbagai hewan laut seperti teripang, bintang laut, maupun landak laut.

Saya pun terpancing menaiki tebing2 karang yang tinggi untuk melihat lokasi 3 objek pantai dan luas bentangan samudra Hindia semuanya memang tampak indah diatas sini tapi kalau siang-siang mah memang panas banget harus bawa payung atau topi lah sedikit teringat pantai Tanjung Papuma  di Jember yang memang mempunyai sedikit kemiripan dengan 3 lokasi pantainya…Memang seperti biasa jaringan 3 payah jika didaerah pantai khususnya pantai selatan sinyalnya sos mungkin seluler lainnya layaknya telkomsel pasti ada..ha2..Hmm dari atas melihat anak menikmati es degan jadi saya pingin minum soalnya memang panas dan jalannya terjal meski sudah mulai dibangun tangga untuk ke atas bukit karang setelah selesai foto2nya saya bergegas turun…

Bicara secara fasilitas memang sudah agak lengkap dan masih terus dikembangkan WC umum ada pedagang2 penjual di gubuk2 pantai juga ada tempat parkir free…masjid ada, cottage masih dibangun malah ada yang tempatnya diatas bukit karang. Perkembangannya bakal pesat tinggal kebersihan pantai dan kerapian gubug pedagang saja yang harus diperhatikan supaya pantai masih kelihatan indah, bersih dan asri nantinya..

Oh iya di pantai Srau ini juga kalau pingin tahu caranya memancing di samudra banyak para penduduk sekitar memancing di tebing2 karangkok..disini sih sebutannya Pancing Samoedara

Kemudian mencoba istirahat sejenak sambil tiduran di pantai sampai jam 2 an..ZzzZzzz terbangun dan merencanakan perjalanan menuju pantai berikutnya…Lanjut ke Tour de Pacitan(Part2 Watukarung  Beach)

 

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/


Masih dari kecamatan Gedangan Malang perjalanan diteruskan menuju daerak Wonogoro di sungai mbarek…Sungai air payau ini langsung terhubung dengan muara di pantai Pesanggrahan..

Karena melihat aliran sungai yang tenang, bersih, hijau  dan tidak terlalu dalam maka kami putuskan untuk menjadi tempat persinggahan kami untuk foto-foto, mandi, dan cuci motor memang sungai mbarek ini biasanya memang dipakai warga sekitar untuk mencuci, mancing dan mandi dapat dilalui menuruni jembatan mbarek yang dari arah Wonogoro jalurnya menuju ke Balekambang…Kami juga terpancing oleh 2 batu besar yang tampak seperti kepala kadal besar…pokoknya yang penting foto-foto dulu di saat terakhir perjalanan yang memang sudah merasa mulai lelah banget dan semakin malam hujan mulai mengguyur..

Sungai Mbarek ini terletak saat kita dari arah pantai Balekambang menuju Wonogor0 akan melewati jembatan pertama yaitu jembatan mbarek..oh iya dari Balekambang ke arah Bajulmati kita setidaknya melewati kalu g salah 6 jembatan he2..agak lupa baru nyampe deh di Bajulmati jalannya hanya bisa di lalui truk dan motor mungkin kalau mobil cmn bisa sampai Wonogoro saja kalau dari Balekambang..

videonya

Berikut touring Sueto kali ini lain kali akan dilanjutkan dengan cerita perjalanan yang menarik lainnya…


Menyambung perjalanan dari pantai Bajulmati sektor 2 kami mencoba menelurusi jalan aspal baru yang terus ke arah barat sampai jalan tersebut habis memang jalan ini jika diteruskan akan tembus pantai Balekambang makanya kami berniat menelusuri jalan tersebut…

Lama kami telusuri ternyata jalan aspal yang lebar dan bagus pun habis kami akhirnya mulai menyusuri jalan makadam yang kecil dan menanjak ternyata semakin seru jalannya makin menantang medannya memang agak berat juga sih…perperjalanan kadang-kadang kami berhenti sejenak mengambil nafas untuk melepas lelah dari bajulmati ke pantai Ngantep sekiranya masih ada 12km kurang lebih sih dijalanana sperti ini memang kadang-kadang anda akan menjumpai beberapa klub motor trail yang lagi latihan juga melewati persawahan dan perkebunan warga..mencoba semangat karena jalan semakin terjal dan berlumpur malah ada seorang anggota yang keblowok ha2…

Detik-detik menuju pantai Ngatep pun semakin dekat dan jalan pun dipenuhi batu-batu tapi harus kami lewati juga…Akhirnya sampai juga kita di pantai Ngantep pertama kali yang kuingat saat ke pantai ini adalah pantai kute yang di Bali itu sih…Hamparan pasir yang luas ombak yang sedikit tenang pasirnya yang halus dan putih bisa dibuat berenang lagih..Hmmm bedanya disini masih sangat sepi paling hanya ada muda mudi sekitar perkampungan dan tarif masuknya pun gratis!semoga pantai ini masih menjadi milik SUETO beberapa semester ke depan ha2..(ngareb)..Kami tiba di pantai ini mungkin sekitar jam 2 memang saat itu mendung tapi menguntungkan buat berenang lumayan kan g panas..Pantai Nganteb ini terletak setelah pantai wonogoro kalau dari arah Balekambang. Pantai Ngantep ini masih masuk wilayah kecamatan Gedangan sekitar 72km dari Malang. Kelihatannya seperti ini kejelasan mapnya nyari di Wikimapia

Demikianlah pantai Ngantep ini bagus banget memang tapi perlu sedikit pembenahan di segi infrastruktur jalan tapi mudah-mudahan juga tetap alami…kalau ketempat yang bagus emang harus bersusah payah biar ada kesannya gitu mungkin ya..Oh ya jalan tidak memungkinkan untuk dilalui mobil macam sedan dan mpv..paling2 jenis SUV yang 4WD sama kendaraan offroad sejenis..Tapi memang kemana-mana yang penting tekad dan niat yang kuat plus doalah..yaudah boleh disimak foto2nya sebagai referensi pembaca..

video di pantai ngantep by suetoclub

Next part 4 langsung menuju Mbarek River untuk mandi dan membersihkan motor…


Hay salam Wildlife Sueto…Sudah agak lama ndak merilis artikel baru mengenai extreme touring….ha2..soalnya nih anak2 Sueto community lagi sibuk mencari artikel baru tentunya dengan menjelajah tempat-tempat asyik di Indonesia dan masih di Indonesia belum kesampaian menjelajah duniakok..yang pentingkan Indonesia dulu dijelajah biar anak-anak bangsa ini lebih tahu indahnya Indonesia..

Hmmm berlanjut nih pada awal tahun tahun 2011 sekitar bulan Febuari kami Sueto Community berniat menjelajah lagi setiap inci pantai selatan Malang yang belum kami lewati akhirnya kami putuskan hari itu menelusuri pantai pertama sebelum pantai Bajulmati yaitu pantai Gua Cina diteruskan Bajulmati sektor 2 terus melewati jalan utama Banyuwangi-Pacitan yang masih belum jadi menuju pantai Nganteb diteruskan ke muara Wonogoro…ini peta perjalanan kami..

Mengapa perjalanan kami sebut 24 jam soalnya waktu itu kami berangkat jam 12 malam datengnya juga jam 12 malam juga…takdir emang berangkat dari surabaya jam 12 dari Malang eh malah tidur dulu di kota lesehan depan alfamart abis subuh-subuh mengantuk banget…zzzzzzz…..setelah subuh kami langsung meneruskan perjalanan saat itu kami berangkat 5orang naek motor…sampai daerah sumber manjing kami berhenti sejenak untuk sarapan didaerah sini sudah rawan sinyal ha2..3 emang payah kalau didaerah pantai emang kalau digunung mah nomer1…terus kami lanjutkan perjalanan melewati plakat pantai tamban belok kiri itu kami lurus beberapa kilo langsung belok kanan ada plakat pantai goa cina sama arah pantai Bajulmati kalau terus mah menuju sendang biru atau pulau sempu makanya kita belok kanan saja….Menyusuri jalan beraspal yang bagus naik turun bukit serasa di vietnam sajalah pemandangannya ha2..Awalnya kami agak linglung ternyata perkembangan pariwisata di pantai selatan ini begitu pesat awal kami lewat pantai Goa Cina tahun 2009 mah belum ada plakatnya sekarang sudah ada plakatnya jadi jelas tapi sayangnya jalannya tetap kayak dulu makadam tidak berubah padahal sudah ada lahan area parkirnya mobil-mobil kayak avanza juga bisa lewat sini kelihatannya pariwisata pantai Goa Cina ini memang inisiatif warga aja yang mengembangkannya..Setibanya di pantai biasa kami langsung menyusuri, menjelajah dan berfoto-foto untuk arsp Suetolah….Bagus!satu kta yang harus terucap dong melihat keindahan yang masih alami meskipun sudah mulai banyak wisatawan di pantai ini karena meskipun akses jalannya jelek tapi tempatnya memang mudah diketahui..

Hmm pantai Goa Cina ini berlokasi ± 6 kilometer dari Pantai Sendang Biru. Dan dari Kota Malang sekitar 70 kilometer. Pantai ini terletak di kawasan Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Pantai ini terbentang sepanjang kurang lebih 3 kilometer.  Pantainya terdiri dari batu2 karang ombaknya sedikit ganas masih bisa dibuat mandi atau bermain-main dipinggir pantai. Pantai ini pertama kali ditemukan oleh pertapa China pada tahun 1950. Tetapi baru dipublikasikan ke publik tahun 2007. Konon nama pantai Goa China, di ambil dari Pasutri ( pasangan Suami Istri ) asal Cina yang pernah menempati sebuah Goa di Pantai tersebut. Gua Cinanya sampai sekarang juga sering dipakai untuk bertapa oleh orang-orang sekitar.

Berikut foto-fotonya :

Wahhh…perjalanan masih panjang nih masih pagi langsung lanjut ke perjalanan berikutnya perjalana ke pantai Bajulmati sektor 2….

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/


 

Nah kali ini cerita terusan dari perjalanan Cilegon…………..Hmm begini ceritanyo perjalanan saya tempuh naek bis dari Serang jam 3 sore terus nyampe terminal Yogya sekitar subuh jam5 pagi saat perjalanan ada sesuatu hal yang bikin saya prihatin waktu istirhat makan dirumah makan daerah indramayu ternyata didaerah situ banyak yang jual mizone 1botol 8ribu-9ribu huh kok tega ya sama pembeli mending minum aqua sajalah……..saat perjalanan tidurrr sampe pagi tiba2 saja udah nyampe yogya eh baterai habis cari charger dulu sambil minta jempud anggota sueto yang lain  deh……..Nungguuuuuuuuuuu terus dateng deh anak2…langsung menuju kawasan malioboro untuk mencari pijeman motor abis anaknya 5 motornya cuman 2….sambil makan dawet durian..akhirnya dapet dengan harga murah sekitar 40-50 ribu langsung menuju pantai gunung kidul lewat wonosari nih petanya

Dari wonosari menuju daerah pantai selatan kira2 kami menempuh perjalanan 2jam melewati pantai-pantai yang indah dan rata2 memang sudah ramai pengunjung akses jalannyapun sudah bagus…Jika anda punya waktu sempatkan berjalan-jalan menghabiskan semua pantai disini karena pantai di memiliki ciri khas yang berbeda-beda…

Pantai Siung  sendiri terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam perjalanan. Menjangkau pantai ini dengan sepeda motor atau mobil menjadi pilihan banyak orang, sebab memang sulit menemukan angkutan umum. Colt atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itupun mesti menunggu berjam-jam.

Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini. Maklum, banyak tantangan yang mesti ditaklukkan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang disertai turunan hingga panas terik yang menerpa kulit saat melalui jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang-ladang palawija. Semuanya menghadang sejak di Pathuk (kecamatan pertama di Gunung Kidul yang dijumpai) hingga pantainya.

Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur Yogyakarta – Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari – Baron dan Baron – Tepus adalah jalur yang paling mudah diakses, jalan telah diaspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta – Imogiri – Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena banyak jalan yang berlubang, sementara jalur Wonogiri – Gunung Kidul terlalu jauh bila ditempuh dari kota Yogyakarta.

Seperti sebuah ungkapan, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, begitulah kiranya perjalanan ke Pantai Siung. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Birunya laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihannya akan mengobati raga yang lelah.Tersedia sejumlah rumah-rumah kayu di pantai, tempat untuk bersandar dan bercengkrama sambil menikmati indahnya pemandangan.

Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.

Batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.

Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali menjadi salah satu pusat perdagangan di wilayah Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya di wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya mencari ikan di tepian.

Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo,diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah Winganun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempuh penduduk setempat untuk bertahan hidup.

Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pecinta alam dari Jepang memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 90-an, berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali memanfaatkan tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah, popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi.

Kini, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing. Jalur itu kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Banyak pihak telah memanfaatkan jalur pemanjatan di pantai ini, seperti sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah bersiap melakukan panjat tebing ketika YogYES mengunjungi pantai ini.

Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ini, tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak merusak lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam.

Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 – 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan untuk bermalam.

Saat malam atau kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin langka masih banyak dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigi kera, bukan jenis hewan lainnya.

Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang-orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulyo atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak lama lagi. Semakin banyaknya pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjat tebing menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan. Kunjungan wisatawan, termasuk anda, tentu akan semakin mempercepat teraihnya kejayaan itu.

Di Pantai ini ada anggota Sueto yang jauh2 n susah2 berkorban demi cinta loo…sampe triak2 segala diujung tebing momennya dia juga minta di foto2 sebagai surprise bagi pujaan hatinya waktu itu….ha2…

Hmm setelah puas foto2 dan mendaki di pendakian tebing2 pantai Siung kamipun pulang tpi biasa mampir malioboro lagi dan tak lupa oleh2 untuk sanak keluarga…….terus kan tadi orangnya 4 motornya 2 sekarang  orang nya5 motornya 2 wes pokoknya ada caranyalah…he2..Pokoknya bagi penggemar perjalanan inilah yang bisa Sueto oleh-olehkan….See Y!Next Trip

Bisa lihat videonya sebagai referensi

 


Sueto Tim Triangle Ranu

Perjalanan kali ini 2010 sueto akan menuju tiga ranu di Lumajang….perjalanan yang dilakukan dengan singkat ini dilakukan sehari saja dari Surabaya menuju daerah Lumajang yaitu di kecamatan Klakah..

di Klakah terdapat tiga buah ranu (danau) vulkanik yang berada di sekitar lereng Gunung Lamongan, yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali. Ranu Pakis digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Ranu Klakah merupakan ranu yang berlatar belakang Gunung Klakah. Ranu Bedali merupakan Ranu yang terdapat di daerah cekungan, seolah-olah ranu ini berada di sebuah mangkuk besar. Ketiga Ranu tersebut membentuk segitiga, sehingga disebut dengan “Segitiga Ranu”.

Pokoknya dari Sby niat berangkat jm 7 eh ternyata molor jadideh berangkat jam10 bersama 8 orang anggota kamipun berangkat setelah prepare dan mbulet…sebenarnya banyak ranu di daerah Lumajang tapi yang bisa kami kunjungi cuman 3 saja…mungkin next trip sajalah..lanjut ke perjalanan berangkat hari sabtu kebetulan hari itu sangat panas mungkin karena kami berangkatnya kesiangan setelah menempuh perjalanan 5jam kami nyampe sekitar jam 3 sore pertama yang kami lakukan adalah istirahat di ranu bedali..

Sebagai rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 Km dari Ranu Klakah kita sampai pada Ranu Bedali Kecamatan Ranuyoso. Obyek wisata ini mempunyai ketinggian � 700 M dari permukaan laut dengan luas danau 25 Ha dan kedalaman 28 m.

Obyek ini berada pada ketinggian  900 meter dpl, dengan luas 22 hektar dan kedalaman 28 m yang dilatar belakangi gunung Lamongan dengan ketinggian 1.668 m dpl, serta didukung oleh udara yang sejuk dan segar. Beraneka ragamnya buah-buahan nangka khas Klakah yang dijual sepanjang jalan raya menjadi daya tarik lain bagi obyek wisata ini.

Ranu Bedali

Sueto Photo

Bro Puyeh, Aldok, Cimen

Foto dewe

Berbeda dari dua ranu sebelumnya, yang menarik dari ranu ini adalah letak permukaan air berada jauh di bawah permukaan tanah. Sehingga untuk mencapai daratan tepi danau dibutuhkan kesehatan prima yang merupakan tantangan bagi mereka yang berjiwa muda. Meskipun demikian panorama danau ini dilihat dari atas cukup mengasyikkan…Maunya seh ke bawah tapi kok kelihatannya mau hujan nih…

Setelah ke Ranu Bedali kami langsung lanjutkan ke Ranu Klakah dan Pakis karena waktu sudah semakin sore dan kelihatannya mau hujan…Sekitar 10 menit dengan berkendaraan roda dua ataupun roda empat sampailah kita ke Ranu Pakis, bila kunjungan wisata kita diawali dari Ranu Klakah. Obyek wisata danau ini terletak di Desa Ranu Pakis dengan jarak 20,5 Km disebelah Utara kota Lumajang ,mempunyai ketinggian  600 Meter, dari permukaan laut dengan luas danau 50 Ha dan kedalaman 26 m. Masih dilatar belakangi Gunung Lamongan dan nampak lebih dekat, serta kondisi alam yang masih perawan akan menjadi daya tarik bagi pecinta lingkungan atau wisatawan yang membutuhkan udara segar.

Ranu Pakis

Selain rekreasi dapat pula menikmati ikan segar yang dijual di warung-warung sederhana dan dapat pula dibawa untuk oleh-oleh. Ikan ini hasil budi daya pada perairan Ranu Pakis dengan sistim keramba jaring apung, jenisnya Mujaher, Nila.

Ranu Klakah Obyek wisata danau ini terletak di sebelah Utara kota Lumajang tepatnya di Desa Tegalrandu Kecamatan Klakah dengan jarak tempuh � 20 Km dari kota Lumajang. Transportasi, mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum baik roda dua maupun roda empat disamping ada dokar sebagai sarana angkutan tradisional masyarakat setempa

Panorama yang khas berupa fatamorgana kebiruan air obyek wisata ini merupakan alternatif pilihan tujuan wisata di Jawa Timur bila mengunjungi Bali melewati Kabupaten Jember. Danau ini merupakan salah satu obyek wisata dari Kawasan Wisata Setiga Ranu ( danau ) sedangkan lainnya adalah Ranu Pakis dan Ranu Bedali, yang satu sama lain terhubung oleh jalan yang dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Disamping menikmati panoramanya, aktivitas yang dapat dilakukan sendiri ataupun bersama keluarga antara lain, joging mengelilingi area danau dengan fasilitas jalan beraspal, berperahu, menikmati sarana permainan anak, berolahraga tennis dan memancing. di Ranu Klakah tersedia sarana Hotel untuk menginap dengan jumlah kamar 6 buah.

Ranu Klakah

Setelah agak maleman puas makan,foto-foto dll…kami pun melanjutkan perjalanan agak naik lagi yaitu menuju gunung Lamongan. Gunung Lamongan. Terletak di sebelah timur Klakah, gunung ini merupakan tempat berkemah dan pendakian bagi para pecinta alam. Di lerengnya terdapat sebuah tempat untuk beristirahat bagi para pengunjung, sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Lamongan. Masyarakat sekitar menyebut tempat itu dengan istilah Rumah Mbah Citro. Dari Klakah menuju ‘Mbah Citro’ dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Dari ‘Mbah Citro’ kita bisa melihat pemandangan kota Lumajang dari ketinggian, yang nampak lebih indah ketika malam hari. Bila siang terlihat pula panorama pantai selatan yang begitu eksotika. Dari Mbah Citro menuju puncak membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam. Di tengah rute terdapat sebuah watu gede (“Batu Besar”) yang dijadikan tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan pendakian ke puncak. Pendakian umumnya dilakukan pada malam hari, dengan perkiraan pagi hari sebelum matahari terbit telah sampai di puncak Gunung Lamongan. Keindahan matahari terbit dapat disaksikan dengan jelas dari puncak Gunung Lamongan.

Kota Lumajang malam hari diambil dari pondok mbah citro

Mau nya sih langsung daki G.Lamongan saja tetapi karena ada suatu trouble jadi kami putuskan untuk kembali ke Surabaya saja perjalanan dari Surabaya pun  ditempung kurang dari 4jam jadi lebih ngirit 1setengah jamlah mungkin lain kali kami akan daki ini G.lamongan…jadi see u next trip..


Sueto Tim Plengkung

Sueto Lanjut  Plengkung setelah tertidur pulas malam itu….Setelah prepare sejenak sambil menunggu driver pickup datang. makan dulu ahh…Setelah  naek pick up extreme ini hmmm aura touring offroad extreme langsung terasa..Gimana nggak pickup ini  lebih tepat disebut Pickup Extreme  kedua mobil yang disediakan ini terlihat super berantakan dan salah satu mobil tidak ada remnya jadi saat melewati rintangan offroad harus mengandalakan kepiawaian driver..Saat perjalanan pun kami berkali-kali terjebak kubangan2 lumpur…untung bisa diatasi perjalanan Pancur-Plengkung ini kurang lebih dilalui sekitar 1jam..Untung tak kami teruskan pakai Xenia waktu itu kalau jalannya offroad parah kayak gini..saat perjalanan melintasi hutan menuju ke Plengkung ternyata ada  hutan sawo kecik unik yang tumbuh berjajar ditepi pantai. Buah sawo kecik hutan dengan kulitnya yang berwarna merah tidak ada yang memanen dan berjatuhan ditanah, buahnya bisa dimakan langsung dengan rasanya yang manis. Begini awal mula penemuan Plengkung oleh turis2manca.

Pada mulanya tidak ada yang tahu bahwa pantai yang berada di Semenanjung Blambangan ini berpotensi menjadi satu kawasan yang diperhitungkan dalam percaturan pariwisata. Namun sekitar tahun 1970-an, dua orang peselancar dari Kalifornia, AS, Gerry Lopez dan Mike Boyum, merasa tertantang untuk mencoba keganasan ombak di daerah ini.

Begitu terkesannya dengan ombak di Pantai Plengkung, mereka menyebarkan kabar itu ke beberapa temannya di Kalifornia. Berkat informasi keduanya, sejak tahun 1974 peselancar Kalifornia banyak yang berdatangan mencoba ombak Plengkung.

Akhirnya, pantai Plengkung yang sepi, berkembang menjadi daerah yang banyak diperbincangkan para peselancar dunia. Kawasan ini bertambah maju setelah tiga perusahaan swasta mendirikan penginapan (lebih tepat disebut camp), yaitu PT Wana Wisata Alam Hayati yang lebih dikenal dengan Bobby’s Camp, PT Plengkung Indah Wisata, dan PT Kenari Wisata. Jarak camp tersebut ke Pantai Plengkung hanya 100 meter sampai 150 meter.

Meski pengelolanya swasta dan menu makanannya sekelas makanan di hotel bintang lima, jangan bayangkan camp ini semewah hotel bintang empat atau lima seperti di Bali dan Jakarta. Ketiga pengelola camp tersebut menginginkan suasana Plengkung tetap alami.

“Tidak ada listrik di sini, kami pakai diesel. Ada televisi, tetapi jangan harap bisa nonton RCTI, CNN atau siaran stasiun televisi lainnya. TV itu hanya digunakan untuk menyetel video, terutama video tentang selancar. Tapi soal makanan dan minuman, kami tidak kalah dengan hotel-hotel mewah di Bali,” kata Puma, pria Bali yang menjadi pengawas di Bobby’s Camp.

Untuk bermalam di sana, paket termurah Rp 385.000 per malam, termahal Rp 550.000 per malam. Biaya itu sudah termasuk untuk kaos, o ngkos speed boat, makanan, dan minuman. Bedanya, untuk yang termahal dilengkapi dengan kipas angin.

Menurut Puma, tamu Bobby’s Camp -hampir seluruhnya adalah peselancar profesional, sepanjang hari, kegiatannya hanya berselancar. Dari camp yang berbentuk panggung dan terbuat dari kayu, para tamu bisa leluasa memandang ke arah pantai dan deburan ombak yang datang dari Samudera Hindia. Kalau ombak bagus, mereka segera turun berselancar. Kalau ombak jelek, balik lagi ke camp.

Bagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi Pantai Plengkung merupakan obyek wisata yang masuk dalam “segi tiga berlian” yang dijadikan sebagai andalan sumber pemasukan dana dari sektor pariwisata.

Pantai Plengkung merupakan obyek wisata yang tidak hanya memiliki panorama indah, tetapi juga dikenal sebagai pantai yang cocok untuk olahraga selancar air (surfing) karena memiliki ombak besar.

Konon, bagi sebagian wisatawan mancanegara, ombak di pantai ini, khususnya pada bulan Mei hingga Oktober, dianggap sebagai terbaik kedua setelah arena selancar air di Hawaii.

Sebagai catatan, di Pantai Plengkung pernah berlangsung lomba selancar air (surfing) tingkat internasional yang dikenal dengan “Banyuwangi G-Land International Team Challenge”.

Lomba itu diikuti 12 tim selancar air dari delapan negara dengan jumlah atlet 86 orang. Mereka antara lain berasal dari Australia, Prancis, Inggris, Amerika, Selandia Baru, dan Indonesia yang diwakili oleh atlet selancar dari Bali.

“G-Land, The Seven Giant Waves Wonder” Julukan tersebut diberikan oleh peselancar asing utk gulungan ombak di pantai Plengkung yg berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. G punya tiga konotasi yg berbeda: Green, krn lokasinya di tepi hutan, Grajagan, nama point terdekat sebelum ada jalan melintas di hutan atau Great krn salah ombak yg terbaik di dunia. Apapun artinya, itulah julukan buat sebuah nama lokal bernama Plengkung.

Ombak di Plengkung merupakan salah satu yg terbaik di dunia. Ombak setinggi 4-6 meter sepanjang 2 km dlm formasi 7 gelombang bersusun “go to left” cocok ditunggangi oleh peselancar kidal. Selain Plengkung utk peselancar prof, ada juga Pantai Batu Lawang utk belajar. Ombak disini disebut “twenty-twenty” yg artinya twenty minute utk mendayung ketengah dan twenty minute menikmati titian ombak.

Pantai plengkung atau G-land dapat dicapai melalui kota Banyuwangi kearah Muncar atau Benculuk terus kearah Pasar Anyar melalui Tegal Dlimo. Dari sini melaju sejauh 10 km melalui jalan makadam menuju pintu utama Taman Nasional di Rowobendo. Dari Rowobendo, 3km dgn jalan makadam menuju ke pos Pancur. Dari Pancur jalan bercabang-cabang menuju Sadengan, pantai Ngagel atau terus ke Plengkung.

Gulungan ombak di G-Land dapat disamakan dengan tiga lokasi lain di mancanegara, antara lain di Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Namun, ombak di G-Land dianggap memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ombak yang besar, keras, dan panjang. Berbeda dengan ombak di Oahu, misalnya, yang memiliki ombak besar tetapi relatif lebih pendek. Dengan kelebihan tersebut, tidak mengherankan jika kejuaraan berselancar internasional Quiksilver Pro pernah diadakan di G-Land tiga kali berturut-turut, yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997. Sayangnya, krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang kemudian disusul dengan berbagai kerusuhan sosial menjadikan panitia penyelenggara urung mengadakan kembali kejuaraan tersebut di G-Land.

Dari Pancur ke Plengkung sejauh 9km, walaupun jalan aspal yang masih baru (sebagian kecil saja belum selesai), sementara ini hanya boleh dicapai dgn 3 cara: berjalan kaki selama 2 jam, naik motor trail beserta jagawananya, atau menggunakan angkutan khusus pick up yang dikelola taman nasional alas purwo(tarif pick up yang mengantar dari Pancur-Plengkung Rp120-140ribuPP buat5-8orang).

Kendaraan pribadi hanya boleh diparkir di pos Pancur. Lokasi pantai Ngagel, Sadengan, pantai Trianggulasi dpt dicapai dlm hitungan sebentar dari Pancur karena bisa ditempuh dengan mudah menggunakan kendaraan apa saja.

Dari Grajagan, Plengkung bisa dicapai dengan speed boat dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Pokokya nie tempat menarik benget untung dikunjungi. Setelah prepare sorenya kami kembali ke Surabaya usai sudah kami menuntaskan misi ke TNAP yang sebelumnya sempat tertunda…See you the next touring….NIh foto-foto saat di Plengkung

Santai di Plengkung

Sando Photography

Menyusuri Pantai

Randy de Punient

New Place

Membidik

Bertengger

Diluar batas

New Planet

Pose

Jump!

Superman

Spawn Surfer

Soehell The Silver Surfer

Surfing

Surfing 2

Surfing 3

Surfing 4

Surfing 5

Surfing 6

Surfing 7

Surfing 8

Finish Surfing

Back to Camp

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ :)


sueto tim

gerbang masuk alas purwo

Perjalanan kali ini Sueto akan menuju TNAP yang berada di daerah pucuk paling timur propopinsi Jatim yaitu Semenanjung Blambangan di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kali ini sueto berangkat pake mobil xenia bro Sando…pada awalnya rencana touring ini memiliki 2 tim yang akan berangkat tapi berhubungan 1 tim lainnya ada kendala akhirnya kami berangkat 1 tim saja..Dimulai berangkat dari Sidoarjo markas tombzraider, beranggotakan 8 orang pada akhir semester genap 2010 jam 10an malam pun langsung berangkat…Awal berangkat kami lewat jalur selatan menuju Banyuwangi tapi mampir ke rumahe temen dulu di Lumajang setelah itu langsung cabut perjalanan menuju TNAP…nih jalurnya melewati Surabaya-Sidoarjo-Porong-Gempol-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Klakah-Lumajang-Jember-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Rogojampi-Srono-Muncar-Tegaldino-TNAP

Rute SBY-TNAP

Melewati perjalanan yang berliku-liku Xenia pun sanggup melahap kecepatan 140km/jm target pagi sudah nyampe melewati daerah Kalibaru perbatasan Jember-Banyuwangi dan ngopi sejenak terus langsung dilanjutkan ke TNAP dan akhirnya nyampai daerah tegaldino memasuki perkampungan kecil dengan jalan yang sedikit makadam akhirnya sampe di pintu gerbang TNAP…tentang TNAP

Ada beberapa cara menuju TNAP salah satunya kalau dari Banyuwangi… Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.

Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Peta TNAP

TNAP SUETOclub

Bersama Banteng TNAP

Lagi mendinginkan MObil dan orang yang kepanasan karena terlalu cepat

Soehel the silver sufer

Menyebut nama Alas Purwo, mungkin banyak orang yang tidak mengenalnya. Tetapi bila menyebut Plengkung, pikiran kita langsung menuju ke sebuah pantai dengan ombak besar yang sangat terkenal bagi penggemar berat “surfing” (selancar).

Alas Purwo dan Plengkung mungkin bisa disamakan dengan “kasus” Bali dan Indonesia dulu. Wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Padahal Bali adalah bagian dari Indonesia. Begitu juga halnya dengan Plengkung dan Alas Purwo. Plengkung yang merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo jauh lebih dikenal dibandingkan Alas Purwo. sebelum kita bahas Plengkung kita bahas dulu TNAP…

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo,Kabupaten BanyuwangiJawa TimurIndonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.

Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).

Taman Nasional Alas Purwo(TNAP)merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.

Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).

Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari.

Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain.

Setelah melewati gerbang masuk TNAP kami istirahat di warung dan pusat makanan untuk istirahat sejenak dan makan kemudian langsung mulai menyusuri pantai-pantai di sekitar TNAP bermula dari pantai yang paling dekat yaitu pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Pantai ngagelan

Papan Peringatan

TNAP ngagelan

Penyu penangkaran

Di Belakang Pondok Penangkaran Penyu Ngagelan

Bro Sando Sueto

Arek2 di ngagelan

Green Sueto

SUETO Tim Ekspedisi TNAP

Ready Shoot

Warga sekitar Alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur. Ngagelan juga tempat penetasan anak-anak penyu hamparan pasir pantai yang bersih terpadu dengan hutan mangrove dan hutan tropis. menjadi tempat ber wisata yang benar- benar fantastis. jika beruntung bisa ditemui hamparan pantai dengan pasir bersih dan sangat luas ketika air laut surut.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan. Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas TNAP mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

Menuju Trianggulasi

Xenia Hypnotis

Pantai Trianggulasi

Pondok Penginapan di Trianggulasi

Setelah dari pantai ngagelan kami menuju pantai Trianggulasi yang terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Deburan ombak di pantai Trianggulasi terlihat cukup tinggi, dengan topografi pantai yang memanjang, ombak ini terlihat mempesona, dan bisa dimanfaatkan untuk surfing. Namun, pihak pengelola Taman Nasional Alas Purwo sengaja tidak mengijinkan peselancar, karena ombaknya masih dianggap berbahaya. Hal ini ditandai dengan larangan melakukan aktivitas apapun di laut termasuk berselancar ataupun berenang.

Jika kebetulan singgah di pantai ini, usahakan untuk menginap, sebab pemandangan Sunset (Matahari tenggelam) cukup memukau. Di sekitar pantai, disediakan penginapan (Guest House). Tarifnya semalam hanya Rp 75.000,-/Kamar dan untuk keluarga juga disediakan satu rumah Rp 150.000,- / malam (berisi 4 kamar). Jangan lupa, biaya ini hanya untuk menginap, sedangkan jika pelancong berminat menikmati makanan tradisional berupa kudapan ala alas purwo bisa memesan di pengelola guest house.

Sueto in Pancur

The AVATAR

Pancur Rock

Pose

Mars

Pnacur Beach

Pancur

Little Garden

Green Pancur

Little Waterfall

Stream of Moss

Sunset

Kemudian setelah itu kami langsung meluncur menuju pantai Pancur Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki. Setelah puas berfoto-foto kamipun rencana ingin langsung menuju plengkung tetapi waktu itu ada kendala angkutan mobil dari Pancur ke Plengkung sedang rusak dan masih diperbaiki juga kurangnya ketersediaan driver pemandu sebenarnya jarak Pancur-Plengkung cuman 10-11km tetapi kami memutuskan menginap saja di Pancur karena  ada tempat perkemahan, warung dan masjid jadi lumayan lengkaplah fasilitasnya…

Sueto Tim Sadengan TNAP

Randy de Burges

Mulai Hunting Banteng

Populasi hewan di Sadengan

Sore di Sandengan

Sambil menunggu matahari terbenam kami sempatkan mampir ke Sadengan yang terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung.

Kami bersantai sampai menjelang senja di Sadengan terus balik ke Pancur Camp…Menikmati pantai yang jauh dari hirupikuk kota di malam hari ternyata bagus banget. Langit waktu itu sedang cerah dan kamipun  bisa menikmati taburan bintang dilangit secara penuh. Sampai akhirnya kami tertidur pulas di pantai dan terbangun karena dinginnya udara malam hutan akhirnya kami pindah ke masjid di daerah Camp. Met bubuk…! to be Continue…

Nih foto-foto saat malam di Pancur…

Soehell

Kamehameha

Laser Beam

Pancur Malam Hari

Kumpul Malam Pancur

Kumpulan Bintang

Bertabur Bintang

 

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya http://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ :)

 


Sueto Tim pantai karang Hiu

Ayow teruskan perjalanan Setelah slesai dari Green Canyon…kami sebenarnya sebelum pulang ingin menjelajah pantai2 lain disekitar Pangandaran karena memang bagus2…tapi karena itu cuaca sedang tidak mendukung akhirnya kami pilih salah satu pantai saja yang buat palink penasaran ya pantai batu hiu/karang hiu…Agak sedikit gerimis cuaca waktu itu terus hujan deras pantainya bagus banget cuman kami juga g bisa menikmati pantai lama-lama karena penjaga loketnya mau menutup pantai gara hujan deras..Pantai Batu Hiu ini Terletak di Desa Ciliang Kecamatan Parigi, ± 14 km dari Pangandaran ke arah Selatan. Memiliki panorama alam yang sangat indah. Dari atas bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon Pandan Wong, kita menyaksikan birunya Samudra Indonesia dengan deburan ombaknya yang menggulung putih.

Sekitar 200 meter dari pinggir pantai terdapat seonggok batu karang yang menyerupai ikan hiu, karena itulah tempat ini dinamakan Batu Hiu.

Hembusan angin pantai menemani kita saat melepaskan pandangan ke arah samudra atau hamparan pantai sebelah timur yang terbentang hingga Pangandaran.

Anda dapat menikmati suasa alam pantai dengan berjalan-jalan di bukit yang teduh atau duduk santai bersama keluarga.

Sungguhpun Anda tidak dapat berenang karena ombaknya yang cukup besar, Anda masih bisa berjalan-jalan di pantai menikmati simbahan busa butih yang datang bersama debur ombak Batuhiu.

Jangan lupa untuk membawa cinderamata sebagai oleh-oleh bagi keluarga di rumah yang bisa Anda dapatkan di Batuhiu.

Tarif masuk :

a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 2.500,-
b. Sepeda Motor Rp. 5.900,-
c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 14.200,-
d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 27.200,-
e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.200,-
f. BUS Kecil Rp. 52.700,-
g. BUS Sedang Rp. 79.500,-
h. BUS Besar Rp.130.500,-

Palink g setelah puas foto2 kami kembali ke penginapan dan sorenya kami prepare kembali ke Surabaya tapi kami kali ini akan melewati jalur Pangandaran-Cilacap biar g jauh2 muter Banjar..he2..See U Next Time with the Touring Story other…

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

Pantai Batu hiu

 


The Green Canyon Cave

Salam WildLife!!!!Yuk meneruskan cerita perjalanan Touring Surabaya-Pangandaran, Green Canyon, Shark Beach part1

Wah rencananya pagi2..berangkat ke Green Canyon biasa nak-anak bangkong…yowes pokoke sekitar jam 8 pagi kita  berangkat perjalanan Pangandaran-Green Canyon ditempuh sekitar kurang lebih stengh jam sajo…Terus yang buat kita lama sampai gara2 gigi palsu Ace temenku menghilang dijalan sekitar Green Canyon warga pun kebingungan melihat tingkah laku kita dan akhirnya ikut mencari gigi palsu itu eh ternyata…makanya g ketemu-ketemu ternyata aku g sengaja aku injak giginya akhirnya setelah ketemu kami melanjutkan perjalanan ke Green Canyon..

Pada waktu itu kalu g salah hari libur jadi tarif pada naik kelihatanya di tempat wisata Green Canyon..

a. Tiket Perahu/Parkir Rp. 57.500,-klu hari libur jadi 70.000 sampe 75.000/perahu muat 5 orang
b. Tiket Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 12.500,-

c. Ongkos gaet biasanya 75.000 jadi 150.000 ini diluar arga resmi bisa berubah-ubah sesuai tawaran, kondisi cuaca, dan ramainya pengunjung…

Tempat wisata Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Ciamis, Jawa Barat, kurang lebih 31 km dariPangandaran. Nama Green Canyon dikenalkan oleh wisatawan dari Prancis. Warna air sungai yang kehijauan mungkin menjadi alasan tempat ini disebut Green Canyon. Sedangkan nama sebelumnya, Cukang Taneuh berarti jembatan tanah karena adanya jembatan dengan lebar 3 meter dan panjang mencapai 40 meter yang menghubungkan antara Desa Kertayasa dengan Desa Batukaras.

Sungai Cijulang Yang menjadi tujuannya adalah terowongan menyerupai gua yang berada di bawah jembatan tanah yang dikenal dengan Gua Green Canyon. Untuk mencapai gua tersebut, Anda harus menyusuri sungai Cijulang menggunakan perahu yang disebut sebagaiketinting.  Waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan yang dimulai dari dermaga Ciseureuh menuju gua kurang lebih 30 menit.

Di sisi aliran sungai Cijulang Anda dapat menikmati tebing bukit yang ditumbuhi hijaunya pepohonan yang rimbun dan bebatuan yang menghiasinya. Perjalanan tidak akan membosankan karena pemandangan yang indah dan santainya menikmati aliran sungai. Naik ketinting juga dapat menciptakan keunikan tersendiri, khususnya untuk anak-anak yang menyenangi air.

Saat hampir sampai, jalur akan menyempit sehingga perahu harus bergantian untuk memasuki jalur ini. Ada pula pengatur yang memberi arahan untuk para pengemudi perahu agar dapat melaju dengan tertib. Mendekati mulut gua, ketinting tidak dapat lagi untuk mengantarkan Anda dan rombongan karena jalur yang tidak mungkin dilalui.

Pokoknya tempatnya indah buangggeeeettttt!!!!!!!!!!!!!!!sip dah…tapi setelah nyampe di gua rasanya cepat sekali menikmati pemandangan Green Canyon ini kalu cuman lewat prahu…jauh2 dari Suroboyo mek gni tok!kurang!akhirnya setelah join on the boat kami pun bersiap masuk ke Green Canyon Cave ditemani sang gaet phenomenal(telah menyelamatkan temenku dari ambang kematian)ha2…..Langsung saja cuman bondo pelampung kami menyusuri gua…maklum saat itu sangat tertantang karena aliran lagi deras dan tinggi apalagi kami lebih tertantang lagi ke telaga putri dan batu loncat…merayap-rayap seperti spiderman terus berenang terus melawan arus antara hidup dan mati tertabrak karang gua..menahan rasa sakit tapi semangat mengalahkan stalagmit dan stalagtit agar bisa menuju bagian terdalam gua dan aruspun semakin deras sambil diguyur hujan air tiada hentidari atas…pkoknya disinilah yang namanya Taste!bagi lelaki!

Pemandangan yang indah menanti Anda setelah turun dari perahu. Anda dapat menikmati sisi gua yang kokoh dengan melihat stalagtit dan stalagmit yang masih meneteskan air. Air terus menerus dikeluarkan di tebing sehingga daerah ini disebut sebagai daeah hujan abadi. Anda juga dapat berenang dalam gua dengan menggunakan pelampung. Anda akan merasakan air yang terasa dingin dan menyegarkan. Pemandangan semakin cantik ketika menyaksikan air terjun Palatar yang terdapat dalam Gua Green Canyon. Berenang di air yang dingin sambil menikmati tebing-tebing tinggi dan melihat stalagtit dan stalagmit pasti merupakan pengalaman tersendiri yang tidak terlupakan.

Green Canyon atau Cukang Taneuh memang merupakan tempat wisata yang indah di daerahPangandaran. Tetapi, bila Anda berniat mengunjungi tempat ini sebaiknya berkunjung pada musim kemarau karena pada musim ini, air sungai Cijulang berwarna hijau tosca. Sedangkan pada musim hujan, saat curah hujan tinggi, air sungai akan berwarna coklat. Selain itu pada musim hujan ada kemungkinan air sungai akan pasang atau aliran air sungai yang terlalu deras sehingga tempat ini ditutup untuk umum demi keselamatan pengunjung.

Setelah puas dan merasa langit akan menurunkan hujan kami pun kembali ke dermaga awal tapi dengan berenang karena berasa lebih taste!Huh senang sudah jauh2 akhirnya terlampui juga nie tempat apalagi saat terjun bebas diatas batu loncat setinggi 5-6meter dengan kedalaman 4-5meter sungai…tempat ini memang surga alam kecil yang harus anda kunjungi di Indonesia!ndak lupa2 foto2 check this out..

Green Canyon River

Green Canyon River

Phenomenal Guide

Green Canyon River

Green Canyon River

Green Canyon River

Green Canyon River

Green Canyon River

On the Gate Green Canyon Cave

Beautifull Green Canyon

Beautifull Green Canyon

Beautifull Green Canyon

Beautifull Green Canyon

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Green Canyon Cave

Sueto Green Canyon Tim

 


P200 Style

Hidup Wildlife!Kembali ke cerita perjalanan Extreme Sueto…Kali in Sueto akan menuju spot2 indah di daerah pangandaran…termasuk Green Canyon dan pantai2 sekitar pangandaran..Perjalanan seperti biasa kami mulai malam hari berangkat dari Surabaya dan sekitarnya..he2..Tim Sueto kali ini beranggotakan 5orang awalnya sih kami mau ke Karimun Jawa dan ke Alas urwo tapi setelah kumpul jad berubah rencana ambil rencana alternatif1…Berangkat sekitar jam 10 dari Sidoarjo…Transportnya cuman bawa motor Pulsar, Revo, Supra125…targetnya nyampe yogya sebelum subuh…rutenya melewati Surabaya-Sidoarjo-Mojosari-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Saradan-Ngawi-Sragen-Solo-Klaten-Yogya-Wates-Purworejo-Kebumen-Gombong-Banyumas-Wangon-Majenang-Banjar-Pangandaran…Check this out..

Track Jatim

Track Jateng-Pangandaran

Nyampe Yogya Subuh-Tidur-NGaji-Prepare berangkat lagi nyampe Kebumen jam 8-9pagi istirahat makan langsung diteruskan sekitar jam1an siang  nyampe perbatasan Jatim-Jateng istirahat capek habis liat pemandangan bagus di pring sewu beserta cewek-cewek desa..ha2..terus minum S dawet Banjar photo2 deh..sama Siliwangi hihihihi…

Lagi mendinginkan bokong

Nyetel Pose

Ayow pose

Click!

Akhirnya nyampe perbatasan Jabar-Jateng

Setelah puas istirhat langsung cabut ke Pangandaran…nyampe Pangandaran jam 3sore  nih yang lainnya cari penginapan aku foto2 dulu ahhh….

Nyampe juga Pangandaran

Semangat Sueto!!!

Pesisir Track

Setelah puas2 photo2 dewe eh anak2 udah dapet penginapan buat orang lima murah lagi 170ribu permalam dapet sarapan, tipi dan wejangan pula…kalau cari penginapan di Pangandran harus pinter2 nawar nih par touringer..he2..Nyampe di penginapan istirahat dulu mandi dll..n prepare buat besok ke Cijulang Green Canyon..mantabs..tapi malemnya juga muter2 Pangandaran juga…. nih about Pangandaran..objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti:

Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama

Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama
sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman meskipun terletak di laut selatan yang memiliki ciri ombak besar

Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih

Tersedia tim penyelamat wisata pantai

Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan
penerangan jalan yang memadai

Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski, ber ATV di pantai dan lain-lain.

Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.

Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional(Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulanJuni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia :

1. Lapang parkir yang
cukup luas,
2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan
tarif  bervariasi,
3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,
4. Gedung bioskop, diskotik dan cottage bersponsor sutra di tepian pantai  nah ini yang dicari temenku!(mau buka usaha rumah bordir dia)
5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,
6. Bumi perkemahan,
7. Sepeda dan ban renang sewaan,
8. Parasailing dan jetski.

Nomor 4. Bisa menimbulkan efek Tsunami dikemudian hari…ha2..tapi sudah ada jalur evakuasi yang disediakan jika sewaktu-waktu ada Tsunami…

Tarif masuk :

a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 2.500,-
b. Sepeda Motor Rp. 5.900,-
c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 14.200,-
d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 27.200,-
e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.200,-
f. BUS Kecil Rp. 52.700,-
g. BUS Sedang Rp. 79.500,-
h. BUS Besar Rp.130.500,-

Perahu2 Nelayan

Cagar alam Pangandaran

Sore Hari

Malam Hari

Perahu Nongol

Big Gay

Si Tukang Tidur terhebat

Monkey the ACe

Nah tinggal dilanjutkan ke part 2 Green Canyon tempat yang menakjubkan di Indonesia…


Lewat Pantura deh

Dari Bandoeng Jam12 malam berangkat menuju SBY lewat Pantura..Melewati Bandoeng-Sumedang-Majalengka-Cirebon nyampe Cirebon istirahat Sahur sambil nunggu subuh perjalanan Bandoeng-Cirebon ditempuh 3jam lebih..Setelah Subuh perjalanan langsung diteruskan menuju Semarang…Perjalanan Cirebon-Tegal-Pekalongan-Semarang ditempuh sekitar4-5jam..dari Semarang langsung terus menuju  Demak-Kudus dan berhenti di Pati…

Rute Perjlanan lewat Jateng

Pabrik Kacang Kelinci

LAgi Istirahat

Lagi mencari kelinci bertanduk rusa di Pati

Ini yang asli

Yang di Pati ternyata sudah diawetkan

Setelah kami nyampe di depan kios kelinci, di depan PT Dua Kelinci ternyata kelincinya sudah diawetkan sebagai maskot pabrik kacang kelinci ini di Pati..aku kira masih hidup awalnya sih sempet g percaya tapi setelah menegetahui sejarahnya Jackalope atau Jackrabbit jadi percaya deh..nih ceritanya..

Jackalope adalah binatang imajiner Amerika Utara cerita rakyat (apa yang disebut ” makhluk menakutkan “) digambarkan sebagai kelinci dengan kijang atau kelinci tanduk rusa.Jackalope terdiri dari kata “kelinci” dan “antalope”, sebuah ejaan kuno kijang .

Ada kemungkinan bahwa kisah jackalopes terinspirasi oleh penampakan kelinci yang terinfeksi dengan virus papiloma Shope , yang menyebabkan pertumbuhan tanduk dan tanduk-seperti tumor di berbagai tempat pada kelinci seperti kepala dan tubuh.Namun , konsep hibrida hewan terjadi di banyak budaya, misalnya sebagai griffin dan angan-angan .Memang, istilah ‘chimera’ telah menjadi istilah kategoris untuk komposit tersebut dalam bahasa Inggris.

di barat daya AS jenis kelinci ini umunya disebut antelope jackrabbit(kelinci kijang) , karena kemampuannya untuk berlari dengan cepat seperti kijang.

adalah salah satu hewan paling langka di dunia.Sebuah persilangan antara rusa-kerdil punah dan spesies pembunuh-kelinci, mereka sangat pemalu kecuali mendekat.Tidak ada yang pernah menangkap hewan ini hidup-hidup dan ini adalah foto yang langka.

Dikenal oleh orang dahulu sebagai “deerbunnies”,sampai akhirnya pada awal tahun 1960-an bahwa akhirnya nama “Jackalope” dipakai.

ada gosip yang mengungkapkan bahwa Anda dapat mengekstrak susu Jackalope dari perutnya saat ia tidur di malam hari.susu ini dipercaya menjadi obat dan dapat digunakan untuk berbagai penyakit.tapi Yang sebenarnya adalah makhluk-makhluk yang agresif dan tidak dapat dimengerti,dan tidak boleh diprovokasi untuk alasan apapun!

Pemerintah ingin orang2 percaya bahwa mereka tidak nyata, tetapi ada banyak orang yang percaya

ada mitos yang berkata bahwa Jackalope bisa meniru suara, termasuk manusia suara.hewan ini Menggunakan kemampuanya untuk mengejar dan menghindar,terutama dengan menggunakan frase seperti “There he goes! That way!”.Dikatakan bahwa Jackalope mungkin ditangkap dengan meletakkan sebotol wiski pada saat malam hari.Jackalope akan minum isi wiski yang akan membuatnya lebih mudah untuk berburu.Sedangkan selain karena keunikan tanduknya jackalope diburu untuk susunya karena diyakini sebagai afrodisiak yang kuat dan membantu menambah kejantanan bagi laki-laki.Di beberapa bagian Amerika Serikat dikatakan bahwa daging Jackalope memiliki rasa yang mirip dengan lobster. Namun, legenda mengatakan bahwa mereka berbahaya jika didekati. Ia juga telah mengatakan bahwa jackalopes hanya akan berkembang biak selama badai petir termasuk hujan es , menjelaskan keanehan tersebut yang membuat mereka langka.

fakta lainnya..

Jackalope adalah spesies kelinci yang dikabarkan akan punah, meskipun kadang-kadang penampakan makhluk langka ini terus terjadi, menunjukkan bahwa kantong-kantong populasi Jackalope terus bertahan di habitat aslinya, Amerika  Barat. Jackalope ini merupakan spesies agresif, bersedia untuk menggunakan tanduk untuk melawan. Jadi, itu juga kadang-kadang disebut “kelinci prajurit.”

Keberadaan Jackalope dipopulerkan oleh Douglas Herry, warga Douglas-Wyoming Amerika Serikat pada Tahun 1930-an. Douglas dan saudaranya Ralph mulai menjual sepasang kepala Jackalope kepada publik, dan ini menjadi sangat populer.Contoh pekerjaan mereka dapat ditemukan di banyak bar dan rumah-rumah di seluruh Amerika Serikat, bahkan kartu pos bergambar Jackalope juga menjadi souvenir yang populer. Douglas Herry meninggal pada 6 Januari 2003 di usia 82.

Kota Wyoming telah mendeklarasikan dirinya untuk menjadi ibukota-nya Jackalope Amerika karena menurut legenda, Jackalope pertama terlihat di sana sekitar 1829. Sebuah patung besar Jackalope sebuah berdiri di pusat kota.

Jackalope sekarang paling sering terlihat di negara bagian Colorado, Wyoming, dan Nebraska. Di Swedia, sebuah spesies yang mirip sering disebut dengan skvader .

Setelah istirhat di Pati dan melewati jlanan Pantura yang panas buanget khususnya di siang hari maka kami lanjutkan perjalanan langsung menuju Surabaya..

Jalur yang dilalui saat pulang ke Surabaya

Melewati Pati-Rembang-Bojonegoro-Babat-Lamongan-Gresik-Surabaya-Sidoarjo..Huh capek pulang langsung buka puasa nih…Kapan2 cerita perjalanan  lagi yah…


Stay at Cool

Sesampainya di kos temennya temenku aku tidur sejenak sedangkan temenku mengurus urusannya yang mendadak itu…Hmm aku agak g jelas karena kecapekan…gini ceritanya waktu Perjalanan ke Bandoeng dari Surabaya aku dikejar FBI ceritanya nih gue buronan mafia gitu…tpi bukan mafia pajak kayak Gayus…padahal sebagai mafia aku punya surat keterangan berkelakuan baik tapi masih tetep aja di wanted ama polisi g tau kenapa..emang polisi sekarang aneh2 kalu g punya duit….akhirnya kami bersembunyi di Bandoeng dari Soerabaya polisi kagak ada yang bisa ngejar soalnya aku pakai motor Pulsar2000(2000cc)bah kuenceng amat rasanya Bandoeng deket banget kayak SBY-Solo tapi kami g tau punyake sapa yang penting bisa lari dari Soerabaya nyampe Bandoeng..Nyampe Bandoeng kita bersembunyi dikontrakan salah satu teman mafia di daerah Lembang..bangun dari peristirahatan mau nyamar  dan jalan-jalan kota Bandoeng eh mlah kata temenku yang punya kontrakan..katanya kontrakanny mau digrebek FBI..Wah aku berfikir harus cepet2 kabur…ini pasti gara2 temen mafia ku yag punya kontrakan minjem P2000ku buat jalan2 n bli rokok nopolnya jdi ketahuan polisi..tapi mau kabur temenku yang satunya g ada..wah gawat…!!!Tapi mending aku sembunyi dulu….SSStttttt!!!!Tiba2 terdengar suara kucing meong…meooonggg!!!dan Gubrak…!!

Kontrakan para Mafia

Sempat bersembunyi di banyak lalulalang orang banyak

Gara-gara kucing ini aku ketangkep!Sial!

Kebongkar deh persembunyianku!

Akhirnya aku masuk penjara deh jadi tahanan!

Cerita lainnya temenku yang tak cari2 ternyata sedang ada main mesum di klub mlam Bandoeng akhirnya diobrak juga sama FBI..Payah juga nie anak…!Tapi g apa jadi punya temen nih dipenjara..

ketemu mesum saat diobrak

Sempat bersembunyi juga temenku

Hampir tak tertangkap karena pintar temenku menyamar

Akhirnya ketangkep juga mereka..

Berfikir aksi keluar penjara pun dimulai

Kami pun berfikir bagaimana cara keluar dari penjara ini..akhirnya karena kami mafia kelas kakap kami tidak mudah dibekuk begitu saja..Aksi Mcgeyver pun kami lakukan untuk keluar dari penjara dan meneglabui polisi..kamipun juga ditolong oleh rekan mafia kami di Bandoeng..dia membobol tembok penjara, kamipun keluar dan mengambil kembali P2000 yang telah disita polisi…Langsung Kabur Wushhh entah kemana…………………………………………………..

Dan terdengar bunyi Groookk…Groookkkk…….Eh ternyata perutku laper aku pun terbangun dari mimpi dari nyari buka sama temenku di sekitar kos sambil muter2 Bandoeng bentar…Malemnya niatnya seh habis traweh rencana mau pulang langsung ke Sidoarjo tapi sudah terlanjur janjian dulu sama temen lama ya  kita tunggulah sambil muter2 kota Bandoeng dan foto2 sejenak..

Foto2 cuy

Ikutan foto juga

Capek deh

Gedung Asia-Afrika

Kelamaan nunggu temen yang di Bandoeng akhirnya kami pun nyoba jualan kerak telor di depan Gedung Sate …

Cari ongkos buat pulang SBY

Bantu jualan jajan juga buat ongkos pulang

MErenung mimpi apa kemaren bisa nyampe Bandoeng naek motor

 

Setelah jualan dapet duit nunggu temenku kok g dateng2 yang dari Bandoeng katae cuman maem doank ampe jam 12 mlem ditunggu g dateng2 g hormatin temennya dateng jauh2 neh akhirnya setelah kita puas foto2 langsung cabut dan mikirin lewat jalur mana kita pulang…Akhirnya karena sudah larut malem males lewat daerah pegunungan kita putusin pulang lewat Pantura!!tunggu next story di pantura…

 


P200 nyampe bandung juga...

Salam wild life!perjalanan kali ini perjalanan super singkat..soalnya saat datangnya permintaan perjalanan juga mendadak banget termasuk perjalanan bondo nekad(Bonek)..he2..Begini critanya…kejadian ini terjadi waktu puasaan 2009 pokoknya pemikiran berangkat ke Bandoeng ini terpikir sejak hari Rabu  ini sebenarnya yang berkepentingan temen saya..karena pemberitahuannya dadak urusannya dan lagi pas tak punya uang  lagi kere temen saya…tapi saya masih sarankan naek transportasi umum  untuk pergi ke BDG tapi apa daya pemberitahuan begitu dadak akhirnya tidak dapet transportasi yang murah dan tepat waktu akhirnya dia calling saya minta bantuan anter pake motor supaya agak faster n murah biaya perjalanannya..Nah setelah menerima penawaran tersebut saya berfikir sejenak bukan masalah jauhnya tpi biayanya..setelah ada negosiasi  saya meyakinkan diri untuk berangkat Jumat malemnya langsung setelah saya pulang kampus..Prepare terus langsung berangkat deh habih Shalat Traweh malah..sekitar jam8 lebih..Keuangan lagi pada parah semua ini berdua temenku sampe jual hp cmn bw300ribu aku malah cuman bawa 150ribuan doank g nyampe hihi…

Mulai deh berangkat dari Sidoarjo setengah 9 Jumat malem tak lupa berdoa, minta restu ortu dan bawa alat dokumentasi..itung2 pengalaman berharga bagi saya nih..nih awal foto2nya..

Rute Perjalanan JAwa Timur

Keberangkatan SBY-BDG ini kami pilih jalur selatan yang kelihatannya lebih cepat kami capai jika malam hari..Jalur yang akan dilewati di Jatim Sidoarjo-Mojosari-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Caruban-Ngawi…kita cuman berhenti sebentar buat foto atau minum sejenak..

Dari arah Sidoarjo menuju arah Krian-Wonoayu-Mojosari

Lagi cek sana-sini mumpung masih deket

Udah nyampe Jombang aja bah..

Smsan sambil Lelepon dulu..

Aku malah pose..cepetan berangkat lagi

Lagi berhenti di Indomaret Nganjuk mau ke Caruban

nyangkruk di indomart

 

Nyampe Ngawi

Nyante dulu saja

Perbatasan Jatim-Jateng

Ngopi dulu diperbatasan sambil pose..

Sudah memasuki Jateng

Saat memasuki jateng kita berniat berhenti di  Yogya nyampe Yogya sekitar jam 12 lebih  dan kemudian berhenti sejenak untuk makan isi bensin dan istirahat sekitar 1 jam di yogya..baru pertama kali juga makan di yogya sate kuda liar malem2 sama nasi kucing..Nah rute yang dilewati dari Jateng ke Jabar  Sragen-Solo-Klaten-Yogya-Wates-Purworejo-Kebumen-Gebong-Wangon-Majenang…

Istirahat di mushola pom bensin sambil sahur

Rute Lingkar Selatan Kebumen

Saat mau memasuki perbatasan jateng-jabar

Menunggu pagi

Pagi hari sekitar jam 5 lebih

Menuju Majenang

Setelah melewati kota Majenang kita mulai melewati lika-liku bukit yang indah saat di pagi hari apalagi saat melewati daerah pringsewu..bagus banget pemandangannya..Langsung melewati rute Banjar-Ciamis-Tasikmalaya(melewati daerah perbukitan G.Guntur)-Bandoeng..Nyampe Bandoeng sekitar jam9 pagi..sekitar12jam berarti kita nyampe Bandoeng sudah termasuk istirahat 2 jam di jalan..Langsung mampir kosnya temennya temenku..istirahat dulu deh..

Rute Selatan Majenang-Bandoeng

Pintu gerbang

 

Nah dari sini saya istirahat dulu nti ceritanya ngapain aja kita di Bandoeng berlanjut ceritanya ke Part2 saja..Next Time..


Bukit Bintang

Perjalanan Terakhir sembari dari Panta Kukup, Wonosari, mau ke Yogya eh ternyata lewat Bukit Bintang kok bagus ya pemandangannya…berhenti sejenak dech..Di malam hari memang cahaya lampu-lampu di bawah bertaburan seperti bintang, cukup ampuh untuk mengurangi penat di otak. Di sini menjadi tempat yang banyak dikunjungi, terutama bagi siswa & mahasiswa di seputaran Jogja. Bahkan ketika sedang menempuh perjalanan melewati tempat ini pada malam hari, meluangkan waktu sejenak untuk makan dan minum di salah satu warung sambil menikmati pemandangan bertabur bintang… hmmm, dingin malam dan indahnya cahaya-cahaya lampu, sanggup merefresh pikiran.

Letak bukit bintang berada di bukit Patuk Gunungkidul, berbatasan langsung dengan Piyungan Bantul, di jalan Jogja – Wonosari km. 16. Setelah ngopi dan menikmati pemandangan sejenak anterin temen pulang ke Yogya Langsung Cabut deh Sidoarjo….Wush…soalnya kalu mau nginep lagi g bawa perlengkapan yang cukup..jadi ya mending pulang saja…makasih Yogya..kapan2 mampir lagi…

 


Pantai Kukup

Setelah selesai event perjalanan saya terus Yogya Tour part2nya ke part3 he2…Perjalanan kali ini menuju pantai kukup daerah pegunungan gunung kidul bersama teman saya…dari yogya melewati Bantul-Imogiri-Panggang-Saptosari-Kukup(Kecamatan Tanjungsari)jaraknya kira2 42km dari Yogya lewat klaten Prambanan juga bisa arah Wonosari…Nah saat perjalanan ternyata pantai kukup ini bersebelahan dengan pantai Baron dan di daerah Gunung kidul Wonosari ini banyak pantai-pantai yang setara bagusnya dengan pantai2 kelas dunia…Jalanan menuju pantai ini berkelok-kelok dan naik-turun. Jadi harap berhati-hati jika menggunakan kendaraan menuju kesini…..Waktu itu kita dateng agak sorean jadi g bayar tarif langsung motor aku taruh pantai pokoknya ditempat yang dpet dipantau…Sebenarnya sech tarif masuknya Rp2000,-

Pantai Kukup ini termasuk pantai yang pasirnya putih di deretan pantai Gunung Kidul…

Di pantai ini terdapat pulau karang yang dihubungkan dengan jembatan. Dari atas pulau karang ini kita bisa melihat indahnya hamparan pantai yang sangat luas disertai deburan ombak yang cukup besar. Meskipun siang hari, jika berada di pulau karang ini akan terasa sejuk karena angin yang bertiup cukup kencang.

Setelah puas menikmati indahnya pantai dari atas pulau karang, kita bisa turun untuk menikmati indahnya pasir putih yang ada di pantai ini. Pada sore hari air laut mulai surut, sehingga kita dapat dengan bebas untuk sekedar berjalan-jalan di tepi pantai ataupun bermain dengan pasir putih yang ada disini.

Yang nggak kalah asyiknya, disini banyak sekali biota laut. Mulai dari ikan yang berwarna-warni, kepiting yang sering mondar-mandir di tepi pantai, ataupun ubur-ubur yang bisa bikin badan gatal jika kita memegangnya. Kalo ingin menangkap ikan ataupun kepiting dengan mudah, kita bisa membeli jaring kecil yang diperjualbelikan oleh pedagang di tepi pantai.

Jika ingin membawa pulang ikan hias tapi nggak mau repot-repot menangkapnya sendiri, kita bisa membelinya saat keluar dari pantai. Disitu ada pedagang yang memperjualbelikan ikan laut hias. Ikannya pun banyak sekali jenisnya, mulai ikan nemo, bintang laut, ular laut, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan jangan lupa mengabadikan momen yang palink penting.

 

 

 

Sudah puas foto2nya dan hari sudah menjelang malam kami pun pulang ke Yogya nganter temenku kerumah…Tiba2 diterusin ke Yogya Tour Part4…


Paris Beach

Melanjutkan Yogya Tour Part 1…Sekarang setelah nyampai solo sebenarnya pingin nginep di solo tpi setelah calling temen eh ternyata lagi ga da yang di solo…akhirnya langsung bersinggah ke yogya kebetulan ada temen yang lagi nginep di malioboro….tpi sambil jalan ke penginapan muter-muter yogya dulu mendalami jalan-jalan yogya biar g kesasar…paginya setelah ngobrol2 ma temen…akhirnya diputusin jalan2 menuju Paris(Parangtritis)…aq juga belum pernah ke Paris padahal sudah berkali-kali ke yogya tpi g pernah mampir Paris…akhirnya ke sana tpi naek busway terus oper bus lagi jurusan Paris…1jam lebih  perjalanan nyampe deh Paris…Hmmm pantai selatan biasa ciri kasnya ombaknya gede-gede…

Parangtritis, adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai pesisir Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta.Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup Krakal dan Pantai Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung – gunung pasir yang tinngi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. lokasi lain adalah pantai parang kusumo dimana di pantai tersebut terdapat tempat konon untuk pertemuan antara raja jogjakarta dengan ratu laut selatan. Pada hari-hari tertentu (biasa bulan suro) di sini dilakukan persembahan sesajian (Labuhan) bagi Ratu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa disebut Nyai Rara Kidul. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 muharram/Suro). Di Parangtritis ada juga kereta kuda atau kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.

Penamaan Parangtritis memiliki kesejarahan tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis(=tetesan air). Pantai yang terletak di daerah itu pun akhirnya dinamai serupa.

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian.

Untuk mencapai Parangtritis, anda bisa memilih dua rute. Pertama, rute Yogyakarta – Imogiri – Siluk – Parangtritis yang menawarkan pemandangan sungai dan bukit karang. Kedua, melewati rute Yogyakarta – Parangtritis yang bisa ditempuh dengan mdah karena jalan yang relatif baik. Disarankan, anda tidak mengenakan baju berwarna hijau untuk menghormati penduduk setempat yang percaya bahwa baju hijau bisa membawa petaka.

Setelah dari Pantai Paris balik di penginapan eh temen2 ternyata mau soping duluan..Nah sembari menunggu temen-temen soping aq pun langsung menuju k objek wisata Kaliurang..dari selatan menuju utara yogya..setelah melalui perjalanan 1 jm setengah perlahan-lahan nyampe kaliurang sambil menikmati pemandangan sekitar kaliurang…sat nyampe sakjane wes kesorean…ha2..tp tetep masuk meski mengundang bahaya..hujan lagi…hihi..

Berjarak 28 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, Kaliurang kini menjadi sebuah kawasan wisata alam dan budaya yang memikat, serta menjadi tempat yang menyenangkan untuk rekreasi keluarga.

Bersantai dengan keluarga, orang tua bisa bersantai sambil mengawasi anak-anak bermain di Taman Rekreasi Kaliurang. Di dalam taman seluas 10.000 meter persegi anak-anak bisa bermain ayunan, perosotan, atau berenang di kolam renang mini. Selain itu di taman yang dihiasi oleh patung jin ala kisah 1001 malam dan beberapa jenis hewan ini, anak-anak juga bisa bermain mini car atau memasuki mulut patung seekor naga yang membentuk lorong kecil dan berakhir di bagian ekornya.

Sekitar 300 meter ke arah timur laut dari taman rekreasi terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo. Di kawasan taman wisata ini terdapat kolam renang Tlogo Putri yang airnya berasal dari mata air di lereng Bukit Plawangan. Bermain ayunan atau bercanda bersama keluarga di taman bermain yang berada di dalam taman wisata, rasa lelah akan lebur dalam rimbunnya taman perhutani.

Setiap hari libur, Merapi bisa dilihat melalui teropong yang disewakan dengan tarif Rp.3000 selama 30 menit.

Dan bersantailah sejenak di Tlogo Muncar. Meredakan letih sambil menikmati air yang terjun di sela-sela bebatuan. Biasanya air akan mengalir dengan deras di musim penghujan.

Jika ingin menikmati pemandangan Kaliurang, para pengunjung bisa berkeliling menggunakan kereta kelinci yang dikenal dengan istilah sepoer. Kendaraan ini biasa mangkal di depan taman wisata yang dipenuhi dengan kios-kios penjaja makanan. Jalur yang dilaluinya mengitari kawasan wisata Kaliurang dari timur ke barat. Melewati gardu pandang yang terletak di sebelah barat, Merapi akan terlihat jelas ketika cuaca cerah. Tarif untuk menaiki kendaraan ini Rp.3.000 per orang jika yang naik minimal tujuh orang. Untuk perjalanan eksklusif, Rp.20.000 akan membuat perjalanan layaknya seorang bangsawan.

Bila ingin merasakan sejuknya angin dan heningnya malam di Kaliurang, berbagai villa, bungalow, pesanggrahan atau pondok wisata bisa menjadi pilihan. Tarifnya juga beragam, mulai dari yang 25 ribuan hingga 200 ribuan. Beberapa penginapan yang bisa anda nikmati, antara lain: Bukit Surya (paling disarankan), Puri Indah Inn (bintang 3), Wisma Sejahtera, dll.

Sebelum pulang pastikan untuk membawa sedikit oleh-oleh yang dijajakan. Mulai dari buah-buahan produksi petani lokal hingga makanan khas yakni tempe dan tahu bacem serta jadah (makanan yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa).Hanya rekomen saya sendiri juga numpang lewat saja…he2..karena ujan nya tambah deras..langsung balik malioboro…next trip part3 yogya tour..

Tempat Wisata Kaliurang

 

 

Yogya Tour(Sueto) Part1


Tawangmangu Fog

Wosh….Perjalanan kali ini Tour menuju yogya…rencana nya waktu itu kedapetan event di yogya…..sembari liburan mampir kerumah temen yang ada di solo…dari Sidoarjo berangkat deh pamitan dulu sama ortu plus pacar…pokoke berangkatny siangan sekitar jm1an..ditengah perjalanan mikir-mikir pingin nyambangi Sarangan dan Tawangmangu…Jadi rute yang tak lewati Sidoarjo-Mojosari-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Caruban-Madiun-Magetan-Sarangan-Tawangmangu-Solo-Yogya…..

Setelah sampai kabupaten Magetan riding style diubah posisi santai sambil menikmati indahnya pemandangan kanan-kiri sampai telaga Sarangan…masih seperti dulu g ada yang berubah plink y perbaikan jalan…Nah iki informasinya tentang telaga Sarangan..

Telaga Sarangan yang juga dikenal sebagai telaga pasir ini adalah sebuah telaga alami yang terletak di kaki Gunung Lawu, di Kecamatan PlaosanKabupaten MagetanJawa Timur. Berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektar dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Telaga Sarangan merupakan obyek wisata andalan Magetan. Di sekeliling telaga terdapat dua hotel berbintang, 43 hotel kelas melati, dan 18 pondok wisata.Di samping puluhan kios cendera mata, pengunjung dapat pula menikmati indahnya Sarangan dengan berkuda mengitari telaga, atau mengendarai kapal cepat.Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadah, dan taman.

Keberadaan 19 rumah makan di sekitar telaga menjadikan para pengunjung memiliki banyak alternatif pilihan menu. Demikian pula keberadaan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai suvenir telah memberikan kemudahan kepada pengunjung untuk membeli oleh-oleh. Hidangan khas yang dijajakan di sekitar telaga adalah sate kelinci.

Magetan juga tertolong dengan adanya potensi industri kecil setempat yang mampu memproduksi kerajinan untuk suvenir, misalnya anyaman bambu, kerajinan kulit, dan produk makanan khas seperti emping melinjo dan lempeng (kerupuk dari nasi).

Telaga Sarangan juga memiliki layanan jasa sewa perahu dan becak air. Ada 51 perahu motor dan 13 becak air yang dapat digunakan untuk menjelajahi telaga.

Telaga Sarangan memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun.

Pemkab setempat tengah membuat proyek jalan tembus yang menghubungkan Telaga Sarangan dengan obyek wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar. Proyek pelebaran dan pelandaian jalan curam yang menghubungkan dua daerah tersebut diharapkan selesai tahun 2007.

Obyek wisata ini dapat ditempuh dari Kota Magetan; dan lokasinya tak jauh dengan Air Terjun Grojogan SewuTawangmangu (Kabupaten KaranganyarJawa Tengah).

Pemkab Magetan juga ingin mengembangkan Waduk Poncol (sekitar 10 kilometer arah selatan Telaga Sarangan) sebagai obyek wisata alternatif.

foto2 dulu deh….

Waduk Poncol

Waktu Tour keSarangan Zaman SMA

Terusin Tawangmangu…agak kaget sech ternyata jalannya g sengeri dulu waktu kesini..sudah jauh lebih bagus aspalnya pun masih baru..ini sekitar 2010 bulan2 awal..tapi dinginnya tetep apalagi lewat sana pas waktu ujan…BBBrrrr..kabutnya tebal banget lagi akhirnya mampir ngopi dulu dech di warkop pinggir jalan…Sedikit info Tawangmangu nih..

Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten KaranganyarJawa Tengah. Kecamatan ini ternama karena merupakan daerah wisata yang sangat sejuk.

Tawangmangu dikenal sebagai obyek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Surakarta (Solo). Tempat ini sejak masa kolonial Belanda telah menjadi tempat berwisata. Obyek tujuan wisata utama adalah Air Terjun Grojogan Sewu (tinggi 81 m). Di tempat tetirah ini tersedia berbagai sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan. Dari Tawangmangu dapat dimulai pendakian ke puncak Gunung Lawu (Pos Cemorokandang).

Tawangmangu, hanyalah sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu terletak di kawasan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur. Tawangmangu berada pada arel pegunungan yang subur dikelilingi oleh hutan dan perbukitan. Namun demikian kota kecil ini telah terkenal hingga ke manca negara karena kawasan ini merupakan obyek pariwisata yang cocok untuk dijadikan pilihan saat berlibur maupun berdarma wisata.

Selain udaranya yang sejuk, keindahan alam disekitarnya tidak kalah menarik dengan kawasan lain di indonesia, terlebih lagi didaerah ini terkenal dengan produksi pertanian penghasil sayur mayur selain dari keberadaan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu. Tawangmangu sendiri telah menjadi pilihan bagi orang-orang perkotaan untuk membangun villa-villa, maupun berinvestasi dengan mendirikan hotel-hotel & penginapan.

Untuk mendukung kemudahan dalam mengakses daerah ini, pemerintah telah mengusahakan perbaikan jalur transportasi dengan melakukan perawatan jalan dan pembangunan jalan baru lintas propinsi dari Tawangmangu sendiri yang berada di Jawa Tengah ke arah Magetan Jawa Timur. Dan sampai dengan saat proses pembangunan jalan masih terus berlangsung melewati perbukitan dan melintas di tengah-tengah lahan pertanian yang asri dengan pemandangan elok di kiri dan kanan sepanjang jalan baru ini. Selain pembangunan jalan, pemerintah juga telah melakukan Rebuilding secara total Pasar Tawangmangu yang tadinya berupa pasar tradisional yang kumuh, kini telah berupa bangunan megah Pasar Wisata, diharapkan dengan rehabilitasi pasar ini para wisatawan yang datang ke Tawangmangu dapat dengan mudah dan leluasa untuk berbelanja segala macam jenis oleh-oleh, maupun hasil bumi dengan lebih nyaman. Untuk itu jangan lewatkan kesempatan anda untuk berkunjung ke Tawangmangu. Ada beberapa lokasi yang sering menjadi lokasi tujuan wisatawan domestic maupun mancanegara, baik yang ada di Kecamatan Tawangmangu sendiri maupun daerah lain di sekitarnya yang dekat dapat diakses dari Tawangmangu, yaitu :

1. Grojongan Sewu

2. Air Terjun Pringgodani

3. Puncak Lawu

4. Sentra Tanaman Hias (Desa Nglurah)

5. Bumi perkemahan

6. Flying Fox

 


aspal baru

Puncak lawu

Drizzly Weather

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terus perjalanan saya terusin deh melewati kabupaten Karanganyar…terus menuju Solo…Wush..melewati jalan yang berliku-liku seru deh pokoknya lewat sini…


Tim Grajagan

Yuhuuu…Kali kami meneruskan perjalanan dari part1 menuju pantai Grajagan..dari Glenmore ke Grajagan membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 1jam lebih..ini yang ngajak kami juga agak kesasar-sasar tapi yang penting nyampailah kami di pantai…

Glenmore-Grajagan

 

Pantai Grajagan terletak kurang lebih52 km ke arah selatan dari Kota Banyuwangi. Posisi pantainya yang strategis membuatnya menjadi pintu gerbang menuju ke Plengkung(G-Land) Disekitar Pantai Grajagan banyak terdapat goa buatan yang terletak pada ketinggian sehingga kita dapat mengawasi seluruh kawasan. Sepanjang pantai selatan Banyuwangi memang menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara terutama deretan gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Diantaranya pantai Grajagan, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TNAP. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke Pantai Plengkung.  Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TNAP, Grajagan juga sangat indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam dengan menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan itu ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalan darat. Hal itu disebabkan jalan makadam menuju keTNAP, kondisinya sangat buruk sekali.

Sambil menikmati panorama pantai, pengunjung bisa melihat-lihat ragam obyek yang ada di kawasan seluas 314 hektar ini, antara lain Goa Coko, petilasan, Goa Sriwulan, jembatan gantung peninggalan masa lalu, puradan Batu Kuluk Minak Kuncar.

Di sekitar pantai ini juga terdapat bermacam obyek yang menyajikan pesona tersendiri. Ada Pantai Peturon yang setiap hari ramai karena sebagai tempat para nelayan menurunkan hasil tangkapannya. Di Peturon, wisatawan bisa berbelanja ikan segar langsung dari nelayan, atau langsung dibakar dan dimakan di tepi pantai.

Dari gardu pandang di puncak bukit, wisatawan bisa menikmati panorama laut bebas berpadu dengan bukit-bukit yang sangat indah. Pemandangan itu juga dapat dinikmati dari tiga buah goa buatan Jepang. Pagi hari, dari Goa Jepang ini pengunjung bisa menyaksikan perahu-perahu nelayan yang berangkat membelah laut lepas untuk mencari ikan. Perahu-perahu itu tersebar di berbagai sudut pandang sehingga menambah keindahan saat memandang ke laut lepas.

Yang tak kalah menarik, wisatawan dapat berperahu sambil memancing di antara keindahan alam sepanjang pantai hingga ke Plengkung. Bila anda beruntung, selama berperahu anda akan menjumpai ratusan burung migran yang indah beterbangan di atas pantai.

Mengunjungi wanawisata Grajagan terasa sungguh mengasyikan dengan segala pesona alam yang mengitarinya. Obyek wisata ini unik karena merupakan perpaduan wisata pantai dan hutan yang ditumbuhi aneka pepohonan dan vegetasi alam, seperti hutan jati, sonokeling, fikus, walikukun, lamtoro gung, randu alam, bambu-bambuan, ketangi, bungur dan bakau.

Grajagan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TNAPdengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desaGrajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. Pengunjung yang ingin bermalam untuk menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tidak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Tetapi wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, Namun demikian tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TNAP, imbuhnya.

Setelah menikmati keindahan Wanawisata Grajagan dan keunikan Silvofishery, kurang lengkap rasanya bila tidak sekalian mengunjungi Wanawisata Watu Dodol. Wanawisata yang terletak di kawasan KPH Selogiri, BKPH Ketapang, KPH Banyuwangi Utara ini menyuguhkan keindahan panorama alam yang merupakan perpaduan antara hutan, gunung, tebing, flora dan fauna serta pantai. Obyek wisata ini ditandai dengan adanya sebuah batu besar setinggi lebih kurang 7 meter, diameternya sekitar 3 meter, yang berdiri kokoh secara alami di tengah jalan dekat pantai.

Wanawisata dengan ketinggian antara 10-15 dpl ini menyimpan aneka flora dan dihuni bermacam satwa. Selain tumbuhan khas hutan yang dikelola Perum Perhutani, terdapat pula kembang kuning, laban dan suren. Sementara satwa yang menghuni kawasan ini adalah kera dan lutung berbagai jenis, kijang, anjing ajag, burung rangkok, elang putih, serigala dan ayam bekisar.

Selain itu, ada banyak peninggalan yang memiliki nilai sejarah masa silam, seperti goa Jepang, petilasan Syekh Maulana Ishak dan puterinya, danmakam Patih Mangun Buyut Ringsan serta puterinya yang dikeramatkan oleh sebagian orang untuk mengadu dan berdoa minta berkah.

Terdapat lima goa peninggalan Jepang di puncak bukit. Konon, goa itu dulunya berfungsi sebagai tempat pengintaian, perlindungan, penyimpanan dan lalu lintas distribusi senjata oleh tentara Jepang. Satu dari lima goa itu bahkan tembus pandang, sehingga dapat dipakai untuk melihat panorama laut dan Pulau Bali.

Kawasan wisata ini cocok digunakan untuk arena panjat tebing, tracking atau outbond. Area ini juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan lomba menggambar bagi anak-anak. Rencananya, tempat ini akan dibuka untuk berbagai kegiatan lomba, seperti lomba burung. Juga akan dilengkapi dengan kolam pemandian dan penginapan bila studi kelayakannya memenuhi syarat. Air untuk kolam renang itu nantinya akan diambilkan dari sumber air yang terdapat di kawasan ini.

Wanawisata yang terletak di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi ini sangat strategis, karena berada di pintu gerbang kota Banyuwangi, juga dekat dengan Pelabuhan Ketapang, sekitar 5 km. Perum Perhutani juga berencana untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat informasi wisata di Banyuwangi.

Wuih akhirnya setelah bersenang-senang sepuasnya di area Grajagan kami pun pulang ke Glenmore singgah lagi semalam pagi nya bengkel dewe nyetel motor biar fit waktu pulang…akhirnya pun balik lagi deh ke Surabaya..Next Sueto pasti membahas perjalanan yang ke Taman Nasional Alas Purwo(TNAP)…

para surfer latihan

Pingin...

 


Berangkat menuju banyuwangi

Yooo…..Salam Wildlife perjalanan 2008 kami kali ini berawal dari salah satu personel yang ngebet pingin ketemu pujaan hatinya yang rumahnya didaerah Glenmore(Banyuwangi)awalnya saya g percaya klu ada nama kota di Jawa Timur macam nama barat gito karena rasa penasaran akhirnya saya pun mau ikut….teman saya nih yang ngebet jauh2 dari bandung…maksudnya mumpung pulang surabaya kan deket tuh Banyuwangi-SBY..sepakat kami langsung berangkat sekitar jm2 siang sebelumnya supaya saya ga ngacang di Banyuwangi karena nantinya pasti ditinggal ngedate..saya ajak temen satu lagi..akhirnya kami bertiga berangkat..Gooooo!!!!naek suprax125 n supra fit..Perjalanan yang kami pilih lewat Surabaya-Sidoarjo-Gempol-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Paiton-Besuki-Bondowoso-Kaliasat-Kalibaru-Glenmore…..

Jalur yang dilalui

Wuih sembari perjalanan nyampe daerah paiton mesti foto-foto dulu terus baru ngelanjutin perjalanan….ha2 padahal awalnya kami g tahu jlan tapi untung insting menuntun kami dengan sangat tepat..sersa memang hari itu disuruh cepat sampai sebelum malam…dari besuki langsung melewati bondowoso melewati perbukitan dan tempat2 bagus kami pun sempat berfoto-foto sejenak terus langsung melanjutkan perjalanan menuju kalimati jalan satu2nya menuju Banyuwangi lewat selatan..gawatnya nih klu ada macet di kalibaru bisa2 muter Situbondo wah tambah jauh..untungnya sore itu lancar chuy…jadi bisa ngejar waktu..Akhirnya kami pun sampai Glenmore sebelum sekitar isya’lah…jm7an gto..begitu sumringahnya temenku ketmu pujaan hatinya..kalu a  sih langsung tidur cepeeekkk…met bubuk…

Perbatasan Keluar Probolinggo

Foto-foto deket Paiton

Puncak mau ke Bondowoso

Hacchiko berfoto

Berfoto berdua

Mbut, Tombz, Hachiko

Besoknya setelah istirahat bangun, mandi, sarapan…menikmati pemandangan kota Glenmore yang sejuk bertatapkan pegunungan yang mengelilingi kota kecil ini sejenak …Sambil berfikir sejarah kota ini gimana y…Begini nih critanya…

Kata Glenmore berasal dari bahasa Belanda, Glen yang berarti lembah kecil, more artinya lebih. Nama Glenmore Diresmikan oleh penjajah Belanda pada tahun 1926. Glenmore mencerminkan lembah yang kaya akan sumber daya alam, memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan tanah yang subur. Glenmore diapit oleh dua kecamatan lain yakni Genteng dari timur dan Kalibaru dari barat membuat daerah ini sangat strategis. Glenmore terdiri tujuh Desa yaitu Sepanjang, Karangharjo, Tegalharjo, Tulungrejo, Sumbergondo, Bumiharjo dan Margomulyo. Meski tingkat pendidikan masyarakat pada saat itu rendah, namun tidak membuat mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hampir semua kebutuhan pokok tersedia, umumnya masyarakat menjadi buruh di perkebunan milik penjajah Belanda. Hasil perkebunan melimpah dengan kualitas tinggi, sayangnya hasil perkebunan itu diperuntukkan untuk bagsa Belanda, Masyarakat hanya mendapat remah-remah kecil.

Glenmore merupakan salah satu kecamatan di Banyuwangi yang kaya akan sumberdaya alam. Area perkebunan merupakan salah satu daerah wisata yang  sering dikunjungi oleh turis mancanegara sebagai tempat berlibur sekaligus tempat peristirahatan yang nyaman. Para turis menikmati keindahan alam di glenmore dengan berbagai cara. Ada yang ditemani oleh guide ataupun berkeliling dari satu desa ke desa lain naik sepeda gayung. Mereka suka mengamati secara langsung para pekerja menanam, memanen, atau mengolah hasil perkebunan.

Jika ditanya tentang keasriannya, bisa dibilang semakin menurun apalagi sekarang cara penanaman tumbuhannya tidak sama dengan dulu. Semakin banyak tanaman yang tumbuh bergantung dengan obat-obatan bila dulu masyarakat menebang pohon setelah menunggu pohon pengganti tumbuh besar. Sekarang mereka menebang pohon tanpa melihat umur dan penanaman sering terlambat hingga mengakibatkan panen acapkali gagal dan saat hujan deras bukit didaerah tersebut sering longsor. Bila kita melihat sungai yang semakin hari semakin melebar, dangkal, dan kotor karena daerah didekat sungai menjadi pemukiman warga dan pembuangan sampah non organic ke sungai. Pemerintah kelihatan bingung dengan apa yang musti dilakukan melihat kenyataan yang ada. Dulu Glenmore merupakan daerah yang sangat asri. Masyarakat waktu itu umumnya hanya bercocok tanam dan memelihara ternak sapi atau kambing.

Penduduk daerah glenmore mayoritas etnis Madura, yang dulunya menjadi pekerja paksa pada jaman penjajahan Belanda. Mbuk Sam, warga sukabumi – Glenmore menuturkan asal usul keluarganya yang sekarang tinggal di perkebunan Sukabumi Glenmore,” saat itu kakek saya diperintah oleh penjajah naik truk berjejalan bersama rekan-rekannya untuk turut kerja paksa.” Para pekerja paksa itu dipaksa bekerja siang malam dengan kondisi yang mengenaskan, Ada yang matanya terkena batang pohon karet hingga buta, dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Tingginya angka kematian karena fasilitas makanan dan kesehatan yang sangat terbatas, dan kecelakaan kerja yang sering terjadi ketika membuat bangunan baru.

Kopi, karet dan coklat menjadi komoditi andalan di daerah yang waktu itu mencapai sekitar 2800 jiwa. Tanaman besar seperti beringin juga ditanam disetiap desa hingga menjadi ciri khas daerah itu. Dengan luas perkebunan 1500 hektar tampaknya cukup untuk menampung tenaga kerja yang ada. Namun sayangya sekarang masyarakat lebih suka bekerja merantau untuk mendapat upah yang lebih baik.

Setelah Poklamasi pada tahun 1945 Belanda pergi dari Glenmore meninggalkan bangunan tua bersejarah, ilmu pengetahuan dan perkebunan yang luas. Namun tidak serta merta masyarakat sejahtera dan damai. Peristiwa huru hara politik dan pembantaian tahun 1965 juga turut melanda Glenmore. Menurut Mbuk Ho, warga yang lahir dan tinggal di Sukabumi, saat itu banyak masyarakat di Glenmore yang dibantai. Banyak masyarakat awam yang tidak paham politik dibantai oleh sesama warga hanya berdasarkan desas desus dan bisikan. Suasana mencekam, malam hari tidak ada warga yang berani keluar rumah. Ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai tempat kuburan missal antara lain Pelalangan Sidodadi dan Pertigaan Karangdoro.

Selain di Glenmore, ada daerah lain yang lebih menyeramkan yakni di Desa Karangasem Dusun Pendot.  Menurut masyarakat glenmore, pengikut Ansor sebanyak tiga truk dibantai dan dihabisi oleh satu orang penduduk saja yang bernama Pak Katirin. Bahkan di sana dibuatkan Lubang buaya untuk mengubur orang-orang yang telah dibantai dengan kejam. Tapi ada satu orang yang selamat dari kejadian itu dari Pihak Ansor yakni Saleman,  tapi sayangnya dia dibunuh juga oleh temannya sendiri saat dia pindah menjadi pengikut lain. Daerah pembataian ini sekarang jadi tempat yang wingit (angker), dan jarang dikunjungi penduduk.

Di Glenmore, terutama didaerah perkebunan PTPN XII, ada sesepuh yang sangat dihormati dan dipercaya oleh Warga.  Beliau bernama Mbah Embun, sebelumnya dia hanya dikenal di Dusun Kampongan sebagai seorang pembersih jalan dengan bayaran seadanya. Mbah Embun orang sangat sederhana, penyabar dan tlaten. Dia tinggal didepan mushola yang terbuat dari rotan bersama istrinya Mbah Narsih dan dengan dua ekor Anjing. Tidak ada yang tahu asal usul dia dengan pasti, menurut salah seorang juru kunci Makam Mbah embun, Saleh (45th), Nama mbah Embun terkenal saat meletusnya Gunung Agung di Bali pada tahun 1963. Saat itu Glenmore dan Bali percaya bahwa mereka melihat sosok Mbah Embun didua tempat sekaligus, yaitu di Bali dan di Glenmore. Waktu itu mbah Embun bilang bahwa akan banyak mayat berceceran, tak lama setelah itu meletus gunung Agung dan peristiwa pembantaian 1965. Masyarakat yang tadinya tidak begitu percaya menjadi hormat dan percaya karena ucapan dia menjadi kenyataan. Salah seorang Murid mbah Embun, Kyai Abbas juga mengatakan hal yang senada, Kyai Abbas merupakan salah satu penyebar agama Islam awal di Cangaan.

Mbah Tumis 80th, warga Sukabumi –Glenmore bercerita tentang sumur paling tua dan pertama di di desa Pegondangan. Sumur itu dibuat oleh Kyai abbas yang pada saat itu sedang mencari gurunya. Kyai Abbas menyuruh salah seorang muridnya yang bernama Mbah Yunus warga Tamansari untuk mencari seseorang yang bernama Mbah embun. Sambil berjualan jamu, Mbah Yunus bertemu dengan guru dari gurunya di Glenmore yaitu mbah Embun. Waktu itu Mbah Embun minta mbah Yunus supaya membuat sumur di daerah tersebut.

Setelah menggali tanah di beberapa tempat dekat  Mushola, tidak ada satupun yang mengeluarkan air. Karena merasa gagal akhirnya Mbah yunus kembali ke Cangaan untuk menghadap Kyai Abbas. Lalu Kyai Abbas pergi ke desa kampongan untuk mencari tempat yang cocok untuk pembuatan sumur. Kyai Abbas melihat sebuat lidi yang menancapkan di tanah belakang rumah gurunya. Kyai Abbas menarik lidi itu dan keesokan harinya Kyai abbas menyuruh Mbah yunus untuk menggali di tempat itu. Setelah menggali sampai kedalaman 20 meter akhirnya keluarlah air yang sampai sekarang masih digunakan oleh penduduk setempat, selain menjadi sumber kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga percaya bahwa air sumur itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Setelah mbah Embun meninggal pada tahun 1968, masyarakat menghormati dengan mengijing makamnya, dan juga menghormati dengan mengikuti cara hidup mbah Embun yang senantiasa menghormati alam, dan menjaga alam tetap lestari srta tidak membuang sampah sembarang. Mbah Embuh bukan sekedar pembersih jalan biasa, dia telah memberi tauladan yang nyata bagaimana kita menghormati alam, dan bagaimana kita bisa menjaga harmoni kehidupan.

Kini, berpuluh tahun setelah mbah Embun meninggal, sebagian masyarakat seolah melupakan mbah Embun, ada yang membuang sampah sembarangan, peninggalan mbah Embun tidak dirawat, bahkan makamnya sempat dikarciskan. Uang menjadi orientasi utama sebagaian besar warga.  Hutan digunduli dan dan hanya menanam pohon yang bisa menghasilkan uang dengan instan. Kesuburan tanah berkurang drastis. Bila kita terus lalai menjaga alam, tidak menutup kemungkinan Glenmore, surga dibalik lembah yang dulu asri dan subur, bisa menjadi kubur.

Nah gito ceritane…dan tiba-tiba kami diajak keluarga pujaan hatine temenku refresing ke pantai Grajangan..Wah mana itu kami pun ikut2 saja …dilanjutin lagi nih di part II..

Kelud Expedition


Tim Sueto Ekspedisi G. Kelud

Yup kali ini artikel Sueto menceritakan perjalanan touring ke G. Kelud…..Perjalanan 2009 ini yang bisa dibilang agak santai, singkat, bermomentlah…pagi2 sekitar jam 5 pagi kami 4 orang sudah bersiap berangkat menuju G.Kelud dari home base tombz raider di sidoarjo….tarik cepat kami melewati jalur Sidoarjo-Tulangan-Mojosari-Jombang-Pare-Ngancar-Blitar-G.Kelud(masih masuk kabupaten Kediri)..soalnya pernah nyoba lewat batu kok tambah jauh…sekitar jam 6 kami pun nyampe di pare dan sarapan pecel kediri..setelah itu perjalanan kembali diteruskan langsung ke G.Kelud berangkat jm7 dari Pare nyampe sekitar jam 8 lebih di pos masuk wisata G. Kelud sambil melepas lelah kami pun main2 dulu di sekitar taman masuk..menunggu beberapa pengunjung berdatangan juga supaya g  kami sendiri.

gerbang pintu masuk

….kelihatan pengunjungnya sudah ramai kami pun masuk beli tiket murah meriah..langsung masuk dan menyusuri jalur aspal yang berliku-berliku…kami pun sempat berfoto-foto sesambil perjalanan menuju puncak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya kami nyampe di tempat wisata G.Kelud parkir motor dulu..langsung bersiap packing jalan-jalan lihat objek wisata…Sebelum menuju kawasan kawah anak G.Kelud kami melewati terowongan yang panjang kurang lebih 150meterenlah tanpa penerangan…ha2..kelihatannya bahaya klu ad yang colak-colek!!!(Terowongan Ganesha dibuat untuk menembus Puncak Gajah Mungkur Gunung Kelud sepanjang hampir 200 m yang dibangun untuk menuju ke mulut kawah. Konon dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang, namun ada yang mengatakan baru dibangun pada tahun 1951).

menyusuri terowongan

Setelah keluar terowongan…wah!!!ini toh yang namanya kawasan G.Kelud..Sejak ada kejadian 5 November 2007 jalur untuk menuju ke kawah kubah lava di gembok agar tidak ada wisatawan yang mendekat…soalnya keadaannya masih berbahaya. Kubah lava sendiri berdiameter 100m dan tingginya 200meter…G. Kelut(1.731m) sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti “sapu” dalam bahasa Jawa dan dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Blitar, kira-kira 27km sebelah timur pusat kota Kediri.

Kalu dari cerita warga sekitar G. Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesa Suro dan Lembu Suro. Dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara yang diadakan Dewi Kilisuci disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara.  Permintaan terakhir Dewi Kilisuci akhirnya mampu menjebak  keduanya di dalam sumur dan matilah Mahesa Sura dan Lembu Sura. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan “Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan sura oleh masyakat Sugih Waras.

Di G.Kelud ini juga ada cerita misteri jalan bermagnet tapi sebenarnya cuman ilusi geologi alam. Panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalan misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.  Penggal jalan yang dikenal sebagai jalan misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Berlanjut lagi ke perjalanan setelah menyusuri kawasan kubah lava dan pendopo atas..akhirnya kami pun kembali menuju parkiran motor bersiap kembali pulang…sebenarnya masih ada satu kawasan wisata lagi yaitu sumber air panas yang jaraknya sekitar 400meter dari parkiran..tetapi karena waktu itu langit sudah mulai mendung dan gerimis kami pun langsung balik ke parkiran…Ndelalah kok ada arena Flying Fox dan ATV anak2 pun terpacu untuk mencoba Flying Foxnya…Untuk menikmati flying fox dengan jalur bentang sepanjang 100 meter ini pengunjung dikenakan tarif Rp. 10.000,- sekali luncur termasuk diantar kembali ke tempat luncur awal dengan dibonceng sepeda motor. Setelah Ishoma juga kami pun kembali ke Surabaya tapi mampir ke Kediri dulu baru pulang deh…Huh akhirnya kesampaiyan juga setelah 3x gagal menuju G.Kelud. Coba dulu-dulu juga datang waktu sebelum ada kubah lava pasti tambah bagus juga…Tapi yang penting sampailah!!ha2! foto2 nya dibawah sini..

 


Tim Sueto di depan Masjid Agung Sumenep

Salam Wildlife…Ini adalah bagian akhir perjalanan kami mengitari P. Madura…..Tempat terakhir yang kami kunjungi yaitu dermaga kalianget kota dipucuk Madura, Masjid agung Sumenep, Keraton Sumenep cuman lewat, Alun2 kota Sumenep dan diperjalanan pulang terkhir yang tak terduga melewati Pantai Slopeng dan pesisir Utara Madura…

Dermaga Kalianget

Kalau di Dermaga Kalianget ini seh kami cuman mampir waktu itu seh niatnya cuman cari makan eh g ketemu malahan nyasar nyampe sini…Dermaga ini berfungsi untuk Menghubungkan Pulau utama(Madura) dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya..misalnya seperti P.Kambing, P. Sapudi, P.Puteran dll..katanya nih kota mati juga memang sih rada sepi  nih kota….waktu perjalanan ke Kalianget ternyata Sumenep punya landasan udara juga tapi g tau kapan ada pesawat yang mampir kelihatannya…he2…

Akhirnya kami pun mampir di alun-alun kota Sumenep melewati Keraton terus cari makan dan foto-foto disekitar alun-alun termasuk santai di Masjid Agun g Sumenep…Nek Keraton Sumenep disana biasa di sebut Keraton putri kuning ada musiumnya juga di dalem deket keraton induk…

Keraton Sumenep

Museum Keraton

Masjid Agung Saat Malam Hari

 

Saat Siang Hari

Besok paginya kami langsung cabut balik ke Surabaya…pada awalnya ingin lewat jalur Selatan karena memang supaya cepat sampai Surabaya tetapi apa daya kami tak tahu jalan akhirnya kesasar lewat jalur Utara dan melewati pantai Slopeng…Pantai Slopeng nih letaknya  di pesisir utara P.Madura…Pantai Slopeng adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi pantai sepanjang hampir 6 km. Bila anda suka memancing ikan di laut, maka kawasan pantai ini sangat cocok untuk mancing ria karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan, jenis ikan tongkol juga ada. pantai Slopeng terletak di kawasan kurang lebih 21 km arah utara Kota Sumenep.Air pantainya jernih dan pasirnya putih yang menghampar luas dihiasi pohon kelapa dan siwalan di pinggir pantai menjadikan pemandangan yang indah di mata wisatawan alam…

 

Yahhh setelah numpang lewat karena keburu waktu akhirnya kami terus menjelajah pesisir utara sampai akhirnya ketemu kota Bangkalan lagi dan langsung kembali keSurabaya melewati Suramadu…Nih foto-foto saat lewat pesisir utara yang memang puanas banget dan ternyata di sini ada tempat-tempat seperti rerutuhan kuno haha2…berimajenasi karena kemiripan tempat saja..

 

 

 

 

 



Sueto Community

Yukk…Ketemu Lagi perjalanan pun kami teruskan menuju objek wisata yaitu pantai Lombang….Sebelum mapir ke Pantai Lombang ini kami dari mercusuar Bangkalan mampir dulu malamnya ke Pamekasan hanya sekedar sillaturahmi lah ke seseorang sambil bersantai dan makan malam..Kemudian langsung menuju rumahe Juragan Gebleh..Sebenarnya rencana pagi mau ke pantai biar g panas tetapi akhirnya kami males-malesan dan kesiangan deh…hahaha…sambil menunggu sore hari kami pun rencana silaturahmi lagi ke sodara-sodara deketnya anak-anak seh dan mampir ke Asta tinggi tempat ziarah makam dari situ bisa melihat kota Sumenep dari ketinggian, jalan2 lagi ke Gua Jero(dalam) biasa salah satu temen kami Bos Cl Sueto punya hubungan dekat dengan alam gaib..pada awalnya seh kami salah informasi soalnya kami kira itu namanya  gua jeruk dari namanya kami pikir itu pasti daerah wisata eh ternyata itu gua jero tempat para orang-orang bersemadi..Yahhh akhirnya kami pun balik ke Sumenep ..Sekitar sorean jm3 lebih pun kami berangkat dari kota Sumenep perjalanannya menempuh waktu sekitar 1jam lebih nyampe sekitar jm 4 lebih jaraknya 30km dari kota Sumenep…Hmmm masih alami nih pantai..langsung bersenang-senanglah…Sementara itu nih about Pantai Lombang..

Pemandangan kota Sumenep dari asta tinggi

Lagi Istirahat di Asta Tinggi

Dibandingkan beberapa pantai yang pernah kami kunjungi, Lombang tak kalah menarik dari pantai Kuta, bahkan pantai ini menjanjikan suasana yang lebih alami.  juga disini yang menjadikannya unik, disekitar dan disepanjang bibir pantai tumbuh pepohonan bonsai cemara udang. Konon, hanya ada 2 pantai di dunia ini yang memiliki keunikan semacam ini, selain Lombang sendiri, tempat lainnya adalah Cina. Dengan adanya Suramadu, keindahan pantai Lombang tampaknya bakal menjadi salah satu objek wisata unggulan bagi Madura.

Jalan akses menuju lokasi sangat mudah, bisa menggunakan mobil atau sepeda motor. Untuk masuk ke lokasi pantai, akan dikenakan biaya karcis sebesar Rp 3.000,-

Di area pantai juga terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Salah satu jenis minuman yang dapat menghilangkan dahaga yaitu “Es Degan” yang masih muda dan baru. Adapun makanan yang dijual salah satunya adalah “Rujak Lontong” yang bikin para wisatawan tidak tahan untuk mencobanya.

Pantai ini termasuk salah satu variatif bila anda pingin berkunjung ke Madura..pokoke bagus sambil aplagi sambil menikmati sunset..bagus dan harus dijaga kelestariaannya..