Gempa besar 7,2 Skala Richter di Mentawai, Sumatera Barat yang  terjadi Senin malam pada pukul 21.42 WIB, menimbulkan gelombang  tsunami sampai sekitar 1,5 meter di sekitar Pulau Pagai Utara dan  Selatan.

Hingga kini diduga tiga orang tewas dan ratusan lainnya hilang.

“Dusun yang berpenduduk 200 orang ini, kini tinggal 40 orang yang  berada di lokasi. Yang lainnya belum jelas nasibnya,” kata Supri  Lindra, warga Sikakap, saat dihubungi VIVAnews.com,Selasa 26  Oktober 2010.

Sekitar 160 warga Dusun Munte baru-Baru, Desa Betumonga, Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dilaporkan hilang. Supri mendapat informasi bahwa korban tewas mencapai 3 orang.

Jumlah korban tewas ini masih simpang siur.  Data terakhir yang didapat VIVAnews  menyebutkan baru dua dua orang meninggal di Pagai Selatan yakni, bayi berusia tiga bulan di Dusun Bulasat dan seorang perempuan di Beleraksok, Desa Malakotak. Sedangkan warga Dusun Munte Baru-Baru.

Namun saat dikonfirmasi kepada Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat Ade Edward, ia mencatat satu orang meninggal di Dusun Munte Baru-Baru. “Baru satu orang yang dinyatakan meninggal, ratusan lainnya belum ada kabarnya,” ujar Ade.

Supri melanjutkan, kemungkinan ratusan warga Desa Munte Baru-Baru yang dikabarkan hilang ini berada di pengungsian dan belum kembali ke desa. “Kondisinya belum jelas, apakah hilang atau masih di pengungsian karena mereka lari secara berpencar,” katanya.

Supri mengabarkan, saat ini warga mulai membangun tenda-tenda pengungsian dan posko bencana.

Tsunami yang menghantam Pagai Utara Selatan terjadi 15 menit pasca gempa 7,2 Skala Richter juga merusak sejumlah kawasan di Kabupaten Mentawai. Kawasan resort Makaroni dikabarkan rusak berat akibat diterjang tsunami. Kapal pesiar yang ditumpangi turis asing juga dikabarkan masih hilang kontak.

Berikut ini kronologi Awal mula terjadinya sunami mentawai berawal dari gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (7,7 SR versi USGS) mengguncang kawasan Mentawai, Sumatera Barat, pada pukul 21.42 WIB, dimana gempa tersebut dinyatakan berpotensi tsunami, kemudian pada sekitar pukul 22.38 WIB, peringatan tsunami dicabut dan dinyatakan nihil.

Akan tetapi Seorang warga Australia melaporkan menjadi saksi peristiwa tsunami yang diperkirankan setinggi tiga meter yang terjadi setelah gempa Mentawai.

Warga australi tersebut bernama Rick Hallet yang kemudain membuat kesaksian kepada Nine Network dia berkata saat tsunami mentawai tersjai dia berada di kapal carteran yang mereka sewa untuk surfing saat dinding air berwarna putih menggulung mereka di perairan Pulau Mentawai, sekitar pukul 22.00 WIB.

Seperti pengakuan yang dimuat SkyNews Australia, Selasa 26 Oktober 2010, dimana gelombang hebat tersebut menyapu sebuah perahu lain ke arah kapal mereka, menabrakkannya, dan menyebabkan ledakan.sehingga mengakibatkan munculnya bola api di bagian belakang kapal.

Hallet mengaku, ia memerintahkan semua orang pergi ke dek teratas, melemparkan benda apapun yang bisa mengapung seperti papan selancar kemudian mereka terjun ke laut. 

Beberapa tamu terbawa 200 meter ke arah pulau dan tinggal di atas pohon hingga diselamatkan perahu lain 90 menit kemudian, itulah awal mula terjadinya Tsunami mentawaidimana hingga saat ini data korban yang meninggal sudah mencapai 311 orang dan sampai sekarang jumlah korban tersbut kemungkinan besar masih akan bertambah karena daftar orang yang dinyatakan hilang karena tsunami dan gempa mentawi tersebut diperkirakan masih berjumlah 400 orang.

Iklan