Berangkat menuju banyuwangi

Yooo…..Salam Wildlife perjalanan 2008 kami kali ini berawal dari salah satu personel yang ngebet pingin ketemu pujaan hatinya yang rumahnya didaerah Glenmore(Banyuwangi)awalnya saya g percaya klu ada nama kota di Jawa Timur macam nama barat gito karena rasa penasaran akhirnya saya pun mau ikut….teman saya nih yang ngebet jauh2 dari bandung…maksudnya mumpung pulang surabaya kan deket tuh Banyuwangi-SBY..sepakat kami langsung berangkat sekitar jm2 siang sebelumnya supaya saya ga ngacang di Banyuwangi karena nantinya pasti ditinggal ngedate..saya ajak temen satu lagi..akhirnya kami bertiga berangkat..Gooooo!!!!naek suprax125 n supra fit..Perjalanan yang kami pilih lewat Surabaya-Sidoarjo-Gempol-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Paiton-Besuki-Bondowoso-Kaliasat-Kalibaru-Glenmore…..

Jalur yang dilalui

Wuih sembari perjalanan nyampe daerah paiton mesti foto-foto dulu terus baru ngelanjutin perjalanan….ha2 padahal awalnya kami g tahu jlan tapi untung insting menuntun kami dengan sangat tepat..sersa memang hari itu disuruh cepat sampai sebelum malam…dari besuki langsung melewati bondowoso melewati perbukitan dan tempat2 bagus kami pun sempat berfoto-foto sejenak terus langsung melanjutkan perjalanan menuju kalimati jalan satu2nya menuju Banyuwangi lewat selatan..gawatnya nih klu ada macet di kalibaru bisa2 muter Situbondo wah tambah jauh..untungnya sore itu lancar chuy…jadi bisa ngejar waktu..Akhirnya kami pun sampai Glenmore sebelum sekitar isya’lah…jm7an gto..begitu sumringahnya temenku ketmu pujaan hatinya..kalu a  sih langsung tidur cepeeekkk…met bubuk…

Perbatasan Keluar Probolinggo

Foto-foto deket Paiton

Puncak mau ke Bondowoso

Hacchiko berfoto

Berfoto berdua

Mbut, Tombz, Hachiko

Besoknya setelah istirahat bangun, mandi, sarapan…menikmati pemandangan kota Glenmore yang sejuk bertatapkan pegunungan yang mengelilingi kota kecil ini sejenak …Sambil berfikir sejarah kota ini gimana y…Begini nih critanya…

Kata Glenmore berasal dari bahasa Belanda, Glen yang berarti lembah kecil, more artinya lebih. Nama Glenmore Diresmikan oleh penjajah Belanda pada tahun 1926. Glenmore mencerminkan lembah yang kaya akan sumber daya alam, memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan tanah yang subur. Glenmore diapit oleh dua kecamatan lain yakni Genteng dari timur dan Kalibaru dari barat membuat daerah ini sangat strategis. Glenmore terdiri tujuh Desa yaitu Sepanjang, Karangharjo, Tegalharjo, Tulungrejo, Sumbergondo, Bumiharjo dan Margomulyo. Meski tingkat pendidikan masyarakat pada saat itu rendah, namun tidak membuat mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hampir semua kebutuhan pokok tersedia, umumnya masyarakat menjadi buruh di perkebunan milik penjajah Belanda. Hasil perkebunan melimpah dengan kualitas tinggi, sayangnya hasil perkebunan itu diperuntukkan untuk bagsa Belanda, Masyarakat hanya mendapat remah-remah kecil.

Glenmore merupakan salah satu kecamatan di Banyuwangi yang kaya akan sumberdaya alam. Area perkebunan merupakan salah satu daerah wisata yang  sering dikunjungi oleh turis mancanegara sebagai tempat berlibur sekaligus tempat peristirahatan yang nyaman. Para turis menikmati keindahan alam di glenmore dengan berbagai cara. Ada yang ditemani oleh guide ataupun berkeliling dari satu desa ke desa lain naik sepeda gayung. Mereka suka mengamati secara langsung para pekerja menanam, memanen, atau mengolah hasil perkebunan.

Jika ditanya tentang keasriannya, bisa dibilang semakin menurun apalagi sekarang cara penanaman tumbuhannya tidak sama dengan dulu. Semakin banyak tanaman yang tumbuh bergantung dengan obat-obatan bila dulu masyarakat menebang pohon setelah menunggu pohon pengganti tumbuh besar. Sekarang mereka menebang pohon tanpa melihat umur dan penanaman sering terlambat hingga mengakibatkan panen acapkali gagal dan saat hujan deras bukit didaerah tersebut sering longsor. Bila kita melihat sungai yang semakin hari semakin melebar, dangkal, dan kotor karena daerah didekat sungai menjadi pemukiman warga dan pembuangan sampah non organic ke sungai. Pemerintah kelihatan bingung dengan apa yang musti dilakukan melihat kenyataan yang ada. Dulu Glenmore merupakan daerah yang sangat asri. Masyarakat waktu itu umumnya hanya bercocok tanam dan memelihara ternak sapi atau kambing.

Penduduk daerah glenmore mayoritas etnis Madura, yang dulunya menjadi pekerja paksa pada jaman penjajahan Belanda. Mbuk Sam, warga sukabumi – Glenmore menuturkan asal usul keluarganya yang sekarang tinggal di perkebunan Sukabumi Glenmore,” saat itu kakek saya diperintah oleh penjajah naik truk berjejalan bersama rekan-rekannya untuk turut kerja paksa.” Para pekerja paksa itu dipaksa bekerja siang malam dengan kondisi yang mengenaskan, Ada yang matanya terkena batang pohon karet hingga buta, dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Tingginya angka kematian karena fasilitas makanan dan kesehatan yang sangat terbatas, dan kecelakaan kerja yang sering terjadi ketika membuat bangunan baru.

Kopi, karet dan coklat menjadi komoditi andalan di daerah yang waktu itu mencapai sekitar 2800 jiwa. Tanaman besar seperti beringin juga ditanam disetiap desa hingga menjadi ciri khas daerah itu. Dengan luas perkebunan 1500 hektar tampaknya cukup untuk menampung tenaga kerja yang ada. Namun sayangya sekarang masyarakat lebih suka bekerja merantau untuk mendapat upah yang lebih baik.

Setelah Poklamasi pada tahun 1945 Belanda pergi dari Glenmore meninggalkan bangunan tua bersejarah, ilmu pengetahuan dan perkebunan yang luas. Namun tidak serta merta masyarakat sejahtera dan damai. Peristiwa huru hara politik dan pembantaian tahun 1965 juga turut melanda Glenmore. Menurut Mbuk Ho, warga yang lahir dan tinggal di Sukabumi, saat itu banyak masyarakat di Glenmore yang dibantai. Banyak masyarakat awam yang tidak paham politik dibantai oleh sesama warga hanya berdasarkan desas desus dan bisikan. Suasana mencekam, malam hari tidak ada warga yang berani keluar rumah. Ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai tempat kuburan missal antara lain Pelalangan Sidodadi dan Pertigaan Karangdoro.

Selain di Glenmore, ada daerah lain yang lebih menyeramkan yakni di Desa Karangasem Dusun Pendot.  Menurut masyarakat glenmore, pengikut Ansor sebanyak tiga truk dibantai dan dihabisi oleh satu orang penduduk saja yang bernama Pak Katirin. Bahkan di sana dibuatkan Lubang buaya untuk mengubur orang-orang yang telah dibantai dengan kejam. Tapi ada satu orang yang selamat dari kejadian itu dari Pihak Ansor yakni Saleman,  tapi sayangnya dia dibunuh juga oleh temannya sendiri saat dia pindah menjadi pengikut lain. Daerah pembataian ini sekarang jadi tempat yang wingit (angker), dan jarang dikunjungi penduduk.

Di Glenmore, terutama didaerah perkebunan PTPN XII, ada sesepuh yang sangat dihormati dan dipercaya oleh Warga.  Beliau bernama Mbah Embun, sebelumnya dia hanya dikenal di Dusun Kampongan sebagai seorang pembersih jalan dengan bayaran seadanya. Mbah Embun orang sangat sederhana, penyabar dan tlaten. Dia tinggal didepan mushola yang terbuat dari rotan bersama istrinya Mbah Narsih dan dengan dua ekor Anjing. Tidak ada yang tahu asal usul dia dengan pasti, menurut salah seorang juru kunci Makam Mbah embun, Saleh (45th), Nama mbah Embun terkenal saat meletusnya Gunung Agung di Bali pada tahun 1963. Saat itu Glenmore dan Bali percaya bahwa mereka melihat sosok Mbah Embun didua tempat sekaligus, yaitu di Bali dan di Glenmore. Waktu itu mbah Embun bilang bahwa akan banyak mayat berceceran, tak lama setelah itu meletus gunung Agung dan peristiwa pembantaian 1965. Masyarakat yang tadinya tidak begitu percaya menjadi hormat dan percaya karena ucapan dia menjadi kenyataan. Salah seorang Murid mbah Embun, Kyai Abbas juga mengatakan hal yang senada, Kyai Abbas merupakan salah satu penyebar agama Islam awal di Cangaan.

Mbah Tumis 80th, warga Sukabumi –Glenmore bercerita tentang sumur paling tua dan pertama di di desa Pegondangan. Sumur itu dibuat oleh Kyai abbas yang pada saat itu sedang mencari gurunya. Kyai Abbas menyuruh salah seorang muridnya yang bernama Mbah Yunus warga Tamansari untuk mencari seseorang yang bernama Mbah embun. Sambil berjualan jamu, Mbah Yunus bertemu dengan guru dari gurunya di Glenmore yaitu mbah Embun. Waktu itu Mbah Embun minta mbah Yunus supaya membuat sumur di daerah tersebut.

Setelah menggali tanah di beberapa tempat dekat  Mushola, tidak ada satupun yang mengeluarkan air. Karena merasa gagal akhirnya Mbah yunus kembali ke Cangaan untuk menghadap Kyai Abbas. Lalu Kyai Abbas pergi ke desa kampongan untuk mencari tempat yang cocok untuk pembuatan sumur. Kyai Abbas melihat sebuat lidi yang menancapkan di tanah belakang rumah gurunya. Kyai Abbas menarik lidi itu dan keesokan harinya Kyai abbas menyuruh Mbah yunus untuk menggali di tempat itu. Setelah menggali sampai kedalaman 20 meter akhirnya keluarlah air yang sampai sekarang masih digunakan oleh penduduk setempat, selain menjadi sumber kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga percaya bahwa air sumur itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Setelah mbah Embun meninggal pada tahun 1968, masyarakat menghormati dengan mengijing makamnya, dan juga menghormati dengan mengikuti cara hidup mbah Embun yang senantiasa menghormati alam, dan menjaga alam tetap lestari srta tidak membuang sampah sembarang. Mbah Embuh bukan sekedar pembersih jalan biasa, dia telah memberi tauladan yang nyata bagaimana kita menghormati alam, dan bagaimana kita bisa menjaga harmoni kehidupan.

Kini, berpuluh tahun setelah mbah Embun meninggal, sebagian masyarakat seolah melupakan mbah Embun, ada yang membuang sampah sembarangan, peninggalan mbah Embun tidak dirawat, bahkan makamnya sempat dikarciskan. Uang menjadi orientasi utama sebagaian besar warga.  Hutan digunduli dan dan hanya menanam pohon yang bisa menghasilkan uang dengan instan. Kesuburan tanah berkurang drastis. Bila kita terus lalai menjaga alam, tidak menutup kemungkinan Glenmore, surga dibalik lembah yang dulu asri dan subur, bisa menjadi kubur.

Nah gito ceritane…dan tiba-tiba kami diajak keluarga pujaan hatine temenku refresing ke pantai Grajangan..Wah mana itu kami pun ikut2 saja …dilanjutin lagi nih di part II..

Iklan