sueto tim

gerbang masuk alas purwo

Perjalanan kali ini Sueto akan menuju TNAP yang berada di daerah pucuk paling timur propopinsi Jatim yaitu Semenanjung Blambangan di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kali ini sueto berangkat pake mobil xenia bro Sando…pada awalnya rencana touring ini memiliki 2 tim yang akan berangkat tapi berhubungan 1 tim lainnya ada kendala akhirnya kami berangkat 1 tim saja..Dimulai berangkat dari Sidoarjo markas tombzraider, beranggotakan 8 orang pada akhir semester genap 2010 jam 10an malam pun langsung berangkat…Awal berangkat kami lewat jalur selatan menuju Banyuwangi tapi mampir ke rumahe temen dulu di Lumajang setelah itu langsung cabut perjalanan menuju TNAP…nih jalurnya melewati Surabaya-Sidoarjo-Porong-Gempol-Bangil-PasuruanProbolinggo-Klakah-Lumajang-Jember-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Rogojampi-Srono-Muncar-Tegaldino-TNAP

Rute SBY-TNAP

Melewati perjalanan yang berliku-liku Xenia pun sanggup melahap kecepatan 140km/jm target pagi sudah nyampe melewati daerah Kalibaru perbatasan Jember-Banyuwangi dan ngopi sejenak terus langsung dilanjutkan ke TNAP dan akhirnya nyampai daerah tegaldino memasuki perkampungan kecil dengan jalan yang sedikit makadam akhirnya sampe di pintu gerbang TNAP…tentang TNAP

Ada beberapa cara menuju TNAP salah satunya kalau dari Banyuwangi… Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.

Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Peta TNAP

TNAP SUETOclub

Bersama Banteng TNAP

Lagi mendinginkan MObil dan orang yang kepanasan karena terlalu cepat

Soehel the silver sufer

Menyebut nama Alas Purwo, mungkin banyak orang yang tidak mengenalnya. Tetapi bila menyebut Plengkung, pikiran kita langsung menuju ke sebuah pantai dengan ombak besar yang sangat terkenal bagi penggemar berat “surfing” (selancar).

Alas Purwo dan Plengkung mungkin bisa disamakan dengan “kasus” Bali dan Indonesia dulu. Wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Padahal Bali adalah bagian dari Indonesia. Begitu juga halnya dengan Plengkung dan Alas Purwo. Plengkung yang merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo jauh lebih dikenal dibandingkan Alas Purwo. sebelum kita bahas Plengkung kita bahas dulu TNAP…

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo,Kabupaten BanyuwangiJawa TimurIndonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.

Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).

Taman Nasional Alas Purwo(TNAP)merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.

Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).

Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari.

Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain.

Setelah melewati gerbang masuk TNAP kami istirahat di warung dan pusat makanan untuk istirahat sejenak dan makan kemudian langsung mulai menyusuri pantai-pantai di sekitar TNAP bermula dari pantai yang paling dekat yaitu pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Pantai ngagelan

Papan Peringatan

TNAP ngagelan

Penyu penangkaran

Di Belakang Pondok Penangkaran Penyu Ngagelan

Bro Sando Sueto

Arek2 di ngagelan

Green Sueto

SUETO Tim Ekspedisi TNAP

Ready Shoot

Warga sekitar Alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur. Ngagelan juga tempat penetasan anak-anak penyu hamparan pasir pantai yang bersih terpadu dengan hutan mangrove dan hutan tropis. menjadi tempat ber wisata yang benar- benar fantastis. jika beruntung bisa ditemui hamparan pantai dengan pasir bersih dan sangat luas ketika air laut surut.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan. Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas TNAP mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

Menuju Trianggulasi

Xenia Hypnotis

Pantai Trianggulasi

Pondok Penginapan di Trianggulasi

Setelah dari pantai ngagelan kami menuju pantai Trianggulasi yang terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Deburan ombak di pantai Trianggulasi terlihat cukup tinggi, dengan topografi pantai yang memanjang, ombak ini terlihat mempesona, dan bisa dimanfaatkan untuk surfing. Namun, pihak pengelola Taman Nasional Alas Purwo sengaja tidak mengijinkan peselancar, karena ombaknya masih dianggap berbahaya. Hal ini ditandai dengan larangan melakukan aktivitas apapun di laut termasuk berselancar ataupun berenang.

Jika kebetulan singgah di pantai ini, usahakan untuk menginap, sebab pemandangan Sunset (Matahari tenggelam) cukup memukau. Di sekitar pantai, disediakan penginapan (Guest House). Tarifnya semalam hanya Rp 75.000,-/Kamar dan untuk keluarga juga disediakan satu rumah Rp 150.000,- / malam (berisi 4 kamar). Jangan lupa, biaya ini hanya untuk menginap, sedangkan jika pelancong berminat menikmati makanan tradisional berupa kudapan ala alas purwo bisa memesan di pengelola guest house.

Sueto in Pancur

The AVATAR

Pancur Rock

Pose

Mars

Pnacur Beach

Pancur

Little Garden

Green Pancur

Little Waterfall

Stream of Moss

Sunset

Kemudian setelah itu kami langsung meluncur menuju pantai Pancur Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki. Setelah puas berfoto-foto kamipun rencana ingin langsung menuju plengkung tetapi waktu itu ada kendala angkutan mobil dari Pancur ke Plengkung sedang rusak dan masih diperbaiki juga kurangnya ketersediaan driver pemandu sebenarnya jarak Pancur-Plengkung cuman 10-11km tetapi kami memutuskan menginap saja di Pancur karena  ada tempat perkemahan, warung dan masjid jadi lumayan lengkaplah fasilitasnya…

Sueto Tim Sadengan TNAP

Randy de Burges

Mulai Hunting Banteng

Populasi hewan di Sadengan

Sore di Sandengan

Sambil menunggu matahari terbenam kami sempatkan mampir ke Sadengan yang terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung.

Kami bersantai sampai menjelang senja di Sadengan terus balik ke Pancur Camp…Menikmati pantai yang jauh dari hirupikuk kota di malam hari ternyata bagus banget. Langit waktu itu sedang cerah dan kamipun  bisa menikmati taburan bintang dilangit secara penuh. Sampai akhirnya kami tertidur pulas di pantai dan terbangun karena dinginnya udara malam hutan akhirnya kami pindah ke masjid di daerah Camp. Met bubuk…! to be Continue…

Nih foto-foto saat malam di Pancur…

Soehell

Kamehameha

Laser Beam

Pancur Malam Hari

Kumpul Malam Pancur

Kumpulan Bintang

Bertabur Bintang

 

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ :)