Sueto Tim Plengkung

Sueto Lanjut  Plengkung setelah tertidur pulas malam itu….Setelah prepare sejenak sambil menunggu driver pickup datang. makan dulu ahh…Setelah  naek pick up extreme ini hmmm aura touring offroad extreme langsung terasa..Gimana nggak pickup ini  lebih tepat disebut Pickup Extreme  kedua mobil yang disediakan ini terlihat super berantakan dan salah satu mobil tidak ada remnya jadi saat melewati rintangan offroad harus mengandalakan kepiawaian driver..Saat perjalanan pun kami berkali-kali terjebak kubangan2 lumpur…untung bisa diatasi perjalanan Pancur-Plengkung ini kurang lebih dilalui sekitar 1jam..Untung tak kami teruskan pakai Xenia waktu itu kalau jalannya offroad parah kayak gini..saat perjalanan melintasi hutan menuju ke Plengkung ternyata ada  hutan sawo kecik unik yang tumbuh berjajar ditepi pantai. Buah sawo kecik hutan dengan kulitnya yang berwarna merah tidak ada yang memanen dan berjatuhan ditanah, buahnya bisa dimakan langsung dengan rasanya yang manis. Begini awal mula penemuan Plengkung oleh turis2manca.

Pada mulanya tidak ada yang tahu bahwa pantai yang berada di Semenanjung Blambangan ini berpotensi menjadi satu kawasan yang diperhitungkan dalam percaturan pariwisata. Namun sekitar tahun 1970-an, dua orang peselancar dari Kalifornia, AS, Gerry Lopez dan Mike Boyum, merasa tertantang untuk mencoba keganasan ombak di daerah ini.

Begitu terkesannya dengan ombak di Pantai Plengkung, mereka menyebarkan kabar itu ke beberapa temannya di Kalifornia. Berkat informasi keduanya, sejak tahun 1974 peselancar Kalifornia banyak yang berdatangan mencoba ombak Plengkung.

Akhirnya, pantai Plengkung yang sepi, berkembang menjadi daerah yang banyak diperbincangkan para peselancar dunia. Kawasan ini bertambah maju setelah tiga perusahaan swasta mendirikan penginapan (lebih tepat disebut camp), yaitu PT Wana Wisata Alam Hayati yang lebih dikenal dengan Bobby’s Camp, PT Plengkung Indah Wisata, dan PT Kenari Wisata. Jarak camp tersebut ke Pantai Plengkung hanya 100 meter sampai 150 meter.

Meski pengelolanya swasta dan menu makanannya sekelas makanan di hotel bintang lima, jangan bayangkan camp ini semewah hotel bintang empat atau lima seperti di Bali dan Jakarta. Ketiga pengelola camp tersebut menginginkan suasana Plengkung tetap alami.

“Tidak ada listrik di sini, kami pakai diesel. Ada televisi, tetapi jangan harap bisa nonton RCTI, CNN atau siaran stasiun televisi lainnya. TV itu hanya digunakan untuk menyetel video, terutama video tentang selancar. Tapi soal makanan dan minuman, kami tidak kalah dengan hotel-hotel mewah di Bali,” kata Puma, pria Bali yang menjadi pengawas di Bobby’s Camp.

Untuk bermalam di sana, paket termurah Rp 385.000 per malam, termahal Rp 550.000 per malam. Biaya itu sudah termasuk untuk kaos, o ngkos speed boat, makanan, dan minuman. Bedanya, untuk yang termahal dilengkapi dengan kipas angin.

Menurut Puma, tamu Bobby’s Camp -hampir seluruhnya adalah peselancar profesional, sepanjang hari, kegiatannya hanya berselancar. Dari camp yang berbentuk panggung dan terbuat dari kayu, para tamu bisa leluasa memandang ke arah pantai dan deburan ombak yang datang dari Samudera Hindia. Kalau ombak bagus, mereka segera turun berselancar. Kalau ombak jelek, balik lagi ke camp.

Bagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi Pantai Plengkung merupakan obyek wisata yang masuk dalam “segi tiga berlian” yang dijadikan sebagai andalan sumber pemasukan dana dari sektor pariwisata.

Pantai Plengkung merupakan obyek wisata yang tidak hanya memiliki panorama indah, tetapi juga dikenal sebagai pantai yang cocok untuk olahraga selancar air (surfing) karena memiliki ombak besar.

Konon, bagi sebagian wisatawan mancanegara, ombak di pantai ini, khususnya pada bulan Mei hingga Oktober, dianggap sebagai terbaik kedua setelah arena selancar air di Hawaii.

Sebagai catatan, di Pantai Plengkung pernah berlangsung lomba selancar air (surfing) tingkat internasional yang dikenal dengan “Banyuwangi G-Land International Team Challenge”.

Lomba itu diikuti 12 tim selancar air dari delapan negara dengan jumlah atlet 86 orang. Mereka antara lain berasal dari Australia, Prancis, Inggris, Amerika, Selandia Baru, dan Indonesia yang diwakili oleh atlet selancar dari Bali.

“G-Land, The Seven Giant Waves Wonder” Julukan tersebut diberikan oleh peselancar asing utk gulungan ombak di pantai Plengkung yg berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. G punya tiga konotasi yg berbeda: Green, krn lokasinya di tepi hutan, Grajagan, nama point terdekat sebelum ada jalan melintas di hutan atau Great krn salah ombak yg terbaik di dunia. Apapun artinya, itulah julukan buat sebuah nama lokal bernama Plengkung.

Ombak di Plengkung merupakan salah satu yg terbaik di dunia. Ombak setinggi 4-6 meter sepanjang 2 km dlm formasi 7 gelombang bersusun “go to left” cocok ditunggangi oleh peselancar kidal. Selain Plengkung utk peselancar prof, ada juga Pantai Batu Lawang utk belajar. Ombak disini disebut “twenty-twenty” yg artinya twenty minute utk mendayung ketengah dan twenty minute menikmati titian ombak.

Pantai plengkung atau G-land dapat dicapai melalui kota Banyuwangi kearah Muncar atau Benculuk terus kearah Pasar Anyar melalui Tegal Dlimo. Dari sini melaju sejauh 10 km melalui jalan makadam menuju pintu utama Taman Nasional di Rowobendo. Dari Rowobendo, 3km dgn jalan makadam menuju ke pos Pancur. Dari Pancur jalan bercabang-cabang menuju Sadengan, pantai Ngagel atau terus ke Plengkung.

Gulungan ombak di G-Land dapat disamakan dengan tiga lokasi lain di mancanegara, antara lain di Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Namun, ombak di G-Land dianggap memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ombak yang besar, keras, dan panjang. Berbeda dengan ombak di Oahu, misalnya, yang memiliki ombak besar tetapi relatif lebih pendek. Dengan kelebihan tersebut, tidak mengherankan jika kejuaraan berselancar internasional Quiksilver Pro pernah diadakan di G-Land tiga kali berturut-turut, yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997. Sayangnya, krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang kemudian disusul dengan berbagai kerusuhan sosial menjadikan panitia penyelenggara urung mengadakan kembali kejuaraan tersebut di G-Land.

Dari Pancur ke Plengkung sejauh 9km, walaupun jalan aspal yang masih baru (sebagian kecil saja belum selesai), sementara ini hanya boleh dicapai dgn 3 cara: berjalan kaki selama 2 jam, naik motor trail beserta jagawananya, atau menggunakan angkutan khusus pick up yang dikelola taman nasional alas purwo(tarif pick up yang mengantar dari Pancur-Plengkung Rp120-140ribuPP buat5-8orang).

Kendaraan pribadi hanya boleh diparkir di pos Pancur. Lokasi pantai Ngagel, Sadengan, pantai Trianggulasi dpt dicapai dlm hitungan sebentar dari Pancur karena bisa ditempuh dengan mudah menggunakan kendaraan apa saja.

Dari Grajagan, Plengkung bisa dicapai dengan speed boat dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Pokokya nie tempat menarik benget untung dikunjungi. Setelah prepare sorenya kami kembali ke Surabaya usai sudah kami menuntaskan misi ke TNAP yang sebelumnya sempat tertunda…See you the next touring….NIh foto-foto saat di Plengkung

Santai di Plengkung

Sando Photography

Menyusuri Pantai

Randy de Punient

New Place

Membidik

Bertengger

Diluar batas

New Planet

Pose

Jump!

Superman

Spawn Surfer

Soehell The Silver Surfer

Surfing

Surfing 2

Surfing 3

Surfing 4

Surfing 5

Surfing 6

Surfing 7

Surfing 8

Finish Surfing

Back to Camp

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ 🙂

Iklan