Perjalanan Kali ini adalah mengitari daerah sekitar propinsi Banten karena saya berada disini cuman 2hari 2malam…..Hmmm serasa agak dingin memang malam2 terasa hawa angin gunung yang segar dari gunung karang pandeglang kata ciko tempatnya asik kalu malam di pandeglang….Setelah melepas Rian ke Merak saya menuju rumah bang Ciko yang tinggal di kota Serang ibukota propinsi Banten karena sudah malam dan capek saya tidur dulu terlalu capek menikmati perjalanan dari Surabaya….Setelah bangun pagi rasa berpetualang muncul kembali rasanya tidak ingin melewatkan kesempatan jalan-jalan ke wisata propinsi Banten ini pertama-tama menikmati ibu kota Serang pagi eh ternyata meskipun namanya ibu kota tapi kotanya tergolong kecil mungkin karena masih baru propinsinya….Setelah agak siangan saya  menuju Banten lama menikmati sedikit wisata di daerah situ sampai sore misalnya nih…..Komplek Masjid Agung Banten lama yang  menyimpan banyak cerita sejarah dan tak sekadar tempat wisata ziarah.

  

Berlokasi di Kecamatan Kasemen, 10km dari pusat Kota Serang, didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1566M atau tanggal 5 Zulhijah 966 H, kemudian pembangunan dilanjutkan pada pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Dengan luas 13 Ha hampir seluruh bangunan masjid atapnya terdiri dari lima susun yang tingginya lebih kurang 23 m yang bentuknya seperti mercusuar.

Pada zaman dahulu digunakan sebagai menara pandang ke lepas pantai. Tiyamah (Paviliun) merupakan bangunan tambahan yang terletak di selatan masjid, berbentuk empat persegi panjang dan bertingkat. Pada masa jaman keemasan Kerajaan Islam Banten, Paviliun ini digunakan sebagai tempat musyawarah dan berdiskusi soal-soal keagamaan.

Disekitar lingkungan masjid terdapat juga makam para Sultan Banten dan Keluarga seperti Makam Sultan Maulana Hasanudin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abdul Mufasir Muhammad Aliyudin dan lain-lain.

Saat memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sepintas terasa terbawa ke cerita masa lalu. Masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi.

Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi di sebelah kiri jalan masuk. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan.

Melaju beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687.

Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah.

Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam.

Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri.

Di bagian belakang atau di sisi selatan, terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Dahulu, kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan, yang disebut Pancuran Mas.

Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi, sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat.

Sebelum masuk keraton, air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Mas.

Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu,Kabupaten Serang, yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Sementara itu, tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala, antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi. Sayangnya, sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan.

Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. Tempat itu disebut ruang Pasepen, yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah.

Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda.

Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. Ketika itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda.

Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ”Situs Keraton Kaibon”, dengan luas sekitar 2 hektar. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun.

Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante, yang terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air.

Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu.

Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

Wihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara Banten Lama

Bukan hanya bangunan masjid, Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan wihara Buddha atau klenteng China. Disebelah barat daya Surosowan berdiri Wihara Avalokitesvara, yang dibangun pada 1652.

Bangunan wihara ini merupakan peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah, yang menikahi seorang putri China saat sang putri bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat peribadatan para pengikut putri China, yang kemudian tinggal di Banten Lama.

Saat ini, Wihara Alokitesvara merupakan salah satu wihara tertua di Indonesia, yang kerap dibanjiri peziarah karena terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im dipercaya sebagai dewi yang penuh welas asih, yang diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Selain itu, di dalam wihara juga terdapat 15 altar, seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.

Setiap tahun wihara di Kampung Kasunyatan, Desa Banten, ini selalu dipadati puluhan ribu pemeluk Buddha dari banyak daerah di Indonesia, Belanda, Jerman, dan Thailand. Mereka datang, terutama, pada peringatan Lak Gwe Cap Kau, saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.

Terlepas dari itu, berdirinya wihara di kompleks kerajaan Islam bisa menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragamapada masa itu. Warga yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di kota tua tersebut.

Untuk melihat dengan jelas sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, Museum Kepurbakalaan Banten Lama bisa menjadi tujuan kunjungan.

Gambar peta dunia yang dibuat dengan tulisan tangan juga terpampang di sana. Demikian pula gambar Kiayi Ngabehi Wirapraja dan Kiayi Abi Yahya Sandara, dua Duta Besar Kesultanan Banten untuk Inggris. Itu menunjukkan majunya pemikiran para sultan karena mengerti pentingnya diplomasi.

Koleksi mata uang dan pecahan keramik dari sejumlah negara juga disimpan di museum tersebut. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Banten memiliki bandar besar, tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Bandar Banten dikunjungi para pedagang dari Gujarat (India), China, Melayu, Persia, dan Eropa.

Tidak perlu biaya mahal untuk menikmati sisa keindahan dan cerita kejayaan Kesultanan Islam Banten. Cukup membayar Rp 1.000, pengunjung sudah dapat mengantongi tiket untuk menjelajahi museum seluas 1.000 meter persegi.

Situs Istana Keraton Kaibon

Keraton yang diperuntukan bagi ibunda Sultan Maulana Rafiudin ini berasal dari kata Ka-ibi-an, dimana saat Sultan berusia 5 tahun, ayahnya Sultan Muhammad Safiudin mangkat, untuk melanjutkan pemerintahan, ibunya yang bernama Ratu Aisyah menggantikan kedudukan putra mahkota sampai Sultan dewasa.

Kompleks ini pada tahun 1832 dibongkar oleh pemerintah Hindia Belanda, sekarang tinggal pondasi dan sebagian tembok-tembok serta gapura-gapura saja.

Benteng Spellwijk

Benteng Spellwijk ini  terletak tepat di depan vihara Avalokitesvara. Dahulunya Benteng Spellwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam serta alat pertahanan lainnya, namun pada saat ini digunakan hanya sebagai lapangan bola oleh para penduduk. Di sana kami diajak Pak Slamet untuk masuk dan mengamati sebuah terowongan yang katanya terhubung dengan Keraton Surosowan.

Menara Pacinan Tinggi

Dahulunya ini adalah kawasan Masjid Pacinan Tinggi, namun saat ini hanya tersisa menaranya saja.

imageTerletak kurang lebih 500 meter kearah barat dari Masjid Agung Banten dan reruntuhan Istana Surosoan atau 400 meter kearah selatan dari Benteng Spelwijk. Melihat kondisinya sangat miris melihatnya dengan pagar pembatas yang sudah hilang disana-sini area reruntuhan masjid ini sepertinya tidak ada sedikit kepedulian dari dinas terkait ataupun warga sekitar situs untuk menjaga keberadaan reruntuhan masjid tua ini. Padahal menurut informasi yang minim, reruntuhan masjid Pecinan Tinggi adalah merupakan salah satu masjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sultan pertama yang memerintah kesultanan Banten sebelum beliau membagun masid Agung Banten. Keberadaannya yang terletak di antara padatnya rumah penduduk dan seringnya area situs di jadikan tempat bermain menjadikan area situs masjid menjadi terkesan lebih kumuh dan kurang terawat padahal di depan pintu pagar memasuki ruruntuhan masjid ini tertera undang-undang yang melindungi situs ini.Tidak banyak sisa dari masjid tua ini kecuali seonggok bagunan bekas mihrab dari masjid dan sisa menara masjid yang atapnya sudah tidak tersisa lagi sehingga sulit membayangkan bagimana bentuk asli dari menara masjid Pecinan Tinggi. Selain sisa dua rerutuhan bagunan tersebut, di sisi kanan menara masid terdapat satu makan cina yang dengan nisan bertuliskan huruf cina, kurang lebih isi tulisan pada nisan itu bertuliskan nama pasangan suami istri (Tio Mo Sheng + Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao dengan tahun pembuatan 1843. Kemungkinan pasangan ini adalah pengurus dari masjid Pecinan Tinggi. Selain makan cina yang terletak di dalam kompleks situs Pecinan Tinggi terdapat juga makam-makan cina lainnya yang bisa kita temui di sekitaran jalan menuju komplek situs ini jika kita berjalan dari arah benteng spelwijk, hal ini menunjukan kemungkinan di sekitaran komplek masid tua ini dahulunya adalah perkampungan masyarakat cina.Dengan sedikit uraian mengenai situs Masjid Pecinan Tinggi, menjadi sebuah gambaran sedikit sekali pemahaman kita mengenai bagimana kita seharunya menjaga warisan sejarah yang tidak hanya selalu harus di exploitasi dengan hanya melihat keuntungan saja, tetapi bagimana kita seharunya menjaga kelestarian situs-situs peninggalan para pendahulu sehingga hal itu menjadi bagian dari identitas sejarah budaya anak cucu kita kelak dikemudian hari.

 Setelah melewati menara pacinan kami berniat untuk meneruskan perjalanan menuju Cilegon melewati daerah persawahan yang begitu indah dan kebetulan memang saat sunset pemandangannya jadi sangat bagus tak lupa untuk foto2 dan mengambil momen deh..setelah itu kami melewati tempat wisata danau tasikardi karena hari sudah sore ya saya hanya lewat saja tapi tempatnya bagus memang..Hmmm

Kata Tasikardi merupakan gabungan dua suku kata dari bahasa Sunda, yaitu tasik danardi yang artinya danau buatan. Menurut sejarahnya, danau tersebut dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf (1570-1580 M), sultan kedua Kesultanan Banten. Konon, danau yang luasnya mencapai 5 hektar dan bagian dasarnya dilapisi dengan ubin batu bata ini, dahulunya, merupakan tempat peristirahatan sultan-sultan Banten bersama keluarganya.

Pada masa itu, danau yang juga dikenal dengan Situ Kardi ini memiliki fungsi ganda. Selain sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter. Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan pengindelan abang(penyaringan merah), pengindelan putih (penyaringan putih), dan pengindelan emas(penyaringan emas).

B. Keistimewaan

Mengunjungi Danau Tasikardi yang konon tidak pernah kering dan tidak pernah meluap ini terbilang istimewa. Karena dengan mengunjungi danau tersebut, berarti wisatawan telah mengunjungi situs sejarah dan sekaligus obyek wisata yang memesona. Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.

Sedangkan sebagai obyek wisata, danau ini merupakan salah satu tempat rekreasi yang cukup ramai dikunjungi pelancong, terutama pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Air danaunya yang tenang dan bergerak mengikuti hembusan angin, serta jejeran pepohonan rindang yang mengelilinginya, tepat sekali dipilih sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga, atau sekadar untuk mencari inspirasi. Nuansa agraris yang tercermin dari hamparan luas areal persawahan yang mengitari danau, apalagi ketika memasuki musim tanam atau musim panen, kian melengkapi daya tarik kawasan ini. Pelancong dapat menikmati keindahan Danau Tasikardi dari bawah rindangnya pepohonan, shelter-shelter, atau sambil lesehan di atas tikar yang disewakan.

Selain itu, danau ini adalah rumah bagi banyak ikan, sehingga wisatawan yang suka memancing dapat menyalurkan hobinya di sini. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin “menyatu” dengan kawasan danau, dapat berkemah di camping ground yang luas dan aman yang terdapat di kawasan ini.

Bila anda bosan berada di tepi danau, anda dapat mendatangi sebuah pulau yang dahulunya merupakan tempat rekreasi keluarga kesultanan. Untuk mencapai pulau seluas 44 x 44 meter persegi yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir danau ini, wisatawan dapat menyewa perahu. Di pulau tersebut, masih dapat dilihat sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kesultanan. Juga terdapat jungkit-jungkitan, semacam tempat permainan untuk anak-anak yang terbuat dari besi panjang, yang terletak di samping pendopo.

Jelang matahari terbenam, eksotisme danau yang menjadi saksi bisu tentang kegemilangan Banten pada masa lalu ini kian memikat hati turis. Burung-burung kecil yang terbang rendah di tepi danau dan sesekali menyambar air danau, kian mengukuhkan betapa spesialnya obyek wisata tirta (air) ini. Nuansa tersebut dapat dicerap oleh turis dari tepi danau maupun dari atas perahu yang melaju perlahan-lahan di atas danau.

C. Lokasi

Danau Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.

D. Akses

Dari Kota Serang, ibukota Provinsi Banten, pengunjung dapat mengakses Danau Tasikardi dengan naik angkutan kota jurusan Kramatwatu. Danau bersejarah tersebut berada sekitar 6 kilometer di sebelah barat Kota Serang, atau berjarak sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara Keraton Surosowon.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang bertamasya ke Danau Tasikardi dipungut biaya sebesar Rp 2.500 per orang (Juli 2007).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kawasan Danau Tasikardi terdapat kantin dan toko yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan perlengkapan untuk memancing.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti camping ground, tempat parkir, serta jasa persewaan perahu dan tikar, juga tersedia di sini.