Berikut Next posting ini Sueto Tim kembali lagi ke kawah ijen. Memang kebetulan mengisi masa waktu liburan yang senggang rekan-rekan Sueto yang belum pernah ke kawah ijen mengajak untuk mengantarkan dan menjelajah lagi kawah ijen..Mungkin aq pikir ini saatnya menjelajah daerah yang belum terjelajah waktu perjalanan ke kawah ijen terdahulu…

Akhirnya pun berangkat jam 10 WIB dari Surabaya kali ini perjalanan naik mobil berisi 5 orang anggota tim…Saat perjalanan memang terasa lambat tapi hampir sangat santai kami berhenti di kota seperti Probolinggo,Paiton, Situbondo..agaknya perjalanan tidak seperti dulu yang terasa sangat cepat karena naik sepeda motor dan juga mengejar sunrise…Tapi kali ini kami mencoba rute yang berbeda ke kawah ijen lewat Banyuwangi itung-itung jelajah jalanlah..

Sebenarnya ada 2 cara ke kawah ijen lewat Bondowoso bisa lewat Banyuwangi kota bisa tapi  kami pilih Banyuwangi yang belum pernah kami lewati dari kota Banyuwangi setelah subuh terus menuju arah barat sekitar 38km melewati melalui Licin, Jambu, Paltuding (1,600 mdpl). nah dari Paltuding ini jaraknya memang sudah sangat dekat 13km an menuju pusat pendakian kawah ijen tapi jalannya memang sangat curam untuk mobil sekelas Avanza tapi karena dasar tekad extreme yang diusung Sueto tim yah kamipun sampai di post pendakian dengan sedikit bantuan pola jalan dari orang sekitar karena kami memang awam lewat jalan ini jalannya memang kecil, licin(apalagi hujan), berkerikil, juga tanjakan dan turunan berkelok-kelok jadi bagi yang lewat Banyuwangi pakai mobil yang kurang sesuai untuk medan offroad diharapkan hati-hati…Oh iya sebaiknya juga mengisi bensin dulu di pom terakhir di daerah licin karena kalau nantinya mau balik lewat Banyuwangi(13km) lagi atau Bondowoso yang jaraknya lebih jauh sekitar 80km tidak kehabisan bensin..tersedia sih bensin eceran tapi hanya di desa-desa tertentu dan tidak bisa diprediksi stoknya…

Perjalanan dari Banyuwangi memang berbeda kami langsung berhenti di post terakhir pendakian berbeda kalau lewat Bondowoso harus melewati 3 post dulu baru kependakian…Setelah sampai ke tempat rest dan parkiran kendaraan kami prepare dulu dan mendaftarkan diri sebelum  mendaki..Sebelumnya memang saya dikira guide yang mengantar turis karena memang ada salah satu anggota tim yang memang jauh-jauh dari Belanda sih…Disini htm turis lokal Rp4000,- kalau turis interlokal sekitar Rp 75.000,- Check up dan kami siap mendaki..berikut foto-foto saat mendaki..

 

Nah ini sedikit cerita sambil mendaki tanjakan demi tanjakan. Kawah Ijen, terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Wisata ini pernah dipublikasikan dan terkenal Sampai Negara Perancis melalui Tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah

Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.
Selama perjalanan kami ditemani seorang penambang bapak ini telah mengantarkan dan menolong kami waktu ada di tanjakan curam Banyuwangi…Selama perjalanan pun kami cerita-cerita jug selama itu pula kami banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam. Perjalanan yang kami lalui kali ini tergolong cepat hanya 1 1/2 jam saja mungkin karena kondisi kami yang prima saat ini berbeda kala naik motor waktu itu  bisa 2jam pendakian. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas.
Setelah sampai di atas apa yang ada dipikiran saya adalah turun dasar kawah karena rute ini belum kami lewati waktu itu jadi saatnya mencoba. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tsb., kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan dan saya rasa ini sangat extreme sering kali kami pun tiarap berlindung dibalik batu juga perlu diperhatikan jika asap putih anda masih bisa bergerah sambil menutup hidung tapi kalau sudah asap kuning aduh minta ampun untuk bernafas saja susah apalagi bergerak mata juga sangat perih dan tenggorokan serasa dicekik dan batuk-batuk adakalanya saat seperti ini anda berlindung desikitar batu dan menghirup bau batu sambil menutup mulut dan hidung dengan kain basah untuk mengantisipasi asap kuning yang mencekam.
Didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur dari pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang.
Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedlm keranjang. Bernapas dlm lingkungan spt. ini dibutuhkan perjuangan tersendiri, para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara.
Selain langsung menuju muka danau, berkeliling kaldera dapat dilakukan dengan memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian.
Bagi yang mau menginap untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat di Bondowoso, kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai. Jika anda menyukai suasana perkebunan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata-rata di sekitar kawah Ijen adalah 13 oC di siang hari dan 2 oC di malam hari.
Setelah selesai berfoto mendokumentasikan moment kami pun langsung turun bukit..perjalanan turunpun kali ini juga terasa cep-at mungkit cuman 45menit kami nyampai dibawah  seperti biasa istirahat dan makan di warung yang ada kemudian lansung pulang ke Surabaya lewat arah Ijen-Bondowoso..Next cerita perjalanan lagi semoga berguna..
Sebelumnya bisa mampir ke perjalanan pertama ke Kawah Ijen di https://suetoclub.wordpress.com/2010/08/01/wonderfull-kawah-ijen-with-sueto/
Iklan