Dalam bahasa Makassar disebut Balla yang artinya rumah sedangkan Lompoa artinya besar, jadi Balla Lompoa adalah rumah yang dijadikan tempat tinggal para bangsawan.

Keagungan Istana Balla Lompoa tidak hanya menjadi ikon kebanggaan warga Makassar, namun juga menjadi kebanggaan warga dunia. Dalam waktu yang tak lama lagi targetnya 2012, istana Balla Lompoa akan dinyatakan sebagai rumah kayu terbesar di dunia dan seolah membisikkan kabar kepada semua bangsa-bangsa bahwa Makassar adalah negeri yang pernah merajai lautan di negeri-negeri yang dihembus angin timur.

Pada masa silam, Kerajaan Gowa pernah menjadi salah satu kerajaan besar dengan bandar yang sangat ramai. Berbagai bangsa-bangsa singgah berniaga dan menjalin persahabatan dengan Gowa. Mereka merasa aman sebab penguasa Gowa dicatat sejarah sebagai penguasa yang budiman dan bersikap adil kepada siapapun yang datang berdagang. Tak hanya itu, bala tentara Kerajaan Gowa juga dikenal perkasa di lautan. Pantas saja jika sejarawan Anthony Reid dalam karyanya The Rise of Makassar, menyebut Gowa sebagai salah satu kota paling modern di dunia pada abad ke-17.

Kini, jejak-jejak kejayaan Gowa bisa dilihat di Balla Lompoa. Melalui warisan didalam museum Balla Lompoa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng  Matutu, pada tahun 1936. Arsitektur bangunan museum ini berbentuk rumah khas orang Bugis, yaitu rumah panggung, dengan sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter untuk masuk ke ruang teras. Kayu besi atau kayu sappu’ mendominasi material bangunannya, dari tiang penyangga, dinding, lantai, tangga, hingga atap. Kepala kerbau yang tergantung diujung atapnya adalah pertanda derajat kebangsawanan pemilik rumah.

Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang utama seluas  60 x 40 meter dan ruang teras (ruang penerima tamu) seluas 40 x 4,5 meter. Di  dalam ruang utama terdapat tiga bilik, yaitu: bilik sebagai kamar pribadi raja,  bilik tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, dan bilik kerajaan. Ketiga  bilik tersebut masing-masing berukuran 6 x 5 meter. Bangunan museum ini juga  dilengkapi dengan banyak jendela (yang merupakan ciri khas rumah Bugis) yang  masing-masing berukuran 0,5 x 0,5 meter.

Museum ini berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa. Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di bagian depan ruang utama  bangunan, sebuah peta Indonesia  terpajang di sisi kanan dinding. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga  Kerajaan Gowa  mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng  Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang di letakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini.

Pada 1978 hingga 1980, Balla Lompoa direnovasi untuk pertama kali. Pasak tiang dari kayu diganti dengan baut besi. Bagian bawah rumah juga dilapisi lantai beton agar kayu tidak bersentuhan langsung dengan tanah sehingga tidak mudah lapuk.

Pada 2009, Balla Lompoa kembali direnovasi. Hingga kini, renovasi telah selesai untuk bagian luar. Balla Lompoa diangkat sekira 2 meter ke atas; dasarnya dibeton dengan material batu gunung. Bagian depannya juga sudah dihiasi dengan bangunan tangga bergaya eropa, menyerupai bangunan tangga di Pantai Losari. Huruf-huruf dari bahan fiber berdiri membentuk kata Balla Lompoa. Hingga saat ini, pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan dana sebesar 25 juta rupiah per  tahun untuk biaya pemeliharaan secara keseluruhan.

Rencananya pada 2012, renovasi akan berlanjut ke bagian dalam Balla Lompoa. Kayu-kayu yang lapuk dan atap-atap yang sudah terkelupas akan diganti. Koleksi-koleksi sejarah yang selama ini tidak terdata juga akan diperbaiki pengelolaannya.

Direncanakan juga , kawasan ini bakal menjadi obyek wisata sejarah terindah dan bakal diintegrasikan dengan makam Sultan Hasanuddin dan Syekh Yusuf. Nah, bangunannya akan semakin besar sebab nantinya seluas 3.202 meter persegi. Luas Balla Lompoa 963 meter persegi ditambah Istana Tamalate 1.615 meter persegi dengan tambahan 390 meter persegi dan bangunan pendukung 308 meter persegi. Untuk memberikan makna lebih sakral terhadap Balla Lompoa sebagai bangunan bersejarah, bangunan akan diangkat dengan hidrolik sekitar tiga meter dari permukaan jalan raya.

Tak hanya memperluas kawasan istana, nantinya di depan Balla Lompoa akan berdiri relief atau patung 36 Raja Gowa yang pernah memimpin. Patung para raja itu seakan memberikan tantangan bagi generasi kekinian untuk tetap memelihara spirit masa silam demi membangun masa kini yang perkasa.

B. Keistimewaan

Museum Balla Lompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya. Di museum ini terdapat sekitar 140 koleksi benda-benda kerajaan yang bernilai tinggi, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Di antara koleksi tersebut,  rata-rata memiliki bobot 700 gram, bahkan ada yang sampai atau lebih dari 1  kilogram. Di ruang pribadi raja, terdapat sebuah mahkota raja yang berbentuk  kerucut bunga teratai (lima  helai kelopak daun) memiliki bobot 1.768 gram yang bertabur 250 permata  berlian. Di museum ini juga terdapat sebuah tatarapang, yaitu keris emas  seberat 986,5 gram, dengan pajang 51 cm dan lebar 13 cm, yang merupakan hadiah  dari Kerajaan Demak. Selain perhiasan-perhiasan berharga tersebut, masih ada koleksi benda-benda bersejarah lainnya, seperti: 10 buah tombak, 7 buah naskah  lontara, dan 2 buah kitab Al Quran yang ditulis tangan pada tahun 1848.

D. Akses

Museum Balla Lompoa berada di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Museum ini terletak di Kota Sungguminasa yang berbatasan langsung dengan  Kota Makassar. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi  dan angkutan umum, baik roda empat maupun roda dua. Kalau kita naik dengan angkutan kota, naik dari Lapangan Karebosi jurusan Sungguminasa turun di depan Balla Lompoa. Bisa juga dengan bus patas AC Damri dari Pasar Panampu.

E. Akomodasi dan Fasilitas

Di dalam komplek, tersedia pelayanan jasa guide yang akan  memberikan informasi kepada pengunjung tentang museum itu sendiri dan segala sesuatu  yang berkaitan dengan koleksi benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya.

Jam Buka
Senin-Kamis 08.00-16.00
Jumat 08.00-11.00, Hari besar atau tanggal merah libur termasuk hari Minggu.

Berikut festival adat di Balla Lompoa

Iklan