GARIS BESAR

Ekowisata merupakan bentuk wisata mengunjungi daerah yang alami, murni, dan biasanya dilindungi, dimaksudkan mengurangi dampak negatif serendahnya-rendahnya bagi tempat wisata itu sendiri   dan sebuah memunculkan  alternatif positif  yang skalanya kecil  untuk pariwisata komersial standar. Tujuannya untuk mendidik wisatawan, untuk menyediakan dana untuk konservasi ekologi, untuk secara langsung manfaat pembangunan ekonomi dan politik pemberdayaan masyarakat lokal, atau untuk mendorong penghormatan terhadap budaya yang berbeda dan untuk hak asasi manusia. Sejak 1980-an ekowisata telah dianggap sebagai upaya kritis dengan lingkungan, sehingga generasi mendatang mungkin mengalami tujuan yang relatif tidak tersentuh oleh campur tangan manusia. Beberapa program universitas menggunakan deskripsi ini sebagai definisi kerja ekowisata.

Umumnya, ekowisata berfokus pada relawan, atau “voluntourism“, yang meliputi pertumbuhan pribadi dan kelestarian lingkungan. Ekowisata biasanya melibatkan perjalanan ke tujuan mana flora, fauna, dan warisan budaya adalah atraksi utama. Salah satu tujuan ekowisata adalah untuk menawarkan wawasan wisatawan ke dampak manusiaterhadap lingkungan, dan untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih besar dari habitat alam kita.

Ekowisata bertanggung jawab termasuk program yang meminimalkan aspek-aspek negatif dari pariwisata konvensional pada lingkungan dan meningkatkan integritas budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, selain mengevaluasi faktor lingkungan dan budaya, merupakan bagian integral dari ekowisata adalah promosi daur ulang, efisiensi energi, konservasi air, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Untuk alasan ini, ekowisata sering menarik bagi lingkungan dan mendukung tanggung jawab sosial .

DEFINISI EKOWISATA

Apa yang disebut dengan ekowisata atau sering juga ditulis atau disebut dengan ekoturisme, wisata ekologi, ecotoursism, eco-tourism, eco tourism, eco tour, eco-tour dsb?

Rumusan ‘ecotourism’ sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:

Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”

“Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini.”

Rumusan di atas hanyalah penggambaran tentan kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:

“Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people.”

“Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.

Definisi ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus. Definisi di atas telah telah diterima luas oleh para pelaku ekowisata.

Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh:

  1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat eksploatatif terhadap sumber daya alam.
  2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat.
  3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat.
  4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi (‘economical benefit’) dari lingkungan yang lestari.
  5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidpu penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual.

Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata.

TUJUAN EKOWISATA INDONESIA

Tujuan Ekowisata Indonesia adalah untuk (1) Mewujudkan penyelenggaraan wisata yang bertanggung jawab, yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan alam, peninggalan sejarah dan budaya; (2) Meningkatkan partisipasi masyararakat dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat; (3) Menjadi model bagi pengembangan pariwisata lainnya, melalui penerapan kaidah-kaidah ekowisata.

KARAKTERISTIK  EKOWISATA 

Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Sementara ditinjau dari segi pengelolaanya, ekowisata dapat didifinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan secara ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat setempat.

PRINSIP EKOWISATA

1. Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya, melaksanakan kaidah-kaidah usaha yang bertanggung jawab dan ekonomi berkelanjutan.

2. Pengembangan harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis dan atas dasar musyawarah dan pemufakatan masyarakat setempat.

3. Memberikan manfaat kepada masyarakat setempat.

4. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat.

5. Memperhatikan perjanjian, peraturan, perundang-undangan baik ditingkat nasional maupun internasional.

CRITERIA

Ekowisata merupakan bentuk pariwisata yang melibatkan kunjungan ke kawasan alami – di padang gurun terpencil atau lingkungan perkotaan. Menurut definisi danprinsip-prinsip ekowisata yang ditetapkan oleh Masyarakat Internasional Ekowisata(ikatan) pada tahun 1990, ekowisata adalah “wisata Bertanggung jawab untukdaerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan dan meningkatkankesejahteraan masyarakat setempat.” (Ties, 1990). Martha Madu, memperluasdefinisi hubungan dengan menggambarkan tujuh karakteristik ekowisata, yaitu:

  • Involves travel to natural destinations
  • Minimizes impact
  • Builds environmental awareness
  • Provides direct financial benefits for conservation
  • Provides financial benefits and empowerment for local people
  • Respects local culture
  • Supports human rights and democratic movements

such as:

  • conservation of biological diversity and cultural diversity through ecosystem protection
  • promotion of sustainable use of biodiversity, by providing jobs to local populations
  • sharing of socio-economic benefits with local communities and indigenous peoples by having their informed consent and participation in the management of ecotourism enterprises
  • tourism to unspoiled natural resources, with minimal impact on the environment being a primary concern.
  • minimization of tourism’s own environmental impact
  • affordability and lack of waste in the form of luxury
  • local culture, flora and fauna being the main attractions
  • local people benefit from this form of tourism economically, often more than mass tourism

Ekowisata sering disalahartikan sebagai segala bentuk pariwisata yang melibatkan wisata alam/Jungle. Pada kenyataannya, banyak kegiatan ekowisata sering terdiri dari menempatkan sebuah hotel di sebuah lanskap indah, sehingga merugikan ekosistem. Menurut mereka, ekowisata harus peka atas semua orang untuk keindahan dan kerapuhan alam. Mereka mengutuk beberapa operator sebagai greenwashing operasi mereka: menggunakan label “hijau” dan “ramah lingkungan”,sementara berperilaku dengan cara yang bertanggung jawab terhadap linkungan.

EKOWISATA INDONESIA SESUAI KONSEP DAN PENGERTIANNYA

Indonesia sebagai negara megabiodiversity nomor dua di dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam, flora dan fauna yang sangat tinggi. Para explorer dari dunia barat maupun timur jauh telah mengunjungi Indonesia pada abad ke lima belas vang lalu.

Perjalanan eksplorasi yang ingin mengetahui keadaan di bagian benua lain telah dilakukan oleh Marcopollo, Washington, Wallacea, Weber, Junghuhn dan Van Steines dan masih banyak yang lain merupakan awal perjalanan antar pulau dan antar benua yang penuh dengan tantangan. Para adventnrer ini melakukan perjalanan ke alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata. Sebagian perjalanan ini tidak memberikan keuntungan konservasi daerah alami, kebudayaan asli dan atau spesies langka (Lascurain, 1993).

Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.

Belantara tropika basah di seluruh kepulauan Indonesia merupakan suatu destinasi. Destinasi untuk wisata ekologis dapat dimungkinkan mendapatkan manfaat sebesarbesarnya aspek ekologis, sosial budaya dan ekonomi bagi masyarakat, pengelola dan pemerintah.

INTI PENGEMBANGAN EKOWISATA INDONESIA

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam dan peninggalan sejarah, seni dan budaya yang sangat besar sebagai daya tarik pariwisata dunia. Ahli biokonservasi memprediksi bahwa Indonesia yang tergolong negaraMegadiversity dalam hal keaneka ragaman hayati akan mampu menggeser Brasil sebagai negara tertinggi akan keaneka jenis, jika para ahli biokonservasi terus giat melakukan pengkajian ilmiah terhadap kawasan yang belum tersentuh.

Bayangkan saja bahwa Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui, 16% reptilia and amfibia, 17% burung, 25% ikan, dan 15% serangga, walaupun luas daratan Indonesia hanya 1,32% seluruh luas daratan yang ada di dunia (BAPPENAS, 1993).

Di dunia hewan, Indonesia juga memiliki kedudukan yang istimewa di dunia. Dari 500-600 jenis mamalia besar (36% endemik), 35 jenis primata (25% endemik), 78 jenis paruh bengkok (40% endemik) dan 121 jenis kupu-kupu (44% endemik) (McNeely et.al. 1990, Supriatna 1996). Sekitar 59% dari luas daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis atau sekitar 10% dari luas hutan yang ada di dunia (Stone, 1994). Sekitar 100 juta hektar diantaranya diklasifikasikan sebagai hutan lindung, yang 18,7 juta hektarnya telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Namun Demikian sampai saat ini kita harus menanggung beban berat sebagai negara terkaya keaneka ragaman hayati di kawasan yang sangat sensitif, karena biota Indonesia tersebar di lebih dari 17,000 pulau. Oleh karena itu bukan saja jumlah populasi setiap individu tidak besar tetapi juga distribusinya sangat terbatas. Ini harus disadari oleh pemerintah, sehingga Indonesia harus merumuskan suatu kebijakan dan membuat pendekatan yang berbeda di dalam pengembangan sistem pemanfaatan keaneka ragaman hayatinya, terutama kebijakan dalam pengembangan pariwisata yang secara langsung memanfaatkan sumber daya alam sebagai aset. Pengembangan sumber daya alam yang non-ekstraktif, non-konsumtif dan berkelanjutan perlu diprioritaskan dan dalam bidang Pariwisata pengembangan seperti ekowisata harus menjadi pilihan utama.

VISI EKOWISATA INDONESIA

Melihat potensi yang dimiliki Indonesia, maka Visi Ekowisata Indonesia adalah untuk menciptakan pengembangan pariwisata melalui penyelenggaraan yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), melibatkan dan menguntungkan masyarakat setempat, serta menguntungkan secara komersial. Dengan visi ini Ekowisata memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal.

Penetapan Visi Ekowisata di atas di dasarkan pada beberapa unsur utama:

  1. Ekowisata sangat tergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya.
    Kekayaan keaneka-ragaman hayati merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata, sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk ekowisata. Pengembangan ekowisata juga memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keaneka-ragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional dan lokal.
  2. Pelibatan Masyarakat.
    Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta kawasan daya tarik wisata, dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga pada tingkat pengelolaan.
  3. Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.
    Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat setempat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.
  4. Pertumbuhan pasar ekowisata di tingkat internasional dan nasional.
    Kenyataan memperlihatkan kecendrungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata baik ditingkat internasional maupun nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berprilaku positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya setempat.
  5. Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
    Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif dan non-konsumtif sehingga meningkatkan perekonomian daerah setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata, mewujudkan ekonomi berkelanjutan.

ISU-ISU UMUM EKOWISATA 

  • Kepemilikan
  • Kemitraan
  • Skala/Konsesi
  • Gender
  • Partisipasi
  • Transparansi
  • Proses Perencanaan dan Pengambilan Keputusan

TEMPAT-TEMPAT YANG BISA DIJADIKAN REFERENSI EKOWISATA DI INDONESIA

Oh iya jangan lupa Vote Komodo ! Jangan lupa Sms. Ketik KOMODO Kirim ke 9818 ! Gratis kok !

Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler.

Komodo adalah salah satu atraksi utama pariwisata di Indonesia. Taman terdiri dari603 km persegi. tanah dan 1.214 km persegi. perairan laut. Itu dinyatakan Manusia dan Biosfer Reserve dan sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1986.Keanekaragaman hayati yang unik dan keindahan pemandangan dikombinasikan dengan lokasi terpencil dan pedesaan membuat salah satu tempat favorit para wisatawan. Dengan 900-1,000 spesies ikan, itu adalah salah satu habitat ikanterkaya di dunia. Lumba-lumba, penyu sisik dan penyu hijau sering mengunjungikarang-bangunan dan pipa organ merah muda pantai karang. Jangkar kapalmenyelam ‘yang dirancang agar tidak membahayakan terumbu karang yang rapuh.Taman ini juga mengambil langkah-langkah aktif untuk mengurangi praktekpenangkapan ikan yang merusak di daerah tersebut.

Fasilitas wisata dari taman menyediakan akomodasi bagi para turis. Eko-wisataatraksi taman ini termasuk :

  • Komodo Dragons (giant monitor lizards)
  • Spectacular Diving and Snorkeling
  • Catch and Release Fishing
  • Hiking
  • Whale Watching.

Ada berbagai wisata yang diselenggarakan oleh pemerintah dan operator tur yang eko-pariwisata sebagai tujuan utama. Ini sebuah hasil  kerja lapangan yang terdiri oleh para wisatawan.

Contoh sebuah perjalanan ke Sulawesi untuk melihat  semua spesies burung yang ada, dengan banyak spesies burung di hutan tropis. Di hutan hujan SumateraAnda dapat melakukan kerja lapangan dengan para peneliti selama 13 hari mengamati dan bekerja sama untuk melihat habitat orangutan dan bagaimana perawatannya. berwisata arung jeram di sepanjang Sungai Ayung atau kunjungan ke taman kebun binatang di Bali adalah kegiatan favorit di  para pelancong juga saat bersamaan seperti itu  juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata.

Contoh tempat yang bisa dikunjungi sebagai tujuan Ekowisata Taman Nasional Bali Barat, Bali Butterfly Park, Pegunungan Batukaru, Batur VolcanoAktif, Taman Nasional Tangkoko diantaranya untuk meningkatkan usaha ekowisata utama di Indonesia. Kunjungan ke beberapa tempat ekowisata tersebut akan menunjukkan anda bagaimana rasanya berada di tempat terliar dan termegah di muka Bumi.

DAMPAK NEGATIF EKOWISATA

Ekowisata telah menjadi salah satu yang tercepat-berkembang sektor industri pariwisata, tumbuh setiap tahun oleh 10-15% di seluruh dunia (Miller, 2007). Salah satu definisi ekowisata adalah “praktek berdampak rendah, pendidikan, perjalanan yang sensitif secara ekologis dan budaya yang menguntungkan masyarakat setempat dan negara tuan rumah” (Sayang, 1999). Banyak proyek ekowisata tidak memenuhi standar ini. Bahkan jika beberapa pedoman sedang dieksekusi, masyarakat setempat masih menghadapi dampak negatif lain. Afrika Selatan adalah salah satu negara yang menuai manfaat ekonomi yang signifikan dari ekowisata, tetapi efek negatif – termasuk memaksa orang untuk meninggalkan rumah mereka,pelanggaran berat hak-hak dasar, dan bahaya lingkungan – jauh lebih besar daripada jangka menengah manfaat ekonomi (Miller, 2007 ). Sejumlah besar uang yang dihabiskan dan sumber daya manusia terus digunakan untuk ekowisata meskipun hasil tidak berhasil, dan lebih banyak uang yang dimasukkan ke dalam kampanye public relation untuk mencairkan efek dari kritik. Ekowisata adalah saluran sumber daya dari proyek-proyek lain yang dapat memberikan kontribusi solusi yang lebih berkelanjutan dan realistis untuk menekan masalah sosial dan lingkungan.”Para pariwisata uang dapat menghasilkan sering taman dasi dan manajemenuntuk eko-pariwisata” (Walpole et al. 2001). Tapi ada ketegangan dalam hubungan ini karena eko-turisme sering menyebabkan konflik dan perubahan dalam penggunaan lahan hak, gagal untuk memberikan janji-janji keuntungan di tingkat masyarakat, kerusakan lingkungan, dan memiliki banyak dampak sosial lainnya.Memang banyak yang berpendapat berulang kali bahwa eko-pariwisata ekologis maupun sosial tidak menguntungkan, namun tetap sebagai strategi untuk konservasi dan pembangunan (Barat, 2006). Sementara beberapa penelitian sedang dilakukan bagaimana cara untuk memperbaiki struktur ekowisata, beberapa orang berpendapat bahwa contoh-contoh memberikan alasan untuk menghentikan dampak ekowisata.

Sistem ekowisata memiliki pengaruh keuangan dan politik yang luar biasa. Bukti di atas menunjukkan bahwa kasus yang kuat ada untuk menahan kegiatan semacam itu di lokasi tertentu. Pendanaan dapat digunakan untuk studi lapangan yang bertujuan mencari solusi alternatif untuk pariwisata dan beragam masalah di Afrika menghadapi hasil dari urbanisasi, industrialisasi, dan eksploitasi atas pertanian(Kamuaro, 2007). Di tingkat lokal, ekowisata telah menjadi sumber konflik atas kontrol dari keuntungan tanah, sumber daya, dan pariwisata. Dalam hal ini,ekowisata telah merugikan lingkungan dan masyarakat setempat, dan telah menyebabkan konflik atas pembagian laba. Dalam dunia yang sempurna akan lebih banyak upaya dilakukan untuk mendidik wisatawan dari efek lingkungan dansosial dari perjalanan mereka. Sangat sedikit peraturan atau hukum berdiri ditempat sebagai batas-batas untuk para investor dalam ekowisata. Ini harus dilaksanakan untuk melarang promosi proyek ekowisata berkelanjutan dan bahan-bahan yang memproyeksikan seperti gambar palsu, tujuan yang tidak pasti, merendahkan budaya lokal dan pribumi.

Jadi pada intinya setiap apa yang direncanakan meskipun itu berniat positif pasti ada sisi negatif, dampak atau resikonya dalam hal ini kita sebagai pelaku ekowisata harus meminimalisir dampak-dampak yang merugikan tersebut dengan menyikapi segala sesuatunya dengan lebih teliti dan terencana.

Sekian moga info ini berguna bagi kalayak..

Sumber :

Dikutip dari tulisan yang dibuat oleh Chafid Fandeli yang bersumber pada BukuPengusahaan Ekowisata (2000), Chafid Fandeli., Mukhlison., Fakultas Kehutanan Univ. Gadjah Mada Yogyakarta

Ecotourism Development. A Manual for Conservation Planners and Managers, Volume 2 : The Business of Ecotourism Development and Management, The Nature Conservation, Second Edition, 2005

Guidelines for community-based ecotourism development, WWF International, July 2001.

ECOTOURISM: Principles: Practices & Policies For Sustainability, United Nation Environment Programme, Part 1

ECOTOURISM: Principles: Practices & Policies For Sustainability, United Nation Environment Programme, Part 2

Ecotourism Investment and Development Models for Donors, NGOs and Private Entrepreneurs, Susan Heher, Cornell University, 2003

Ecotourism Development. A Manual for Conservation Planners and Managers, Volume 1 : An Introduction to Ecotourism Planning, The Nature Conservation, Second Edition, 2005

A Business Planning Guide for Ecotourism Operators in the Pacific Islands, Sherry M. Bushnell, The Pacific Business Center Program University of Hawaii

Pacific Islands Ecotourism: A Public Policy and Planning Guide. The Ecotourism Planning Kit: by Dr. Juanita C. Liu, School of Travel Industry Management, 2560 Campus Road, University of Hawai‘i at M_noa, Honolulu, Hawai‘i 96822

Managing Tourism at World Heritage Sites. A Practical Manual for World Heritage Site Managers, By Arthur Pedersen, UNESCO World Heritage Centre, 2002

Responsilbe Tourism Handbook – A guide to good practice for tourism operators.

Making Tourism More Sustainable – A Guide for Policy Makers, United Nation Environment Programme

Making Tourism More Sustainable – A Guide for Policy Makers, United Nation Environment Programme

Sustainable Tourism in Protected Areas. Guidelines for Planning and Management, IUCN – The World Conservation Union, 2002, World Commission on Protected Areas (WCPA)

Linking Communities, Tourism & Conservation. A Tourism Assessment Process. By Eileen Gutierrez, Kristin Lamoureux, Seleni Matius and Kaddu Sebunya, Conservation International and The George Washington University, 2005