Istilah netizen adalah portmanteau dari internet kata dalam bahasa Inggris dan warga negara. Hal ini didefinisikan sebagai suatu entitas atau orang secara aktif terlibat dalamkomunitas online dan pengguna internet, terutama satu avid. Istilah ini juga dapat menyiratkan minat dalam meningkatkan internet, khususnya yang terkait dengan membuka akses dan kebebasan berbicara. Netizens juga sering disebut sebagai cybercitizens, yang memiliki arti yang sama. Istilah ini diciptakan oleh Michael Hauben.

Kendati sudah delapan tahun menempel ketat dalam dunia online sejak pakar komputer Michael Hauben memperkenalkannya dalam sebuah artikel pada 1992, netizen masih terdengar asing pada sebagian telinga pengakrab dunia maya.

Dalam artikelnya berjudul “The Net and Netizens: The Impact the Net Has on People’s Lives”, Hauben yang saat itu masih berumur 17 tahun mengartikan netizensebagai “Orang-orang online yang aktif dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan Net. Orang-orang ini memahami nilai pekerjaan kolektif dan komunal aspek komunikasi publik.”

Ringkasnya netizen adalah pengguna Internet yang aktif terlibat dalam komunitas online seperti email, online chat, blog, jejaring sosial, mesin pencari dan games online atau Mereka yang menghabiskan waktu 24-jam-nya, dengan terus berjuang tetap Connect! di dunia online lewat teknologi Internet dan mobile Internet.

Teknologi informasi yang terus berkembang –diantaranya yang paling mutakhir adalah keluarnya produk komputer tablet dan ponsel pintar– kian mempermudah hidup manusia sehingga berselancar di dunia maya pun bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Kelompok yang paling hirau dengan perkembangan teknologi informasi ini adalah netizen itu. Kini mereka semakin aktif, terlebih setelah munculnya gadget-gadget terbaru berkualitas jaringan tinggi (3G dan 4G) seperti BlackBerry.

Gaya hidup sosial masyarakat para Netizen semakin mengalami transformasi yang menjadi-jadi, akibat berbagai macam tren sosial yang terus berdatangan lewat situs-situs jejaring sosial. Terlebih lagi setelah Mark Zuckerberg dan rekannya membuat situs jejaring sosial terpopuler di dunia, Facebook. Hampir setiap orang di Indonesia mempunyai akun Facebook. Dan itu secara tak langsung mengubah mereka menjadi netizen. Contoh lain bisa dari twitter, blog, web, Linkedin, Google+ dll…

Bagi pemasar, kekuatan para Netizen tentunya dapat dijadikan sebagai peluang maupun tantangan tersendiri. Di saat mereka menjadi influencer di komunitas mereka masing-masing, apa yang mereka post di blog, share di Facebook, broadcast lewat BBM atau tweet di Twitter, dapat mempengaruhi dan membentuk opini jutaan orang. Di lain pihak, Netizen bisa menjadi “teroris” bagi pemasar dan suara mereka tidak mudah untuk “dikendalikan.”

Dinamisnya teknologi Internet dan sebegitu royalnya orang Indonesia dalam mengkonsumsi barang sosial media saat ini, menjadi dasar kami di MarkPlus Insight bersama Majalah Marketeers untuk mengkaji dan meneliti perilaku para pengguna Internet di Indonesia.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan berbagai data dan informasi terkait aspirasi, kecemasan, dan hasrat penduduk dunia online ini. Melalui riset ini kami ingin mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang kebiasaan dan perilaku mereka dalam berinteraksi dan menggunakan internet.
Metodologi Riset “Netizen Indonesia”

Kajian yang dilakukan oleh MarkPlus Insight mengenai pengguna Internet di Indonesia ini dilakukan dengan menggunakan metode yang komprehensif mulai dari riset sekunder dan riset primer.

Riset primer menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan kualitatif melalui focus group discussion (FGD) sebanyak 4 grup, yang terdiri dari anak sekolah (SMA), anak kuliah dan baru kerja, pegiat dan influencer social media, serta pengguna e-commerce.

Kedua, melalui pendekatan riset kuantitatif, dalam hal ini, survei terhadap 1,500 responden (margin of error 2,58 % dengan confidence interval 95 %) yang tersebar di 8 kota besar Indonesia yaitu Medan, Palembang, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.

Untuk survei kuantitatif, responden harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan yaitu mereka saat ini adalah pengguna Internet dan mobile internet, berumur 15 – 64 tahun, dengan pengeluaran keluarga minimal Rp. 1,750,000. Teknik sampling yang digunakan dalan survei ini menggunakan metode multi stage random sampling, sedangkan pemilihan responden dalam satu rumah dilakukan dengan menggunakan metode kish grid. Proses wawancara terhadap responden dilakukan pada bulan September 2010.
Dari sekian banyak temuan riset Netizen, paling tidak ada sembilan temuan menarik yang bisa dijadikan panduan oleh pemasar dalam memahami pengguna Internet di Indonesia secara lebih mendalam. Berikut beberapa temuannya:

Satu dari Tiga anggota keluarga adalah pengguna Internet

– Delapan dari sepuluh orang melakukan akses melalui mobile Internet
– Para Netizen menghabiskan waktu selama rata-rata tiga hingga lima jam untuk akses Internet
– Pengguna Internet rata-rata memiliki lebih dari 1 gadget
– Media konvensional bukan lagi menjadi referensi utama pengguna Internet
– Enam persen pengguna Internet pernah melakukan transaksi online
– Sembilan dari sepuluh pengguna Internet memiliki akun Facebook dan 1 dari 5 pengguna Internet memiliki akun Twitter
– Dalam satu bulan rata-rata Netizen menghabiskan 50 – 150 ribu untuk akses Internet

Hasil riset ini, menunjukkan bahwa masyarakat pengguna internet atau netizen di Indoensia terus berkembang. Bahkan didunia menempati ranking kedua dengan jumlah sekitar 30 juta orang. Yang menarik adalah 6%  atau sekitar 1,8 juta  selalu melakukan transaksi secara online.

Vivanews memberitakan  bahwa menurut laporan terbaru dari Nielsen, terjadi tren pertumbuhan belanja online di kalangan pengguna internet di Indonesia. Pada hasil riset bertajuk Global Online Shopping Report, 80 persen pengguna internet di Indonesia berencana untuk melakukan belanja online dalam enam bulan ke depan.

“Bila disandingkan dengan data dari riset yang sama, 68 persen dari responden mengaku pernah melakukan belanja online di masa lalu, sehingga akan ada peningkatan jumlah persentase orang yang belanja online di Indonesia,” ujar Catherine Eddy, Executive Director Consumer Research Indonesia, Nielsen, di kantornya, gedung Mayapada Tower Jakarta, Rabu 14 Juli.

Dari riset yang dilakukan PT Nielsen Company of Indonesia terhadap 500 responden di berbagai kota di Indonesia itu memperlihatkan meningkatnya kepercayaan masyarakat dalam melakukan transaksi secara online. Kondisi ini juga menunjukkan peningkatan penghargaan masyarakat terhadap hak cipta karya orang lain.
Produk yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia adalah  buku kemudian pakaian, sepatu atau asesoris sebagai pilihan kedua. Sedangkan pilihan ketiga hingga ke enam adalah pembelian tiket pesawat atau reservasi, barang-barang elektronik, hardware komputer, serta software komputer.
Menyangkut cara pembayaran, pengguna internet di Indonesia lebih banyak menggunakan paypal, diikuti kartu debit, transfer bank, kartu kredit, dan transfer uang. Banyaknya kasus pembobolan kartu kredit di internet menyebabkan banyak konsumen yang takut menggunakannya sebagai metode pembayaran transaksi online.
Kenyataan ini memberikan signyal kepada kita semua, bahwa kedepan kecenderungan pola pembelian masyarakat akan banyak beralih kepada  pola pembelian online. Selain itu internet akan menjadi referensi utama pasar dalam memilih produk.  Maka dari itu sudah selayaknya para marketer menjadikan media internet sebagai startegy pemasaran produknya.
Selain itu bagi sebagian masyarakat yang awam dengan internet harus mulai belajar dan mendalaminya, karena begitu besar pasar internet dan begitu banyak uang di internet. Lihat saja kekakayaan pemilik google, pemilik yahoo, pemilik facebook dll.
Netizen Bagi Kaum Muda

Para pemasar juga mesti mengetahui komposisi netizen yang ternyata didominasi dua lapis utama pengguna, yaitu anak muda dan perempuan. Penelitian Marketeers menunjukkan, sebagian besar netizen adalah anak muda. Kelompok ini paling aktif mengakses situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, sementara perempuan menjadi pengguna Internet yang sangat konsumtif.

Mengenai hal ini, Hermawan Kartajaya(pakar pemasaran dan juga Presiden MarkPlus & Co) mencoba mengkonfirmasikan kepada seorang perempuan yang kebetulan berada di satu forum dengannya pekan lalu. Perempuan itu adalah Olga Lydia yang juga artis.

Kepada Olga, Hermawan menanyakan kebiasaan perempuan ketika sedang marah atau stres. “Kalau aku biasanya makan coklat dan shopping (belanja) habis-habisan di mal sampai kartu kredit mendekati limit,” jawab pembawa acara televisi ini. Jawaban Olga ini berkorelasi dengan asumsi perempuan itu konsumtif, dan tentu ini menjadi peluang para pemasar di Internet.

Hermawan bahkan yakin perempuan adalah pasar Indonesia masa datang dan perusahaan dituntut untuk mendekati mereka. Salah satu media mendekatinya ya Internet, apalagi pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia begitu pesat.  Bayangkan, setidaknya ada 12 operator penyedia layanan jaringan ponsel dan mereka ini sebagian besar adalah juga pengakses Internet, diantaranya lewat ponsel pintar.

Mengutip Marketeers, mereka menggunakan ponsel untuk mengupdate statusnya di jejaring sosial. Mereka lebih banyak menggunakan Internet untuk berjejaring sosial, ketimbang email.  Ini fenomena menarik bagi pemasar, apalagi Indonesia merupakan pengguna Facebook terbesar kedua di dunia. Tak tanggung-tanggung, 27 juta akun Facebook ada di Indonesia.

Indonesia’s Most Favorite Netizen Brand
Karakter netizen yang “liquid” dan horizontal menuntut pemasar tidak cukup hanya menggunakan strategi pemasaran yang konvensional. Dibutuhkan pula langkah New Wave untuk bisa “Connect!” dengan mereka. Kalau selama ini pemasar lebih banyak membidik mereka dari kejauhan, maka kinidi era New Wave, brand Anda harus hadir dan hidup sejajar bersama mereka. Karakter brand di era New Wave harus bisa selalu terkoneksi dengan komunitasnya dimanapun mereka berada.

Profil Netizen yang tidak monolitik memberikan peluang kepada pemasar melakukan identifikasi kira-kira tipe Netizen mana yang paling cocok dengan karakter brand atau perusahaan. Pemasar pun harus bisa

menentukan strategi pemasaran apa yang paling tepat untuk mendekati mereka agar brand atau perusahaan bisa diterima secara horisontal. Hadirnya social media, seperti Faceebook dan Twitter membuat dunia semakin berisik akibat kicauan para Netizen, karena itu para pemasar memerlukan indera keenam untuk bisa menangkap hasrat dan kegelisahan mereka. Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemasar? Gali dan pahami mereka terus.

Sebagaimana yang sudah sering dibahas oleh Marketeers, Di dunia marketing, membaca kegelisahan, hasrat dan impian konsumen kita adalah sangat penting. Kenapa? Karena anxieties dan desires dari konsumen adalah sumber pengetahuan nomor satu untuk inovasi! Kegelisahan, hasrat, dan impian tersebut susah keluar dari mulut konsumen langsung.
Anda hanya dapat membacanya dari gerak-gerik dan perilaku mereka.

Untungnya kita telah tiba di zaman New Wave. Dengan teknologi Internet Web 2.0 yang didukung oleh kekuatan social media, insight dari konsumen semakin mudah ditangkap! Dan canggihnya, di dunia online, insight tersebut keluar langsung dari kicauannya konsumen yang beredar di blog, di Twitter, di status Facebook mereka. Kesemuanya dapat dilacak oleh Anda, dan juga tentunya kompetitor Anda.

Dunia Internet adalah ibarat sumur yang penuh dengan anxieties dan desires para Netizen. Pemasar dapat menggali dan menimba insight yang kaya, lewat jalan yang low budget tapi high impact. Di dalam riset Netizen di Indonesia ini, selain menggali attitude & behavior dan profiling dari para Netizen, kami juga mencari beberapa brand yang selama ini merupakan brand pilihan para Netizen. Dengan jumlah total 45 brand di 45 kategori, para brand yang menjadi pilihan nomor satu oleh para Netizen ini adalah brand yang mengerti.

Berdasarkan hasil Survei Netizen tahun ini, MarkPlus Insight berhasil menemukan 32 brand pilihan Netizen Indonesia. Riset kuantitatif dilakukan terhadap 2161 pengguna Internet berusia 15 – 64 tahun yang berasal dari kelas sosial A, B, dan C (memiliki pengeluaran rutin keluarga sedikitnya Rp 1 juta) dan tersebar di sebelas kota di Indonesia (Jakarta, Bodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Denpasar, Banjarmasin, dan Makassar). Pengumpulan data dilakukan dengan metode face to face interview dengan metode pengambilan sampel multi-stage random sampling.

Adapun kategori brand meliputi:

Operator Seluler, Laptop, Tablet PC, Monitor Komputer, Kamera, Game Console, TV, Home Theatre, Kulkas, Penyejuk Ruangan, Mesin Cuci, Mobil, Motor,Audio Mobil, Kartu Kredit, Stasiun Televisi, Majalah, Tabloid, Koran (Wilayah Jakarta)
,Radio (Wilayah Jakarta),Portal Berita, Kopi Instan, Minuman Ringan, Multivitamin, Asuransi Jiwa/Kesehatan, Taksi (wilayah Jakarta), Handphone, Asuransi Kendaraan, Logistik, Maskapai Penerbangan

Untuk menjadi Netizen yang mandiri dan positifi, kita perlu menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi. Untuk bersaing dan menjadi bagian dari masyarakat dunia (world society) kita perlu berkomunikasi. Globalisasi tak dapat dilawan, yang ada adalah mempersiapkan diri. Masuknya ekspatriat sebagai sumberdaya manusia dan produk-produk asing ke dalam negeri adalah bagian dari globalisasi. Mau tidak mau, baik sumberdaya manusia Indonesia maupun produk Indonesia harus mampu bersaing secara global, dan meminjam istilah Friedman, secara datar (flat). Penguasaan teknologi adalah jalan utamanya.

Teknologi Informasi dan Komunikasi menjadi sangat penting dalam merajut keunggulan global dari negara-bangsa. Tak hanya  berpatokan PDB. Tapi juga kita mencoba menyelamatkan generasi yang akan datang dari konsumerisme sejati dan selalu menjadi tempat melempar produk, sebagai pasar dan dilihat bagai potongan kue Tart yang besar dan dibagi-bagi oleh negara maju. Kita akan lihat, dengan penerapan visi teknologi dan merangkul netizen, merupakan fondasi yang jelas bagi bangsa ini untuk bangkit dan maju. Di luar negeri, media sebagai pilar kelima sudah berubah menjadi media (sosial). Revolusi twitter di Moldova salah satunya. atau kemenangan Obama yang memanfaatkan Facebook dan Twitter. Juga Kasus Iran, Libya dan Timur Tengah yang juga secara independen, masyarakat membuat gerakan sosial via jejaring sosial guna memantapkan langkah menuju perubahan.

Kemandirian bangsa adalah masa depan dan tak ada masa depan bagi negeri ini. Tanpa kemandirian di bidang teknologi informasi dan komunikasi, Indonesia akan selalu menjadi konsumen dan tak pernah memperoleh kembali kewibawaan di kancah internasional apabila tak ada faktor penyeimbang sekaligus pembeda antara Indonesia dengan negara lain yang –maaf sebenarnya kecil jika dibandingkan Indonesia. Kepemimpinan yang efektif, konsistensi kepada kemandirian dan entah apa namanya Visi 2020 ataupun 2045 (100 tahun Indonesia merdeka) silakan, asal pemimpin tak mau ditekan oleh pemimpin bangsa lain dan mengubah “jalan hidup” bangsa ini yang sudah dalam goresan darah harus ditentukan sendiri, adalah syarat mutlak.

Jika demikian, seharusnya, dalam 20 tahun kedepan, sekali lagi jika arahnya benar, negara lain bagi Indonesia adalah benar-benar kecil baik dari sisi demografis maupun sisi politis. Bukan ancaman apa-apa bagi bangsa besar ini. Nantikan episode Sriwijaya dan Majapahit dalam belasan tahun kedepan. Waktu yang tak begitu lama, kawan!