Tingkat pencemaran di kota-kota besar di dunia semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun khususnya di wilayah benua Asia termasuk Indonesia. ABC ini di asia di juluki Asia Brown Clouds  adalah lapisan polusi udara yang mencakup bagian-bagian Asia Selatan, yaitu bagian utara Samudra Hindia, India, dan Pakistan. Dapat dilihat dari foto satelit, awan muncul sebagai noda coklat raksasa menggantung di udara di atas sebagian besar Asia Selatan dan Samudera Hindia setiap tahun antara Januari dan Maret, mungkin juga selama bulan-bulan sebelum dan begitu seterusnya kemudian. Istilah ini diciptakan pada laporan dari UNEP Samudera HindiaPercobaan (INDOEX).

Penyebab

Awan coklat Asia atau Asia brown clouds diciptakan oleh berbagai partikel udara dan polutan dari pembakaran (woodfires misalnya, mobil, dan pabrik-pabrik), pembakaran biomassa. dan proses industri  dengan pembakaran yang tidak terolah sempurna. Awan coklat selalu dikaitkan dengan angin muson musim dingin (November / Desember sampai April) dan muncul selama tidak ada hujan yang membasahi untuk mencuci polutan dari udara.

Observasi

Lapisan polusi terus diamati selama Percobaan Samudera Hindia (INDOEX) dengan observasi lapangan yang intensif pada tahun 1999 dan dijelaskan dalam studi penilaian bagaimana dampak Brown Clouds yang diterbitkan UNEP 2002. Para ilmuwan di India mengklaim bahwa Asia Brown Clouds tidak selalu  spesifik ke Asia melainkan bisa dibagian bumi mana saja tergantung efek polusi dan rumah kaca di tempat itu. Selanjutnya, ketika Program Lingkungan PBB (UNEP) menyelenggarakan proyek follow-up internasional, subjek penelitian berganti nama menjadi Awan Atmosfer Brown/Atmospheric brown clouds(ABC’s) dengan fokus pada Asia.

Awan itu juga dilaporkan oleh NASA pada tahun 2004  dan 2007.

Meskipun partikel aerosol umumnya terkait dengan efek pendinginan global, studi terbaru menunjukkan bahwa mereka benar-benar dapat memiliki efek pemanasan seperti efek rumah kaca di daerah tertentu seperti Himalaya.  Bahkan, efek ini “Brown Clouds” – yang penuh lapisan awan aerosol – telah meningkat pemanasan atmosfer di India sekitar 50%.

Dampak

Segi Kesehatan : Salah satu dampak utama adalah pada kesehatan. Sebuah studi tahun 2002 menunjukkan hampir dua juta orang meninggal setiap tahun, di India saja, dari kondisi alam yang berhubungan dengan Brown Clouds.

Segi Cuaca di tiap Daerah :  Sebuah studi penilaian yang kedua diterbitkan pada tahun 2008  Ini disorot masalah-masalah regional tentang.:

1. Perubahan pola curah hujan dengan angin muson Asia. Melemahnya angin muson India setelah diamati menimbulkan efek kekeringan dan banjir juga di bagian Cina utara selatan yang dipengaruhi oleh awan coklat.

2. Peningkatan curah hujan selama Top End Australia dan wilayah Kimberley. Sebuah penelitian CSIRO telah menemukan bahwa dengan menggusur selatan ekuatortermal melalui pendinginan udara di atas Asia Timur, musim hujan yang membawa sebagian besar air hujan di wilayah tersebut telah diintensifkan dan berpindah ke selatan.

3. Terjadi pengurangan gletser dan salju Himalaya. Penyebabnya disebabkan oleh meningkatnya suhu udara yang lebih  di daerah tinggi, efek pemanasan gabungan gas rumah kaca dan Awan Brown Asia. Juga pengendapan karbon hitam menurunkan refleksi dan memperburuk keadaan. Mencairnya glasial Asia dapat mengakibatkan kekurangan air dan banjir bagi ratusan juta orang yang tinggaldi hilir.

4. Penurunan panen tanaman. Peningkatan konsentrasi ozon permukaan memungkinan untuk mempengaruhi hasil panen menjadi negatif. Dampaknya pada tanaman tertentu. Seperti di india, penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa gas polutan yang tersebar di udara telah menyebabkan iklim dan temperatur udara berubah sehingga mempengaruhi hasil produksi padi di India. Akibatnya, hasil panen merosot 20-25 persen.

Intensitas Siklon di Laut Arab

Sebuah studi 2011 menemukan bahwa polusi membuat siklon Laut Arab lebih intens sebagai atmosfer brown clouds telah memproduksi pola angin yang mencegah melemahnya pola angin geser yang secara historis telah membuat siklon di Laut Arab menjadi sebuah  badai besar. Fenomena ini ditemukan sebagai pertanggung jawaban  atas pembentukan badai yang  lebih kuat pada tahun 2007 dan 2010 yang dicatat badai pertama yang memasuki Teluk Oman.

Pemanasan global dan peredupan

Laporan 2008 juga membahas keprihatinan pemanasan global dan menyimpulkan bahwa awan cokelat memiliki tingkat kepekatan 20 sampai 80 persen dari gas rumah kaca  di beberapa abad yang lalu. Laporan tersebut menyarankan bahwa udara serta polusi dapat memiliki efek memperkuat dan memperbesar pada pemanasan global.

Dampak lain utama adalah pada es di kutub. Lapisan karbon hitam  di Asia Brown Cloud dapat merefleksikan sinar matahari dan Bumi bisa mengalami peredupan  tetapi pemanasan bisa terjadi ditempat lain dengan menyerap radiasi yang masuk dan terjadilah pemanasan atmosfer. Karbon hitam mempunyai dampak  tiga kali lebih efektif daripada karbon dioksida/gas rumah kaca dan akibat yang paling umum adalah efek mencairnya es di kutub dan salju.

Karbon hitam di daerah bersalju menyebabkan sekitar tiga kali perubahan suhu sebagai karbon dioksida di atmosfer. Pada daerah bersalju bahkan pada konsentrasi di bawah lima bagian permiliar karbon hitam memicu mencairnya es/salju, dan mungkin bertanggung jawab sebanyak 94persen dari pemanasan Kutub Utara.

Akibatnya lapisan es Kutub Utara menyusut ke laut sepanjang tahun, dengan pencairan lebih banyak es di bulan-bulan musim semi dan musim panas dan sedikit gletser terbentuk di musim gugur dan musim dingin. Es laut Kutub Utara mencair selama musim panas tahun 2010 untuk menutupi area terkecil ketiga.

Luasnya es Kutub Utara terus menurun setidaknya sebesar 11% per dekade dan sangat cepat, dengan kata lain. Mark Serreze mengklaim bahwa prediksi sampai September 2030, atau lebih, Kutub Utara mungkin tidak akan ada es sama sekali. Ini akan terlihat seperti samudra biru.

Dampak ABC di Indonesia

Dampaknya di Asia Tenggara sudah mulai terlihat dikota-kota besar seperti Malaysia, Vietnam, Thailand dan Indonesia . Khususnya di Indonesia yang paling ketara adalah di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia yang padat penduduk. Tingkat pencemaran udara di Indonesia semakin memprihatinkan. Bahkan salah satu studi melaporkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia. World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City.

Di Indonesia sendiri, sebagaimana data yang dipaparkan oleh Pengkajian Ozon dan Polusi Udara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jawa Barat menduduki peringkat polusi udara tertinggi di Indonesia.

Dari semua penyebab polusi udara yang ada, emisi transportasi terbukti sebagai penyumbang pencemaran udara tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 85 persen. Hal ini diakibatkan oleh laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misalnya kadar timbal yang tinggi). Kebakaran hutan dan industri juga turut berperan. Dan dari penelitian terbaru bahwa efek ABC di Indonesia sebagian besar juga dipengaruhi oleh sisa gas buang rumah tangga karena aktifitas rumah tangga yang padat di Indonesia.

Dampak Pencemaran Udara Pada Kesehatan

Dari segi kesehatan, pencemaran udara dapat berakibat pada terganggunya kesehatan dan pertumbuhan anak-anak. Misalnya anemia. Memang, di masa pertumbuhan sel-sel darah merah terus diproduksi. Namun, karena masuknya timbal akan merusak sel darah merah, maka jumlahnya makin lama makin berkurang dan akhirnya anak menderita anemia.

Timbal yang masuk ke dalam tubuh juga akan merusak sel-sel darah merah yang mestinya dikirim ke otak. Akibatnya, terjadilah gangguan pada otak. Hal yang paling dikhawatirkan, anak bisa mengalami gangguan kemampuan berpikir, daya tangkap lambat, dan tingkat IQ rendah. Dalam hal pertumbuhan fisik, keberadaan timbal ini akan berdampak pada beberapa gangguan, seperti keterlambatan pertumbuhan dan gangguan pendengaran pada frekuensi-frekuensi tertentu.

Pada orang dewasa, timbal dapat mempengaruhi sistem reproduksi atau kesuburan. Zat ini dapat mengurangi jumlah dan fungsi sperma sehingga menyebabkan kemandulan. Timbal juga mengganggu fungsi jantung, ginjal, dan menyebabkan penyakit stroke serta kanker. Ibu hamil akan menghadapi risiko yang tinggi jika kadar timbal dalam darahnya di ambang batas normal. Timbal ini akan menuju janin dan menghambat tumbuh-kembang otaknya. Risiko lain adalah ibu mengalami keguguran. Yang perlu diketahui, timbal layaknya musuh dalam selimut. Awalnya, kadar timbal yang tinggi dalam darah tidak akan menunjukkan gejala penyakit. Dampak baru muncul dalam jangka panjang.

Dampak Pencemaran Udara pada Lingkungan

1. Menghambat fotosistesis tumbuhan. Terhadap tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

2. Menyebabkan hujan asam. pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain: Mempengaruhi kualitas air permukaan, Merusak tanaman, Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan, serta Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.

3. Meningkatkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global. Pemanasan global sendiri akan berakibat pada; Pencairan es di kutub, Perubahan iklim regional dan global, Perubahan siklus hidup flora dan fauna.

4. Kerusakan lapisan ozon. Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon. Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkankanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Mengurangi Pencemaran Udara

Untuk menanggulangi terjadinya pencemaran udara dapat dilakukan melalui beberapa usaha antara lain:

  • Mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida
  • Pengolahan atau daur ulang limbah asap industri
  • Penghijauan dan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon pengganti
  • Melakukan kegiatan car free day secara berkala yang bertujuan untuk mengurangi laju peningkatan polusi dari kendaraan bermotor di wilayah tertentu

Sedikit info ini semoga berguna…

Videonya

Referensi