_MG_4911

Salam Wildlife!Selama masih ada nyali di setiap benak setiap orang SuetoCommunity pasti akan terus dan selalu menjelajah alam Indonesia.

Tour ke Dieng kali ini memang salah satu agenda Sueto yang memang belum dituntaskan. Sebenarnya banyak agenda touring sueto yang memang akan menjadi tujuan berikutnya tapi karena dengan segala kesepakatan bersama akhirnya kami putuskan berangkat menuju Dieng dari Surabaya.

Perjalanan kali ini kami tidak langsung dari Surabaya menuju Dieng. Kami akan mampir dulu di Yogya untuk istirahat dulu dan menyusul anggota dan partisipan yang lain untuk ikut dalam acara tour to Dieng. Jadi kamipun ada tempat istirahat di homebase salah satu anggota  di Yogya.

Hari kamis tepat tengah malam jadi sudah masuk jumat pagi kamipun berangkat dari Surabaya menuju yogya beranggotakan 4 orang 2 motor HSX125 dan PZ00. Perjalanan kami mulai dari post 1 Mojosari menuju post 2 Caruban. Saat melewati daerah Mojosari-Jombang-Kertosono perjalanan waktu itu perjalanan terasa berkabut agak tebal kira jarak pandang 30-40meter tapi lama-lama mata kami perih ternyata itu adalah sebuah kabut hasil polusi pembuangan truk angkut berat yang membuang berkilo-kilo karbon pada saat malam hari mungkin kami pikir inilah yang disebut ABC’s(Atmospheric Brown Cloud‘s)pernah di bahas di post https://suetoclub.wordpress.com/2012/01/08/atmospheric-brown-cloudsabcs-efek-polusi-yang-ada-dikota-kota-besar-asia-termasuk-indonesia/.

     Bentuknya agak sedikit berbeda dengan kabut seperti efek rumah kaca jadi awan coklat kabutnya hanya berkecimpung didaerah itu saja seperti tidak bisa keluar akhirnya setelah kami melewati kota kertosono kabut coklatnya menghilang dan mata kami tidak perih lagi. Jadi memang telah parah polusi di Indonesia terutama di jalur utama yang dilewati  truk angkut  berat. Ini terjadi waktu tengah malam mungkin akan lebih parah bila terjadi sianghari atau saat jam aktif. Efeknya secara tidak langsung akan berpengaruh kepada penduduk sekitar wilayah itu. Polusi kian merambah dimana-mana tidak hanya dikota-kota besar. Memang efek paling terasa dari truk angkut berat dari pada mobil dan motor yang terus diperbarui produsen otomotif yang mana memang kebanyakan kondisi truk angkut berat untuk distribusi industri  tidak layak pakai dan tidak sesuai standar Euro2 atau 3 tapi selalu lolos dalam pengcekan uji emisi. Bagaimana mengatasinya?kalau masalah sudah sedemikian rumit ya memang harus ada kesadaran diri dari berbagai pihak juga masyarakat akan pentingnya kesehatan dan minimalisasi efek polusi.

Perjalananpun kami teruskan menuju post2 berhenti di Indomaret kota Caruban untuk istirahat dan ngopi. Setelah itu langsung kami lanjutkan menuju post 3 Sragen untuk istirahat dan subuh sambil menunggu kesiapan tuan rumah yang ada di Yogya. Sekitar jam 7 kami sampai Yogya jadi total perjalanan SBY-Yogya 7jam terhitung +-300km banyak kemacetan dijalan sekarang mungkin karena padatnya penduduk Indonesia dan aktifitasnya.  Akhirnya kami istirahat dulu di pombensin awal masuk Yogya sambil menunggu tuan rumah menjemput. Sampai di Home kamipun Jumatan dan langsung istirahat.

Pada malam harinya kami sempatkan berkeliling Yogya juga sambil mencari makan. Menyusul partisipan lain yang ada di Yogya terus dinner deh. Setelah berkeliling Yogya akhirnya kami sampai di Resto SegoSambel, rata-rata memang banyak makanan khas SegoSambel ini di Yogya. Setelah makan kenyang kamipun kembali beristirhat di homebase untuk persiapan berangkat ke Dieng besok paginya.

Paginya Sueto Tim bersiap prepare menuju Dieng Plateau Wonosobo beranggotakan fix 8orang 4motor sekitar jam7 pagi dari Yogya kami berangkat melalui jalur MagelangTemanggung-Wonosobo-Dieng yang jaraknya +-150km dari Yogya. Perjalanan melewati Magelang menuju post1 Temanggung untuk sarapan kemudian langsung menuju kota Wonosobo untuk post2. Perjalanan waktu berangkat cuacanya cerah jadi kami bisa tepat waktu.

Sebelum memasuki kawasan Dieng kami ditarik karcis retribusi Rp2500,-per orang karena 8 orang total jadi Rp20.000,- ada retribusi tapi jalur untuk penarikan karcis retribusi  jelek dari jalur utama yang dialihkan. Kami kira ada sedikit ketidakberesan disini kalau memang kawasan wisata yang termasuk skala internasional seharusnya  tempat penarikan karcis retribusi seharusnya yang layak juga.

Kemudian perjalananpun kami teruskan menuju perkampungan Dieng plateau waktu itu disekitar jalan menuju Dieng banyak plakat-plakat di dieng yang memang sudah usang contohnya seperti gapura Dieng plateau. Tapi kami terus berjalanan dan terkesima melihat pemandangannya yang masih bagus. Diiringi cuaca yang kian dingin dan berkabut kami terus mendaki melewati bukit-bukit sampai menuju kawasan Dieng Plateau yang  terletak pada ketinggian 2000 meter dpl.

     Sejarahnya nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “di” yang berarti tempat, dan “hyang” yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata “edi” yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan “aeng” yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.

     Memasuki Dieng Plateau area kami mencoba berkeliling di area Dieng ini mencari referensi spot yang bagus untuk diabadikan sambil memutuskan spot wisata mana yang dituju. Akhirnya kami putuskan untuk memasuki kawasan utama komplek Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Telaga Warna memang tiga tempat ini yang paling sering dikunjungi dan yang benar-benar berbeda dari tempat yang lainnya. di Dieng ini ada sekitar 20 spot yang masih dikunjungi sebenarnya. Tapi karena waktu kami terbatas jadi kami utamakan 3spot dulu. Karena kami pikir spot yang lainnya juga tidak berbeda dengan spot wisata diluar Dieng seperti telaga, candi-candi, kawasan industri dan lainnya.

    Pertama kami menuju spot komplek candi arjuna biaya retribusi tiket masuknya Rp10.000,- per motor 2 orang sudah dapat dua tiket tiket ke komplek candi dan ke kawah sikidang kalau minta peta kawasan Dieng juga dikasihkok, tapi ongkos segitu belum biaya parkir yang ditarik Rp 2000,- mobil motor tarifnya sama. Pada awalnya kami kaget ternyata bayar segitu masih pakai biaya parkir. Tapi ya sudahlah kita menikmati perjalanannya saja.

      Kompleks Candi Arjuna yang merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa masih berdiri dengan tegaknya di tengah deraan waktu dan cuaca, menjadi bukti warisan kekayaan budaya yang luar biasa. Meskipun beberapa bagian candi mulai aus dimakan usia, namun candi pemujaan Dewa Siwa yang dibangun pada tahun 809 M ini tetap kokoh berdiri memberikan nuansa kedamaian di tengah keheningan alam pegunungan.

    Di komplek ini kami memanfaatkan moment untuk berfoto dan dokumentasi sambil menikmati suhu yang dingin di pegunungan Dieng ini yang katanya Suhu udara pada siang hari berkisar antara 15-20 derajat celcius sementara pada malam hari berkisar antara 10 derajat celcius. Pada bulan Juli dan Agustus suhu bisa mencapai 0 derajat celcius pada siang hari dan -10 derajat celcius pada malam hari. Wah!makanya sampai ada salju turun di Dieng kalau lagi bulan Juli dan Agustus ternyata suhunya bisa mencapai minus derajat celcius.

Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti “kidang” atau kijang.

     Setelah dari komplek Arjuna kami menuju spot ke-2 yaitu kawah sikidang letaknya tidak jauh dari spot komplek arjuna. Ternyata setalah masuk di area kawah sikidang ada sebuah pasar kecil yang menjajakan buah atau sayuran khas Dieng seperti Carica, pepaya, Kentang, Kubis dll. Tidak lama kami langsung menuju spot kawah sikidang mengambil view kawah dari atas bukit sungguh pemandangan yang indah. Sementara beberapa teman kami menunggu di bawah. Ketika mau bernjak dari spot-2 ada sebuah kejanggalan lagi bagi kami karena waktu itu ada 2 orang teman kami yang memang menjaga sepedamotornya dan tidak parkir hanya menunggu di luar area karena memang 2 orang itu alergi bau kawah yang menyengat tetapi mereka masih ditarik retribusi parkir Rp 2000,- padahal tidak parkir. Mungkin orang parkirnya pikir setiap memasuki kawasan wisata parkir atau tidak yang penting membayar dan memang tidak ada karcis retribusinya. Anehnya lagi parkir mobil sama motor tarifnya sama Rp 2000,- seharusnya dibedakan.

     Spot terakhir yang kami tuju adalah telaga warna. Spot ini menjadi yang terakhir karena memang ada keterbatasan waktu dan cuaca yang memang bakal tidak bersahabat mulai turun hujan jadi terpaksa kami undurdiri setelah spot telaga warna. Waktu akan memasuki telaga kami ditarik lagi retribusi parkir Rp 2000,-. Sebelum masuk kami membeli jajanan khas Dieng yaitu tempe kemul. Setelah masuk loketnya Rp 5000,- per orang . Mencoba mengitari kawasan sekitar danau ternyata banyak gua tapi kami tidak catat namanya juga patung Dewi beserta patung Gajah Mada di cat emas akhirnya kami melepas lelah disebuah padepokan di telaga. Sebenarnya apa yang ingin kami dapatkan di spot terkhir ini adalah bagaimana mendapatkan gambar dengan view dua telaga warna dari atas bukit tapi sebelum kami menuju spot tersebut cuaca  mulai tidak bershabat akibatnya nanti waktu pulang bisa bahaya lagi pula jalannya menuju spot itu ternyata sudah longsong karena erosi alam yang tak tahu apa penyebabnya. Akhirnya sebelum keluar tempat wisata saya ambil view dari atas saja yaitu Museum Theater Dieng. 

Keunikan proses terbentuknya kawasan Dieng menghasilkan bentang alam yang eksotik dan tidak ada duanya. Telaga Warna yang memantulkan warna hijau, biru dan ungu.

     Pada faktanya kami tidak menemui perubahan warna di telaga warna kami kira telaga warna ini seperti telaga warna kelimutu. Setelah kami cari informasi ternyata telaga warna ini bisa berwarna dikarenakan adanya batu seperti safir yang bisa berubah warna tapi pada saat ini batu safir itu telah tiada karena telah dijual ke investor yang berasal dari Jepang. Pada saat mendengar seperti ini kami Suetoclub benar-benar kecewa kenapa kekayaan alam yang sebetulnya adalah sebuah warisan harta dari nenek moyang yang perlu dilestarikan kenapa malah dijual ke negara lain dan tidak dijaga sebaik-baiknya. Mungkin kami tidak tahu pelakunya dari pemerintahan atau masyarakat Dieng tapi pada akhirnya inilah awal sebuah kerusakan di Dieng. Terus kalau dijual buat apa uangnya?pembangunan di Dieng juga pelestariannya juga tidak benar-benar tampak secara realistis manfaatnya.

     Secara langsung kami berkesimpulan bahwa kami terkesima bukan karena tempat wisata karena memang yang menantang kami adalah serunya perjalanan  dan indahnya geografis alam di Dieng ini. Begitu dengan biaya retribusi yang tak masuk akal untuk kualitas wisata yang kurang memadai misal seperti tiap spot ditarik karcis masuk Rp 5000,- dan tarif parkir Rp 2000,- jika ada 20 spot kawasan wisata berarti dikalikan saja 20×7000=Rp 140.000 paling tidak kita kurang lebih mengeluarkan biaya segitulah tapi ini hanya misal apa tidak terlalu over. Tapi mungkin ini hanya pandangan  kami semata.

    Satu lagi alasan kami menulis judul Dieng Plateau belum habis  karena kami sendiri memang belum mengexplore spot wisata di Dieng secara keseluruhan tapi paling tidak kami sudah paham secara garis besar. Tentunya kawasan wisata ini juga belum habis wisatawannya asalakan bisa mengalirkan retribusi dengan tepat guna dan pengolahan kawasan wisata yang benar sehingga patut menjadi kawasan wisata internasional yang bisa dibanggakan Indonesia.

    Pulang dari Wonosobo-Temanggung-Yogya perjalanan kami diguyur hujan deras. Sesampainya di homebase kami langsung istirahat dan bersantai selama satu hari lagi sambil cari oleh di Malioboro. Kemudian pulang kembali ke Surabaya. Perjalanan Yogya-Surabaya juga diguyur hujan pulangnya tetap stay to step by step on post sampai Sidoarjo. Yang paling mengejutkan ternyata konsumsi PZoo sama kayak HSX125 PP Sidoarjo-Yogya cuman Rp 70.000,- premium ngirit deh.  Terima kasih sekian liputan perjalanan dari Sueto Tim Tour to Dieng. Tetap semangat menjelajah Indonesia tercinta!

_MG_4755

_MG_4769

_MG_4806

_MG_4830

_MG_4848

_MG_4849

_MG_4850

_MG_4858

_MG_4888

_MG_4898

_MG_4901

_MG_4899

_MG_4920

_MG_4926

_MG_4932

_MG_4950

Simak Videonya :