Archive for Agustus 23, 2012



 

Sebuah gunung api raksasa yang terletak di bawah laut di perairan Sumatra ditemukan para ilmuwan baru-baru ini. Gunung api yang oleh para ilmuwan diklaim sangat berbahaya ini menjadi ancaman serius dan terus dipantau.
Riset kelautan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), CGGVeritas, serta Institut de Physique du Globe (IPG) Paris, Prancis, menemukan keberadaan gunung api raksasa tersebut.

gunung berapi raksasa bengkulu
Gunung api raksasa berada di bawah laut dengan diameter mencapai 50 kilometer (km) dan tinggi mencapai 4.600 meter, terletak di 330 km arah barat Kota Bengkulu. ”Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Puncak Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).
Lokasi gunung api raksasa itu, lanjut Yusuf, berada di palung Sunda di barat daya Sumatra, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5.900 meter, dan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.
Namun meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera, yaitu fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik, yang menandainya sebagai gunung api, ia mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api tersebut. ”Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” kata Yusuf.


Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.
Tujuan dari survei tersebut untuk mengetahui struktur geologi dalam, dengan penetrasi sampai 50 km, meliputi palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatra.

Sejak kejadian gempa dan tsunami pada akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatra yang menarik minat banyak peneliti asing.
Tim ahli dari Indonesia, Amerika Serikat (AS) dan Prancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

Gunung raksasa di perairan Sumatra

Posisi gunung : di palung Sunda, barat daya Sumatra, 330 km arah barat Kota Bengkulu.
Kedalaman : 5.900 meter
Posisi puncak gunung: di kedalaman 1.280 meter dpl
Ketinggian : 4.600 meter
Diameter : 50 kilometer
Keterangan: memiliki kaldera, yaitu fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik, yang menandainya sebagai gunung api. Tingkat keaktifan belum diketahui.

Video :

Sumber: Riset kelautan BPPT, LIPI, Departemen ESDM, CGGVeritas, Institut de Physique du Globe (IPG) Prancis. – Ant

http://sains.kompas.com/read/2009/05/28/18081172/Ditemukan.Gunung.Api.Raksasa.Bawah.Laut.Sumatera

 

 

Iklan

Mitos gunung tidak hanya di Jawa. Di banyak daerah Indonesia semua gunung mendapat atribut sama. Dia dianalogikan sebagai pusat pemerintahan gaib, dan pesannya sebagai sinyal agar manusia berjaga-jaga. Itu terjadi pada Gunung Mutis di Pulau Timor, Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Gamalama di Pulau Ternate, Gunung Karangetang di Pulau Halmahera dan gunung-gunung lain yang tersebar di Nusantara.

 

Di Gunung Rinjani, jika purnama tiba, maka laki perempuan dan anak-anak berduyun-duyun mendaki gunung ini. Mereka tidak mengambil rute gampang di Sembalun Lawang, tetapi melewati rute bahaya di Senaru. Rute ini hanya delapan jam dengan medan berat sampai di puncak Sangkareang.

Dari puncak ini mereka bergelayut di batu-batu cadas. Menurun menuju Segara Anak. Sebuah danau yang di tengahnya tersembul Gunung Baru yang merupakan anak Gunung Rinjani. Gunung dengan mitos Dewi Anjani, putri rupawan berilmu tinggi seperti tersurat dalam lontar Rengganis ini terus diuri-uri. Dan saat purnama tiba, ritus tabur mas itu tetap lestari.

Di Gunung Gamalama Ternate apresiasi terhadap gunung juga tak beda. Gunung yang memecah pulau Ternate yang luasnya hanya 12 kilometer ini punya danau yang dipercaya dihuni buaya putih. Buaya itu dianggap sebagai penjaga kedamaian alam setempat. Mereka yakin jika buaya diusik dan terusik, maka lahar Gamalama akan berubah arah tidak seperti biasanya. Lahar itu akan semburat seperti Merapi sekarang yang menebar ke mana-mana.

Di Gunung Karangetang Pulau Halmahera mistisisme itu kian lekat lagi. Suku Tugutil yang berdiam di seputaran gunung ini sehari-hari menjalani hidup yang kental tradisi. Itu dari kelahiran, dewasa sampai kematian. Malah jika ada warga yang meninggal, untuk mengusir roh buruk yang disebut Gomanga, mereka melakukan ritus unik untuk pengusiran sebelum mengantar si mati ke tengah hutan. Sambil mabuk mereka membabat apa saja yang dijumpa.

Dan di Pulau Timor yang dikangkangi Gunung Mutis samalah posisinya. Gunung ini juga diperlakukan sebagai area titah. Perubahan yang terjadi diasumsikan sebagai bagian dari pesan gaib untuk manusia. Berkat itu alam tetap lestari, terjaga, karena saling ‘menghormat’ antara alam dan manusia.

Di Bukit Dirun, lereng Gunung Mutis, misalnya, sesaji tak sulit ditemukan. Area ini dipercaya sebagai pemakaman kuno. Makam yang terbentuk sebelum zaman es, dan jauh pra kawasan ini timbul dari dasar laut untuk menjadi daratan. Dan itu logis jika dilihat kontur dan stuktur tanah bukit ini yang berkarang-karang.

Malah kalau kita menyusuri Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tak tersadari mengamini buku The Atlantis karangan Arysio Santos serta Eden The East karya Stephen Oppenheimer, bahwa Indonesia merupakan benua yang hilang, dan membuka kemungkinan Nabi Nuh berasal dari Indonesia. Sebab di daerah ini terdapat bukit yang disebut Fatu Kopa (Batu Kapal). Rakyat setempat pun meyakini, bahwa batu itu adalah kapal Nabi Nuh!

Mitos-mitos iku kian mendekati realitas tatkala dirujuk pada masa lalu Pulau Seram. Di pulau ini terdapat Suku Naulu dan Suku Alifuru. Dalam Son of The Sun disebutkan, suku ini merupakan manusia awal dari sebuah peradaban yang hilang. Namanya pun menyuratkan itu. Alif adalah pertama. Dan uru adalah manusia. Dengan begitu Alifuru adalah manusia pertama.

Mitos-mitos itu memang perlu disingkap misterinya. Itu agar tidak berubah menjadi dongeng yang kelak nglenik. Para sejarawan Indonesia dituntut untuk menguak segala mitos itu agar sejarah negeri ini tidak seperti sekarang, sejarah dongeng. Raja-raja yang pernah memerintah dianggap mokswa (hilang secara gaib) dan hanya serat serta babad yang bisa dijadikan rujukan untuk mengungkap sebuah awal.

Pengalaman di lapangan menunjukkan, ilmuwan kita tak banyak turba. Entah karena malas atau takut berbagai sebab di antaranya sengsara. Sebab saat saya mendatangi Suku Boti (Pulau Timor) yang dikultuskan penerjemah saya acap dihantui ‘takut kualat’, memasuki Yot Tomat (Kepulauan Kei) diliputi rasa mencekam, mengunjungi Suku Naulu (Pulau Seram) takut dibunuh karena jika baileo (rumah adat) mereka rusak memang mewajibkan tumbal manusia, dan ketika memasuki perkampungan Suku Tugutil (Pulau Halmahera) memang terkesan menyeramkan.

Malah untuk menguak Islam Wetu Telu di Pulau Lombok pun dibutuhkan tenaga ekstra. Itu karena terpencar di Bayan (ritus keturunan Sunan Giri Prapen), di Mataram (Pura Lingsar), Sade dan Rambitan (tradisi dan masjid kuno), serta di Rambanbiak (Dasan Baru, Lombok Timur) pusat mistik Suku Sasak yang sekaligus tinggal intelektual sekte ini.

Namun di balik kekurangan-kekurangan itu mitos mempunyai peran penting bagi lestarinya budaya bangsa. Tabu dan mistik memberi pengamanan terhadap terjaganya alam dan benda yang disakralkan. Tanpa itu, rasanya hampir bisa ditebak kekayaan ini akan musnah ditransaksikan.

Maka, lepas kita suka atau tidak suka dengan tradisi dan budaya yang ada, tapi itulah diri kita, kekayaan kita, yang terasa indah jika kita menggaulinya dengan mesra. Dan itu salah satu sebab berbagai bangsa datang dan kagum dengan Indonesia.

Sumber : Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta (detik.com)

 

%d blogger menyukai ini: