Edo Rusyanto's Traffic

NYARIS setiap malam dia menatap ke langit. Mencari jawab atas sebuah pertanyaan. "Kenapa sang malam memberi waktu amat singkat."

Rembulan selalu mencari jawab, sekalipun tak pernah mendapat secara utuh. Malam-malam yang dilaluinya masih menyisakan kepedihan.

Tiga tahun lalu, saat masih berseragam abu-abu, Rembulan menghadapi kabar memilukan. Sang ayah dijemput jagal jalan raya. Mobilnya ringsek dihajar kendaraan lain yang berkecepatan tinggi. Sang penabrak dalam kondisi mabuk.

Kepergian sang ayah yang menyangga tiang ekonomi keluarga membuat semua asa runtuh. Niat meneruskan studi ke perguruan tinggi pupus. Dia dan sang ibu harus bahu membahu mengais rupiah sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Membeli makan dan minum, membiayai dua adiknya yang sekolah dasar dan lanjutan pertama, termasuk membayar biaya sewa rumah.

Setiap pagi Rembulan menjajakan kue ke sekolah di lingkungan rumahnya. Siang hari sang ibu buruh nyuci, sedangkan Rembulan membantu tetangga berjualan mie ayam. Cita-citanya menjadi psikolog terpaksa dikubur dalam-dalam.

Padahal, sejak sekolah dasar, Rembulan tergolong…

Lihat pos aslinya 228 kata lagi