Archive for November 1, 2013



Edo Rusyanto's Traffic

Bertanah Air Satu,
Tanah Air Tanpa Petaka di Jalan Raya

Berbangsa Satu,
Bangsa Tanpa Arogansi di Jalan Raya

Berbahasa Satu,
Bahasa Tanpa Diskriminasi di Jalan Raya

DELAPAN puluh lima tahun lalu anak-anak muda merapatkan barisan. Bergandengan tangan menyerukan satu pandangan, Indonesia Raya.

Selang tujuh belas tahun setelah ‘Soempah Pemoeda’, di kota yang sama, yakni Jakarta, anak bangsa mengepalkan tangan. Meninju kepongahan kolonialisme, mendobrak penindasan lewat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Semangat Soempah Pemoeda, yakni menyatu dengan tetap mengusung keberagaman, ditorehkan dalam lambang negara, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Esensi yang mencuat pada 1928 dan 1945 nyaris sama, melawan penindasan dan menjadi bangsa yang berdaulat. Bangsa yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan untuk hidup sejahtera tanpa penindasan di semua lini kehidupan.

mudik2_fajar
Hari ini, tepat delapan puluh lima tahun lalu, fakta mengajarkan kita soal persatuan. Keutuhan Indonesia Raya banyak melewati ujian. Bahkan, masih tersisa sejumlah penindasan. Si kuat pongah pada…

Lihat pos aslinya 190 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

marka garis lurus

WASPADA. Mendahului saat berkendara di jalan butuh kepastian. Bahkan, butuh ekstra waspada. Lengah sesaat, bisa-bisa berujung pidana. Tulisan ini berangkat dari kisah nyata.

Apa yang dialami Razaksi, sebut saja begitu, cukup memprihatinkan. Suatu senja, sepulang bekerja pria berusia empat puluhan tahun itu melenggang dengan sepeda motornya. Lalu lintas jalan normal, seperti biasanya.

Pada gilirannya, ada sebuah mobil di depan Razaksi. Dia pun mendahului mobil tersebut. Kecepatan ditaksi berkisar 60-70 kilometer per jam (kpj). Tiba-tiba, dari arah berlawanan hadir sebuah sepeda motor yang hendak berbelok ke kanan jalan. Kepanikan melanda Razaksi. Si kuda besi tak terkendali. Brakkk!!

Benturan tersebut membuat penunggang sepeda motor yang ditabrak Razaksi terjatuh. Pertolongan pun diberikan oleh warga yang kebetulan berada di dekat lokasi kejadian. Malang, sang korban tak bisa ditolong. Meninggal dunia.

Razaksi harus menjadi pesakitan. Kasusnya diproses di pengadilan dan lima bulan kemudian divonis lima bulan penjara dengan masa percobaan selama 10 bulan. Pria itu…

Lihat pos aslinya 161 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

SUASANA pagi itu menjadi hari yang sulit dilupakan oleh Badzian, kira-kira kita sebut saja begitu. Sebuah pagi yang cerah justeru mendadak berubah menjadi horor. Keputusan yang diambilnya saat bersepeda motor justeru berbuntut tidak menyenangkan.

Pria muda itu tak pernah membayangkan bahwa seorang pejalan kaki akhirnya menyeret dia sebagai pesakitan. Pagi itu laju si kuda besi yang ditungganginya berkisar 30-40 kilometer per jam (kpj). Dari jarak sekitar 20 meter, Badzian melihat ada pejalan kaki yang hendak menyeberang. Sontak dia mengurangi kecepatan, termasuk membunyikan klakson agar sang penyeberang jalan tadi tahu ada sepeda motor yang melintas.

Sang penyeberang tampak ragu-ragu. Gerak tubuhnya menunjukan seakan berhenti untuk tidak menyeberang. Keputusan pun diambil Badzian, dia melaju. Apa daya, situasi berubah, dalam jarak sekitar dua meter, sang pejalan kaki pun bergerak. Setang sepeda motor menyerempet sang pejalan kaki.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak. Sang pejalan kaki terjatuh. Terluka di kepala yang cukup serius. Badzian pun terjatuh…

Lihat pos aslinya 350 kata lagi

%d blogger menyukai ini: