Archive for Agustus 26, 2014



Edo Rusyanto's Traffic

jarak aman pesanlaka

SUATU siang saya dikejutkan oleh benturan kecil di bagian belakang sepeda motor saya. Rupanya seorang pesepeda motor ‘nyelonong’ mencium bemper kuda besi yang saya tunggangi. Tak ada cedera serius. Sang pesepeda motor melemparkan senyum seraya meminta maaf. Saya mengangguk dan melanjutkan perjalanan.
Saat kejadian itu, saya melaju tak lebih dari 40 kilometer per jam (kpj) karena padatnya antrean kendaraan di jalan Jakarta. Karena itu pula, benturan yang terjadi tak terlalu menimbulkan kerusakan berarti. Namun, bisa dibayangkan bila kendaraan yang mencium bemper tadi dalam kecepatan tinggi, misalnya, 70 kpj. Bisa berantakan deh.

Tabrak belakang seperti itu ternyata menjadi jenis kecelakaan ketiga terbesar di Indonesia. Pada 2013, menurut data Korlantas Polri, tabrak belakang menyumbang sekitar 17,26% terhadap total kecelakaan. Saat itu, setiap hari rata-rata ada 47 kasus kecelakaan tabrak depan belakang. Tuh kan.
Setelah mengais-ngais informasi kesana-sini, akhirnya saya memutuskan menulis artikel ini. Tulisan seputar menjaga jarak yang aman saat berkendara ini…

Lihat pos aslinya 400 kata lagi

Iklan

Edo Rusyanto's Traffic

sca 2014 banner info

PARA peserta rapat sibuk merumuskan substansi ajang penghargaan bagi kelompok pengguna sepeda motor yang getol kampanye keselamatan di jalan. Kolega saya dari RSA Indonesia, Ivan tampak sedikit mengernyitkan kening untuk membantu kolega saya Tiwow dari Adira Insurance. Setelah melewati pembahasan rutin sekitar satu bulan, jadilah konsep itu “Safety Campaign Award (SCA).”

Semula Tiwow mengusulkan Safety Campaign Competition, namun menurut saya lebih pas bila kompetisi diubah menjadi penghargaan (award). Artinya, pihak Adira selaku penyelenggara berniat memberikan penghargaan kepada para kelompok pesepeda motor. Penghargaan juga bermakna menghargai apa yang selama ini sudah dilakukan kelompok pesepeda motor dalam penyebaran informasi bagaimana berlalulintas jalan yang aman dan selamat.

Ajang SCA tahun 2014 melibatkan empat pihak, yakni Adira Insurance, Road Safety Association (RSA) Indonesia, Sportku.com, dan Bikersmagz. Sedangkan untuk penjurian bakal dilengkapi dengan unsur dari Ditlantas Polda Metro Jaya. “Maklum, ajang kali ini khusus untuk di wilayah Polda Metro yang mencakup Jakarta, Depok…

Lihat pos aslinya 585 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

rambu kecepatan di cipayung jaktim1

BERKENDARA melampaui batas kecepatan atau ngebut ternyata masih menjadi masalah serius di jalan raya kita. Coba aja tengok pada musim mudik Lebaran 2014.

Pada periode itu menurut data Korlantas Polri setiap harinya terjadi 14 kecelakaan lantaran ngebut. Dalam rentang 16 hari pada musim mudik, masih menurut data itu, kontribusi kasus kecelakaan akibat ngebut sekitar 6,88% terhadap total kasus kecelakaan di jalan.

Mengapa orang memacu kendaraannya hingga melampaui batas kecepatan yang ditentukan? Misalnya, ketika melintas di jalan tol ada rambu yang mewajibkan pengemudi memacu maksimal 100 kilometer per jam (kpj), namun pengemudi malah melenggang hingga berkisar 100-120 kpj. Untuk contoh yang ini bisa jadi orang ngebut karena menganggap bahwa jalan yang ada cukup lengang. Selain itu, kendaraan yang dibawa memiliki peforma yang memadai untuk dipacu. Pastinya, orang sering mengaku memacu kendaraan karena ingin buru-buru tiba di tempat tujuan.

Padahal, aturan yang diwujudkan dalam bentuk rambu itu dibuat bukan tanpa alasan. Misal…

Lihat pos aslinya 219 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

pesan laka keadaban kita

BANYAK diantara kita pernah melakukan kesalahan. Entah kesalahan yang disegaja maupun yang tidak disengaja. Hal yang membedakan tinggal masalah volume, bobot, dan jenis kesalahannya. Wajar, manusia tempatnya salah. Kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa.

Saya termasuk yang pernah melakukan kesalahan, tentu termasuk saat berlalu lintas jalan. Misalnya, pada suatu ketika di perempatan yang jarang dilewati lampu pengaturnya berwarna hijau, langsung saja ancang-ancang belok kanan. Tapi….ternyata ada lampu penunjuk ke arah kanan yang ternyata berwarna merah. Opppsss…berhenti sejadi-jadinya. Sayangnya, posisi sudah melewati garis setop.

Apa pun alasannya, kejadian itu adalah kesalahan. Saya mencoba tobat. Tak akan mengulangi kesalahan seperti itu. Kata pepatah, hanya keledai yang melakukan kesalahan dua kali pada kasus yang sama.

Ya. Semua manusia pernah melakukan kesalahan. Tinggal persoalannya adalah maukah mengubah kekeliruan yang terjadi? Akankah justru melestarikan kesalahan tersebut?

Eloknya, kita mau belajar dari kesalahan yang ada. Kesalahan memberikan pelajaran amat berharga bagi kita semua untuk ke depannya…

Lihat pos aslinya 142 kata lagi

%d blogger menyukai ini: