Archive for Januari, 2015



Edo Rusyanto's Traffic

edo stc bdg 2015

BANYAK yang tabu untuk mengakui kekeliruan yang pernah dilakukan. Ada rasa malu yang tak terhingga jika ‘aib’ itu mengembara kesana kemari.

Situasi berbeda justeru saya temui di hadapan para guru atau para pengajar di Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka yang mengajar di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) itu sempat berdialog dengan saya di Workshop Road Safety in Schools yang digelar Save The Children (STC), di Hotel Scarlet Dago, Bandung, Selasa, 20 Januari 2015 pagi. Mereka mengungkapkan secara jujur perilaku mereka terkait keselamatan jalan.

Ajang yang digelar dua hari itu 20-21 Januari 2015 menjadi pintu masuk untuk mengajak para pengajar di sekolah untuk membangun sistem sekolah berkeselamatan jalan. “Besok, Rabu, 21 Januari 2015 ini kami juga akan membuat kegiatan serupa dengan para kepala sekolah,” papar Agnes, salah satu aktifis STC, saat berbincang dengan saya, Selasa pagi.

Lantas, apa ‘aib’ para guru itu?

“Ada guru yang naik sepeda motor…

Lihat pos aslinya 482 kata lagi

Iklan

Edo Rusyanto's Traffic

Menteng-20150122-03949

NASIB pejalan kaki atau pedestrian di Jakarta memang cukup dramatis. Banyak dari trotoar yang disediakan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta kondisinya tidak layak untuk dilintasi pedestrian. Risikonya, sang pedestrian terancam oleh berbagai bahaya, termasuk diserempet atau ditabrak kendaraan bermotor.

“Saat ini hanya sekitar 1.000 kilometer trotoar yang laik dilintasi dari sekitar 7.000 kilometer jalan yang ada di Jakarta,” ujar Alfred Sitorus, ketua Koalisi Pejalan Kaki, saat berbincang dengan saya di Jakarta, Kamis, 21 Januari 2015 pagi.

Dia menambahkan, saat ini, di Jakarta dapat dengan mudah ditemui fasilitas jalan kaki yang membahayakan dan tidak layak. Kondisi yang masuk kategori tersebut antara lain adalah tidak adanya fasilitas penyeberangan jalan, trotoar yang berundak naik turun, berlobang, dan terhalang tiang/pot bunga/pos polisi. Selain itu, dijadikan lahan parkir, tempat berdagang, jalur terputus, dan JPO curam.

Menurut dia, berjalan kaki adalah moda transportasi yang esensial dalam kota modern. Hal itu terutama terkait dengan peranannya dalam mengintegrasikan…

Lihat pos aslinya 245 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

ponsel bermobil

PERNAH menjumpai pengendara mobil maupun sepeda motor sambil berponsel di jalan raya? Apa yang ada di benak Anda?
Pasti beragam respons seseorang saat menjumpai pengemudi yang asyik berponsel sambil menyetir. Ada yang merasa kesal, prihatin, hingga acuh tak acuh. “Mobil-mobil dia, motor-motor dia, ponsel-ponsel dia, biarin aja dia mau ngapain,” kata seorang teman mengomentari pengemudi yang seperti itu.

Betul, itulah kira-kira respons apatis atas perilaku berponsel sambil mengemudi.

Pertanyaannya, apa yang ada di benak sang pengemudi yang asyik berponsel? Apakah dia tahu ada risiko tinggi akibat perilakunya itu? Bukan hanya risiko mencelakan dirinya, tapi juga mencelakan orang lain. Jika jawabannya tahu, kira-kira inilah apa yang disebut bahwa tahu saja tidak cukup. Tahu, tapi tidak peduli. Gawat.

Terkait perilaku berponsel sambil mengemudi, baru-baru ini ada yang cukup mengejutkan saya. Bagaimana tidak, dalam lima tahun terakhir terjadi lonjakan luar biasa kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aktifitas berponsel. Bila pada 2010…

Lihat pos aslinya 254 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

jasa raharja mobil_1

SEPANJANG tahun 2014 Indonesia masih dirundung duka. Anak negeri masih terus bergelimpangan di jalan raya. Tahun lalu, korban kecelakaan lalu lintas jalan sebanyak 73 jiwa per hari. Artinya, jika dikalikan 365, total korban meninggal dunia mencapai sebanyak 26.645 jiwa.

Kapolri Jenderal Sutarman pada awal Januari 2015 sempat menyebutkan bahwa angka korban tewas akibat kecelakaan tahun 2014 naik dibandingkan setahun sebelumnya. Saat saya buka data Korlantas Polri ternyata memang terjadi kenaikan sekitar 1,4%.

Nah, sekarang kita lihat data santunan yang dikeluarkan oleh PT Jasa Raharja sepanjang tahun 2014. Menurut perusahaan asuransi milik negara itu pada 2014 jumlah santunan untuk korban meninggal akibat kecelakaan sekitar Rp 791,15 miliar. Jumlah santunan tersebut memang mencakup untuk seluruh jenis angkutan, yakni jalan, kereta, laut, dan udara. Jasa Raharja tidak merinci berapa santunan yang untuk korban akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Pastinya, setiap korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan mendapat santunan sebesar Rp 25 juta…

Lihat pos aslinya 209 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

Operasi Zebra-tno5

PENGGUNAAN teknologi informasi dan elektronik dalam penegakkan hukum di jalan raya (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE) masih menghadapi lika liku. Entah kapan akan diterapkan di Indonesia. Padahal, Indonesia sudah punya dua payung hukum untuk memanfaatkan teknologi mutakhir untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat.

Payung itu mencakup Undang Undang (UU) UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dalam ayat 1 pasal 5 UU ITE disebutkan bahwa info elektronik dan atau dokumentasi elektronik dan atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang syah. Lalu, pada ayat 2 dinyatakan bahwa info elektronik dan atau dokumentasi elektronik dan atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang syah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Sementara itu, UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam ayat 1 pasal 272 UU tersebut ditegaskan bahwa untuk mendukung kegiatan…

Lihat pos aslinya 877 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

sim keliling_resize

SURAT Izin Mengemudi atau SIM merupakan mandat Negara kepada warganya. Lisensi mengemudi merupakan wujud pengakuan Negara terhadap kemampuan warganya untuk mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya.
Banyak fakta yang berceceran seputar SIM. Mulai dari persyaratan usia hingga proses perpanjangannya. Tulisan ini merangkum sebagian fakta-fakta yang berceceran tersebut.

1. Fungsi SIM
SIM berfungsi sebagai legitimasi kompetensi pengemudi, identitas pengemudi, kontrol kompetensi pengemudi, dan forensik kepolisian. Seseorang dianggap kompeten jika telah lulus ujian teori, ujian keterampilan melalui simulator, dan ujian praktik.

2. Persyaratan Usia
Persyaratan usia minimal seseorang memiliki SIM ternyata berubah-ubah. Dalam UU No 3 tahun 1965 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (LLAJR) yang diteken Presiden Soekarno pada 1 April 1965 disebutkan bahwa penerima SIM minimal berusia 18 tahun. Namun, pada era Presiden Soeharto, dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ditegaskan minimal 16 tahun untuk penerima SIM C, atau SIM untuk pengendara sepeda motor…

Lihat pos aslinya 341 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

gerbang cunang 2014

MENIKMATI semilir angin pegunungan dan sejuknya udara bersuhu 20-22 derajat celcius menjadi pengalaman tersendiri. Apalagi bagi orang seperti saya yang tinggal di Jakarta dengan suhu udara 30-an derajat celcius. Begitu menjejakan kaki di kawasan wisata Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat kesejukan yang menyegarkan di tengah hijaunya pepohonan membuat segala kepenatan raib.

Malam memasuki pagi, cuaca di kawasan kaki Gunung Salak cukup lembab. Gerimis yang menerpa kian membuat sekujur tubuh menjadi terasa seperti ditiup udara kulkas. Beruntung jaket yang membalut tubuh dapat sedikit mengurangi udara dingin yang menerpa. Usai memarkir sepeda motor, kaki melenggang ke bilik penginapan, Cunung Hill yang tepat terletak di pintu gerbang kawasan wisata Curung Nangka.

Resort yang memiliki kapasitas hingga 30 unit penginapan itu menyambut kami dengan keheningan malam. Para tamu tampaknya sudah terlelap dipelukan malam. Semilir angin masuk ke ruang-ruang penginapan sehingga tak perlu lagi fasilitas air conditioner (AC). Sebagian tamu tampak masih duduk-duduk di teras…

Lihat pos aslinya 565 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

boncengan bertiga dong

SAAT ini masih dengan mudah kita menyaksikan pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm pelindung kepala. Mereka wira-wiri di jalan raya, terutama di jalan kawasan pemukiman.

Penunggang kuda besi yang tak memakai helm tak mengenal gender, baik pria maupun wanita. Bahkan, tak mengenal usia, di antara mereka ada yang usia muda dan tua, termasuk para remaja dan anak-anak. Posisi mereka tak semata sebagai penumpang, tapi juga selaku pengendara.

Bagaimana soal pendidikan dan latar belakang ekonomi? Mereka juga tak mengenal kelas. Bayangkan, dari yang sekadar lulusan sekolah dasar (SD) hingga yang mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Dari sisi ekonomi, mulai yang pendapatan bulanannya sekadar buat makan dan minum, hingga yang pendapatannya bisa untuk berpelesiran ke luar negeri.

Soal alasan tidak memakai helm beragam. Mulai yang berdalih tidak punya helm, tidak ada penindakan dari petugas hingga jarak dekat. Untuk alasan yang terakhir ini termasuk yang sering kita jumpai di masyarakat kita…

Lihat pos aslinya 516 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

kopcau poster tahun baru 2015

MEREKA bukan sekadar berpangku tangan sambil menonton, apalagi sekadar berceloteh bak tong kosong nyaring bunyinya. Mereka orang-orang yang sudi berbuat, berbagi waktu, tenaga, biaya, dan pikiran, tanpa lelah. Sekali lagi, mereka berbuat nyata, bukan si pandir yang doyan berujar nyinyir dengan perbuatan nihil.

Kira-kira itu refleksi yang muncul saat mendengar rencana aksi dan aktifitas mereka selama ini terkait keselamatan jalan (road safety). Indonesia masih punya segudang pekerjaan rumah (PR) dalam hal meningkatkan perilaku berkendara yang aman dan selamat di jalan raya. Bagaimana tidak, pada 2013, masih 70-an jiwa melayang lantaran kecelakaan di jalan. Butuh kerja keras dan kerja cerdas untuk memangkas fatalitas.

Memasuki 2015, para akar rumput seperti Road Safety Association (RSA) Indonesia, Kopdar Pengicau, Independent Bikers Club (IBC) Jakarta, Kutu Vespa, maupun kalangan profesional seperti Forum Wartawan Otomotif (Forwot) dan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengaku terus menggelorakan road safety. Bahkan, para dunia usaha seperti Adira Insurance dan sejumlah media…

Lihat pos aslinya 248 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

mobil ringsek

MELAJU di atas batas kecepatan maksimal alias ngebut bisa berujung maut. Banyak kasus di jalan raya yang memperlihatkan bahwa ngebut setara dengan menjemput maut.

Pengalaman membuktikan bahwa ketika ngebut di jalan raya, kemampuan mengontrol kendaraan dan situasi sekitar menjadi berkurang. Di situlah letak celah lebar terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Repot.

Coba aja tengok data yang dilansir Korlantas Polri tahun 2013. Aspek mengemudi melampaui batas kecepatan menyumbang sekitar 13% pada kecelakaan di seluruh Indonesia. Tahun itu, setiap hari rata-rata ada 36 kasus kecelakaan yang dipicu aspek ngebut.

Aspek ngebut menjadi elemen ketiga terbesar pemicu kecelakaan di faktor manusia. Biang kerok utama masih perilaku tidak tertib, yakni sekitar 46% dan kedua, berkendara dalam kondisi lengah (32%).

Secara keseluruhan faktor manusia, pada 2013 menyumbang sekitar 91% dalam kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Faktor manusia menyumbang sekitar 250 kasus kecelakaan per hari pada 2013. Dahsyat kan?

Lantas, berapa batas kecepatan maksimal yang…

Lihat pos aslinya 532 kata lagi

%d blogger menyukai ini: