Archive for September 30, 2015



Edo Rusyanto's Traffic

menelepon sopir mobil

KEJADIAN ini sekitar dua bulan lalu. Di tengah ramainya arus kendaraan di sudut Jakarta Selatan terjadi pertengkaran kecil antar pesepeda motor. Adu mulut, tapi tanpa gesekan fisik.

Dari jarak sekitar lima meter saya menyaksikan gelagat tidak baik. Sepeda motor yang di depan saya tampak jalan melambat di jalur kiri. Kami berada di kiri, yakni ruang yang tersisa karena sebelah kanannya diisi antrean mobil. Sepeda motor yang melambat tadi tiba-tiba mencium sepeda motor di depannya. Usut punya usut, sang penabrak sesaat sebelum kejadian sedang asyik berponsel ria. Pandangannya tertuju pada layar ponsel. Entah apa yang sedang dilihat.

“Kalau naek motor liat-liat dong. Jangan sambil maen telepon,” sergah perempuan muda yang kuda besinya disundul sang pria muda, di Jakarta, suatu siang.

“Maaf mbak, nggak sengaja,” jawab sang pria yang tadi kedapatan tengah berponsel.

Tak ada dialog lain. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan masing-masing. Saya yang tadi ada di belakang mereka pun meneruskan perjalanan…

Lihat pos aslinya 183 kata lagi

Iklan

Edo Rusyanto's Traffic

casablanca-padat-tiang

KITA para pesepeda motor mesti kian ekstra waspada ketika berkendara di jalan raya. Bukan apa-apa, kecelakaan lalu lintas jalan masih terus menghantui jalan raya kita di Indonesia. Hingga semester pertama 2015, setiap hari rerata ada 253 kasus kecelakaan di negeri kita tercinta.

Ironisnya, dari total kecelakaan yang terjadi sepanjang enam bulan pertama 2015, sekitar 75% kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor. Inilah yang saya maksud wanti-wanti bagi kita para pesepeda motor. Sebagai sebuah ikhtiar, kita mesti menggandakan kewaspadaan saat berkendara.

Oh ya, bila per akhir Juni 2015 kontribusi sepeda motor sekitar 75%, pada periode sama 2014, kontribusinya masih sekitar 73%. Artinya, ada lonjakan sekitar 23% keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan di jalan.

Betul bahwa keterlibatan dalam kecelakaan bisa berarti dua hal, yakni sebagai pemicu atau pelaku kecelakaan atau sebagai korban kecelakaan. Bila kita melihat kasus tabrakan antara Kopaja dengan sepeda motor dan mobil di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, baru-baru…

Lihat pos aslinya 268 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

rambu kecepatan tol lengkap2

MELAJU dengan kecepatan tinggi di jalan raya berisiko besar. Wong melaju di area terbatas seperti sirkuit balapan aja risikonya gede, apalagi di jalan raya. Betul nggak?

Nah, fakta memperlihatkan bahwa pada semester pertama 2015 terjadi kenaikan kecelakaan yang dipicu faktor ngebut alias melampaui batas kecepatan. Pada periode itu kalau melihat data Korlantas Polri tercatat ada kenaikan sekitar 3% bila dibandingkan semester pertama 2014. Bila semula setiap hari terjadi 32 kasus kecelakaan, kini menjadi 33 kasus per hari.

Di dalam faktor manusia, berkendara melampaui batas kecepatan ternyata menyumbang sekitar 15% per akhir Juni 2015. Angka itu setara dengan dua dari sepuluh kasus kecelakaan lalu lintas jalan dipicu oleh faktor ngebut.

Melihat kondisi seperti itu komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) tergugah untuk mengajak publik tidak sembrono di jalan raya. Khususnya, tidak ngebut di jalan raya mengingat risikonya yang demikian tinggi. Ngebut bisa menyebabkan sang pengendara kesulitan mengendalikan kendaraannya. Ketika hal itu terjadi bukan…

Lihat pos aslinya 380 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

pelat ri 106 wamenhub

PELAT nomor atau tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) di Indonesia cukup beragam. Sejumlah di antaranya barangkali tidak begitu populer. Begitu juga dengan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK). Maksudnya?

Mari kita tengok di sekitar kita. Kalau pelat nomor yang diawali abjad tunggal seperti A, B, atau D, sudah biasa. Coba perhatikan pelat nomor berkode huruf ganda seperti RI, CD, CC, CS, atau CN. Apa pula itu?

Kepolisian RI lewat Peraturan Kapolri (Perap) No 5 tahun 2012 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor menyebutkan ada beberapa jenis pelat nomor. Untuk kode huruf awal tunggal kita mengenal misalnya, A untuk wilayah Banten, A (Jakarta), D (Priangan Timur seperti Bandung), dan E (Cirebon). Paling yang nggak ada di antaranya adalah C. coba ingat-ingat, C kode untuk wilayah mana?

Nah, kode huruf awal ganda RI adalah kode khusus untuk pejabat pemerintah Republik Indonesia, yakni mulai dari presiden, wakil presiden, menteri, hingga utusan khusus presiden…

Lihat pos aslinya 270 kata lagi

%d blogger menyukai ini: