Edo Rusyanto's Traffic

menelepon sopir mobil

KEJADIAN ini sekitar dua bulan lalu. Di tengah ramainya arus kendaraan di sudut Jakarta Selatan terjadi pertengkaran kecil antar pesepeda motor. Adu mulut, tapi tanpa gesekan fisik.

Dari jarak sekitar lima meter saya menyaksikan gelagat tidak baik. Sepeda motor yang di depan saya tampak jalan melambat di jalur kiri. Kami berada di kiri, yakni ruang yang tersisa karena sebelah kanannya diisi antrean mobil. Sepeda motor yang melambat tadi tiba-tiba mencium sepeda motor di depannya. Usut punya usut, sang penabrak sesaat sebelum kejadian sedang asyik berponsel ria. Pandangannya tertuju pada layar ponsel. Entah apa yang sedang dilihat.

“Kalau naek motor liat-liat dong. Jangan sambil maen telepon,” sergah perempuan muda yang kuda besinya disundul sang pria muda, di Jakarta, suatu siang.

“Maaf mbak, nggak sengaja,” jawab sang pria yang tadi kedapatan tengah berponsel.

Tak ada dialog lain. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan masing-masing. Saya yang tadi ada di belakang mereka pun meneruskan perjalanan…

Lihat pos aslinya 183 kata lagi