Archive for Februari, 2016



Edo Rusyanto's Traffic

ele dan konvensional1

PENGGUNAAN elektronik dalam menindak pelanggaran aturan lalu lintas jalan rasanya kian mutlak.

Tiga tahun lalu, saya ingat pernyataan Komisaris Besar (Kombes) Polisi Chrysnanda Dwi Laksana terkait penggunaan elektronik dalam penegakan hukum (electronic law enforcement/ELE) di jalan raya. Dia menegaskan bahwa perdebatan-perdebatan yang muncul di jalan raya terkait penindakan atas pelanggaran aturan bisa dipangkas. Bahkan, penggunaan elektronik juga dapat memupus upaya kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Banyak faedah lain dari ELE. Chrysnanda pernah mengatakan, sistem itu bisa memantau situasi lalu lintas jalan 24 jam terus menerus. Lalu, penggunaan personel bisa dikurangi sehingga dapat dimanfaatkan untuk tugas-tugas lain. Selain itu, semua pelanggaran dapat termonitor dalam waktu bersamaan. Dan, meminimalisasi kemacetan karena serta memudahkan dalam pembuktian.

Kini, di tengah tingginya kendaraan bermotor di jalan raya serta kian transparannya kehidupan masyarakat, penerapan ELE tak bisa ditunggu-tunggu. Dalam mengimplementasikan ELE setidaknya dibutuhkan kamera pengawas, laser scanner, speed gun, server data yang cukup besar, dan sinergi…

Lihat pos aslinya 49 kata lagi

Iklan

Edo Rusyanto's Traffic

laka motor_tmcpoldametro

TAHUN 2015, kasus tabrak lari di Jakarta dan sekitarnya melonjak 19% menjadi lima kasus per hari dibandingkan setahun sebelumnya. Sekitar 9% korban kasus tabrak lari di jalan raya berujung pada kematian.

“Data tabrak lari relatif cukup tinggi menjadi indikator bahwa kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan hukum relatif masih rendah,” ujar Kasubdit bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulisnya, di Jakarta, Senin (1/2) malam.

Wilayah Polda Metro Jaya mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Tahun 2015, setiap hari rata-rata terjadi lima kasus tabrak lari. Sedangkan setahun sebelumnya rerata empat kasus per hari.

“Tabrak lari adalah termasuk dalam tindak pidana kejahatan,” tegas Budiyanto.

Dia menambahkan, tabrak lari melanggar pasal 316 ayat ( 2 ) UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ)

Di sisi lain, data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan yang pelakunya melarikan diri tercatat menurun pada 2015…

Lihat pos aslinya 257 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

ponsel mengemudi brussel_youtube

FAKTA data memperlihatkan bahwa setiap hari, rata-rata ada satu kasus kecelakaan lalulintas jalan yang dipicu aktifitas berponsel sambil mengemudi. Itulah salah satu sisi kelam jalan raya Indonesia.

Kondisi nyaris serupa terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, rerata terjadi dua kasus kecelakaan setiap harinya.

Fakta lain terungkap dari sebuah tempat latihan mengemudi di Brussel, Eropa. Sang pria pendamping memaparkan tentang risiko mengemudi sambil berponsel. Beragam reaksi pengemudi saat menjajal berponsel sambil mengemudi.

“Sangat tidak mungkin (mengemudi sambil berponsel),” ujar perempuan pengemudi.

Bahkan, ada pengemudi pria yang berujar, “Orang-orang bisa terbunuh di jalan raya.”

Selengkapnya bisa lihat di link ini.

Kecelakaan bisa saja terjadi lantaran sang pengemudi menelepon atau membaca dan mengirim SMS. Perhatian sang pengemudi amat mungkin teralihkan dari konsentrasinya dalam mengemudi. Kalau sudah begitu bukan mustahil sang pengemudi menjadi obyek atau subyek kecelakaan lalu lintas jalan.

Oh ya, ide menggulik link di atas…

Lihat pos aslinya 15 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

rambu batu1

PEMERINTAH wajib menyediakan rambu dan marka jalan. Kelengkapan infratruktur jalan itu diharapkan mampu membuat para pengguna jalan menjadi lebih selamat, serta aman dan nyaman. Tentu dengan catatan, rambu dan marka jalan tadi ditaati oleh para pengguna jalan. Bagaimana jika tidak ditaati?

Di salah satu sudut Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, persisnya sebelum Kedutaan Besar Belanda, banyak tersebar rambu jalan. Mulai dari rambu yang menyatakan ada halte bus, larangan berhenti, larangan berbelok kiri hingga larangan masuk.

Nah, di jalan yang persis di samping halte bus, bahkan dipasang dua rambu, yakni larangan berbelok kiri dan larangan masuk. Jalan itu tak lebih dari 100 meter setelah perempatan Jl HR Rasuna Said yang bertemu dengan Jl Gatot Subroto. Rambu tadi tampaknya dibuat agar tidak terjadi antrean kendaraan yang hendak berbelok ke kiri. Pasalnya, antrean tadi menciptakan kemacetan yang ekornya hingga menjelang jalan menuju kawasan bisnis terkemuka di Jakarta itu.

Oh ya, jalan yang…

Lihat pos aslinya 159 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

polantas cawang

KENDARAAN bermotor yang memakai pelat nomor tak sesuai ketentuan bakal ditindak. Tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) alias pelat nomor telah diatur dalam UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Akan dilakukan penindakan terhadap kendaraan bermotor yang menggunakan TNKB tidak sesuai dengan SPEKTEK,” kata Kasubdit Bin Gakum Ditlantas PMJ, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis WA yang saya terima Kamis, 11 Februari 2016 malam.

Menurut dia, berdasarkan pengamatan di lapangan masih banyak ditemukan kendaraan bermotor yang menggunakan TNKB tidak sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. “Sehingga memberikan kesan masyarakat kepada petugas Polantas kurang profesional karena membiarkan atau tidak mau/mampu menertibkan,” tuturnya.
Budiyanto menjelaskan, penggunaan TNKB yang tidak sesuai ketentuan mencakup;

1.TNKB yang hurufnya diatur, angka diubah supaya terbaca/angka diarahkan
kebelakang sehingga terbaca nama.

2.TNKB yang hurufnya diubah seperti huruf digital.

3.TNKB ditempel stiker / logo /lambang Kesatuan/Instansi yang terbuat dari plastik/logam/kuningan pada kendaraan pribadi, seolah-olah kendaraan pejabat.

Lihat pos aslinya 237 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

trail polisi

JALAN raya di Jakarta dan sekitarnya masih diwarnai kecelakaan lalu lintas jalan. Bahkan, pada 2015, kasus kecelakaan meningkat sekitar 8% menjadi sekitar 18 kasus per hari.

Kecelakaan demi kecelakaan yang terjadi dinilai sebagai ekses dari pertumbuhan kota yang kian modern. Maksudnya, pertumbuhan ekonomi yang mendorong daya beli membuat jumlah kendaraan bermotor pun ikut menggeliat. Jakarta dan sekitarnya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), kini dihuni 18,7 juta kendaraan bermotor. Jangan bandingkan dengan tahun 1970-an yang tentu saja populasi penduduk dan pertumbuhan ekonominya tak sedahsyat saat ini.

“Tahun 2015, jumlah kendaraan bermotor tumbuh 7%,” papar Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis WA nya kepada saya, di Jakarta, Sabtu, 13 Desember 2016 siang.

Meruyaknya jumlah kendaraan bermotor di wilayah Polda Metro Jaya berdampak pada terus terjadinya kecelakaan di jalan. Selain, tentu saja berdampak pada kemacetan lalu lintas jalan. Khusus soal kecelakaan, kita tahu bahwa mayoritas…

Lihat pos aslinya 173 kata lagi


Edo Rusyanto's Traffic

koboi jalanan vivacoid 2010

LIMA tahun lalu saya pernah membaca sebuah judul berita menggegerkan di media online. Berita berjudul ‘Pengendara Motor Tembak Sopir Metro Mini’ itu menjadi perbincangan yang cukup ramai tahun itu. Kini, setelah lima tahun ternyata jalan raya kita masih menyimpan cerita yang sama.

Jalan raya kita seperti sumbu pendek. Disulut sedikit saja, meledaklah dia.

Pengguna jalan yang emosional begitu mudah kita jumpai. Entah lantaran sesaknya emosi di dada karena menghadapi kemacetan lalu lintas jalan. Atau, karena situasi kehidupan yang kian karut marut. Emosi para pengguna jalan bisa muncul tiba-tiba. Ada yang main kepruk, ada yang adu sikut, bahkan ada yang main tembak. Ngeri.

Beringasnya jalan raya kita bahkan terpotret oleh bertumbangannya 70-an pengguna jalan akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, pemicu utama hadirnya petaka jalan raya itu lantaran sang pelaku berkendara ugal-ugalan. Berkendara yang melanggar aturan demi kepentingan diri sendiri membuka celah terjadinya kecelakaan. Misal, menerobos lampu merah atau melawan arus.

Lihat pos aslinya 272 kata lagi

%d blogger menyukai ini: