Archive for Januari, 2018



P_20180103_171524_HDRdila

Hi Salam Wild Life Gaess!Cerita perjalanan itu terusan dari liburan setelah libur tahun baru 2018. Langsung saja cerita sebelumnya kan dari wisata gunung api purba menuju ke pantai selatan gunung kidul lebih tepatnya menuju pantai nglambor yang masih  satu kawasan dengan pantai siung dan timang.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1.5 jam perjalanan karena mungkin hari itu tidak seberapa padat tapi diikuti hujan di beberapa tempat saja. Sampai pantai pintu masuk pantai siung bayar tiket idr 10k saja kemudian masuk ke kawasan wisata. Selama perjalanan di sebelah kanan jalananda akan disungguhkan plakat-plakat menuju pantai timang dan hardtop yang siap mengantar anda ke pantai Timang. Setelah itu ada disebelah kanan arah pantai Jogan, Kemudian baru Pantai Nglambor, Kalau diteruskan notok jalan anda akan berhenti di Kawasan pantai Siung.

map diygungpurbanglambor

Karena tujuan awal kami pantai nglambor kami masuklah ke area pantai kemudian pilih tempat parkir yang agak kedalam biaya parkir 3k saja. Kemudian jalan-jalan kaki menuju kepantai awalnya kami hanya berniat melihat spot snorkelingnya saja tapi tidak berniat snorkeling karena hari sudah sangat sore keinginan kami saat itu hanya menikmati sunset karena cuacanya sedang bagus-bagusnya untuk menikmati sang surya tenggelam.

Jadi sembari menunggu matahari tenggelam kami foto-foto saja pemandangan di pantai nglambor ini dari jarak jauh. Karena bila masuk-masuk spot tertentu masih bayar-bayar lagi…hehehe…misal setiap spot selfie disana dihargai 2k , jembatan selfie 5k, garden beach 5k, jembatan ke pulau 1 30k, jembatan gondola ke pulau 2 120k, snorkling 45k tapi sudah dapat peralatan dan cetak foto, kalau menurutku sih mending snorkling saja cuman 45k tapi itupun kalau kondisi lautnya lagi pas biasanya yang bagus sih jam 9 pagi sampai jam 1 siang. Belum lagi harga makanannya dan minumannya yang random atau tak bisa ditebak. Kadang harga makanannya murah minumnya yang mahal atau sebaliknya jadi kalau mau jajan disana mending lihat menunya dulu ada harganya atau tidak atau lebih baik bawa bekal sendiri saja. Terus ada warga yang berkeliling membawa kamera slr terus tiba-tiba foto jika anda bilang bagus hasilnya akan dicetak dan anda harus bayar ya seperti saat digedung pernikahan atau carnaval itu lo. Terus ada ojek dari parkiran 5k sekali pakai. Jika ada 100 orang saja sehari. Wow!makmur benar masyarakat disana.

Sistem pengelolaan Wisata pantai di gunung kidul dan untuk sekitarnya sekarang kurang lebih sama seperti yang saya jelaskan di atas jadi misalnya ada spot pantai di jatim atau wonogiri yang masih alami dan pengelolaan tiket wisatanya murah meriah wisatawan akan berbondong mencari wisata itu sampai jalan pantai selatan kadang kalau saat liburan terasa sangat padat dan macet. Untung saja saat itu kami berlibur pada jam kerja..hehehehe.

Tapi keindahan Yogyakarta mengalahkan komersil wisatanya kok kalian suatu saat akan kangen lagi dan pengin kesini lagi..hehe..hehe

Oh iya kalau mau lihat postingan kami tentang keadaan pantai siung di 2011 boleh mampir kesini ya http://www.suetoclub.com/2015/07/pantai-gigi-taringsiung-gunung-kidul.html

Puas menikmati sunset kami pun bergegas kembali ke jogja untuk beristirahat sempat singgah ngopi di bukit bintang tanpa beli jagung bakar karena kalau sama jagung bakar harganya sudah beda..hahaha.  Sampai di Jogja Menuju Penginapan Besoknya Jalan-jalan kota sebentar. Jam 3 kami pulang dari Jogja setengah 9lebih kita sampai Surabaya.

map diygungpurbanglamborsby

Ini dokumentasinya :

DCIM

 

Terima kasih terima kasih atas semua supportnya dari rekan-rekan pembaca dan suetoclub tim akhirnya setelah sekian lama ada posting lagi untuk awal tahun 2018 ini. See you the next trip Gaess!

Berikut Videonya :


IMG_20180108_175932_071dila

Hi Gaes Salam wildlife!Masih suasanan liburan tahun baru dan memang sebagian sudah ada yang masuk kantor tapi masih ada yang libur jadi kami memanfaatkannya untuk meneruskan liburan ini ke Jogja tahun sendiri Jogja kalau waktunya liburan sudah macet dimana-mana kalau sudah ada yang sebagian kerja wisata Jogja kan jadi gak seberapa ramai.

Perjalanan dari Tulunggagung kami pilih rute via Tulungagung-Trenggalek(yang istri bupatinya arumi bachin itu lo)-Ponorogo-Wonogiri-Klaten-Prambanan-yogyakarta lama perjalanan sih sekitar 5jam berangkat jam 1 siang sampe Jogja sekitar jam 5 sore lebih menjelang magrib.

Karena sudah kecapean kami putuskan malam itu keliling kota Jogja saja baru kemudian paginya explore Gunung Kidul yang tujuan utamanya adalah Puncak Gunung Api Purba Ngelanggeran dan Pantai Nglambor.

Pagi Sekitar jam 9 pagi kami berangkat dari penginapan. Rutenya bisa dilihat di google map. Kalau perjalanan tidak sampai 1jam sekitar 45 menit dari pusat kota.

Masuk Kawasan wisata gunung api purba anda akan dimanjakan dengan pemandangan pedesaan yang asri. Namanya desa wisata ada beberapa wisata yang bisa kunjungi disini misalnya pendakian gunung api purba, embung ngelanggeran, curug, air terun banyunibo dan kedungkandang.

Saat itu yang kami kunjungi adalah puncak gunung api purba, parkir dan bayar tiket masuk sebesar idr 32k sudah separkir motornya. Kami prepare dan bersiap mendaki, jalur pendakiannya di bagi dua alur untuk mendaki dan jalur untuk menurun, keduanya mempunyai medan berbeda, yang jalur pendakian bisa sedikit extreme dan memacu adrenalin yang jalur menurun sedkit memutar dengan track yang datar.

Untuk sampai puncak di ketinggian 700mdpl saja dari loket masuk membutuhkan waktu sekitar 1-1.5jam saja tergantung kemampuan personel masing-masing dan diperjalanan pendakiannya ada spot-spot yang memang dibangun untuk berfoto selfie. Kalau tidak salah ada 3 pos yang bisa dibuat untuk singgah beristirahat menikmati pemandangan disekitarnya.

Sampai di puncak gunung api purba anda akan disungguhkan pemandangan gunung kidul, embung ngelanggeran dari atas gunung, juga gunung api purba yang sebelahnya yang tampak sama tingginya, kota jogja dan yang menakjubkan tentunya pemandangan gunung merapi dan merbabu jika suasana sedang bagus-bagusnya. Menurut kami semua kelelahan itu terbayarlah.

Puas menikmati puncak kami turun melewati jalur menurun kedua, di pos 2 jalan menurun ada hutan rumah kera, kemudian jalur untuk menuju ke parkiran agak sedikit memutar tapi jalannya masih dalam tahap pembangunan dan melewati ladang perumahan warga.

Sampai di parkiran kami mandi sejenak karena memang fasilitas seperti wc, warung sudah lengkap. Setelah segar kembali kamipun bersiap melakukan perjalanan jauh menuju pantai selatan gunung kidul.

Boleh dilihat Dokumentasi berikut ini :

Trims Langsung lanjut ceritanya di part 2 Yah..

Berikut Videonya :

V

Video 2


DCIM

Ranu Gumbolo

Salam wildlife Gaes!Cerita ini lanjutan dari dari part 1 dan masih di Tulungagungkok. Hari ini rencana kami menuju Ranu Gumbolo tapi sarapan dulu. Setelah sarapan sekitar jam 9 pagi kami berangkat. Lokasinya Ranu Gumbolo dekat dengan waduk Wonorejo. Bayar tiketnya cuman Rp 10k saja. Ranu Gumbolo ini tempatnya seperti taman hutan pinus yang telah dikelola pihak perhutani.

Rute Google Map Kalau dari Surabaya :

Perjalanan dari tempat parkir ke tempat view yang katanya mirip ranu kumbolo ini dekat hanya 200meter saja. Pengelolaan tempatnya sudah bagus warung-warungnya juga murah. Via hutan pinusnya juga sudah instagramable abis cuman sayang waktu itu kondisi air sungainya lagi surut jadi view ranu kumbolonya jadi tidak ketemu atau tak terlihat tampak seperti ranu kumbolo..hahaha..padahal malamnya juga sudah hujan deras.

Setelah puas mendokumentasikan keindahan alam sekitar kamipun bertolak kembali pulang ada yang meneruskan perjalanan ke Surabaya ada yang melanjutkan wisata menuju yogyakarta.

Berikut Dokumentasinya :

Tunggu cerita perjalanan saat di Yogyakarta ya Gaes..

Berikut Videonya


HI Gaes Salam Wildlife!Sudah lama tak posting cerita perjalanan..

Touring kali ini adalah menyambut kemeriahan natal dan tahun baru 2018..Menyosong masa depan yang lebih cerah dengan terus mengexplore keindahan tanah air Indonesia.

Target utama adalah menghindari aktifitas kemeriahan di kota dan menikmati camping di pedalaman. Tujuan kali ini adalah “Pantai Coro dan Banyu Muluk Tulungagung”

Start tanggal 31 pagi tim Sueto yang ikut ada  9 orang.

Berangkat dari Surabaya menuju dari jam 11.00WIB Tulungagung. Rutenya Surabaya-Krian-Mojokerto-Mojowarno-Pare-Kediri-Tulungagung-Campur darat-Besuki-Besole-Pantai Coro Sampai di Campur darat prakiraan waktu itu sekitar jam 5 sore sempat makan siang sejenak di pare. Masuk kawasan wisata pantai popoh sekitar jam setengah 6 magrib.

Rute Google Map :

Saat itu pemandangan langit termasuk kategori amazing cuaca cerah. Menikmati sunset adalah menu favorit. Kemudian setelah mathari tenggelam kami masuk melalui jalan baru ke pantai coro. Untuk saat ini cara masuk ke pantai coro ada dua jalur lewat pantai popoh. Jalur pertama lewati kawasan pantai popoh masuk retribusi wisata pantai popoh kemudian baru retribusi pantai coro kemudian parkir boleh jalan kaki boleh pakai ojek. Jalur kedua yang kami lewati dari bukit pandang sebelum masuk kawasan wisata pantai popoh kami lewat jalan makadam yang rencana akan dibangun untuk akses langsung ke pantai coro perjalanan sekitar 3-4km kemudian ketemu pos retribusi pantai coro, boleh parkir sepeda, terus jalan kaki naik ojek boleh imbal barang bila mau camping di pantai coro tapi untuk beberapa sepeda saja.

Tujuan saat itu adalah camping di pantai coro akhirnya kami coba masukkan 2 sepeda motor untuk imbal barang dan penumpang ke pantai jaraknya sih lumayan sekitar 500meter tapi jalannya curam dan makadam untung tidak hujan saat itu.

Setelah itu motor kami parkirkan di warung kemudian jalan kaki sekitar 200meter saja untuk ke pantai coro. Awal keinginan kami ingin ngecamp di banyu muluk tapi kondisi saat itu terasa mistis..hehe akhirnya kami ngecampnya di sekitar pantai coro saja tapi di tempat yang agak tinggian biar dapat view pantai dari atas.

Waktu berlalu tenda didirikan, api unggun di nyalakan, guyonan khas suroboyo di obrolkan, kamera disiapkan, waktu berasa lama menunggu detik-detik pergantian tahun dengan ditemani para nyamuk sambil bakar-bakar apa saja yang bisa dibakar dan hujanpun tak menentu kadang deras kadang cuman gerimis. Banyak cerita mistis disini yang tak bisa diceritakan kemudian beberapa Jam pun berlalu dan akhirnya ini lah yang kami tunggu-tunggu malam pergantian tahun dengan sedikit gemuruh kembang apinya. Harapan-harapan di tahun depan pun kami panjatkan satu-persatu keinginan untuk selalu bersama disetiap rintangan membuat semangat positif para personel sueto tim saat itu.

Tahun barupun terlewati kami bersiap istirahat untuk penjelajahan esok lusa. Satu tenda isi 6 terasa lapang saat kami isi orang 9 hahaha…cuaca hujan yang tak menentu, serangan perangdunia nyamuk ke 3, bintang yang kadang malu menampakkan gemerlipnya, bula purnama yang belum sempurna dan angin yang tak berhembus sama sekali menggambarkan betapa beratnya rintangan kami esok…hahaha.

Di Pagi harinya sebagian tim segera bersiap untuk menjelajah wisata berikutnya yaitu banyumuluk yang pesonanya mengundang misteri dari tadi malam dan sebagian tim lainnya turun ke pantai untuk merasakan nikmatnya air laut pantai coro.

   Banyumuluk dari pantai coro jaraknya tak jauh sekitar 200meteran. Kenapa dijuluki banyu muluk(dalam bahasa indonesia berarti air naik) karena disini banyak air sampai atas batuan karang yang naik karena hempasan ombak yang menabrak karang dan didalam batuan karang ini ada semacam gua yang membuat bunyi hempasan airnya khas. Tidak ada apa-apa di area ini hanya gradasi tumbuhan-tumbuhan dan bentukan karang yang bagus. Kalau anda mengharapkan warung tidak ada. Warung hanya banyak di pantai coro. Berikut Dokumentasinya :

Coro Beach

Pantai Banyu Muluk

Kemudian jika dari banyumuluk anda meneruskan perjalanan ke arah timur sekitar 400m anda akan menemukan pantai dadap tapi pada saat itu hujan dan kami tak sempat untuk explore lebih jauh hanya bisa menikmati dari layar video saja.

Kembalilah kami ke pantai coro saat melihat cuaca sedang tak bersahabat. Bermandi ria dengan ombak di pantai coro yang tak pernah tenang. Membuat dokumentasi sebentar sebelum siangnya kami akan prepare kembali ke salah satu rumah singgah rekan kami di waduk wonorejo.

Ternyata firasat kami benar semakin siang hujan semakin deras jalannya pun sudah jelas sangat menantang jalan kakipun terasa sulit karena memang aksesnya tidak digarap dengan cepat tapi lucunya dengan kondisi jalan seperti itu antusias pengunjung semakin siang semakin rame berdatangan tidak perduli bapak-bapak atau ibuk-ibuk paruh baya.

Masalahnya adalah medan karena 2 motor kami masuk ke medan tempur kalau jalannya tidak hujan medan offroad kami sikat saja tapi kalau hujan ya sudah gotong-royong pun akhirnya di perlukan disini..hehe..jalanan lumpur dan berbatu kami libas dengan tipikal ban no tahu..hasilnya banyak motor terhambat lumpur frontfendernya..haha..untung kami segera menemukan kali yang mengalir dan kami bersihkan semua kuda-kuda besi yang bermandi lumpur untuk bersiap ngegas ke pusat kota tulungagung.

Sekitar habis isya kita makan malam dan sampai di waduk wonorejo yang denger-denger sebelahnya ada ranu kumbolo..eh bukan ranu gumbolo..

Malam itu setelah beristirahat sejenak ada sebagian kru ada yang bertolak pulang karena keesokan hari kembali mencari nafkah ada yang tetap beristirahat agar besok paginya bisa explore tempat-tempat wisata lain seperti Ranu Kumbolonya Tulungagung..

Tunggu Next Part cerita perjalanan kami Gaess…

Berikut Videonya :

Video 2

The Unclimbing


I may not have summited the mountain, but I did discover the amazing wonders of the pee bottle. I would not have thought it possible for women. I’ve long heard about men peeing in bottles while on the road and I was always envious. With years of camping, hiking, and cycling under my belt, I […]

via The Unclimbing — Inner Workings of My Mind

%d blogger menyukai ini: