Tag Archive: Banten



Perjalanan Kami teruskan menuju Cilegon perjalanan sekitar 15-20menit nyampe kota  Cilegon…..Hmm kota yang besar sedikit kaget masak Cilegon ada Cinema 21 Serang sebagai ibu kota tidak ada ha2…Sambil jalan2 dikota menghabiskan malam kami mampir ke foodcourt didaerah komplek KS(Krakatau Steel)

Yahh…sambil melepas lelah di foodcourt di sini juga bisa melihat pemandangan kota Cilegon pada malam hari…malam semakin larut kami pun mulai mengantuk dan bersiap tuk kembali ke Serang sebenarnya masih banyak tempat di Cilegon yang patut dikunjungi  misalnya Bukit Pemancar 

imageDari sini kita bisa melihat pemandangan di kota cilegon dan kawasan industri bahkan rawa danaupun dapat kita lihat dari atas bukit. Udarapagi hari di bukit ini masih segar karena sepanjang perumahanan banyak pohon-pohon besar yang mengitari sepanjang jalan.

Krakatau Junggle Park

imageArena rekreasi di pusat kota ini dikelola olah PT.KIEC yang berada di JL. kalimantan tepat di depan Hotel Permata Krakatu Cilegon. Suasana asri dapat di nikmati bagi keluarga yang ingin berekreasi dekat dengan pusat keramaian kota diwaktu hari libur, di Krakatau Jungle Park terdapat arena Outbond (flying fox, jembatan burma dll),sepeda air, Motor ATV, lokasi memancing ikan air tawar serta camping ground.

Batu Lawang-Merak 
imageBatulawang merupakan sebuah perkampungan yang berada di atas puncak gunung yang berada pada perbatasan kecamatan grogol dan pulomerak berjarak kurang lebih 10 Km dari Merak. Di perkampungan batulawang ini terdapat batu besar jalan yang membe lah antara kedua gunung yaitu gunung batur dan gunung gede yang berbatasan dengan Bojonegara dan Merak.Tepatnya terletak di gunung pengobelan Merak dapat kita lihat celah-celah bebatuan yang sangat besar. sehingga kp. batulawang di ambil dari nama batu yang sangat besar membelah kedua jalan antara gunung batur dan gunung gede yang dijadikan pintu atau lawang.

Selain kita menjumpai batu mirip kodok, ada pula celah-celah gunung dengan kemiringan 80 derajat yang menjulang tinggi yang bisa dilihat dari atas batu lawang. Jika kita berjalan kaki dari arah merak ke batulawang berjarak kurang lebih 3 Km, terdapat sumber mata air yang keluar dari celah batu dengan debit cukup deras pada musim penghujan.

Sumber mata air tersebut mirip dengan air terjun tetpi dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi tetapi dengan air yang cukup jernih. Dengan ketinggian hanya 5 meter dari jalan dari Tempat kita berdiri. Sumber mata air tersebut berasal dari celah bebatuan yang berada di sekitar pegunungan batulawang tersebut. Sepanjang tahun 2009 jalan menuju batulawang dari pasar lama Merak dekat pelabuhan penyebrangan Merak sudah bisa digunakan untuk kendaraan bermotor karena sudah di aspal sampai ke Kampung Batulawang, lain halnya lima tahun yang lalu jalan menuju batulawang masih setapak dan berbatu sehingga sulit dilalui oleh kendaraan bermotor lebih lagi pada musim hujan jalan tersebut sangat licin dan terjal sehingga berbahaya untuk dilewati oleh kendaraan bermotor.

Jika kita hobi dengan hiking ataupun joging, tempat tersebut cocok untuk jalan santai dan sebagai joging trek karena masih berada diatas pegunungan yang berhawa cukup sejuk karena cukup jauh dari kawasan industri di wilayah Cilegon dan sekitarnya, serta bisa melihat pemandangan indah dari atas pegunungan Kampung Batulawang.

WaterBoom 
imageKolam renang yang dahulu di peruntukkan hanya untuk club kolam renang krakatau saja dan sering digunakan sebagai sarana event perlombaan renang baik kota Cilegon maupun provinsi Banten karena sesuai standar Internasional, kini kolam renang permata krakatu yang dahulu bernama Krakatau Country Clubmelengkapi arena bermain air di kolam bagian bawah dan di buka waterboom untuk umum sejak tahun 2009 lalu sebagai sarana rekreasi dan wisata permainan air yang di kelola oleh PT.KIEC.Kolam renang waterboom tersebut terdapat 4 kolam renang, diantaranya 1 kolam dengan kedalaman 1 M untuk arena seluncur air yang dialiri air yang cukup deras pada arena tersebut dengan ketinggian 20 M berbentuk seperti ular terdapat 3 belokan yang terbuat dari bahan fiber berwarna merah dan ketinggian 10 M berbentuk seperti ular terdapat 2 belokan yang terbuat dari bahan fiber berwarna kuning yang ditopang oleh besi baja dengan ketinggian 20 M.

Selain itu terdapat kolam pemandian untuk anak-anak dengan kedalaman 60 Cm di tengah kolam terdapat prosotan air yang diatasnya terdapat ember raksasa yang menampung air yang cukup deras dengan durasi 1,40 Menit secara terus menerus akan menumpahkan diri dan menyebarkan percikan air yang kencang disekeliling arena kolam tersebut.

Kolam pemandian khusus anak-anak terdapat dibawah turunan tangga dari kolam renang Atlit dengan kedalaman 60 cm yang diperuntukkan khusus anak-anak saja dan sebelah utara terdapat kolam pemandian anak-anak dan dewasa yang dibatasi pelampung pembatas untuk memisahkan yang dalam dan dangkal dengan kedalaman 1 M dan 1,5 M. Rata-rata kolam renang waterboom tersebut berbentuk oval tak beraturan berlekuk yang memudahkan pengunjung untuk turun ke kolam karena semakin ke pinggiran kolam maka lantai kolam renang tersebut menjadi landai sehingga anak dibawah 5 tahunpun tidak membahayakan jika akan berenang dan bermain di arena waterboom tersebut karena menyesuaikan dengan kebutuhan pengunjung dari dewasa hingga anak balita.

Rekreasi air ini dapat melihat suatu keindahan dengan penataan lokasi yang cukup apik dan bersih serta dapat menikmati fliying fok yang melintas diatas arena waterboom tersebut serta motor ATV di samping areal kolam renang yang di peruntukan bagi anggota klub renang dan perenang dewasa.

Lokasi waterboom permata krakatau berada di Jl. KH Beji yang berdekatan dengan kantor KIEC Cilegon, jarak dari pintu tol cilegon Timur 7 Km dan dari pintu tol Cilegon Barat 5 KM

Rawa  Arum-Merak

image

Sebuah situs rawa yang belum banyak orang di luar Kota Cilegon tahu bahkan untuk sebagian warga Cilegon yang sudah lama menetap sekalipun, hal ini dikarenakan letaknya yang cukup tersembunyi di antara padatnya rumah penduduk. Rawa Arum merupakan sebuah nama desa di Kecamatan Pulo Merak yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat Pemerintahan Kota Cilegon.

Cukup mudah untuk menuju Desa Rawa Arum dimana letak Situs Rawa tersebut berada yaitu dari arah Kota Cilegon berkendaraan menuju ke arah jalan Raya Cilegon Merak kurang lebih 5 Km atau bagi orang yang melalui Tol Jakarta-Merak keluar di pintu Tol Cilegon Barat lalu mengarah ke arah jalan Pelabuhan Merak sekitar 3 Km dari pintu tol.

Sedikit cerita yang ada di balik asal muasal Situs Rawa Arum terbentuk, berawal ketika gunung Krakatau meletus sekitar tahun 1883 bertepatan dengan tragedi pembrontakan rakyat Cilegon kepada pemrintahan kolonial Belanda yaitu Geger Banten 1883 yang di pimpin Oleh KH Wasid. Rawa arum terbentuk sebagai akibat dari proses alam karena letusan gunung Krakatau yang sebagian sejarah dunia mencatat sebagai letusan gunung yang terbesar setelah Gunung Tambora dengan efek ledakan 100.000 kali bom atom yang di jatuhkan di Hirosima Jepang. Bersamaan dengan meletusnya gunung krakatau, tsunami besar terjadi sehingga menyebakan banjir bandang di beberapa wilayah pesisir yang berdekatan dengan laut yang sekarang di sebut selat sunda dan salah satu tempat yang tenggelam itu adalah desa Telaga Arum. Telaga Arum di perintah oleh seorang Ki Ageng yaitu Ki Ageng Ireng yang masih berkerabat dekat dengan Sultan Pelembang.

Singkat cerita, setelah sekian lama banjir yang menenggelamkan wilayah pesisir selat sunda surut tetapi tidak demikian dengan desa Telaga Arum, masih tetap tergenang oleh air yang kemudian di atas air yang menengelamkan desa Telaga Arum menjadi sebuah rawa yang kemudian di tumbuhi oleh tanaman teratai yang berbunga putih dan menyebarkan bau yang sangat harum sehingga oleh Ki Ageng Ireng rawa itu disebut dengan nama Telaga Arum yang akhirnya sekarang lebih di kenal dengan nama Desa Rawa Arum. Dan oleh Ki Ageng Ireng di genangan yang terbentuk di sebarkan bening ikan sepat siam yang di bawanya dari Pelambang kala itu. Saat ini wilayah rawa tersebut sedang di kembangkan oleh pemerintah Kota Cilegon sebagai tempat wisata air yang cukup bagus. Dikarenakan letaknya yang tidak terlalu jauh dengan pusat kota dan pemandangannya yang bisa di bilang eksotis dengan hamparan air yang cukup luas sekitar 10 hektar dengan latar belakang deretan pegungan. Dengan pertimbangan tersebut rasanya Rawa Arum bisa menjadi salah satu alternatif tempat wisata yang harus di kunjungi.

Gunung Santri
imageGunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang Daerah ini berada di sebelah barat laut daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. Letak gunung santri berada ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. di puncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.

Sesuai ketelatennya akhirnya Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Sultan Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat kampung Merapit Desa UkirSari Kec. Bojonegara yang terletak di sebelah barat pusat kecamatan yang sedang Bermunajat kepada Allah SWT. Setelah memaparkan maksud dan tujuannya, Sultan Hasanudin pun menolak untuk kembali ke Cirebon. Karena kedekatannya dengan ayahnya Sultan Hasanudin yaitu Syarif Hidayatullah, akhirnya Sultan Hasanudin pun mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasehat dengan julukan “Cili Kored” karena berhasil dengan pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di blok Beji.

Syiar agam Islam yang dilakukan Sultan Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun, karena berhasil menyebarkan agama Islam di Banten sampai bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon. Keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun karena semakin kehilangan pengaruh, dan menantang Sultan Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagai taruhannya akan dipotong lehernya, tantangan Prabu Pucuk umun diterima oleh sultan Hasanudin. Setelah Sultan Hasanudin bermusyawarah dengan pengawalnya Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhamad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti halnya ayam jago biasa. Hal ini terjadi karena kekuasaan Allah SWT.

Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru namun akhirnya ayam jago milik Sultan Maulana Hasanudin yang memenangkan pertarungan dan membawa ayam jago tersebut kerumahnya. Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku Baduy.

Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amal ma’rup nahi mungkar.

Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan agama Islam. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M. jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara disarikan dari buku “Gunung Santri Objek Wisata Religius”

 Yahh begitulah karena waktu saya cuman sebentar di Serang ya mending saya istirahat dulu soalnya besok jumat adapi lah hari terakhir saya di Serang….Tapi besoknya saya akan sempatkan berkunjung ke daerah Anyer so…………next trip again!
Sumber : wisatabanten.com
Iklan

Perjalanan Kali ini adalah mengitari daerah sekitar propinsi Banten karena saya berada disini cuman 2hari 2malam…..Hmmm serasa agak dingin memang malam2 terasa hawa angin gunung yang segar dari gunung karang pandeglang kata ciko tempatnya asik kalu malam di pandeglang….Setelah melepas Rian ke Merak saya menuju rumah bang Ciko yang tinggal di kota Serang ibukota propinsi Banten karena sudah malam dan capek saya tidur dulu terlalu capek menikmati perjalanan dari Surabaya….Setelah bangun pagi rasa berpetualang muncul kembali rasanya tidak ingin melewatkan kesempatan jalan-jalan ke wisata propinsi Banten ini pertama-tama menikmati ibu kota Serang pagi eh ternyata meskipun namanya ibu kota tapi kotanya tergolong kecil mungkin karena masih baru propinsinya….Setelah agak siangan saya  menuju Banten lama menikmati sedikit wisata di daerah situ sampai sore misalnya nih…..Komplek Masjid Agung Banten lama yang  menyimpan banyak cerita sejarah dan tak sekadar tempat wisata ziarah.

  

Berlokasi di Kecamatan Kasemen, 10km dari pusat Kota Serang, didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1566M atau tanggal 5 Zulhijah 966 H, kemudian pembangunan dilanjutkan pada pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Dengan luas 13 Ha hampir seluruh bangunan masjid atapnya terdiri dari lima susun yang tingginya lebih kurang 23 m yang bentuknya seperti mercusuar.

Pada zaman dahulu digunakan sebagai menara pandang ke lepas pantai. Tiyamah (Paviliun) merupakan bangunan tambahan yang terletak di selatan masjid, berbentuk empat persegi panjang dan bertingkat. Pada masa jaman keemasan Kerajaan Islam Banten, Paviliun ini digunakan sebagai tempat musyawarah dan berdiskusi soal-soal keagamaan.

Disekitar lingkungan masjid terdapat juga makam para Sultan Banten dan Keluarga seperti Makam Sultan Maulana Hasanudin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abdul Mufasir Muhammad Aliyudin dan lain-lain.

Saat memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sepintas terasa terbawa ke cerita masa lalu. Masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi.

Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi di sebelah kiri jalan masuk. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan.

Melaju beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687.

Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah.

Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam.

Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri.

Di bagian belakang atau di sisi selatan, terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Dahulu, kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan, yang disebut Pancuran Mas.

Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi, sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat.

Sebelum masuk keraton, air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Mas.

Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu,Kabupaten Serang, yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Sementara itu, tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala, antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi. Sayangnya, sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan.

Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. Tempat itu disebut ruang Pasepen, yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah.

Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda.

Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. Ketika itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda.

Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ”Situs Keraton Kaibon”, dengan luas sekitar 2 hektar. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun.

Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante, yang terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air.

Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu.

Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

Wihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara Banten Lama

Bukan hanya bangunan masjid, Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan wihara Buddha atau klenteng China. Disebelah barat daya Surosowan berdiri Wihara Avalokitesvara, yang dibangun pada 1652.

Bangunan wihara ini merupakan peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah, yang menikahi seorang putri China saat sang putri bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat peribadatan para pengikut putri China, yang kemudian tinggal di Banten Lama.

Saat ini, Wihara Alokitesvara merupakan salah satu wihara tertua di Indonesia, yang kerap dibanjiri peziarah karena terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im dipercaya sebagai dewi yang penuh welas asih, yang diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Selain itu, di dalam wihara juga terdapat 15 altar, seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.

Setiap tahun wihara di Kampung Kasunyatan, Desa Banten, ini selalu dipadati puluhan ribu pemeluk Buddha dari banyak daerah di Indonesia, Belanda, Jerman, dan Thailand. Mereka datang, terutama, pada peringatan Lak Gwe Cap Kau, saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.

Terlepas dari itu, berdirinya wihara di kompleks kerajaan Islam bisa menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragamapada masa itu. Warga yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di kota tua tersebut.

Untuk melihat dengan jelas sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, Museum Kepurbakalaan Banten Lama bisa menjadi tujuan kunjungan.

Gambar peta dunia yang dibuat dengan tulisan tangan juga terpampang di sana. Demikian pula gambar Kiayi Ngabehi Wirapraja dan Kiayi Abi Yahya Sandara, dua Duta Besar Kesultanan Banten untuk Inggris. Itu menunjukkan majunya pemikiran para sultan karena mengerti pentingnya diplomasi.

Koleksi mata uang dan pecahan keramik dari sejumlah negara juga disimpan di museum tersebut. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Banten memiliki bandar besar, tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Bandar Banten dikunjungi para pedagang dari Gujarat (India), China, Melayu, Persia, dan Eropa.

Tidak perlu biaya mahal untuk menikmati sisa keindahan dan cerita kejayaan Kesultanan Islam Banten. Cukup membayar Rp 1.000, pengunjung sudah dapat mengantongi tiket untuk menjelajahi museum seluas 1.000 meter persegi.

Situs Istana Keraton Kaibon

Keraton yang diperuntukan bagi ibunda Sultan Maulana Rafiudin ini berasal dari kata Ka-ibi-an, dimana saat Sultan berusia 5 tahun, ayahnya Sultan Muhammad Safiudin mangkat, untuk melanjutkan pemerintahan, ibunya yang bernama Ratu Aisyah menggantikan kedudukan putra mahkota sampai Sultan dewasa.

Kompleks ini pada tahun 1832 dibongkar oleh pemerintah Hindia Belanda, sekarang tinggal pondasi dan sebagian tembok-tembok serta gapura-gapura saja.

Benteng Spellwijk

Benteng Spellwijk ini  terletak tepat di depan vihara Avalokitesvara. Dahulunya Benteng Spellwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam serta alat pertahanan lainnya, namun pada saat ini digunakan hanya sebagai lapangan bola oleh para penduduk. Di sana kami diajak Pak Slamet untuk masuk dan mengamati sebuah terowongan yang katanya terhubung dengan Keraton Surosowan.

Menara Pacinan Tinggi

Dahulunya ini adalah kawasan Masjid Pacinan Tinggi, namun saat ini hanya tersisa menaranya saja.

imageTerletak kurang lebih 500 meter kearah barat dari Masjid Agung Banten dan reruntuhan Istana Surosoan atau 400 meter kearah selatan dari Benteng Spelwijk. Melihat kondisinya sangat miris melihatnya dengan pagar pembatas yang sudah hilang disana-sini area reruntuhan masjid ini sepertinya tidak ada sedikit kepedulian dari dinas terkait ataupun warga sekitar situs untuk menjaga keberadaan reruntuhan masjid tua ini. Padahal menurut informasi yang minim, reruntuhan masjid Pecinan Tinggi adalah merupakan salah satu masjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sultan pertama yang memerintah kesultanan Banten sebelum beliau membagun masid Agung Banten. Keberadaannya yang terletak di antara padatnya rumah penduduk dan seringnya area situs di jadikan tempat bermain menjadikan area situs masjid menjadi terkesan lebih kumuh dan kurang terawat padahal di depan pintu pagar memasuki ruruntuhan masjid ini tertera undang-undang yang melindungi situs ini.Tidak banyak sisa dari masjid tua ini kecuali seonggok bagunan bekas mihrab dari masjid dan sisa menara masjid yang atapnya sudah tidak tersisa lagi sehingga sulit membayangkan bagimana bentuk asli dari menara masjid Pecinan Tinggi. Selain sisa dua rerutuhan bagunan tersebut, di sisi kanan menara masid terdapat satu makan cina yang dengan nisan bertuliskan huruf cina, kurang lebih isi tulisan pada nisan itu bertuliskan nama pasangan suami istri (Tio Mo Sheng + Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao dengan tahun pembuatan 1843. Kemungkinan pasangan ini adalah pengurus dari masjid Pecinan Tinggi. Selain makan cina yang terletak di dalam kompleks situs Pecinan Tinggi terdapat juga makam-makan cina lainnya yang bisa kita temui di sekitaran jalan menuju komplek situs ini jika kita berjalan dari arah benteng spelwijk, hal ini menunjukan kemungkinan di sekitaran komplek masid tua ini dahulunya adalah perkampungan masyarakat cina.Dengan sedikit uraian mengenai situs Masjid Pecinan Tinggi, menjadi sebuah gambaran sedikit sekali pemahaman kita mengenai bagimana kita seharunya menjaga warisan sejarah yang tidak hanya selalu harus di exploitasi dengan hanya melihat keuntungan saja, tetapi bagimana kita seharunya menjaga kelestarian situs-situs peninggalan para pendahulu sehingga hal itu menjadi bagian dari identitas sejarah budaya anak cucu kita kelak dikemudian hari.

 Setelah melewati menara pacinan kami berniat untuk meneruskan perjalanan menuju Cilegon melewati daerah persawahan yang begitu indah dan kebetulan memang saat sunset pemandangannya jadi sangat bagus tak lupa untuk foto2 dan mengambil momen deh..setelah itu kami melewati tempat wisata danau tasikardi karena hari sudah sore ya saya hanya lewat saja tapi tempatnya bagus memang..Hmmm

Kata Tasikardi merupakan gabungan dua suku kata dari bahasa Sunda, yaitu tasik danardi yang artinya danau buatan. Menurut sejarahnya, danau tersebut dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf (1570-1580 M), sultan kedua Kesultanan Banten. Konon, danau yang luasnya mencapai 5 hektar dan bagian dasarnya dilapisi dengan ubin batu bata ini, dahulunya, merupakan tempat peristirahatan sultan-sultan Banten bersama keluarganya.

Pada masa itu, danau yang juga dikenal dengan Situ Kardi ini memiliki fungsi ganda. Selain sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter. Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan pengindelan abang(penyaringan merah), pengindelan putih (penyaringan putih), dan pengindelan emas(penyaringan emas).

B. Keistimewaan

Mengunjungi Danau Tasikardi yang konon tidak pernah kering dan tidak pernah meluap ini terbilang istimewa. Karena dengan mengunjungi danau tersebut, berarti wisatawan telah mengunjungi situs sejarah dan sekaligus obyek wisata yang memesona. Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.

Sedangkan sebagai obyek wisata, danau ini merupakan salah satu tempat rekreasi yang cukup ramai dikunjungi pelancong, terutama pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Air danaunya yang tenang dan bergerak mengikuti hembusan angin, serta jejeran pepohonan rindang yang mengelilinginya, tepat sekali dipilih sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga, atau sekadar untuk mencari inspirasi. Nuansa agraris yang tercermin dari hamparan luas areal persawahan yang mengitari danau, apalagi ketika memasuki musim tanam atau musim panen, kian melengkapi daya tarik kawasan ini. Pelancong dapat menikmati keindahan Danau Tasikardi dari bawah rindangnya pepohonan, shelter-shelter, atau sambil lesehan di atas tikar yang disewakan.

Selain itu, danau ini adalah rumah bagi banyak ikan, sehingga wisatawan yang suka memancing dapat menyalurkan hobinya di sini. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin “menyatu” dengan kawasan danau, dapat berkemah di camping ground yang luas dan aman yang terdapat di kawasan ini.

Bila anda bosan berada di tepi danau, anda dapat mendatangi sebuah pulau yang dahulunya merupakan tempat rekreasi keluarga kesultanan. Untuk mencapai pulau seluas 44 x 44 meter persegi yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir danau ini, wisatawan dapat menyewa perahu. Di pulau tersebut, masih dapat dilihat sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kesultanan. Juga terdapat jungkit-jungkitan, semacam tempat permainan untuk anak-anak yang terbuat dari besi panjang, yang terletak di samping pendopo.

Jelang matahari terbenam, eksotisme danau yang menjadi saksi bisu tentang kegemilangan Banten pada masa lalu ini kian memikat hati turis. Burung-burung kecil yang terbang rendah di tepi danau dan sesekali menyambar air danau, kian mengukuhkan betapa spesialnya obyek wisata tirta (air) ini. Nuansa tersebut dapat dicerap oleh turis dari tepi danau maupun dari atas perahu yang melaju perlahan-lahan di atas danau.

C. Lokasi

Danau Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.

D. Akses

Dari Kota Serang, ibukota Provinsi Banten, pengunjung dapat mengakses Danau Tasikardi dengan naik angkutan kota jurusan Kramatwatu. Danau bersejarah tersebut berada sekitar 6 kilometer di sebelah barat Kota Serang, atau berjarak sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara Keraton Surosowon.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang bertamasya ke Danau Tasikardi dipungut biaya sebesar Rp 2.500 per orang (Juli 2007).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kawasan Danau Tasikardi terdapat kantin dan toko yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan perlengkapan untuk memancing.

Berbagai fasilitas lainnya, seperti camping ground, tempat parkir, serta jasa persewaan perahu dan tikar, juga tersedia di sini.

%d blogger menyukai ini: