Tag Archive: Bukan



Kali ini Sueto memposting sebuah perjalanan salah satu anggota Sueto yang ada di Yogyakarta. langsung saja kita simak ceritanya.

Hari Minggu, 3 Juni 2012 kemarin, saya dan beberapa teman saya pergi ke salah satu obyek wisata andalan wonosari, yaitu Air Terjun Sri gethuk. Air terjun ini terletak sekitar 40 KM dari kota Yogyakarta, unutk menuju ke air terjun tersebut kita dapat menempuhnya dengan segala kendaraan, mulai bis hingga motor. Akhirnya berangkatlah kami sekitar pukul 08.30 dari kota Yogyakarta.

Rute menuju wisata Sri Gethuk Waterfall

Detail Rute

Tujuan utama kami memang untuk menuju  Air terjun Srigethuk. Untuk rute dari arah Jogja kita lewat jl yogyakarta-wonosari-patuk, setelah sampai pertigaan Gading belok kanan menuju Playen, dari Playen cari jalur menuju Paliyan dengan jarak kira – kira 1,5 km setelah itu para pengunjung akan menjumpai papan penunjuk arah dan pengunjung tinggal mengikuti arah menuju ke Objek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Air terjun Sri Gethuk yang dahulu oleh penduduk disebut dengan Air Terjun Slempret.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit, kami pun akhirnya sampai di pos masuk objek wisata itu. Secara keseluruhan perjalanan terhitung lancar, walaupun perjalanan masih ada jalan yang tidak layak untuk dilewati dengan sepeda motor.

Di pos ini terdapat info mengenai objek wisata yang ada di daerah tersebut. Ternyata dalam satu kawasan wisata tersebut ada 2 objek yang cukup menarik, yaitu Goa Rancang dan Air terjun Srigethuk. Setelah membayar karcis masuk seharga 3000/orang dan 1000/orang (untuk mobil 7000/orang) kami memutuskan untuk menuju ke gua rancang terlebih dahulu sebelum kita berbasah-basah ria di air terjun srigethuk.

Gua rancang ini pintu masuknya sangat besar, berbentuk seperti kubah dengan tinggi sekitar 10-15 meter di mulut pintu masuk terdapat pohon besar yang sudah tua yang saya lupa namanya hahaha, kata pemandu lokal pohon itu dapat berbuah dan buahnya berasa manis gimana gitu.

Gua Rancang

Akhirnya kami masuk lebih dalam ke gua rancanng. Untuk masuk kita harus melewati sebuah lubang yang cukup kecil. Mungkin untuk ukuran Mas Tomb akan lumayan kesulitan untuk melewati lubang ini. Setelah melewati lubang ini, terdapat ruangan sebesar 4×5 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Konon katanya tempat ini digunakan untuk bertapa nya orang sakti jaman dulu. Di dinding gua ini terdapat semacam lambang negara kita yaitu burung garuda yang digambar oleh para pejuang pada masa itu.

Sekilas sejarah tentang gua rancang ini, kata pemandu lokal, dahulu kala ada 3 orang (saya lupa namanya) pergi dari madiun/magetan (saya juga lupa hahah) karena terdesak oleh penjajah. Kemudian 2 dari 3 orang tersebut menemukan gua rancang tersebut. Asal kata dari gua rancang itu ya gua untuk merancanang strategi melawan penjajah. Untuk sejarah yang mistisnya, di dinding gua tersebut terdapat ukiran berupa kunci, yang konon katanya kalau seseorang menemukan makna sejati dari kunci tersbut maka gua rancang tersebut akan langsung menembus hingga pelataran merapi. Yah setelah mendengar cerita ngalor-ngidul dari pemandu lokal tersebut kami berfoto2 terlebih dahulu dan langsung menuju air terjun srigethuk. Oh ya, untuk biaya pemandu lokal tersebut sebenarnya tidak ada patokan harga resmi, kasih saja yang layak sesuai dengan jumlah rombongan kita….

Akhirnya, kami sampai di tempat parkir areal air terjun srigethuk. Air terjun srigethuk ini berupa mata air setinggi sektiar 50 meter terletak di dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Meski tak setinggi grojogan sewu di tawamangu, pemandangan di sekitar air terjun tersebut juga tak kalah indahnya. Dikelilingi tebing tinggi dihiasi pepohonan membuat tempat itu semakin teduh walaupun matahari kian tinggi, air sungai berwarna hijau namun jernih di bawah  air terjun pun sangat menggoda kita untuk segera menceburkan diri ke pelukannya, sawah-sawah yang membentang selama perjalanan menuju air terjun pun turut menambah nilai dari objek wiasata yang satu ini.

Rute1 lewat sawah

rute 2 pakai gethek

Akses dari tempat parkir menuju air terjun bisa dilewati melalui 2 jalur melalui sungai dengan getek atau berjalan melewati hamparan sawah hijua keemasan yang sangat sejuk. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati sawah terlebih dahulu. Perjlanan darat tersebut kira kira sekitar 500 meter dengan hamparan sawah disekeliling kita dan sedikit menaiki tangga yang  cukup pendek. Setelah kira2 15 menit kita mencapai tujuan utama hari ini, Air Terjun Srigethuk!!

Wah begitu kita sampai air terjun bau air yang terbawa angin sangat sedap, mata pun terbelalak melihat hamparan sungai dibawahnya yang membuat kita ingin menceburkan diri. Tanpa panjang pikir kami segera berubah kostum dan menceburkan diri di sungai tersebut. Sebenarnya sih cukup aneh juga dari tujuan awal yang kita ingin melihat air terjun malah kita nyebur ke sungai dulu dari pada melihat air terjunnya. Tapi sebenarnya view air terjun dari sungai pun cukup menarik kita dapat melihat air terjun secara keseluruhan!! Kita menghbaiskan waktu sekitar 2 jam di sungai dan air terjun itu. Mulai foto-foto, berenang susuri sungai meski nggak jauh-jauh, dan ada juga spot untuk melompat dengan tinggi sekitar 5 meter dari sungai. Seperti yang telah saya tulis diatas, sungai ini ditutupi oleh tebing yang tinggi sehingga jangan khawatir kepanasan saat berenang siang2. Setelah puas berenang kami menepi dan istirahat sebentar sambil membeli beberapa gorengan unutk menemani istirahat siang itu. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat parkir untuk bersih diri, namun kali ini kami memilih naik gethek, sebuah perhu kecil bermesin, setiap orang ditarik biaya 5000 rupiah untuk naik gethek ini. Jika tadi kita bolak-balik naik gethek ini biaya menjadi 7000/orang.

Yah secara keseluruhan, objek wisata ini memuaskan sekali, mulai dari harga yang cukup murah, akses yang mudah, dan objek wisata pun terjaga keindahan dan kebersihannya. Jadi kalau maen ke Jogja jangan hanya muter2 malioboro, benteng vrederbug, tamansari, dan keraton. Masih bnyak wisatadi DIY ini. Oke sekian dulu CatPer dan sekilas review dari saya tentang objek wisata ini. Tetap jalan2 dan tetap bahagia! Salam Wildlife! (gema)

Berikut videonya sebagai bahan referensi :

Iklan

Pernah dengar Sate Tulang ?

Pernah menikmatinya ?

Kawan, kalau ingin mencoba sate dengan rasa dan gaya yang berbeda maka sajian kuliner ini mantap untuk dicoba. Sate Tulang Bamegah. Dilihat dari namanya sepintas agak unik seakan-akan tulang disate. Seperti apa rasanya, kita akan coba.

Sate ini disajikan dengan bumbu saos merah yang sepintas terlihat pedas, ukuran per potongnya cukup besar sehingga satu tusuk sate terdiri dari 3 potongan daging tulang menjadi besar. Ditemani dengan bumbu saos sambal merah, sate ini dapat dicocolkan ke bumbu tersebut untuk menambah kenikmatan rasanya. Aroma sate panggangnya benar-benar menggugah selera.

Jangan pernah berpikir sate ini hanya mengandung tulang saja, ternyata sate ini diolah dari bagian dada ayam yang telah diremukkan dan diolah lebih lanjut. Semua daging ayam utama memang telah dilepaskan, namun masih cukup banyak daging yang ditinggalkan khususnya daging yang memiliki kekenyalan dan tekstur khusus yang masih menempel di tulang dada itu.

Rasanya sangat nikmat, ada rasa manis dan barbekyu atau panggangan khas. Daging juga tidak terasa alot, dan ditambah dengan keasyikan menggerogoti tulang dan dagingnya itu benar-benar nikmat. Bagi kawan yang suka bergelut dengan kuliner yang mengandung tulang dan menggerogotinya, ini patut dicoba. Asyik dan nikmat. Jangan ada menu khas lainnya yaitu sate kulit yang tak kalah enak dengan sate tulang .

Makanan ini disajikan dengan nasi terpisah dengan harga per porsi tanpa nasi 12.500 rupiah. Harga sate kulit per porsinya Rp 17.500,-

Apabila kawan ingin menikmati Sate Tulang ini bisa langsung menuju Rumah Makan Bamegah jalan Mayjend Sungkono No. 28 telepon 031-5673077. Lokasinya cukup mudah dijangkau dan terlihat jelas di samping SPBU Shell.

Lokasi :

Sate Tulang Bamegah

Jl. Mayjend Sungkono No. 28 Surabaya
Telp. 031-5673077
Harga : Rp 10.000 / porsi sate

(Surabaya, City Guide)


Menu bebek, biasanya disajikan sebagai bebek goreng, yang diberi bumbu khas berwarna kuning dengan sambal plus lalapan. Untuk yang satu ini bebek dalam penyajian sate, aroma khas bebek keluar dari kepulan asap saat dibakar, dengan paduan bumbu kacang tanah dan kacang mente membuat beda dari sate-sate lainnya, tak lupa pula kecap kental manis, juga taburan bawang goreng diatasnya, membuat lidah ini merasa tak ingin melewatkan begitu saja untuk segera mencicipi sate bebek ini.

Warung yang berkonsep lesehan ini terletak di Jl. Irian barat Surabaya, buka antara jam 17.00 – 23.00. Pak Sudarno (40) pemilik warung, mulai membuka usahanya di tahun 2006 sampai sekarang, selain di daerah Jl. Irian Barat, bapak dua anak ini membuka cabang di Jl. Ksatria Lima Kodam Brawijaya Surabaya.

Jika Anda membayangkan bebek dengan daging yang alot (keras) dan amis, tapi saat ditangan pak Sudarno membuat olahan bebek ini beda, sehingga patut untuk Anda coba.

Soal harga Anda tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, dengan Rp. 8000 Anda bisa menikmati 10 tusuk sate bebek irba bikinan pak Sudarno.

Sumber : http://surabayamuda.com/?p=443


Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini, sebuah pedagang kaki lima yang laris manis dengan menu andalannya yakni bebek goreng.

Bebek yang berada di sekitar Tugu Pahlawan ini juga dikenal dengan Nasi Bebek Tembaan, yang memang lokasinya ada di jalan Tembaan Surabaya atau di depan BCA KC Tembaan. Tenda warung ini dibuka mulai jam 18.00 wib, lebih dari jam 22.00 wib jangan harap bisa menikmati sajian nasi bebeknya, biasanya sudah laris manis oleh pembeli.

Meskipun di sini hanya menjual bebek saja, namun ada beberapa macam yang bisa dijadikan pilihan seperti,  Bebek Goreng Paha Super, Paha biasa, Dada Super, Dada Biasa, sampai Jeroan juga tersedia. Untuk minuman bisa memesan es teh dan es kelapa muda. Satu porsi bebek plus nasi dihargai mulai Rp 9.000 – Rp 12.000 an, ditambah dengan serundeng diatasnya serta sambal dengan pilihan ada yang sedikit manis dan satunya pedas.

Karena lokasinya tidak begitu luas, area parkir yang disediakan juga terbatas, jadi pengendara baik roda dua dan empat bisa memarkir kendaraannya di pinggir jalan.

Nasi Bebek Tugu Pahlawan
Jl Tembaan, Surabaya

(Surabaya, City Guide)
2011-05-31-169-Nasi Bebek Tugu Pahlawan

Heroic Monument, Surabaya, Indonesia. Bahasa I...

Heroic Monument, Surabaya, Indonesia. Bahasa Indonesia: Tugu Pahlawan (Photo credit: Wikipedia)

Sony Walkman NWZ-B160


Sony kembali merilis seri terbaru Walkman yang berukuran mini dan berdesain menarik. Namanya Sony Walkman NWZ-B160, tersedia dengan beberapa pilihan warna dan memiliki fitur bass yang bikin mendengarkan musik dari Walkman ini menjadi lebih asik. Walkman ini tidak memiliki layar dan kamu memutar lagunya secara shuffle.

Dengan ukuran 10 cm dan berbobot 28 gram, mp3 player ini bisa kamu gunakan hingga 18 jam. Uniknya dari Walkman terbaru ini, kalau kamu nggak punya banyak waktu untuk mengisi ulang baterainya, cukup dengan 3 menit saja, kamu bisa gunakan hingga 90 menit! Udah gitu, USB konektornya sudah tersedia di dalam bodi Walkman NWZ-B160 ini, sehingga kamu nggak perlu bawa kabel data untuk isi ulang, tinggal sambungkan saja ke port USB komputer atau notebook kamu.

Walkman ini juga memiliki fitur Power Safe Mode, yaitu fitur yang bisa kamu atur untuk mematikan fitur-fitur lainnya seperti mematikan lampu LED atau equalizer dan bass. Tujuannya untuk memperpanjang waktu penggunaan Walkman itu sendiri. Meski belum ada keterangan soal harga, kamu bisa menunggunya di bulan Juni ini untuk memilikinya.


Untuk pemotor yang senang tampil gaya sepertinya jangan melewatkan pelindung kepala yang satu ini. Sebuah desain unik telah disiapkan pabrikan helm ternama AGV.

Helm yang mirip dengan helm yang dipakai pilot helikopter atau pesawat dibuat AGV bekerja sama dengan merek fashion dan lifestyle terkenal Diesel.

Seperti dilansir visordown, Sabtu (21/5/2011) desain yang ditawarkan kali ini terbilang menarik.

Helm HI-JACK ini menjadi pilihan ideal bagi pengendara yang menyukai produk berkualitas tinggi dengan gaya Diesel, yang agak memberontak, segar, dan tidak konvensional.

Tampilan menarik yang diciptakan oleh tim Diesel kreatif, dan berbagai variasi chromatic di grafis, memperkuat kesan helm pilot helikopter di HI-JACK. Tampilan visor yang melengkung dengan antigores terbungkus tampak transparan, disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya masing-masing setiap pengendara.

Namun sayang untuk harga yang ditawarkan untuk mendapatkan helm berkonsep pilot helikopter ini belum bisa diketahui.

Way Kambas


TERLETAK di ujung selatan Sumatera, 110 km dari Bandar Lampung, Way Kambar merupakan salah satu cagar alam tertua di Indonesia. Lokasi ini menempati lahan seluas 1.300 km persegi berupa dataran rendah di sekitar Sungai Way Kambas.tepatnya di kecamatan labuhan ratu lampung timur, Indonesia. Selain di Way Kambas, sekolah gajah (Pusat Latihan Gajah) juga bisa ditemui di Minas, Riau. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang hidup di kawasan ini semakin berkurang jumlahnya.

 Kawasan Way Kambas menjadi rumah dan taman bermain bagi gajah, sekaligus pusat pelatihannya. Dengan nama awal Pusat Latihan Gajah (PLG) namun semenjak beberapa tahun terakhir ini namanya berubah menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang diharapkan mampu menjadi pusat konservasi gajah dalam penjinakan, pelatihan, perkembangbiakan dan konservasi.Di lebatnya taman nasional ini, ada sekira 200 gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranensis) yang menjadikan hutan ini sebagai rumah mereka.

Gajah liar di Sumatera dahulu dapat ditemukan di delapan provinsi di Pulau Sumatera. Namun karena kepadatan pemukiman dan menyusutnya vegetasi hutan hujan tropis telah menyulitkan untuk memperkirakan jumlah mereka.

Tahun 1978, Taman Nasional Way Kambas diusulkan menjadi taman nasional dengan surat keputusan sementara tahun 1989 dan surat keputusan akhir tahun 1997. Sementara, Pusat Pelatihan Gajah Way Kambas resmi didirikan tahun 1985. Lokasinya terletak 9 km dari pintu masuk Taman Plang Ijo.

Pusat pelatihan gajah ini didirikan untuk melindungi keberadaan gajah dan menciptakan keuntungan antara gajah dan manusia. Gajah di Sumatera dulunya digunakan oleh kerajaan yang memerintah di Sumatera untuk kendaraan berperang dan keperluan upacara.

Anda dapat melihat gajah melakukan berbagai tugas, seperti mengangkut kayu  atau membajak sawah. Mereka juga dapat melakukan aktivitas unik, seperti bermain sepak bola dan pertunjukan menghibur lainnya.

Di dalam taman ini juga terdapat Sumatra Rhino Sanctuary (SRS), dimana badak-badak dikenalkan dengan alam sekitarnya dengan harapan penangkaran yang dilakukan berjalan sukses. Pusat penangkaran didirikan pada 1995, meliputi lahan seluas 100 hektare yang dijadikan tempat pelestarian, penelitian, dan pendidikan.

Di tempat penangkaran ini terdapat lima badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis) yang masing-masing diberi nama Rosa, Ratu, Bina, Torgamba, dan Andalas yang bertindak sebagai duta untuk badak-badak liar lainya. Mereka juga dijadikan sebagai spesimen untuk pendidikan dan pelestarian.

Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera.

Flora

Jenis tumbuhan di taman nasional tersebut antara lain api-api (Avicennia marina), pidada (Sonneratiasp.), nipah (Nypa fruticans), gelam (Melaleuca leucadendron), salam (Syzygium polyanthum), rawang (Glochidion borneensis), ketapang (Terminalia cattapa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus sp.), puspa (Schima wallichii), meranti (Shorea sp.), minyak (Dipterocarpus gracilis), dan ramin (Gonystylus bancanus).

Fauna

Taman Nasional Way Kambas memiliki 50 jenis mamalia diantaranya badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), anjing hutan (Cuon alpinus sumatrensis), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus); 406 jenis burung diantaranya bebek hutan (Cairina scutulata), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus stormi), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), sempidan biru (Lophura ignita), kuau (Argusianus argus argus), pecuk ular (Anhinga melanogaster); berbagai jenis reptilia, amfibia, ikan, dan insekta.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Pusat Latihan Gajah Karangsari. Atraksi gajah. Way Kambas. Untuk kegiatan berkemah.Way Kanan. Penelitian dan penangkaran badak sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti.Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas. Menyelusuri sungai Way Kanan, pengamatan satwa (bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran), padang rumput dan hutan mangrove.

Atraksi budaya di luar taman nasional:Festival Krakatau pada bulan Juli di Bandar Lampung.
Musim kunjungan terbaik: bulan Juli s/d September setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi :

Cara pencapaian lokasi: Bandar Lampung-Metro-Way Jepara menggunakan mobil sekitar dua jam (112 km), Branti-Metro-Way Jepara sekitar satu jam 30 menit (100 km), Bakauheni-Panjang-Sribawono-Way Jepara sekitar tiga jam (170 km), Bakauheni-Labuan Meringgai-Way Kambas sekitar dua jam.


BERKUNJUNG ke Sumatera Barat belum lengkap rasanya tanpa menyempatkan ke Danau Singkarak. Daerah dengan hamparan pasir yang landai mengundang Anda untuk bercumbu dengan riaknya air danau yang terasa dingin menjilat jemari lembut Anda. Benar-benar pesona yang tidak akan terlupakan.

Anda layangkan pandangan ke arah jalan raya, terlihat jajaran pohon yang menghijau di sepanjang pinggiran danau. Di samping indah, Danau Singkarak juga cocok digunakan sebagai tempat olahraga (sport tourism) seperti di darat bisa untuk jalan santai, jogging, ataupun senam.

Keberadaan

Danau Singkarak berada di dua kabupaten di provinsi Sumatera BaratIndonesia, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar.

Danau ini memiliki luas 107,8 km² dan merupakan danau terluas ke-2 di pulau Sumatera. Danau ini merupakan hulu Batang Ombilin. Namun sebahagian air danau ini dialirkan melalui terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai untuk menggerakkan generatorPLTA Singkarakdi dekat Lubuk Alung, kabupaten Padang Pariaman.

Fauna

Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan spesies ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau ini[2], dan menjadi salah satu makanan khas. Penelitian para ahli mengungkapkan 19 spesies ikan perairan air tawar hidup di habitat Danau Singkarak, Kabupaten Solok dan Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), dengan ketersediaan bahan makanannya yang terbatas.

Dari 19 spesies itu, tiga spesies di antaranya memiliki populasi kepadatan tinggi, yakni ikan Bilih/Biko (Mystacoleusus padangensis Blkr), Asang/Nilem (Osteochilus brachmoides) dan Rinuak. Spesies ikan lainnya yang hidup di Danau Singkarak adalah, Turiak/turiq (Cyclocheilichthys de Zwani), Lelan/Nillem (Osteochilis vittatus), Sasau/Barau (Hampala mocrolepidota) dan Gariang/Tor (Tor tambroides).

Kemudian, spesies ikan Kapiek (Puntius shwanefeldi) dan Balinka/Belingkah (Puntius Belinka), Baung (Macrones planiceps), Kalang (Clarias batrachus), Jabuih/Buntal (Tetradon mappa), Kalai/Gurami (Osphronemus gurami lac) dan Puyu/Betok (Anabas testudeneus).

Selanjutnya, spesies ikan Sapek/Sepat (Trichogaster trichopterus), Tilan (mastacembelus unicolor), Jumpo/Gabus (Chana striatus), Kiuang/Gabus (Chana pleurothalmus) dan Mujaie/Mujair (Tilapia pleurothalmus).

Dengan hanya ada 19 spesies ikan yang hidup di Danau Singkarak menunjukkan keanekaragaman ikan di tempat itu tidak telalu tinggi. Kondisi mesogotrofik Danau Singkarak yang menyebabkan daya dukung habitat ini untuk perkembangan dan pertumbuhan organisme air seperti plankton dan betos, sangat terbatas.Dari beberapa kali penelitian menunjukan populasi plankton dan betos di Danau Singkarak sangat rendah.Padahal komunitas plankton (fitoplankton dan zooplankton) merupakan basis dari terbentuknya suatu mata rantai makanan dan memegang peranan sangat penting dalam suatu ekosistem danau.Kondisi tersebut, menyebabkan sumber nutrisi utama ikan secara alamiah umumnya adalah berbagai jenis plankton dan bentos.

Legenda Danau Singkarak

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia  tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.

Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.

Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.

Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.

“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.

“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.

“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,’ sahut sang Ibu.

“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.

Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:

“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.

“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.

Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.

Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).

“Sedang apa, Bu?” tanya  Pak Buyung kepada istrinya.

“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.

“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.

“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasakpangek[1],” jelas istrinya.

“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.

Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.

“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.

“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.

“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.

“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.

‘Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.

“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.

“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.

“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.

Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantappangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.

“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.

“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.

“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.

“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.

“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.

“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.

“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.

“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.

Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.

“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.

Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makanpangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.

“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.

“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.

“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.

“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.

Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.

Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.

Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.

“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.

Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Akses

Untuk sampai ke danau ini, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur darat. Apabila menggunakan kendaraan umum, dari Kota Padang ke lokasi perjalanan membutuhkan waktu lebih kurang 2,5 jam dengan ongkos berkisar antara Rp 20.000 sampai Rp 25.000 (Februari 2008). Bagi para wisatawan yang ingin menggunakan mobil sewaan, biayanya sekitar Rp 400.000 per hari (Februari 2008). Kalau Dari Bandara Minangkabau Padang ditempuh hanya sekitar 1,5 jam-2 jam dengan angkutan umum yang tarifnya sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000. Juga, jikaberkereta dari Padang melalui simpang tiga pekan Solok, pasti melewati danau ini. Dan bila menyusur dari Bukittinggi yang telaknya hanya sekitar 36 Km dari Bukittinggi, akan melewati banjaran gunung yang terbungkam di sebelah kiri jalan. Di kaki gunung, suasana petak-petak sawah dipenuhi anak-anak padi yang terliuk-liuk dihembus sang bayu.

Mau menuju ke Danau Singkarak,leawt udara telah tersedia  Bandara baru di Padang . Bandara Minangkabau bertaraf internasional dioperasikan sejak 22 Juli 2005, memiliki desain arsitektur tradisional Minangkabau. Ciri khas Bagonjong atau atap berbentuk tanduk, interior terminal penumpang yang dihiasi ukiran Minangkabau tradisional, begitu kuat dan melekat menghiasi bandara ini
Bandara Minangkabau terletak 23 km dari pusat Kota Padang, kini sudah disinggagi sekitar 14 pesawat terbang setiap harinya dengan rute yang menghubungan Padang dengan Jakarta, Medan, Batam dan Pekanbaru untuk domestik, sedangkan untuk pelayanan transportasi udara ke luar negeri (internasional) yaitu Singapura dan Kuala Lumpur.
Hingga kini, tercatat sepuluh maskapai penerbangan nasional dan dua maskapai penerbangan asing beroperasi di Bandara Internasional Minangkabau, yang dapat menampung pesawat berbadan lebar seperti A 330 atau MD 11.
Sebagai bandara internasional, sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti landasan pacu (runway) 2.750  x  45 m2, Landasan penghubung (taxiway) 2 x 30 m2  dan 1 x 23 m2, Apron pesawat penumpang 315 x 120 m2 (8 bh pesawat B 737), Apron perawatan pesawat udara dan      PKP-PK dengan Category IX. Juga Garbarata (Aviobridge) sebanyak 2 buah.

Fasilitas

Selain tempat berwisata yang mengasyikkan, Danau Singkarak juga digunakan sebagai tempat olahraga (sport tourism) seperti di darat bisa untuk jalan santai, jogging, senam. Di danau untuk olahraga berenang, fishing, dayung dan olahraga udara seperti paragliding, terjun bebas, parasailing, paralayang yang melayang di udara bebas dengan pemandangan yang indah. Apalagi, Danau yang terletak pada ketinggian 36,5 meter dengan suasana berbukit maka sangat cocok untuk paralayang.

Di sekeliling Danau Singkarak banyak terdapat sarana penginapan berupa hotel dan wisma. Selain itu, di sepanjang pinggir danau juga berjejer rumah makan dan restoran sehingga para wisatawan bisa memilih tempat bersantap ria yang sesuai dengan selera.



Pemandu

Entah karena budaya guyub yang sangat kental atau terbiasa “manja”, kita ingin dilayani dalam segala sesuatu sehingga tingkat kemandirian orang Indonesia dalam hal jalan-jalan kurang membanggakan. Turis Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri, sangat khas: datang naik bus-bus besar, pakai baju seragam, didampingi pemimpin rombongan dan foto bersama dengan spanduk besar di depan objek wisata.

Jalan-jalan bersama rombongan tur memang begitu. Saat melihat objek wisata pasti berbondong-bondong ke sana-sini, dan berebut foto-foto. Memang kita dapat melihat lebih banyak, tapi masing-masing dengan waktu yang sedikit.

Sementara jalan-jalan sendiri tanpa ikut tur pun membutuhkan persiapan yang lebih ribet yang tidak bisa dilakukan semua orang. Padahal ada tempat-tempat tertentu yang lebih efisien dikunjungi secara kelompok dibanding sendiri. Bisa jadi karena izin masuknya tidak mudah didapat atau biayanya jadi mahal jika datang secara perorangan.

Sebelum Anda menentukan apakah akan ikut tur atau pergi sendiri, simaklah beberapa bahan pertimbangan di bawah ini:

1. Aturan setempat

Jika Anda seorang perempuan dan ingin ke Arab Saudi, misalnya, pergi dengan tur adalah pilihan yang lebih efisien. Mengingat di Arab Saudi, perempuan harus datang dengan muhrim, sudah pasti Anda tidak mungkin datang sendirian. Kalaupun Anda tidak ada masalah soal muhrim, mengurus visa juga tidak mudah karena banyaknya orang yang memohon visa, terutama saat musim ramai seperti Ramadan.

2. Kondisi geografis

Beberapa tempat memiliki kondisi geografis yang sulit atau kekurangan sarana transportasi publik. Contohnya bila Anda ingin island hopping (menjelajahi pulau-pulau) di daerah Wakatobi. Di sana, letak pulau-pulaunya berjauhan dan angkutan kapal hanya menjangkau pulau-pulau tertentu. Alhasil Anda harus sewa kapal untuk ke sana-sini dengan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, akan lebih mudah dan efisien bila Anda datang bersama kelompok, jadi bisa patungan biaya transportasinya.

3. Rencana perjalanan

Perhatikan dengan seksama rencana perjalanan yang ditawarkan paket tur.  Sering kali agen perjalanan membuat paket dengan banyak tempat kunjungan — padahal tempat-tempat tersebut terletak dalam satu kawasan. Sebagai contoh, agen perjalanan menyebutkan nama beberapa pantai yang sebenarnya berdekatan. Maka cari tahu peta lokasi. Jika rencana perjalanan banyak merujuk ke tempat-tempat dengan lokasi berdekatan dan mudah dicapai, lupakan ikut tur karena lebih baik Anda pergi sendiri.

4. Kurang persiapan

Persiapan yang memadai adalah kunci menuju perjalanan seru. Persiapan di sini maksudnya adalah informasi tentang destinasi menyangkut lokasi wisata, akomodasi dan transportasi. Daripada ngotot pergi sendiri kemudian bingung hendak apa setelah sampai tujuan — atau ternyata sulit mencapai lokasi yang Anda mau, tur adalah solusi yang tepat. Anda tidak harus ikut tur dari tempat asal, malah lebih murah jika bergabung dengan tur lokal di tempat tujuan.

5. Tipe wisata

Bila Anda ingin pergi ke tempat-tempat yang membutuhkan keleluasaan waktu, sebaiknya Anda pergi sendiri. Terutama jika Anda tergolong orang yang gemar mengamati hal-hal kecil secara mendetail seperti relief bangunan. Hal yang sama juga berlaku bagi Anda yang suka bergaul dengan penduduk lokal. Selain waktu yang terbatas, tur juga mewajibkan pesertanya untuk selalu dalam kelompok. Nggak enak kan, lagi asyik mengagumi relief, Anda dipanggil kembali ke bus.

Kalau dengan tips di atas Anda masih bingung menentukan mau ikut tur atau pergi sendiri secara mandiri, carilah rekan perjalanan dan biarkan dia yang mengambil keputusan.

%d blogger menyukai ini: