Tag Archive: Choi Minho


Google Glass Kacamata Pintar?


Beragam aksi pamer telah dilakukan Google untuk membuktikan bahwa kacamata pintar Google Glass besutannya adalah nyata, dan bukan sekadar konsep.

Banyak pihak bertanya-tanya tentang cara mengontrol kacamata pintar itu. Sedikit demi sedikit, Google pun mengungkapkannya kepada media massa.

Salah seorang pendiri Google, Sergey Brin, memberi kesempatan kepada Spencer Ante dari The Wall Street Journal untuk menjajal kacamata pintar Google. Spencer mengikuti arahan Brin untuk mengontrol kacamata pintar dengan suara.

Ketika Ante mengatakan, “Okay, Glass,” yang keluar adalah beberapa pilihan fitur, termasuk fitur untuk melakukan panggilan telepon, merekam video, mengambil foto, atau menggunakan layanan peta digital Google Maps.

Selanjutnya, Ante memberi instruksi “Take a photo”, yang muncul kali ini adalah fitur untuk memotret atas apa yang dilihat Ante.

Pada bulan Mei lalu, Brin sempat memperlihatkan cara lain mengontrol kacamata pintar. Ia meletakkan jarinya ke tombol pada bagian kanan kacamata, lalu melakukan penggeseran, yang kemungkinan besar ia sedang membuka hasil foto di galeri. Tombol itu berupa trackpad yang bisa dinavigasikan dengan cara menggeser ke kanan-kiri dan atas-bawah.

Google telah memamerkan banyak foto hasil jepretan kacamata pintar yang dilakukan tanpa sentuhan tangan. Tak hanya itu, Google juga memublikasi video berdurasi 15 detik yang direkam dengan kacamata pintar.

Pada konferensi pengembang aplikasi Google I/O di San Fransisco, AS, Juni lalu, beberapa penulis blog dan wartawan teknologi diizinkan untuk menikmati video dari kacamata pintar.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2012/06/29/10375559/Kesan.5.Jurnalis.Menjajal.Kacamata.Pintar.Google


 

Yup Salam Wildlife udah lama yah blog sueto jarang mengeluarkan artikel…Soalnya hari-hari sebelumnya pada sibuk banget sih..jadi agak galau mau menulis artikel..

Mulai hari kemerdekaan ini Suetoclub akan aktif lagi menulis artikel…

Puasa di bulan agustus sungguh sebuah perjuangan kemudian di hari rayanyapun berdekatan dengan hari jadi RI serasa flashback ke masa perjuangan bangsa Indonesia kala itu mempertahankan bangsa dari para penjajah. Semangat juang para pahlawan nasional yang tak kenal patah arang seharusnya masih tertanam di darah anak cucunya di zaman sekarang seperti puasa yang sungguh menguji mental, iman, nafsu lahir batin seseorang.

Kalau di lihat bangsa Indonesia yang sekarang memang sangat butuh dan rindu akan pahlawan nasional yang bisa membawa Indonesia ke era kejayaan seperti dahulu yang semangatnya dapat menggugah mental masyarakat dan penduduknya untuk lebih mengerti arti sebuah nasionalisme kepada suatu bangsa.

Tapi sekarang semangat nasionalisme itu telah semakin pudar kebanyakan terkalahkan oleh uang, politik, ambisi, gengsi, korupsi dan sebagainya. Kurangnya rasa memiliki dan melindungi sebagai suatu bangsa yang utuh itulah yang akan mengikis sedikit demi sedikit rasa nasionalisme kita.

Semoga bangsa ini tahu dan bangkit tidak semakin terjerumus oleh zaman yang global ini karena semakin banyak bangsa lain yang datang dan sukses di negara ini selama bangsa kita juga tidak bisa mengimbangi akhirnya lama kelamaan rasa nasionalisme kita akan direnggut oleh bangsa lain. Mungkin pernah terbesit dalam pikiran saya mending dijajah bangsa sendiri dari pada di jajah bangsa lain toh ujung-ujungnya duit atau kekayaan alam misalnya akan kembali juga ke kita.

Bagaimana ya kalau semua infrastruktur, kekayaan alam, teknologi, sumber daya di negara ini dikuasai oleh bangsa lain sedangkan bangsa kita hanya sebagai bangsa yang komsumtif saja dan minim inovasi mungkin bisa disebut akan menjadi bangsa yang alay seperti kata anak-anak muda zaman sekarang dengan komunitas yang alayers sehingga tidak terlihat lagi adanya rasa nasionalisme yang membakar semangat juang dari kaum yang tua sampai yang muda. Pasti kalau sudah seperti itu timbulah pertannya negara/bangsa seperti apa sih Indonesia?mungkin jawabannya dapat berbeda-beda tergantung tingkat nasionalisme orang yang menjawab juga lebih ke jawaban optimisme atau pesimisme yang berunjung pada suatu kenyataan yang nampak dalam sejarah bangsa Indonesia ini.

Bagiku hari kemerdekaan ini adalah hari yang mengingatkanku selalu, betapa besar rasa nasionalisme yang terdapat dalam dirimu terhadap bangsa ini. Salam selamat liburan puasa yah kawan-kawan.

 


_MG_0596

Hai Salam Wildlife Sueto!Kali ini kami Sueto tim mengisi kekosongan jadwal touring dengan ekspedisi touring sehari menjelajah pantai Malang. Tujuan ekspedisi kali ini langsung menuju pantai Jonggring Saloko di Malang.Tahun 2012 menjadi tahun yang penuh berkah bagi kami Sueto tim ekspedisi akhirnya sampai ke pantai Jonggring Saloko ini karena sejak 3kali ekspedisi pada tahun 2008 dan 2010 kami tim ekspedisi selalu gagal menuju pantai Jonggring Saloko ini dikarenakan faktor x yang memang membuat kami tidak bisa sampai disana selain memang jalanan menuju pantai yang memang makadam dan terjal.

Tahun 2008 kami berangkat dari Batu menuju ke pantai Joggring Saloko menaiki motor Bajaj Pulsar200 hanya 2 orang. Saat itu baru pertama kali ekspedisi kami tidak sampai karena salah perhitungan  waktu kami tiba terlalu sore akhirnya kami kembali dan belum tahu kondisi medan jalannya.  Tahun 2010 sueto tim  berangkat dari Sidoarjo dengan 6 orang dengan mengendarai 2 motor bebek dan 1 motor matic karena dari pengalaman pertama membawa motor laki yang bukan tipe offroad di jalanan menuju pantai Jonggring Saloko ini akan sangat merepotkan dan menguras tenaga tetapi saat itu ada kendala di salah satu motor dan cuaca hujan deras waktu itu. Akhirnya kami kembali. Pada tahun 2008 dan 2010 kami melewati rute Malang-Kepanjen-Pagak-Donomulyo

Kemudian Tahun 2012 ini berangkat hari Minggu bulan Mei akhir saya meneruskan ekspedisi ini mengendarai motor HSX125 hanya 2 orang. Kali ini kami berangkat dari Surabaya daerah Perak jam setengah 8 pagi . Menuju Sidoarjo mengambil peralatan perjalanan ditempuh 1 jam setengah jam 9 sampai Sidoarjo karena macet ada car freeday, Sidoarjo Menuju Singosari 1jam sampai jam10 untuk mengambil barang lagi, kemudian langsung lanjut menuju pom bensin kepanjen untuk mengisi bensin melewati rute berbeda karena disinyalir rute ini lebih cepat karena jalannya sudah lumayan bagus yaitu melewati bendungan Karangkates-Sumber Pucung -Donomulyo-Matraman-Jonggring Saloko dari pada rute kami sebelumnya lewat kepanjen menuju selatan. Sampai kampung awal Jonggring Saloko kami membeli bekal minuman untuk bekal melewati trek cadas dan terjal.

Masuk Kampung awal Jonggring Saloko jaraknya sampai pantai adalah 11km hanya 3km ada perkampungan penduduk sisannya hutan dan tebing kami lewati sejauh 8km dan selamanya 1jam setengah. Perjalanan kami lewati dengan penuh tantangan dan ihktiar karena memang jalanan sungguh cadas batu-batu besar kecil, makadam, lumpur kering, dengan lebih banyak tanjakan dari pada turunan padahal kita menuju pantai seharusnya lebih banyak turunan akhirnya selama perjalanan pun kami benar-benar penasaran  dengan trek jalanan disini. plang demi plang pun kami lewati dan kamipun terus semakin penasaran.

Akhirnya setelah melewati plang terkhir bertuliskan 1km kami pun sampai terlihat sebuah pos pintu masuk tak berpenjaga. Kamipun semakin penasaran hebat sekali kalau pantai yang jalannya sangat susah seperti ini masih ditarik tarif masuk….ha2…kami pun tertawa kenapa juga ada yang membangun pos masuk kurang kerjaan ini yang membangun dahulu. Sebelumnya kami sampai di pantai ini sekitar jam1an.

Sampai pantai kami pun disambut indahnya pantai Jonggring Saloko sesuai namanya yang berarti khayangan…AMAZing!!(yah kami berfikir kenapa jalannya semakin menanjak semakin dekat kepantai ya mungkin karena itu pantai ini disebut pantai Jonggring Saloko) memang semuanya terbayar kelelahan kami selama 11km bertempur dengan jalan terjal dan cadas. Saat dipantai kami hanya bertemu beberapa orang pengunjung bisa dihitung dengan jari tidak sampai 10 orang dan hanya ada beberapa rumah penduduk yang tak berpenghuni di pantai.

_MG_0493

Kami langsung cari spot yang bagus untuk tempat foto-foto sambil menyisir pantai dan menikmati perawannya pantai Jonggring Saloko ini, Sambil kami berjalan lanscape pantai ini mirip sebuah pantai yang pernah kami kunjungi juga di Malang yaitu pantai Goa Cina bisa dilihat di link berikut https://suetoclub.wordpress.com/2011/08/05/touring-24-jam-mengitari-pantai-selatan-malang-pantai-goa-cinapart1/ nah agak miripkan tipikal pantainya juga hampir sama karang pasirnya. Kami pun foto2 menikmati pemandangan di pantai ini.

_MG_0506

Oh iya di pantai ini juga ada yang dinamakan watu gebros sebuah bilahan-bilahan karang yang terkena ombak dan menimbulkan bunyi semburan ombak. Cuman waktu itu kami tidak sempat mengabadikannya karena tidak kerasa setelah foto-foto haripun menjelang sore dan kami harusnya mempersiapkan tenaga  untuk menghadapi medan perang 11km lagi. Saya tetapi masih penasaran dengan jalan kecil yang saya lewati masih ingin mengexplore apakah ada jalan lain selain melewati jalan yang kita lewati tadi karena jalan yang kami lewati sangat kecil dan ada truk angkut kayu seandainya terjadi saling bentrok maka saya pikir jalan satu-satunya adalah mundur dan mencari tempat menepi dikarenakan kanan kiri jalan sudah jurang. Tapi karena diburu waktu kamipun berfikir sambil pulang. Treknya juga asyikk untuk orang-orang yang hobi trekking dan camp di pantai.

_MG_0508

Setelah keluar dan sampai kecamatan  Donomulyo kami langsung menuju Perak Surabaya untuk bersiap mengahadapi aktifitas hari senin. Sekian terima kasih, harpan kami para Sueto tim ekspedisi mudah-mudahan kebersihan alam pantai ini tetap terjaga dan jalanannya mungkin agak sedekit diperbaiki paling tidak layak dan tidak menguras tenaga supaya seluruh dunia dan Indonesia tahu bahwa kekayaan alam di Indonesia itu melimpah dan masih banyak tempat-tempat tersembunyi yang indah seperti surga kecil di nusantara ini pantai Jonggring Saloko salah satunya.

_MG_0516

_MG_0518

_MG_0528

_MG_0533

_MG_0549

_MG_0552

_MG_0564

_MG_0575

_MG_0590

_MG_0602

_MG_0606

_MG_0704

_MG_0707

_MG_0728

_MG_0736

Eh iya waktu pulang kok ada tempat yang bagus akhirnya kami coba photo-photo sebentar….

_MG_0740

_MG_0741

_MG_0745

_MG_0749

Berikut videonya :


Masih dari kecamatan Gedangan Malang perjalanan diteruskan menuju daerak Wonogoro di sungai mbarek…Sungai air payau ini langsung terhubung dengan muara di pantai Pesanggrahan..

Karena melihat aliran sungai yang tenang, bersih, hijau  dan tidak terlalu dalam maka kami putuskan untuk menjadi tempat persinggahan kami untuk foto-foto, mandi, dan cuci motor memang sungai mbarek ini biasanya memang dipakai warga sekitar untuk mencuci, mancing dan mandi dapat dilalui menuruni jembatan mbarek yang dari arah Wonogoro jalurnya menuju ke Balekambang…Kami juga terpancing oleh 2 batu besar yang tampak seperti kepala kadal besar…pokoknya yang penting foto-foto dulu di saat terakhir perjalanan yang memang sudah merasa mulai lelah banget dan semakin malam hujan mulai mengguyur..

Sungai Mbarek ini terletak saat kita dari arah pantai Balekambang menuju Wonogor0 akan melewati jembatan pertama yaitu jembatan mbarek..oh iya dari Balekambang ke arah Bajulmati kita setidaknya melewati kalu g salah 6 jembatan he2..agak lupa baru nyampe deh di Bajulmati jalannya hanya bisa di lalui truk dan motor mungkin kalau mobil cmn bisa sampai Wonogoro saja kalau dari Balekambang..

videonya

Berikut touring Sueto kali ini lain kali akan dilanjutkan dengan cerita perjalanan yang menarik lainnya…


 

Nah kali ini cerita terusan dari perjalanan Cilegon…………..Hmm begini ceritanyo perjalanan saya tempuh naek bis dari Serang jam 3 sore terus nyampe terminal Yogya sekitar subuh jam5 pagi saat perjalanan ada sesuatu hal yang bikin saya prihatin waktu istirhat makan dirumah makan daerah indramayu ternyata didaerah situ banyak yang jual mizone 1botol 8ribu-9ribu huh kok tega ya sama pembeli mending minum aqua sajalah……..saat perjalanan tidurrr sampe pagi tiba2 saja udah nyampe yogya eh baterai habis cari charger dulu sambil minta jempud anggota sueto yang lain  deh……..Nungguuuuuuuuuuu terus dateng deh anak2…langsung menuju kawasan malioboro untuk mencari pijeman motor abis anaknya 5 motornya cuman 2….sambil makan dawet durian..akhirnya dapet dengan harga murah sekitar 40-50 ribu langsung menuju pantai gunung kidul lewat wonosari nih petanya

Dari wonosari menuju daerah pantai selatan kira2 kami menempuh perjalanan 2jam melewati pantai-pantai yang indah dan rata2 memang sudah ramai pengunjung akses jalannyapun sudah bagus…Jika anda punya waktu sempatkan berjalan-jalan menghabiskan semua pantai disini karena pantai di memiliki ciri khas yang berbeda-beda…

Pantai Siung  sendiri terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam perjalanan. Menjangkau pantai ini dengan sepeda motor atau mobil menjadi pilihan banyak orang, sebab memang sulit menemukan angkutan umum. Colt atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itupun mesti menunggu berjam-jam.

Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini. Maklum, banyak tantangan yang mesti ditaklukkan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang disertai turunan hingga panas terik yang menerpa kulit saat melalui jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang-ladang palawija. Semuanya menghadang sejak di Pathuk (kecamatan pertama di Gunung Kidul yang dijumpai) hingga pantainya.

Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur Yogyakarta – Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari – Baron dan Baron – Tepus adalah jalur yang paling mudah diakses, jalan telah diaspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta – Imogiri – Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena banyak jalan yang berlubang, sementara jalur Wonogiri – Gunung Kidul terlalu jauh bila ditempuh dari kota Yogyakarta.

Seperti sebuah ungkapan, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, begitulah kiranya perjalanan ke Pantai Siung. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Birunya laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihannya akan mengobati raga yang lelah.Tersedia sejumlah rumah-rumah kayu di pantai, tempat untuk bersandar dan bercengkrama sambil menikmati indahnya pemandangan.

Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.

Batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.

Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali menjadi salah satu pusat perdagangan di wilayah Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya di wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya mencari ikan di tepian.

Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo,diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah Winganun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempuh penduduk setempat untuk bertahan hidup.

Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pecinta alam dari Jepang memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 90-an, berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali memanfaatkan tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah, popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi.

Kini, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing. Jalur itu kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Banyak pihak telah memanfaatkan jalur pemanjatan di pantai ini, seperti sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah bersiap melakukan panjat tebing ketika YogYES mengunjungi pantai ini.

Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ini, tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak merusak lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam.

Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 – 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan untuk bermalam.

Saat malam atau kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin langka masih banyak dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigi kera, bukan jenis hewan lainnya.

Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang-orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulyo atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak lama lagi. Semakin banyaknya pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjat tebing menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan. Kunjungan wisatawan, termasuk anda, tentu akan semakin mempercepat teraihnya kejayaan itu.

Di Pantai ini ada anggota Sueto yang jauh2 n susah2 berkorban demi cinta loo…sampe triak2 segala diujung tebing momennya dia juga minta di foto2 sebagai surprise bagi pujaan hatinya waktu itu….ha2…

Hmm setelah puas foto2 dan mendaki di pendakian tebing2 pantai Siung kamipun pulang tpi biasa mampir malioboro lagi dan tak lupa oleh2 untuk sanak keluarga…….terus kan tadi orangnya 4 motornya 2 sekarang  orang nya5 motornya 2 wes pokoknya ada caranyalah…he2..Pokoknya bagi penggemar perjalanan inilah yang bisa Sueto oleh-olehkan….See Y!Next Trip

Bisa lihat videonya sebagai referensi

 

%d blogger menyukai ini: