Tag Archive: Jember Regency



Salam wildlife!Kali ini cerita dan sharing destinasi baru yang ditulis, mengenai hasil jalan-jalan rekan hilmy sueto di Jember. Jadi ceritanya seperti ini :

Air Terjun Tancak adalah wisata di Jember yang masih sangat jarang dijamah wisatawan kecuali para pendaki lokal dan para pramuka, tanpa adanya tangan pemerintah daerah yang ikut campur sehingga belum ada fasilitas yang cukup memadai namun Alhamdulillah masih bersih dari sampah non daur ulang. Air Terjun Tancak ini tanpa tiket masuk alias  GRATIS.
Tepat lebaran tahun lalu saya dan adek kembar (dek fizha – dek ipung) menakhlukan trekking menuju Air Terjun Tancak kawasan Gunung Pasang di Jember. Gunung Pasang ini sendiri merupakan anak gunung dari Gunung Argopuro, tepatnya di bagian selatan Gunung Argopuro.
Letak Air Terjun ini berdasarkan lokasinya berada sekitar 16 km arah Barat Daya kota Jember, di Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Dengan Koordinat GPS  -8.0726890 113.6228790 (googlemaps,2013).

Meskipun saya orang Jember asli, tapi Air terjun ini baru saya kunjungi tahun lalu (2012).

Jika dari arah Surabaya, atau arah barat kota Jember, tidak perlu memasuki kota Jember. Setelah melalui pasar Rambipuji, akan menemui lampu lalu lintas pertigaan. Ambil arah kiri ke arah Rambi Gundam terus ke Panti, dan lanjutkan perjalanan hingga menemui petunjuk arah ke Air Terjun Tancak. Pertigaan ini tempat bertemu dari arah kota atau timur Jember (boerhunt,2012).

Pada tahun 2007 kawasan Air terjun tancak pernah longsor hebat, perjalanan menuju lokasi juga hancur, jembatan besar menuju desa suci juga terputus. Setelah masuk daerah Serut, nanti terlihat jembatan kayu, jembatan penghubung sementara setelah kejadian longsor. Saya pun mengabadikan jembatan kayu itu, bagus sekali.

Ada pos perhentian untuk istirahat di pos evakuasi bencana gunung pasang, terdapat warung dan masjid disana, dan tepat berhadapan dengan sungai yang jembatannya terputus pula, sehingga desa terisolasi pada waktu itu.
Jembatan baru pada awal saya kesana (2011) masih berupa tanah tak beraspal, namun kokoh.
Pada awal saya kesana bersama ibu dan bapak serta dek fizha, kami gagal karena hujan lebat saat mencapai pos evakuasi bencana gunung pasang. Kunjungan kedua pun menuai kegagalan karena salah jalan.
Pada kunjungan ketiga, yaitu tahun lalu, saya dengan adek kembar berhasil mencapai Air Terjun Tancak.

Destinasi pertama adalah Pos evakuasi bencana Gunung pasang, Destinasi kedua adalah Tempat Parkir pintu awal dimulainya trekking disebelah musholla (tempatnya pak war).

Untuk bisa mencapai lokasi Air terun Tancak pun perlu perjuangan yang tidak mudah. Maklum, untuk mencapainya harus memarkirkan kendaraan cukup jauh dari lokasi, menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dengan mendaki lereng Gunung. Selain itu, terdapat banyak jalur yang mengecoh para pendaki.
Perjalanan ke Air terjun Tancak dikatakan berhasil ketika kami melewati hutan bambu.
Hutan bambu hanya terdapat di jalur asli menuju Air Terjun Tancak. Panorama jalur menuju lokasi Air Terjun Tancak akan melewati argowisata hutan kopi, hutan cokelat, sungai kecil yang mengalir sayu dengan air yang sangat jernih, hutan bambu yang cukup mendebarkan, beberapa jalur pendakian (disarankan ada guide), anak gunung lain dari gunung Argopuro, dan hijaunya Indonesia 🙂
Akan ada tebing yang sangat curam dengan posisi sudut depresi 30 derajat, disini saya sangat beruntung membawa tali, dan saya naik menggunakan bantuan akar pohon dan tali yang diikat di pohon yang kuat. Pendakian (hiking) tebing curam hanya ada dua, sisanya kami lanjutkan trekking seperti biasa. Air Terjun Tancak bisa dibilang memiliki level kesulitan Medium, sehingga ketika hari sabtu, banyak para pramuka dan atau pendaki pemula untuk tes pendakian disini.

Setelah terlihat jelas Air Terjun Tancak dari kejauhan, semangat kami makin membara, untuk mencapai final step, kami menelusuri sungai kecil dengan pohon raksasa tumbang diatasnya, disini saya kehilangan minuman sprite yang sengaja saya beli di terminal Rambipuji Jember.

Air Terjun Tancak sangat indah sekali, disana suara kami menggema karena dikelilingi oleh tebing yang sangat curam. Waktu kami kesana, kami mendapati bekas api unggun yang telah menjadi abu. Areal perkemahan disini lumayan luas. Disini dingin sekali suhunya, sangat dingin. Saya sempatkan sholat diatas batu yang datar sebelum kami melakukan perjalanan balik. Air Terjun Tancak yang memiliki debit air sekitar 150 m3 per detik ini (nusapedia, 2013).
Waktu yang kami tempuh dari lokasi parkir pak war dengan monyet jahilnya menuju Air Terjun Tancak adalah 2,5 Jam pendakian selama kurang lebih 3KM, 1 jam menikmati Air Terjun Tancak dan 2 jam turun (balik pulang). Total waktu yang dihabiskan adalah 5,5 jam.

Maka saya sarankan :
1. Nyampe pos parkir kendaraan (2rb spd motor, 4rb mobil) jam 9 pagi, biar bisa lama di lokasi Air Terjun.
2. Jika mau berkemah, bilang ke bapak penjaga parkir kendaraan (pak War) yg ada monyetnya.
3. Siapkan Kamera dan baterai yang benar-benar full (klo ada batere cadangan silahkan dibawa).
4. Jaket tebel (dingin banget di lokasi Air Terjun Tancak).
5. Tali pramuka.
6. Pisau/Alat tajam pemotong ranting.
7. Alas kaki dengan grip yang bagus (klo ada sepatu gunung silahkan pakai).
8. Tanya Jalur yang jelas menuju Air Terjun Tancak kepada petani lokal (ada banyak jalur di perjalanan).
9. Klo ada temen yang dah pernah sih mending diajak buat jadi guide, klo nggak ada hubungi pak war.
10. Perhatikan cuacanya, jika kabut telah sedikit terlihat (biasanya jam 4 sore) atau awan mendung (you know what I mean, 2 tebing curam yang dilewati sangat rawan banget klo hujan) maka lebih baik turun.

Berhubung laptop saya hilang dan data-data SUETO hilang semua , mohon maaf jika saya tidak dapat melampirkan video dan foto perjalanan kami.

Berikut foto-fotonya :

Pos nya cak war ,, penguasa gunung pasang, hahahaha! (jemberajib,2010)

Jalur yang banyak tuh menantang banget! (jemberajib,2010)

Potrait Air Terjun

Iklan

sueto tim

gerbang masuk alas purwo

Perjalanan kali ini Sueto akan menuju TNAP yang berada di daerah pucuk paling timur propopinsi Jatim yaitu Semenanjung Blambangan di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kali ini sueto berangkat pake mobil xenia bro Sando…pada awalnya rencana touring ini memiliki 2 tim yang akan berangkat tapi berhubungan 1 tim lainnya ada kendala akhirnya kami berangkat 1 tim saja..Dimulai berangkat dari Sidoarjo markas tombzraider, beranggotakan 8 orang pada akhir semester genap 2010 jam 10an malam pun langsung berangkat…Awal berangkat kami lewat jalur selatan menuju Banyuwangi tapi mampir ke rumahe temen dulu di Lumajang setelah itu langsung cabut perjalanan menuju TNAP…nih jalurnya melewati Surabaya-Sidoarjo-Porong-Gempol-Bangil-PasuruanProbolinggo-Klakah-Lumajang-Jember-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Rogojampi-Srono-Muncar-Tegaldino-TNAP

Rute SBY-TNAP

Melewati perjalanan yang berliku-liku Xenia pun sanggup melahap kecepatan 140km/jm target pagi sudah nyampe melewati daerah Kalibaru perbatasan Jember-Banyuwangi dan ngopi sejenak terus langsung dilanjutkan ke TNAP dan akhirnya nyampai daerah tegaldino memasuki perkampungan kecil dengan jalan yang sedikit makadam akhirnya sampe di pintu gerbang TNAP…tentang TNAP

Ada beberapa cara menuju TNAP salah satunya kalau dari Banyuwangi… Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.

Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Peta TNAP

TNAP SUETOclub

Bersama Banteng TNAP

Lagi mendinginkan MObil dan orang yang kepanasan karena terlalu cepat

Soehel the silver sufer

Menyebut nama Alas Purwo, mungkin banyak orang yang tidak mengenalnya. Tetapi bila menyebut Plengkung, pikiran kita langsung menuju ke sebuah pantai dengan ombak besar yang sangat terkenal bagi penggemar berat “surfing” (selancar).

Alas Purwo dan Plengkung mungkin bisa disamakan dengan “kasus” Bali dan Indonesia dulu. Wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Padahal Bali adalah bagian dari Indonesia. Begitu juga halnya dengan Plengkung dan Alas Purwo. Plengkung yang merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo jauh lebih dikenal dibandingkan Alas Purwo. sebelum kita bahas Plengkung kita bahas dulu TNAP…

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo,Kabupaten BanyuwangiJawa TimurIndonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.

Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).

Taman Nasional Alas Purwo(TNAP)merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.

Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).

Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari.

Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain.

Setelah melewati gerbang masuk TNAP kami istirahat di warung dan pusat makanan untuk istirahat sejenak dan makan kemudian langsung mulai menyusuri pantai-pantai di sekitar TNAP bermula dari pantai yang paling dekat yaitu pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Pantai ngagelan

Papan Peringatan

TNAP ngagelan

Penyu penangkaran

Di Belakang Pondok Penangkaran Penyu Ngagelan

Bro Sando Sueto

Arek2 di ngagelan

Green Sueto

SUETO Tim Ekspedisi TNAP

Ready Shoot

Warga sekitar Alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur. Ngagelan juga tempat penetasan anak-anak penyu hamparan pasir pantai yang bersih terpadu dengan hutan mangrove dan hutan tropis. menjadi tempat ber wisata yang benar- benar fantastis. jika beruntung bisa ditemui hamparan pantai dengan pasir bersih dan sangat luas ketika air laut surut.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan. Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas TNAP mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

Menuju Trianggulasi

Xenia Hypnotis

Pantai Trianggulasi

Pondok Penginapan di Trianggulasi

Setelah dari pantai ngagelan kami menuju pantai Trianggulasi yang terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Deburan ombak di pantai Trianggulasi terlihat cukup tinggi, dengan topografi pantai yang memanjang, ombak ini terlihat mempesona, dan bisa dimanfaatkan untuk surfing. Namun, pihak pengelola Taman Nasional Alas Purwo sengaja tidak mengijinkan peselancar, karena ombaknya masih dianggap berbahaya. Hal ini ditandai dengan larangan melakukan aktivitas apapun di laut termasuk berselancar ataupun berenang.

Jika kebetulan singgah di pantai ini, usahakan untuk menginap, sebab pemandangan Sunset (Matahari tenggelam) cukup memukau. Di sekitar pantai, disediakan penginapan (Guest House). Tarifnya semalam hanya Rp 75.000,-/Kamar dan untuk keluarga juga disediakan satu rumah Rp 150.000,- / malam (berisi 4 kamar). Jangan lupa, biaya ini hanya untuk menginap, sedangkan jika pelancong berminat menikmati makanan tradisional berupa kudapan ala alas purwo bisa memesan di pengelola guest house.

Sueto in Pancur

The AVATAR

Pancur Rock

Pose

Mars

Pnacur Beach

Pancur

Little Garden

Green Pancur

Little Waterfall

Stream of Moss

Sunset

Kemudian setelah itu kami langsung meluncur menuju pantai Pancur Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki. Setelah puas berfoto-foto kamipun rencana ingin langsung menuju plengkung tetapi waktu itu ada kendala angkutan mobil dari Pancur ke Plengkung sedang rusak dan masih diperbaiki juga kurangnya ketersediaan driver pemandu sebenarnya jarak Pancur-Plengkung cuman 10-11km tetapi kami memutuskan menginap saja di Pancur karena  ada tempat perkemahan, warung dan masjid jadi lumayan lengkaplah fasilitasnya…

Sueto Tim Sadengan TNAP

Randy de Burges

Mulai Hunting Banteng

Populasi hewan di Sadengan

Sore di Sandengan

Sambil menunggu matahari terbenam kami sempatkan mampir ke Sadengan yang terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung.

Kami bersantai sampai menjelang senja di Sadengan terus balik ke Pancur Camp…Menikmati pantai yang jauh dari hirupikuk kota di malam hari ternyata bagus banget. Langit waktu itu sedang cerah dan kamipun  bisa menikmati taburan bintang dilangit secara penuh. Sampai akhirnya kami tertidur pulas di pantai dan terbangun karena dinginnya udara malam hutan akhirnya kami pindah ke masjid di daerah Camp. Met bubuk…! to be Continue…

Nih foto-foto saat malam di Pancur…

Soehell

Kamehameha

Laser Beam

Pancur Malam Hari

Kumpul Malam Pancur

Kumpulan Bintang

Bertabur Bintang

 

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ 🙂

 

Tanjung Papuma Jember(SUETO)


Hallo salam wildlife from SUETO!Perjalanan kali ini bertujuan ke Jember tepatnya Tangjung Papuma…Berawal dari sebuah liputan televisi saat di kantin kampus…akhirnya saat liburan anak2 SUETO pun membuat rencana touring ke Tanjung Papuma…Go!!!Mulai berangkat kumpul di Home Base Tom Raider..berangkat dengan formasi 3orang 2 motor Tom n Sando(Pulsar200) Suehe(mio) Berangakat sekitar jam 3 dari Home Base Tom Raider Inilah Peta perjalanan yang akan kami tempuh yaitu dari Sidoarjo-Gempol-PasuruanProbolinggo-Lumajang(berhenti di Jendro Home’s)-Jombang-Kencong-Gumukmas-Balung-Wuluhan-Ambulu-Tanjung Papuma(jalur selatan tidak lewat Jember kota)

Peta perjalana Sidoarjo-Tanjung Papuma

Peta Jember

Suehel menghilang dalam kegelapan

Setelah melewati perjalanan sekitar 3jam lebih nyampelah kita di Lumajang dan kita mampir istirahat di Jendro. Sesampainya disana kami pun mengobrol tentang rencana touring besok pagi hariny sempat juga sebelum beranjak istirahat kami pun mamir ke rumah Randy memberitahu rencana touring. Tinggal Istirahatnya dech…

Tom menatap luar

Jendro Tuan Rumah Lumajang

Sando ngeceng

Panorama pagi

Paginya sebenernya masih ngantuk semua tapi Randy udah nyusul kerumah Jendro akhirnya kami pun berangkat sekitar setengah5pagi meskipun agak molor dengan formasi Tom n Sando(Pulsar200) Suehe(mio) Randy n Jendro(megapro) Waktu di perjalanan sambil menikmati bagusnya pemandangan pagi hari yang masih berkabut akhirnya disempatkan tuk foto2 dunk…

Kompak saat berhenti di pom bensin arah Ambulu

Suehel n Sando(Xmode)

Melihat Sawah

Tom jepret

Suehel pose

Sando pose

Randy pose

Wez perjalan langsung dilanjutkan menuju target utama Tanjung Papuma!waktu tahun 2009 kami kesana masih ada dua jalan untuk menuju pantai yang satunya jalan aspal mulus tapi sebelumnya harus melewati pantai watu ulo jadi masuknya harus bayar tiket 2kali nah jalan satunya lagi melewati jalan berbatu yang rusak tpi langsung berada di depan loket Papuma kamipun memilih jalan yang rusak karena bayar cmn satu kali n extreme…tetapi pada tahun 2010 jalan yang rusak ini sudah diaspal dan jadi bagus dan mulus dengan begitu bisa menuju ke Tanjung  Papuma langsung..

Suehel n mio

Jalan Terjal di lalui

Masuk hutan

Pos penarikan tiket

Gerbang pintu masuk Tanjung Papuma

Kamipun membeli tiket masuk…Setelah memasuki kawasan area Tanjung papuma yang masih pagi sekitar jm setengah

7 kami pun cepat2 mengambil kamera berfoto2 kebetulan pemandangan panorama pagipun masih bagus..

Setelah Saya dan Sando turun dari pondok awal menyusul anak2 yang sudak duluan berada di Pantai..Hmm gambaran tentang Tanjung Papuma adalah sebagai berikut :

Tanjung Papuma sendiri terletak di di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember (Jawa Timur Indonesia). Nama Papuma sendiri terbentuk sebagai akronim dari Pasir Putih Malikan. Papuma menawarkan pantai yg indah berupa pasir yg putih dan disisi lainnya menawarkan pantai yg penuh batu dan karang. Bagi fotografer keistimewaan tanjung papuma adalah anda bisa mendapatkan sunrise dan sunset di satu tempat. Mmhh jarang sekali ada tempat yg begitu istimewa. Walaupun tergolong baru di tempat ini anda bisa mendapatkan tempat peristirahatan berupa pondokkan yang katanya berkisar antara 100-300 ribu. Saya belum pernah mencoba menginap disana mungkin suatu saat nanti saat ingin medapatkan sunset di malam hari dan sunrise di pagi dan mengeksploitasi lebih jauh Tanjung papuma.

Ada 7 (tujuh) karang besar di papuma ini, deretan pulau karang ini memiliki nama sendiri-sendiri yang diambil dari tokoh pewayangan seperti, pulau batara guru, pulau kresna , pulau narada, pulau nusa barong, pulau kajang dan pulau kodok karena pulau karang ini bentuknya mirip dengan kodok raksasa yang timbul tenggelam di tengah laut.

Di Papuma terdapat pantai yang penuh dengan karang yg pipih berjajar di sepanjang pantai sejauh kira2 1 kilomenter. Pantai yg baru saja dirambah oleh perhutani ini bernama Malikan. Malikan memberikan panorama yang sejuk. Kita bisa berdiri di atas batu2 karang dan terkena ombak laut. Jika hari sudah menjelang sore maka laut akan pasang dan sudah saatnya kita naik kearas ke atas bukit.

Diatas bukit ini kita bisa melihat keseluruhan pemandangan papuma dari arah timur sampe barat. Sitihinggil merupakan menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh Perhutani sebagai tempat pelancong menatap seluruh panorama di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantuan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu.

Bila pandangan kita palingkan ke arah barat, maka dari Sitihinggil ini kita bisa menikmati sebuah pulau besar yang bertengger di kejauhann tengah tanjung. Oleh warga Jember, pulau ini dikenal sebagai Nusa Barong. Dari Papuma, pulau tanpa penghuni itu berjarak sekitar 50 mil laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan perahu.

Mungkin Inilah foto2 Tanjung Papuma 2009 yang masih alami karena sepertinya di tahun 2010 pemandangannya menjadi kurang bagus mungkin karena jalannya sudah diperbagus jadi akses ke sana jadi gampang..Tetapi basicly memang baguskok Tanjung Papuma…

Pantai Malikan

Setelah seharian berada di kawasan pantai Tanjung Papuma kami merasa puas dan akhirnya kembali ke rumah Jendro untuk istirahat sebelum besoknya kembali pulang ke Sidoarjo..Semoga posting bermanfaat bagi pengunjung…tuing!

%d blogger menyukai ini: