Tag Archive: pandaan



IMG-20160817-WA0017

 

Salamwildlife!Sedikit late post, kali ini ada cerita perjalanan air terjun sekuti yang unik dari suetoteam. Air terjun yang berlokasi di tretes memang benar-benar penuh tantangan dan seru sampai perjalanan Suetoteam ke sekuti dilakukan dua kali disaat yang berbeda karena medannya yang lumayan susah dan basah..haha

Cerita perjalanan pertama :

Bila berbicara tentang keindahan, jangankan Indonesia, Jawa Timur saja seakan tidak ada habisnya bisa dibilang yang dekat-dekat Surabaya saja seperti Air Terjun Sekuti ini aja termasuk keindahan alam yang jarang dijamah.

Perjalanan pertama ke sekuti ini di awali dengan cerita rekan-rekan yang dulu masa muda pernah ke Air Terjun Sekuti ini akhirnya sekitar akhir Juli diputuskanlah suetoteam berangkat menuju sekuti. Karena cuaca saat itu tidak menentu kami saat itu berangkat pagi hari sekitar jam 9 dari Surabaya.

Lokasinya menurut google map seperti ini :

Peta sekuti

Jika menggunakan kendaraan umum dari Surabaya bisa naik bus antar kota dalam propinsi jurusan Surabaya ke Malang, turun di terminal Pandaan, dari sini anda bisa melanjutkan dengan naik angkutan pedesaan seperti pickup/L-300 jurusan Tretes, dan minta menurunkan di lokasi awal untuk menuju air terjun Sekuti, biasanya sih mereka memberikan patokan vila Sekuti yang tepat berada di sebuah kelokan jalan menuju arah Tretes. Terus bila pakai motor, anda bisa langsung menuju lokasi awal sebelum menuju air terjun Sekuti dan menitipkan motor kepada warga setempat yang tentunya dengan biaya tertentu, untuk selanjutnya mulai melakukan perjalanan yang extreme.

Nantinya di perjalanan awal akan memasuki area kebun milik warga dan sungai kecil yang mengalir dari Air Terjun Sekuti. Kemudian kita menyusuri sungai kecil hingga tiba ke air terjun. Bicara tentang medan sebenarnya tidak terlalu sulit hanya harus hati-hati saja dengan bebatuan kali yang licin. Tapi susahnya waktu itu ya karena kami melaluinya saat hujan jadi ya seperti benar-benar melawan arus sungai yang deras dengan jalan kaki karena jalanan yang tadinya hanya bebatuan berubah menjadi sungai karena aliran air hujan dan parahnya tentunya kalian akan bertarung dengan lintah-lintah yang akan merasuk ke dalam tubuh dengan tiba-tiba bila anda punya bekas goresan-goresan kecil ditubuh anda oleh karena itu saat kesekuti siapkanlah bakau/putung rokong dan garam tujuannya agar bisa mengantisipasi bila ada lintah yang masuk kedalam tubuh. Cirinya terkena lintah darah adalah area yang terkena lintah darahnya tidak bisa mampet dan lintah waktu dikeluarkan akan terlihat membesar.

Saat itu banyak rekan-rekan yang terkena lintah untung saja cepat diatasi karena memang kondisi saat itu hujan deras. Setelah jalan kaki selama 2jam lebih sampai ke tanjakan batu besar terakhir untuk melihat air terjun tapi saat itu aliran arus semakin deras dan tidak memungkinkan untuk menuju titik pandang air terjun yang terakhir ditambah ada beberapa anggota kru yang telah mengalami cidera. Akhirnya keputusan diambil dan dipilihlah kembali ke villa sekuti karena haripun sudah mulai redup saat itu. Next dihajar lagi ini sekuti..hehe

Sebuah evaluasi saat itu banyak rekan yang baru pertama kali ke sekuti dengan bekal yang tak siap seperti gear dll terutama memang masalah cuaca yang sedang hujan deras yang kita terjang saja saat itu.

Cerita perjalanan kedua :

Kemudian diputuskan kembali ke Air Terjun Sekuti pada saat hari kemerdekaan 17 Agustus sekalian merayakan semangat hari kemerdekaan Indonesia. Jadi saat memasuki hari H kami betul persiapkan seperti berangkat lebih pagi setelah shubuh dan membawa gear lengkap. Justru membawa personel lebih banyak saat itu dari perjalanan pertama cuman 10 orang bertambah 5 orang menjadi 15 orang yang berangkat hari itu.

Perjalanan rutenya dilakukan seperti biasa tiba ke tretes lebih pagi dan Alhamdulillah didukung cuaca yang cerah. Perjalananpun akhirnya terasa lancar bila tidak hujan track yang tadinya sungai dalam jadi hanya seperti aliran-aliran air biasa sehingga bisa memangkas waktu perjalanan kurang lebih menjadi hanya 1 jam saja juga serangan lintah masih tetap ada tapi memang tak semasif waktu hujan diperjalanan pertama. Ditengah perjalanan kita juga sempatkan istirahat makan dan mainan seluncur alami.

Sampai di area Air Terjun Sekuti kita akan disuguhkan sebuah ketenangan hanya suara air terjun dan keindahan alam sekitar saja suasana didukung karena memang sangat sepinya wisatawan yang berkunjung kesini hanya tim sueto saja saat itu. Berikut dokumentasinya :

Setelah puas kami kembali ke Surabaya, bagi kalian yang ingin berkunjung ke Air Terjun Sekuti ini hanya saran dari kami bila saat itu hujan mending jangan diteruskan karena memang benar-benar berbahaya juga memang area Air Terjun juga tak bisa ditempuh otomatis kenikmatannya juga berkurang. Terima kasih telah membaca cerita perjalanan kami!tak lupa mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan 71th Indonesia!

Berikut videonya

Iklan

IMG_2587

Olahraga Kecil Menuju Pawitra G. Penanggungan (1653MDPL) by Suetoclub

Hai Salam Wildlife!Yup Setelah sempat lama tak jalan-jalan kami Suetoclub memilih melakukan Olahraga kecil lagi yaitu hiking ke puncak Penanggungan yang deket-deket saja dari Surabaya. Perjalanan hiking ini dipilih karena memang sudah lama gak hiking terakhir ke Welirang meskipun dalam perjalanan menuju hari H ini beberapa personel mengalami cidera sehingga waktu mendaki tidak dalam kondisi fit tapi kamipun tetap berangkat karena memang bulan September 2014 ini waktunya bener-bener cocok untuk mendaki dan alat-alat sudah kadung disiapkan..hehe.

Perjalanan kami mulai hari Sabtu karena saya sendiri masih ada kerjaan sampai siang  hari itupun berangkatnya baru malam harinya  tapi Gas sajalah. Hiking kali ini diikuti hanya 3 orang saja karena mungkin banyak yang lainnya berhalangan tapi yang ikut ini dedengkot sueto malah yang paling lama sudah tidak pernah turing bareng lagi akhirnya dipersatukan lewat acara hiking ini J

Time 13.00

Perjalanan pulang kantor dari Gresik ke Sidoarjo

Time 14.30-16.00

Sampe  Sidoarjo langsung pijet untuk menstabilkan kondisi fisik

Time 16.30-19.00

Setelah Pijet nunggu personel lainnya datang kerumah tidur dulu

Time 19.30-21.00

Lihat Arsenal vs Manchestercity yang lagi seru-serunya waktu itu da hasilnya berakhir imbang

Time 22.00-23.30

Berangkat dari Sidoarjo menuju Trawas ke pos pendakian Tamiajeng kampus Ubaya

Time 00.00-00.30

Keliling-keliling dulu cari makan malam bekal dll.

Time 01.00

Start mulai pendakian setelah parkir bayar perizinan Rp 5000,-/orang parkir mobil Rp.20.000,- parkir motor sekitar Rp 5000,-

Time 01.00-02.00

Melewati jalanan naik turun yang agak mudah tingkat kesulitannya menanjak tapi gak seberapa masih melewati hutan-hutan ladang perkebunan sampai ke pos 1

Time 02.00-03.00

Jalannya mulai menanjak soro lumayan kalau bawa carier dengan beban berat diatas 15kg-20kg mulai olahraganya disini xixixixi

Time 03.00-03.30

Selangkah lagi sampai puncak bayangan hosh-hosh hahaha..untungnya ramai saat itu katanya sih puncak welirang ditutup jadi banyak yang pindah daki ke penanggungan weekend saat itu

Time 03.30-03.45

Akhirnya sampai juga sempat melihat orang berjubah putih seperti assincreed begitu mungkin semedi atau penjaga gunung ya temen saya sempat kaget hihi..kemudian mendirikan tenda dan kemudian yang lainnya istirahat saya foto-foto sampai pagi sambil menunggu yang lainnya bangun

Time 06.00-06.30

Akhirnya yang lain udah pada bangun dan melakukan persiapan summit  puncak Pawitra

Time 06.30-07.30

Meskipun hiking summitnya kurang lebih cuman 1jam perjalanan tapi jalananya benar-benar menguras tenaga karena penuh pasir dan debu istilahnya banyak jalan menuju roma tapi kalau salah jalan ya percuma haha

Time 07.30-08.15

Santai-santai menikmati puncak pawitra di pagi hari sejuk-sejuk gimana gitu sambil mengabadikan momen-momen eksis

Time 08.15-08.45

Bersiap turun dari puncak tapi justu turun ini lebih ekstra hati-hati meskipun bisa lebih cepat kalau sudah begini hanya pengalaman yang benar-benar bisa kita pelajari tenang saat memilih pijakan adalah kuncinya salah dikit pasti mbrosot..

Time 08.45-10.30

Sesampai tenda di puncak bayangan kami langsung istirahat sebelum bersiap preapare buat kembali ke Surabaya

Time 10.30-12.00

Semua sudah beres bersih-bersih sampah dan lain-lainnya jangan lupa dibawa ya biar tetap menjaga keasrian gunung tetap hijau perjalanan turunpun kamu lakukan dengan 2 kali lipat susah payah meskipun barang-barang di tas sudah kosong dan perjalanan lebih cepat karena turunan ya meskipun tidak lebih cepat dari rata-rata pendaki couple disana waktu itu yang begitu so sweet seperti mendaki dengan cinta dan jalanan gunung serasa milik berdua sejoli..haha tapi plink gak kita berhasil dapat korting lah dari perjalanan mendaki 2 setengah jam jadi 1 setengah jam saja pas turunan…hihi

Time 12.00-13.00

Cari rumah makan kemudian langsung istirahat di sebuah persinggahan teman yang ada di Trawas

Time 13.00-18.00

Setelah isitirahat dan mandi-mandi sehingga terasa bugar dan fit kembali kamin bersiap pulang ke Surabaya setidaknya perjalanan kali dapat dinikmati untuk mengisi liburan dengan oloahraga kecil-kecilan. Kalau 1 bulan tak disempatin traveling rasanya hidup jadi hambar gitu haha..

So tunggu cerita perjalanan dari Suetoclub di perjalanan-perjalanan berikutnya 😉

Di bawah ini sedikit History tentang G. Penanggungan

Gunung Penanggungan, merupakan gunung berapi yang sedang tidur atau sedang dalam keadaan tidak aktif. Gunung yang memiliki ketinggian 1653 M dari atas permukaan laut ini terletak di kabupaten Mojokerto dan berada pada satu kluster dengan gunung Arjuno dan Welirang.

Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu gunung ini dikenal sebagai Gunung Pawitra, yang memiliki arti sebagai kabut, karena memiliki puncak yang runcing dan berkabut. Setidaknya terdapat 81 bangunan candi yang pernah berdiri di kawasan lereng Penanggungan. Dari angka tahun yang ditemukan di beberapa bangunan candinya, diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut didirikan antara abad X Masehi (Pemandian Jalatundo, 977 M) sampai dengan abad XVI Masehi.

Semua peninggalan bersejarah yang terdapat di kawasan Penanggungan ditemukan pada tahun 1920 an, saat terjadi kebakaran hutan yang hebat di lereng gunung tersebut. Dari kejadian itu pula, benda-benda dari masa kejayaan Majapahit ikut banyak ditemukan beserta situs arkeologi dan ribuan artefak lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan bisa terungkap.

Penduduk lokal percaya bahwa gunung Penanggungan merupakan gunung yang banyak digunakan sebagai tempat meditasi atau bertapa, dimana juga banyak dihuni oleh para dewa yang sering marah. Bukti atas kepercayaan ini bisa dilihat dari 81 kepurbakalaan yang ditemukan di gunung Penanggungan dan memperkuat anggapan masyarakat Jawa bahwa gunung Penanggunggan adalah gunung yang suci, dan tempat tinggal dewa. Tidak kurang dari 50 punden berundak dengan tiga altar sesajian di terasnya yang tersebar di lembah dan lereng Penanggungan.

Di dalam kepercayaan Hindu Buddha dikenal adanya konsep Makrokosmos atau susunan dalam alam semesta, bahwa alam semesta ini berbentuk linkarang pipih seperti piringan, dimana gunung Mahameru atau Semeru menjadi pusatnya. Gunung Penanggungan, dalam kepercayaan masyarakat Jawa, adalah salah satu perwujudan konsepsi makrokosmos tersebut karena gunung tersebut diyakini sebagai salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh dewa penguasa alam.

Sebagai pusat keagamaan pada masa perkembangan Hindu dan Budha, kaum resi memegang peranan penting dalam upacara ritual. Para resi adalah orang yang sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan memilih untuk hidup menyepi pada tempat-tempat yang jauh dari keramaian, biasanya di gunung yang masih sepi dan asri. Gunung Pawitra dijadikan sebagai pusat aktivitas keagamaan tidak lain adalah karena anggapan bahwa Pawitra merupakan puncak Mahameru, titik pusat alam semesta yang dipindah ke Jawa. Dengan bermukim dan beribadah di bangunan-bangunan suci yang tersebar di lereng-lerengnya, maka para resi akan lebih mudah untuk berhubungan dengan dewanya di dunia Swarloka, tempat bersemayamnya para dewa dan Girinatha (Siwa).(http://www.eastjava.com/books/glorious/ina/penanggungan.html)

Berikut dokumentasinya

10628449_10201840122599538_2379462548484669326_n 10475338_10201840537969922_6955034985091380794_n 10646954_10201841977125900_2004781823148394930_n 10356750_10201843101554010_1790660840717663990_n IMG_2277 IMG_2278 IMG_2282 IMG_2287 IMG_2304 IMG_2307 IMG_2343 IMG_2362 IMG_2373 IMG_2380 IMG_2384 IMG_2387 IMG_2462 IMG_2536 IMG_2548 IMG_2554 IMG_2581

%d blogger menyukai ini: