Tag Archive: Probolinggo



img-20161016-wa0026

Salamwildlife!Kembali lagi ke cerita perjalanan dan masih sama ms Jendro tapi sekarang guestnya kang Setet Sueto. Tujuannya kali ini pemandian air panas Tiris dan Ranu Merah Probolinggo.

Perjalanan Single Turing dilakukan oleh kang setet dengan Black Mio “Simple but Strong” dari Surabaya malam minggu Oktober 2016 menuju Lumajang kemudian cari tempat-tempat memanjakan geger plus ngopi sampai pagi kemudian Paginya Ms Jendro disusul menuju ke Kecamatan Tiris Probolinggo ke destinasi pemandian air panas.

Ya karena gak mandi semalaman dari Surabaya jadinya paginya mandi dipemandian air panas Tiris saja biar lebih seger…Langsung gass sajalah pemandian air panas ini letaknya cuman 500meter dari jalan raya dekat dengan Ranu Segaran.

petaranumerah

Sampai pemandian parkir saja motornya Rp. 2000,- HTM ikut ranu segaran Rp. 5000,- sudah langsung cebur saja tunggu orang-orang yang mandi lainnya selesai biar foto-fotonya agak sepi..

Berikut moment-momentnya :

Kemudian setelah badan seger gak jauh dari situ mampir ke Ranu Merah didesa Andungsari nih. Salah satu ranu yang sebenarnya bisa dibilang unik dari para ranu disekitar sini, halah…haha. Ya karena itu lo ranunyakan airnya merah…usut punya usut air merahnya itu berasal dari tumbuhan-tumbuhan atau elemen dibawah air  yang berewarna merah sehingga ranu ini meskipun hampir mirip dengan ranu Segaran tapi suasanan lebih eksotis lebih asri dengan dikelilingi pohon Pinus dan tergolong Ranu yang masih perawan belum dijamah atau dijadikan tempat wisata seperti yang sudah terkenal misal Ranu Agung dan Segaran apalagi ranu the most enthusiast ranu Kumbolo ituu…hagz

Mencoba mendokumentasikan dengan secuil ide Simple but Strong halah kata-kata ini lagi..hehe..Berikut fotonya :

Nah sesudah mengabadikan momen maka sudah waktunya pulang dan mengantarkan empunya ms Jendro balik ke Lumajang setelah baru saya kembali ke Surabaya dengan Black Mio mudah-mudahan gak rewel nih motor..haha

Ok..Sekilas cerita perjalanan kami mudah-mudahan berguna dan tolong lestarikan ranu-ranu yang masih perawan disekitar sini ya…Ok Simple but Strong so Stay Tuned and I’ll be right back with new explorer…halah…wkwkwkwk..

Oh iya mungkin mau mampir ke wisata lain di kecamatan Tiris ini http://www.suetoclub.com/2015/08/ranu-agung-salah-satu-ranu-terindah-di.html

Iklan

10888727_10202388090218386_3721856908862112600_n

Salam wildlife!Di penghujung tahun 2014 banyak kali hari libur ataupun cuti bersama  oleh karena itu kami sempatkan untuk menjelajah wisata ranu di daerah Probolinggo. Pada awalnya kami sueto tim selalu berfikir untuk menjelajah tempat-tempat yang memang masih alami dan pilihan destinasi touring saat itu akhirnya jatuh pada beberapa wisata ranu yang ada di kabupaten Probolinggo salah satunya ranu Agung di kecamatan Tiris. Perjalanan yang niat awalnya dilakukan pada malam hari akhirnya di tunda karena hujan deras dan dilanjutkan pagi harinya. Berangkat dengan 3 sepeda motor dari Surabaya jam 7 pagi dengan rute Suramadu-Aloha-Sidoarjo-Porong-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Kraksaan-Tiris, sampai disana mungkin sekitar jam 10 an lebih. Jalan yang ditempuh sebenarnya mudah ikuti aja jalur arah Songa arum jeram terus ke arah selatan terus sampai masuk ke kecamatan Tiris dan anda akan menemui Plakat Ranu pertama yaitu Ranu Segaran..Pikirnya pada saat itu kami bakal mengunjungi Ranu Segaran pada saat kembali arah pulangnya..Akhirnya kami langsung menuju lokasi Ranu Agung nah kalau kesini anda harus doyan tanya kalau tidak ya jelas sesat dijalan kecuali anda-anda sekalian para touringer punya indra keenam..

Berikut petanya :

peta2

Lokasi masuk dari desa terakhir memang jalannya sangat sempit mungkin hanya bisa dilewati satu mobil saja dan tidak ada tiket masuk hanya membayar parkir seikhlasnya saja kepada penjaga warung setempat kemudian jika ingin ke pinggir ranu harus treking menuruni bukit gak jauh kok mungkin 600-700m saja kurang lebih..

Nah sesampainya di ranu pada waktu itu mungkin saat liburan ada beberapa wisatawan 1 keluarga dan orang-orang camping satu tenda saja dan ketiga kelompok kami jadi terlihat sangat sepi dan memang indah ranu nya airnya yang hijau dan tenang membuat kami betul-betul langsung bersahabat dengan ranu ini tak terkesan aura mistisnya malah ditutupi dengan keindahan dinding batu  yang menjadi keistimewaan Ranu Agung ini dari ranu-ranu lainnya. Bagiku Ranu Agung ini benar-benar istimewa mungkin bisa dikategorikan Ranu Agung ini dari salah satu ranu yang terbaik bahkan di Indonesia dan tetunya tak kalah istimewa dengan Ranu Kumbolo yang sudah terkenal mendunia itu opini pribadi tapi setiap orang yang datang ke Ranu Agung pasti merasakannya. J

Meskipun susasana hari itu tak cukup cerah dan sedikit mendung kami pun tetap tergoda bermain air dan getek yang memang tersedia secara gratis disana ya..mungkin kalau lagi ramai pengunjung harus gantian atau kalau anda kreatif anda memungkinkan bisa bikin getek sendiri disana..Mengayungkan bambu untuk menjalankan getek sampai ketengah danau dengan ketenangan khas Ranu agung benar-benar membuat hati ini tentram dan bakal selalu kangen dateng ketempat ini 🙂 Tempat ini juga cucok dibuat foto prewed..hehe

Foto-foto :

9494_10202388002656197_2159162345092892547_n 1464051_10202388650592395_9100017322549646531_n 1472812_10202388005136259_8965559535489142350_n 1800464_10202388654312488_5106690331492557381_n 10264941_10202388318144084_1408766665397472268_n 10307203_10202389281128158_5184555100974231388_n 10329045_10202388649472367_1486915901834373021_n 10393847_10202390438157083_3683624013268463633_n 10418905_10202388657752574_5107948296602339466_n 10420354_10202388059097608_7530705989211959497_n 10885318_10202387946934804_5675625766575350419_n 10882199_10202388056137534_1528837067347388256_n 10710533_10202388653272462_7117866236882322689_n 10676119_10202390996091031_7308352597932763945_n

Akhirnya tak terasa hari pun sudah mulai sore dan hujan deras pun mengguyur padahal kami belum selesai sesi foto-fotonya, kamipun bergegas naik ke tempat parkiran di atas sambil menunggu di pos berharap hujan reda tapi apadaya hujan semakin merata dan semakin lebat..Akhirnya kami putuskan untuk langsung kembali ke Surabaya sore itu juga..

Sebenarnya sungguh menyesal kami tidak bisa mengunjungi ranu-ranu lainnya misal seperti RANU Segaran, Ranu Merah, Ranu Tlogoargo, Ranu jangkang bahkan kebun teh diatas bukit yang mengarah ke Selatan G. Argupuro  tapi itu menjadi motivasi kami untuk nantinya kembali ke sini lagi..hehe

Oh iya karena tempat-tempat ini masih asri jangan kotori dengan sampah-sampah plastik justru kalau ada sampah plastik dipungut dan dibuang sayangkan ini wisata kita di Jawa Timur dan Indonesia yang sangat indah untuk juga dinikmati oleh anak cucu kita kelak dikemudian hari Je..

Selamat bertemu di perjalanan menjelajah berikutnya bersama Suetotim, terima kasih juga para pembaca yang terhomat untuk setia selalu memantengi blog kami.

landscape


IMG_0271xx

Salam wildlife!yup melanjutkan kembali perjalanan ke pulau gili ketapang part 2. Keesokan harinya kami dengan tim sueto yang berbeda berangkat ke p. Gili Ketapang Probolinggo. Keberangkatan dari Sidoarjo dimulai agak siang hari karena ingin mengejar sunset di pulau Gili tersebut dan perjalanan pun dimulai kurang lebih 2 jam perjalanan sempat melewati pertigaan jalan wisata Madakaripura yang cukup terkenal di jawa timur.

Akhirnya kami sampai di dermaga tanjung tembaga dan menunggu beberapa penumpang agar kapal penuh dan kemudian berangkatlah ke pulau gili di kapal menikmati ketenangan selat madura. Sampai dermaga kamipun langsung berniat menuju pantai timur “Ying” yang mempunyai keunikan tersendiri dengan wisata gua kucing. Perjalanan ke pantai timur ini “Ying”sedikit lebih dekat  jika dibandingkan dengan perjalanan menuju pantai barat ‘’Yang” Penasaran apa itu gua kucing?mungkin guanya berbentuk kucing?guanya banyak kucingnya?atau bagaimana ya..begini ceritanya :

Banyak orang asli desa Gili tahu mengenai sejarah tentang keberadaan gua tersebut. Apalagi sejarah tentang pulau Gili tersebut, bukan sebuah rahasia lagi, namun sudah banyak masyarakat yang mengetahuinya.“Konon gua ini diberi nama kucing karena disini banyak kucingnya,” katanya.

Menurut warga sekitar, kucing di gua itu tidak hanya satu ekor saja, tetapi hewan itu sangat banyak di tempat itu. Konon kucing-kucing yang berada di gua tersebut, merupakan hewan piaraan Syech Maulana Ishak.

Sebagai salah satu tokoh wali songo, Syech Maulana Ishak melakukan penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Beliau melakukan perjalanannya dari Gresik hendak ke bumi Blambangan, Banyuwangi. Sebelum sampai ke tujuan Syech Maulana Ishak mampir ke desa itu.“Ada pula yang cerita yang mengatakan kalau salah satu kucing piaraan beliau itu bertuliskan arab di atas kepalanya,” .

Karena banyak kucing di tempat itu, masyarakat kemudian menamakan gua itu menjadi gua kucing. Anehnya kucing-kucing yang konon piaraan Syech Maulana Ishak itu kini hanya sebuah tinggal cerita. Karena kucing-kucing tersebut juga meninggalkan gua sejak si empunya meninggalkan gua tersebut.

Walaupun keberadaan kucing tersebut hanya tinggal sebuah cerita, tidak sedikit warga maupun peziarah yang mendengar adanya suara kucing ghoib jika di malam hari. Suara kucing ghoib itu biasanya muncul pada malam jum’at legi.

Yup kira-kira begitu ceritanya , Sesampai di pantai timur kami pun sempat mengabadikan beberapa moment karena tipe pantai timur ‘Ying” ini memang benar-benar berbeda dengan pantai barat “Yang” dengan segala kemistisan pantai timur ini dipadu dengan keindahan alam yang sempurna pada saat itu.

Kemudian dengan lekas kamipun menyusuri pantai untuk melihat sunset di pantai Barat “Yang” sempat hampir ketinggalan momen tapi untungnya masih sempat berikut simak dokumentasi foto-fotonya :

 

sby-prb

 

IMG_0193

IMG_0202

IMG_0205

IMG_0234

IMG_0273

IMG_0277

IMG_0284

IMG_0300

 

IMG_0318

IMG_0330

IMG_0336

IMG_0349

 

Karena waktu sudah semakin malam dan kami memang tidak berniat untuk memginap maka kami memutuskan untuk bergegas kembali ke dermaga dengan pelayaran kapal terakhir sekitar habis magrib kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Surabaya dan untungnya perjalanan cukup cerah waktu itu.

Baerikut ini dokumentasi pantai Barat “Yang” saat sunset :

IMG_0355

IMG_0373

IMG_0382

IMG_0389

IMG_0391

IMG_0397

IMG_0402

IMG_0404

IMG_0407

IMG_0435

IMG_0441

Kesan :

Pulau yang bisa dibilang sangat unik banyak misteri yang ada di dalamnya sangat indah bila masyarakat bisa lebih menjaga kebersihan lagi dan menghormati lingkungan alamnya. Lautnya yang terbilang masih sangat jernih . Terutama fasilitas-fasilitas dan tarif transportasi yang masih bisa dibilang murah untuk bagpacker dan wisatawan lokal menjadi daya tarik tersendiri juga pulau banyak dikunjungi ziarawan dari berbagai kota di jawatimur. Terima kasih semoga Sueto tim bisa terus mengexplore wisata Indonesia yang indah ini.

Tarif :

Parkir motor       : 06.00-18.00 = Rp 2000,-

: 18.00-06.00 = Rp 5000,-

Perahu PP           : Rp 10.000,-/orang

Home stay          : Rp 80.000-160.000/malam(nego)

Sewa perahu private : Rp 150.000-200.000/15orang max


IMG_0013 Salam wildlife!Maret 2014 rasanya sudah kangen lagi masa-masa touring tapi tidak berfikir untuk explore terlalu jauh akhirnya kita putuskan menjelajah pulau kecil di jawa timur berdasarkan saran rekan-rekan suetoclub. Yup seperti biasanya tradisi Sueto  tidak mengulang apa yang telah dijelajah karena masih banyak tempat-tempat baru yang harus di explore secara gamblang dan unik.

Tempat yang kami tuju kali ini bernama Gili Ketapang terletak di sebuah desa dan pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan SumberasihKabupaten ProbolinggoJawa Timur. Luas wilayahnya sekitar 68 ha, dan jumlah penduduknya 7.600 jiwa (2004), yang sebagian besar adalah Suku Madura dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Penduduk pulau ini dikenal relatif makmur. Gili Ketapang merupakan salah satu tujuan wisata alam di Kabupaten Probolinggo.

Pulau terebut dihubungkan dengan Pulau Jawa dengan perahu motor melalui Pelabuhan Tanjung TembagaKota Probolinggo, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Menurut legenda setempat, pulau ini dulunya menyatu dengan daratan Desa Ketapang (Pulau Jawa), yang kemudian secara gaib bergerak lamban ke tengah laut, karena gempa yang dahsyat akibat letusan Gunung Semeru. Nama Gili Ketapang berasal daribahasa Maduragili yang artinya mengalir, dan Ketapang merupakan nama asal desa tersebut.

Perjalanan kami bagi 2 hari kloter pertama dan kloter ke 2. Yup berangkat dari Surabaya-Probolinggo hanya 2 jam perjalanan saja. Kemudian dilanjutkan menuju pelabuhan Tanjung Tembaga, nah bagi yang membawa transportasi pribadi ada tempat parkir. Kemudian menunggu kapal yang berangkat ke gili Ketapang kebetulan saat itu sudah ramai dan kapal langsung berangkat tapi biasanya bila kita adalah penumpang awal otomatis kita harus menunggu dulu sampai penumpang penuh. Seumpama ada yang berminat menyewa kapal untuk private juga bisa di negosiasikan oleh nelayan setempatkok.

Advantage Preview :

Untungnya cuaca saat itu sangat cerah dan memang ini bisa disebut “best moment” untuk menikmati keindahan pulau dan pantai karena saat cuaca cerah lautpun menjadi tampak biru jernih kemudian mendekati pesisir semakin bening menghijau dan pasir pantai pun menunjukkan keindahan yang sebenarnya di dukung pemandangan gunung-gunung di jawa timur yang tampak dari kejauhan. Pokoknya wowlah gili Ketapang ini dan sebenarnya tak kalah dengan gili-gili yang sudah tenar seperti di Lombok. Perjalanan sebenarnya bisa di potong tak perlu turun ke pelabuhan kalau anda datang dengan menggunakan kapal saat di pagi hari langsung menuju pantai barat atau kita sebut pantai “Yang” saja. Tapi tak apalah untuk melanjutkan ke dermaga karena kami memang ingin benar-benar menikmati pulau ini dan mengetahui passion perjalanan ini. Sesampai di dermaga kami memilih jalur ke kanan menuju pantai barat “Yang” Karena memang sangat tertarik dengan pantai pasirnya yang sangat putih. Perjalanan dari dermaga ke pantai barat membutuhkan waktu kurang lebih 30menit jalan kaki.

Negative Preview :

Saat menyusuri perkampungan penduduk di sinilah segi negative previewnya meskipun mempunyai kekayaan alam yang indah tapi penduduk sekitar dan terlihat mendukung pelestarian pulau tersebut terlihat dari banyaknya sampah yang berserakan di sekitar jalan, kotoran kambing, bahkan kambingnya sendiri berkeliarang, bau kambing dimana-mana, kurangnya ketersediaan tempat samapah dan bahasa orang lokal sendiri yang mungkin akan sulit kita pahami karena mereka rata-rata masih original menggunakan bahasa Madura  mungkin kalau orang jawa timur sendiri akan terbiasa akan hal tersebut. Bagiku saat melewati perkampungan ini kita akan terasa bahwa kita berada di kandang kambing karena kambing dibiarkan liar dan bebas tidak dikandangkan bisa disebut ini perkampungan kambing tapi bagiku ini masih gak masalah tapi yang menjadi masalah adalah kebersihaan pengelolaan sampah di perkampungan itu sendiri karena mungkin pertama akan menimbulkan penyakit dan mengotori lingkungan yang aku pikir sebenarnya pulau ini sangat indah dengan keajaiban dua sudut pantainya. Akhirnya kami sampai pantai barat “Yang” berikut dokumentasinya IMG_20140329_101710 IMG_20140329_102119

IMG_20140329_102130

IMG_20140329_105345

DSC_0413

IMG_20140329_140827

IMG_20140329_111854

 

IMG_20140329_112819

IMG_20140329_112616   DSC_0419

IMG_9904

IMG_9865

IMG_9857

IMG_9844

IMG_9820

IMG_0163

IMG_0148

IMG_0005

IMG_0018

IMG_0063

IMG_0074

IMG_0113

IMG_0118

Dan ini videonya :

Karena waktu sudah semakin sore kami akhirnya kembali ke dermaga dan menuju Surabaya. Akhirnya untuk perjalanan kloter 1 selesai kemudian esoknya baru dilanjutkan ke perjalanan kloter 2 menjelajahi pantai timur “Ying” termasuk gua kucing di cerita perjalanan sueto part 2 🙂 see you next chapter bro..


Jika bosan menonton pertunjukan musik yang biasa-biasa saja, Jazz Gunung menawarkan cara baru menikmati jazz, yakni pada ketinggian di atas 2000 meter.

Luangkan waktu pada weekend pertama di bulan Juli nanti, dan datanglah ke Bromo. Acara musik tahunan, Jazz Gunung, akan diselenggarakan untuk yang ke empat kalinya. Jika pada perhelatan-perhelatan sebelumnya acara ini hanya diadakan satu hari, tahun ini terasa lebih spesial karena akan berlangsung lebih lama, yakni pada tanggal 6-7 Juli.

Sigit Pramono, salah seorang penggagas Jazz Gunung, pada jumpa pers yang berlangsung kemarin menjelaskan bahwa penambahan hari dimaksudkan untuk menampung animo pengunjung yang besar. Sebagai contoh, Jazz Gunung 2011 berhasil mendatangkan 1300 orang penonton, atau naik 300 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu agar para pengunjung dapat menikmati Bromo lebih lama, yang otomatis akan turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Jazz Gunung akan diselenggarakan di panggung terbuka Hotel Java Banana Bromo, Jl. Raya Bromo, Wonotoro, Sukapura, Probolonggu, Jawa Timur. Deretan musisi jazz tanah air siap menghibur dan menghangatkan suasana pegunungan yang menyejukkan, antara lain Tompi, Glenn Fredly, Ring Fire Project feat Djaduk Ferianto, Dewa Budjana dan Slamet Gundono, Iga Mawarni, Benny & Barry Likumahuwa, Kelompok Seni Damarwangi, Gondho Jazz trio, Muchi Choir Yogyakarta. Sementara Butet Kertaredjasa didapuk sebagai pemandu acara.

Jazz Gunung sendiri mengusung misi utama untuk menumbuhkan sektor pariwisata di daerah Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru, dan sekaligus untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik jazz.

Beberapa musisi akan membawakan musik jazz dengan aransemen etnik. Tompi, yang direncanakan akan berkolaborasi dengan Glenn Fredly, meyakinkan bahwa “etnik” di sini bukan berarti ia akan membawakan lagu Aceh dan Glenn membawakan lagu Ambon, namun lebih pada kolaborasi yang cair dan dinamis. Agar tetap menjadi kejutan, ia dan Glenn tidak membocorkan lagu-lagu apa saja yang akan mereka berdua bawakan nantinya.

Salah seorang musisi jazz senior yang juga hadir dalam jumpa pers adalah Benny Likumahuwa. Ia akan berkolaborasi dengan putranya yang juga meniti karir sebagai musisi jazz, Barry Likumahuwa, dan membawakan materi album baru miliknya yang berjudul Like Father Like Son. Ketika ditanya soal jazz etnik yang akan mereka bawakan nanti, ia mengaku belum mempersiapkan apa-apa. “Biasanya baru muncul on the spot. That’s why we called it jazz,” pungkas Benny.

Selain pertunjukan musik, Jazz Gunung 2012 juga akan menampilkan pameran keramik karya Ahadiat Joedawinata di Java Banana Art Gallery. Pameran yang dikuratori Rizki A. Zaelani dan bertajuk Signature ini menampilkan karya keramik yang menggunakan bahan-bahan dan proses pengerjaannya dekat dengan fenomena alamSelaras dengan lokasi pameran, yang mengambil tempat di salah satu destinasi wisata alam terbaik di Indonesia.

Masih ada sekitar tiga minggu menuju perhelatan Jazz Gunung 2012. Luangkan waktu dan mulai rencanakan trip untuk dapat menikmati suguhan lengkap ini. Kapan lagi bisa menonton pertunjukan musik, pameran seni, sambil menikmati pemandangan alam yang menakjubkan.

Sampai jumpa di Bromo!

Panduan singkat Jazz Gunung 2012:

Tiket

Tiket dijual dalam dua kategori:

  1. 1-day pass (pertunjukan tanggal 6/7 Juli) Rp 150,000
  2. 2-day pass (pertunjukan tanggal 6 & 7 Juli) Rp 200,000

Untuk membeli tiket dapat melalui www.ticket.jazzgunung.com, atau  kirim email ke tiket@jazzgunung.com. Khusus yang berdomisili di Malang, tiket dapat dibeli di Uklam-Uklam Tour and Guide di Jalan Mahakam No. 2., telepon 0856-555-03323.

Transportasi

Kota terdekat dari lokasi Jazz Gunung adalah Probolinggo, sehingga lebih mudah diakses dari Surabaya dan Malang. Bagi yang berasal dari luar Surabaya dan Malang, dapat menggunakan pesawat terbang untuk menuju kedua kota tersebut. (Cek harga tiket pesawat menujuSurabaya atau Malang di WEGO Indonesia).

Perjalanan menuju Probolinggo dapat dilanjutkan dengan kereta api. Dari Surabaya menggunakan KA Mutiara Timur melalui stasiun Gubeng, Surabaya. Sedangkan dari Malang, menggunakan KA Tawang Alun melalui stasiun Kota Baru, Malang. Pemberhentian terakhir di Stasiun Probolinggo (cek jadwal keberangkatan di situs PT Kereta Api Indonesia), lalu dilanjutkan dengan naik angkutan umum menuju Java Banana Bromo, lokasi Jazz Gunung 2012.

Akomodasi

Para pengunjung dapat menginap di hotel-hotel yang terdapat di sekitar lokasi Jazz Gunung 2012 (cek daftar hotel di Probolinggo menggunakan WEGO Indonesia). Jika kebetulan hotel-hotel tersebut penuh, penduduk sekitar menyediakan kamar yang biasa disewakan kepada pendatang, dengan tarif beragam.

Paket Tur

Pihak panitia menyediakan paket tur yang bertajuk “Jazz Gunung 2012 Tour, Discover Jazz Within the Mountain”. Paket tur ini terdiri dari serangkaian aktivitas dan fasilitas dari tanggal 6-8 Juli 2012 di mana 1 (satu) paket tur berlaku untuk 2 (dua) orang.

 

Aktivitas dan fasilitas dari Jazz Gunung 2012 Tour adalah sebagai berikut:

  • Penginapan 3 hari 2 malam untuk 2 (dua) orang (termasuk sarapan) pada tanggal 6-8 Juli 2012 di hotel pilihan (Hotel Sukapura Permai atau Hotel Bromo Permai);
  • Fasilitas transportasi antar dan jemput Bandara Internasional Juanda Surabaya – Venue Jazz Gunung 2012, pada tanggal 6 Juli 2012 dan tanggal 8 Juli 2012. Penjemputan dilakukan tanggal 6 Juli jam 09.00 WIB di Bandara Juanda Surabaya dan pengantaran dari hotel menuju Bandara dilakukan pada tanggal 8 Juli jam 10.00 WIB;
  • 2 tiket 2-days pass Jazz Gunung 2012;
  • 2 paket merchandise eksklusif Jazz Gunung 2012 Tour;
  • Undangan untuk menyaksikan pameran seni keramik Ahadiat Joedawinata di Java Banana Gallery; dan
  • Bromo sunrise tour pada tanggal 7 Juli 2012 untuk 2 orang.

Info lengkap dan pemesanan paket tur dapat diakses melalui situs Jazz Gunung, atau email ke tur@jazzgunung.com.

.

Sumber foto: Jazz Gununghttp://www.wego.co.id/berita/jazz-gunung-2012-siap-digelar-di-bromo/


sueto tim

gerbang masuk alas purwo

Perjalanan kali ini Sueto akan menuju TNAP yang berada di daerah pucuk paling timur propopinsi Jatim yaitu Semenanjung Blambangan di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kali ini sueto berangkat pake mobil xenia bro Sando…pada awalnya rencana touring ini memiliki 2 tim yang akan berangkat tapi berhubungan 1 tim lainnya ada kendala akhirnya kami berangkat 1 tim saja..Dimulai berangkat dari Sidoarjo markas tombzraider, beranggotakan 8 orang pada akhir semester genap 2010 jam 10an malam pun langsung berangkat…Awal berangkat kami lewat jalur selatan menuju Banyuwangi tapi mampir ke rumahe temen dulu di Lumajang setelah itu langsung cabut perjalanan menuju TNAP…nih jalurnya melewati Surabaya-Sidoarjo-Porong-Gempol-Bangil-PasuruanProbolinggo-Klakah-Lumajang-Jember-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Rogojampi-Srono-Muncar-Tegaldino-TNAP

Rute SBY-TNAP

Melewati perjalanan yang berliku-liku Xenia pun sanggup melahap kecepatan 140km/jm target pagi sudah nyampe melewati daerah Kalibaru perbatasan Jember-Banyuwangi dan ngopi sejenak terus langsung dilanjutkan ke TNAP dan akhirnya nyampai daerah tegaldino memasuki perkampungan kecil dengan jalan yang sedikit makadam akhirnya sampe di pintu gerbang TNAP…tentang TNAP

Ada beberapa cara menuju TNAP salah satunya kalau dari Banyuwangi… Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.

Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Peta TNAP

TNAP SUETOclub

Bersama Banteng TNAP

Lagi mendinginkan MObil dan orang yang kepanasan karena terlalu cepat

Soehel the silver sufer

Menyebut nama Alas Purwo, mungkin banyak orang yang tidak mengenalnya. Tetapi bila menyebut Plengkung, pikiran kita langsung menuju ke sebuah pantai dengan ombak besar yang sangat terkenal bagi penggemar berat “surfing” (selancar).

Alas Purwo dan Plengkung mungkin bisa disamakan dengan “kasus” Bali dan Indonesia dulu. Wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Padahal Bali adalah bagian dari Indonesia. Begitu juga halnya dengan Plengkung dan Alas Purwo. Plengkung yang merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo jauh lebih dikenal dibandingkan Alas Purwo. sebelum kita bahas Plengkung kita bahas dulu TNAP…

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo,Kabupaten BanyuwangiJawa TimurIndonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.

Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).

Taman Nasional Alas Purwo(TNAP)merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa.

Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).

Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya “Blambangan”. Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring.

Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa “Pura Agung” yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari.

Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain.

Setelah melewati gerbang masuk TNAP kami istirahat di warung dan pusat makanan untuk istirahat sejenak dan makan kemudian langsung mulai menyusuri pantai-pantai di sekitar TNAP bermula dari pantai yang paling dekat yaitu pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Pantai ngagelan

Papan Peringatan

TNAP ngagelan

Penyu penangkaran

Di Belakang Pondok Penangkaran Penyu Ngagelan

Bro Sando Sueto

Arek2 di ngagelan

Green Sueto

SUETO Tim Ekspedisi TNAP

Ready Shoot

Warga sekitar Alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur. Ngagelan juga tempat penetasan anak-anak penyu hamparan pasir pantai yang bersih terpadu dengan hutan mangrove dan hutan tropis. menjadi tempat ber wisata yang benar- benar fantastis. jika beruntung bisa ditemui hamparan pantai dengan pasir bersih dan sangat luas ketika air laut surut.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan. Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas TNAP mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

Menuju Trianggulasi

Xenia Hypnotis

Pantai Trianggulasi

Pondok Penginapan di Trianggulasi

Setelah dari pantai ngagelan kami menuju pantai Trianggulasi yang terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Deburan ombak di pantai Trianggulasi terlihat cukup tinggi, dengan topografi pantai yang memanjang, ombak ini terlihat mempesona, dan bisa dimanfaatkan untuk surfing. Namun, pihak pengelola Taman Nasional Alas Purwo sengaja tidak mengijinkan peselancar, karena ombaknya masih dianggap berbahaya. Hal ini ditandai dengan larangan melakukan aktivitas apapun di laut termasuk berselancar ataupun berenang.

Jika kebetulan singgah di pantai ini, usahakan untuk menginap, sebab pemandangan Sunset (Matahari tenggelam) cukup memukau. Di sekitar pantai, disediakan penginapan (Guest House). Tarifnya semalam hanya Rp 75.000,-/Kamar dan untuk keluarga juga disediakan satu rumah Rp 150.000,- / malam (berisi 4 kamar). Jangan lupa, biaya ini hanya untuk menginap, sedangkan jika pelancong berminat menikmati makanan tradisional berupa kudapan ala alas purwo bisa memesan di pengelola guest house.

Sueto in Pancur

The AVATAR

Pancur Rock

Pose

Mars

Pnacur Beach

Pancur

Little Garden

Green Pancur

Little Waterfall

Stream of Moss

Sunset

Kemudian setelah itu kami langsung meluncur menuju pantai Pancur Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki. Setelah puas berfoto-foto kamipun rencana ingin langsung menuju plengkung tetapi waktu itu ada kendala angkutan mobil dari Pancur ke Plengkung sedang rusak dan masih diperbaiki juga kurangnya ketersediaan driver pemandu sebenarnya jarak Pancur-Plengkung cuman 10-11km tetapi kami memutuskan menginap saja di Pancur karena  ada tempat perkemahan, warung dan masjid jadi lumayan lengkaplah fasilitasnya…

Sueto Tim Sadengan TNAP

Randy de Burges

Mulai Hunting Banteng

Populasi hewan di Sadengan

Sore di Sandengan

Sambil menunggu matahari terbenam kami sempatkan mampir ke Sadengan yang terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung.

Kami bersantai sampai menjelang senja di Sadengan terus balik ke Pancur Camp…Menikmati pantai yang jauh dari hirupikuk kota di malam hari ternyata bagus banget. Langit waktu itu sedang cerah dan kamipun  bisa menikmati taburan bintang dilangit secara penuh. Sampai akhirnya kami tertidur pulas di pantai dan terbangun karena dinginnya udara malam hutan akhirnya kami pindah ke masjid di daerah Camp. Met bubuk…! to be Continue…

Nih foto-foto saat malam di Pancur…

Soehell

Kamehameha

Laser Beam

Pancur Malam Hari

Kumpul Malam Pancur

Kumpulan Bintang

Bertabur Bintang

 

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ 🙂

 


Hai Gan pada sesi 2 ini kita melanjutkan cerita perjalanan anak2 setelah dari Ranu Pane. Hujan pun mengguyur deras sampai kita berhenti di sebuah pasar di daerah senduro..setelah nyampe home base Jendro istirahat dan malemnya mulai jalan2 dikota Lumajang awal pertama kali ke Lumajang soalnya jadinya g tau apa2 setelah puas keliling kota akhirnya ngopi deh di deket jalan Ky. Muksin nih petanya….

Nah itulah yang namae Rengga menatap kamera

Sambil ngopi di callinglah Rengga yang kebetulan anak dispro yang rumahnya di Lumajang juga deh. Sambil ngobrol rencana touring. Ketemulah kesepakatan perjalanan diteruskan ke Bromo.Tapi  besok niatnya seh mau ngajak rengga tapi niate anaknya masih 50:50 tuan rumah Jendro ma Randy yo kelihatan g bisa ikut masih pingin di Lumajang yaw jadi nunggu kabar deh besok pagi sudah. Pulang cepet lah wes tengah malem g kerasa soalne besok juga mao berangkat pagi ke Bromo.

Paginya setelah kita prepare dari home base Lumajang kita( Tom, Eston, Sando dan Dann)langsung cabut ke bromo…sebenarnya sech radak molor nah wong nunggu kepastiannya Rengga malah g jadi ikutan…Randy dan Jendro juga..yo udah dari pada kesiangan berangkat lah…

Bromo dilihat dari penanjakan

Terus menuju bromo dari Lumajang kita lewat arah Probolinggo setelah melewati kota klakah ada pertigaan yang menunjukkan arah papan belok kiri bromo(dari arah Lumajang)lurus Probolinggo kota. Belok dech kita..menyusuri jalan aspal menuju bromo yang bisa dibilang sudah bagus dan cukup lebar. Sambil menikmati perjalanan di kawasan menuju bromo kita tentunya foto2 lah karena memang lingkungan sekitar alami dan bagus .

Kemudian saat tanjakan terakhir sebelum masuk pos tiket mulailah ada sedikit rintangan dari awal kan emang motor supra fitnya ntu g fit makanya jadi bermasalah klu diajak naek jalan tanjakan apalagi klu tanjakannya tajam….so….nyurung dech motor dech bertiga yang sx125 sech kuat2 aja…Akhirnya dengan sedikit nyurung dan susah payah akhirnya nyampe di pos tiket..tiket masuknya waktu itu sekitar 6000rupiah pkoknya segituanlah…Kami g sabar langsung turun di lautan pasir  kepingin langsung nanjak di bromo..motorpun kami turunkan melewati lautan pasir sungguh medan yang susah tapi motor masih mampu melewatinya meskipun bergoncengan supra fitnya pun sudah mulai baikan..disaat mendung malah asik dibuat foto2 soalny kita nyampe bromo juga radak sianagan emang sekitar jm 11an..

Eston berfoto-foto

Motor tergeletak di lautan pasir

Dann menatap lautan pasir

Eston di depan gunung batok

Foto bersama

Sando summit

Kemudian diteruskan menuju puncak bromo awalnya kami g mengira motor bisa naek eh ternayata memang bisa gara2 sando yang nyeleneh menaikkan supra fitnya keatas puncak sebelum tangga pendakian , akhirnya kami pun ikut menaikkan motor sx125 betapa seru nya mendaki dengan motor meskipun berfikir juga gmn cara turunnya nanti…he2..setelah sampai dipendakian kita istirahat sejenak dan bergantian kepuncak sebelum memikirkan cara untuk turun..

Eston summit

Tom summit

Sando spider summit

Eston di depan bromo

Tangga penanjakan bromo

Dann n Tom summits on top

Saat perjalanan pulang saya memutuskan jalur sedikit berbeda, saat turun kita akan disuguhi plang penunjuk arah SURABAYA atau PROBOLINGGO. Saya memutuskan mengambil jalur ke kiri arah Surabaya dan ternyata saya melewati daerah Tongas dan memotong jalan tanpa masuk ke Probolinggo…keluar jalan besar Pasuruan-Probolinggo langsung belok kiri untuk ambil arah Surabaya….Hoahhh akhirnya nyampe juga dirumah…penuh sejuta rasa dan keinginan tuk touring dan menjelajah mulai merasuk dalam jiwa…see you next tour..with SUETO!(bila ingin lihat foto2nya  lebih banyak bisa mampir n join di facebook Sueto club…THX

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travel bromo dll https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ 🙂


Napak Tilas sign on Bromo

Salam wildlife sahabat cuman sekedar kilas balik. Sueto berawal dari sebuah perjalanan touring sebuah tim futsal dispro yang bernama Napak Tilas. Pada tahun 2008 awal liburan kuliah semester genap, saya Tom bersama 3 teman saya Sando, Eston, Dann dari Surabaya berkunjung ke rumah temen itulah Jendro di Lumajang juga salah satu pemain tim futsal Napak Tilas. Berbekal pengalaman perjalanan saya  waktu nyasar ke sendang biru kita pun berangkat ke Lumajang lewat jalur Malang selatan. Sebenarnya memang perjalanan akan lebih jauh lewat Malang selatan daripada lewat Probolinggo tetapi yang namanya jalan2 ya g masalah kan g diburu waktu juga. Berangkat pagi sekitar jm 9 atau jm 10(saya lupa tepatnya) sampe malang selitar jm12san…

Nah nih foto2nya anak2 lagi istirahat di deket pertigaan Malang dan Batu. Suddenly Dann ngoceh eh anak2 dispro yg rumahnya Malang capa y?yo anak2 jawab dech yo Zena cpo maning…maksudnya yg seangkatan n jur….Akhirnya di calling dech.. Ngobrol2……….lame Akhirnya kita janjian ma Alzena di alun-alun Batu yah akhirnya langsung cabut soalne perjalanan ke Batu hari itu radak macet ntah teu knapa………….Sampe Alun2 Batu nah orang yg bersangkutan belum nongol ya sambil melepas lelah akhirnya foto2 dulu dech…

Setelah berfoto  sambil menikmati sejuknya kota batu..Eh yg bersangkutan dateng temu salam n tak pikir mao ngajak kemana eh malah diajek maem….Hemm kebetulan emank waktu itu kita semua ber4 belum maem. Sebenernya radak sungkan tapi ap dikata namanya rezeki yo iya saja…sesampainya di rumah makan ternyata punya budenya too..makan sekenyang-kenyangny, ngobrol, yo foto2 lagi dah…..n g kerasa udah jm 4 kurang wes dah siap2 langsung berangkat jo…Dengan Bermodal Transport naek Supra125 n Supra Fit(Fitnya  kabel businya putus2 lagi tpi nyampe puncak bromo low bondo Nekad)ha2…….

Transportasi Supra Fit n SX125

Dari kiri gambar Zena, Tom, Sando, Eston, Dann

Nyampe Lumajang

Rute perjalanan Lewat Malang Selatan diawali dari Malang kota-Bululawang-Turen-Dampit-Pronojiwo-Candipuro-Pasirian-Tempeh-Sumbersuko-Lumajang. He2 perjalanan melewati jalur selatan Malang-Lumajang sangat misterius melewati jalur gunung yang berkelok-kelok naik-turun jalan yang remang2 disertai abu semeru di malam hari..sempat berhenti di Piket Nol(lokasi: Pronojiwo-Candipuro-Pasirian)

piket 0

tempat yang mempunyai pemandangan bagus. Menurut masyarakat sekitar, tempat itu dinamakan Piket Nol

karena pada zaman penjajahan Belanda, ada pos pemeriksaan kendaraan pengangkut hasil bumi dan hutan di tempat itu. Muatan kendaraan diperiksa dan ditarik retribusi. Namun, setiap kali ada pemeriksaan oleh pejabat Pemerintah Belanda, petugas piket jaga di pos itu tidak pernah ada. Maka, muncul sebutan Piket Nol. Di sebuah puncak bukit, terdapat titik tertinggi di jalur jalan ini yang dinamakan Piket Nol. Di sana ada sejumlah pondok bambu untuk beristirahat. Dari hutan wisata di atas bukit ini, tersaji pemandangan bentang alam kawasan Pantai Selatan dan Puncak Mahameru yang gagah di utar

a. Sayang kita lewat malam hari juga waktu itu belum didukung kamera yang memadai sehingga perjalanan kami teruskan cuman berhenti saat ada pemeriksaan polisi. Sesampainya di Lumajang Langsung berhenti di SMA3 Lumajang tuk menunggu Jendro menjemput kami setelah dateng mampirlah ke rumah jendro.

Jendro Tuan Rumah Lumajang

Singgah n Istirahat dirumah Jendro wes kaget liat rmh jendro yang ground levelnya bisa dibuat futsal..paginya ngobrol2,makan pecel lumajang,cari rencana jalan2 dilanjutkan kemana eh akhirnya jendro nawarin ke Ranu Pane dari sinilah perjalanan berlanjut setelah diberi beberapa info…karena anaknya ganjil jendro ngajak temennya yang bernama Randy usut punya usut eh dia sekarang anak dispro 08 sak kelas karo sando…Setelah packing2 langsung lanjut perjalaannya yukkkk..

alas pring

Dann berpelukan..

Perjalanan ke Ranu Pane

Gerbang pintu masuk

Setelah kurang lebih perjalanan 1 jam perjalanan ada kecelakaan yang bisa diatasi kopling randy putus untungae bawa peralatan bengkel lengkap jadi bisa diperbaiki akhirnya perjalanan lanjut memasuki kawasan taman nasional Bromo Tengger Semeru di tempat ini pemandangan sangat bagus untuk dibuat foto2 kebun2 selada…sambil melepas lelash kita bersantai sejenak..wes pokoke manteb….!

Sudah memasuki taman nasional bromo tengger semeru

Foto dunk………

Mendung berkabut

Foto lagi

Dann memfoto

Saat motor lagi mogok foto2

Berpanorama Alam

Setelah kurang lebih 2 jam kita sampai di Ranu Pane…Hmm tempatnya bagus!Jalan melewati hutan pegunungan Perhutani dan seterusnya memasuki kawasan kebun kentang penduduk. Ranu Pane sebuah perkampungan yg damai dan sejuk di ketinggian 2,300 mdpl, dgn latar belakang kerucut puncak Semeru. Di belakang desa ini, ditemui dua danau dgn airnya yg kehijau2an, danau Ranu Pane dan Danau Ranu Regulo. Desa Ranu Pane ini adalah pos awal pendakian ke puncak Semeru. Kendaraan angkutannya adalah Jeep pick up bak terbuka,dgn muatan sayur dan penumpangnya yg berdiri di didalam kerangkeng besi.di Ranu Pane juga tempat perhentian terahir bagi motor atau mobil yang ingin mendaki ke gunung semeru. Tapi kita hanya samapai sini karena memang cuaca semakin siang semakin berkabut jadi yah cuman bersantai sejenak menikmati pemandangan Ranu dan penduduk Tengger di sekitar Ranu Pane….Biasa disinilah sesi penting untuk foto2, ambil dokumentasi dan narsis…….dilihat foto2nya yoooooooo……

Tom Akrobatik

Merasakan kenikmatan

Dann Pose

One Group

Foto Bareng Lah…

Iki Low Yang Namae Randy

Kabut sudah mulai turun saatnya pulang

Photosesion Terakhir

Perjalanan ke Ranu Pane selesai samapai sini karena hari sudah sore dan mulai turun hujan. Saatnya menuju Home Base Jendro untuk prepare for next touring tommorow….Lanjut Part2 yoooo…

Silahkan berkunjung juga ke link ini jika mau paket travelnya https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/ 🙂

%d blogger menyukai ini: