Tag Archive: Tak Province



IMG_1273

Hi Salam Wildlife!Kali ini perjalanan mengisi libur lebaran 2013 sekalian merasakan serunya mudik, maklum gak pernah mudik dulu-dulu gak punya kampoeng halaman.

Setelah Lebaran saya putuskan untuk touring ke air terjun dolo dan irrengolo yang ada di Kediri soalnya sekalian mampir Jombang jadi ada tempat istirahatlah. Meskipun tempat ini sudah terkenal tapi saya belum pernah kesana jadi bolehlah dicoba tracknya itung-itung buat menambah wacana buat blog.

Berangkat pagi hari dari Sidoarjo menuju ke Mojowarno Jombang lewat jalur Mojosari karena lebih dekat boleh pilih arah Sidoarjo-Mojosari yang lewat Wonoayu atau yang lewat Tulangan kalau berangkat sih kayaknya lebih dekat yang lewat Tulangan pulang baru lewat yang Wonoayu.

Waktu sampai di daerah Mojoagung jalanan di sini biasa memang agak macet karena masih banyak pembangunan jalan, pasar dan penyempitan jalan waktu melewati jembatan biasa penyempitan jalan tapi meskipun macet tetap lancar ambil arah Pare sebelum kota Jombang dan akhirnya tiba deh Mojowarno buat istirahat sebentar buat menjemput kekasih yang lagi dirumah neneknya berangkat jam 06.40 sampai Mojowarno sekitar  jam 08.00.

Kemudian jam 09.40 berangkat dari Mojowarno lewat jalur arah Kelud(Ngoro) terus ke arah Pare lanjut ke arah kota Kediri terus istirahat makan sampai jam sekitar jm 11.15 kemudian perjalanan diteruskan menuju kecamatan Moro melewati jalan Besuki lalu lintas waktu itu lumayan padat tapi lancar. Dari Besuki menuju desa yugo jalanan langsung menanjak terus sampai pos tiket masuk kawasan wisata air terjun dolo. Bayar tarif masuk sekitar Rp 12.000, 2 orang  sekalian sepedamotornya.

Lanjut melewati track menanjak yang seru sekali bagi saya pemandangan sampai air pemberhentian air terjun juga bagus. Saya sedikit teringat tracknya ini sedikit mirip seperti track tanjakan di Tawangmangu, Magetan berliuk-liuk tapi santai mungkin beberapan kali ada tikungan tajam tapi bolelah dicoba.

Saat di perjalanan kami memilih menuju air terjun dolo dulu meskipun air terjun irrenggolo lebih dekat dari pos masuk wisata. Sampai diparkiran bayar tarif parkir Rp 2000,- terus siap-siap melalui tracking turun tangga disinilah banyak orang sambat(mengeluh) menuju air terjun dolo turun aja sudah mengeluh apalagi track naiknya, bagi saya tak seberapa tak seberat waktu mendaki untuk menuju puncak gunung  yang jalannya pun acak dan harus buka jalan baru tapi ini kekasih saya sudah  mau nangis-nangis minta gendong padahal kalau difoto sudah kayak capeknya hilang saja biasa narsis mengalahkan segalanya hahaha.

Setelah menuruni banyaknya anak tangga sampailah kami di depan air terjun dolo. Situasinya saat itu sangat ramai terus pemandangannya bagus tapi kami tak seberapa terkesan karena sampat kotor plastiknya dan kebersihannya kurang dijaga oleh pengelola lingkungan setempat meskipun air aliran air terjunnya masih tergolong jernih disinilah kami berpikir sesuatu. Sambil melihat-lihat spot yang bagus buat didokumentasikan kita jalan-jalan mengelilingi area air terjun dapet spot yang bagus langsung narsis.

 

 

 

Setelah puas mengabadikan momen kamipun langsung prepare menuju air terjun selanjutnya. Sudah tak terbayang bagaimana kesan saat naik tangganya sangat seru!lihat pemandangan orang-orang sekitar atau wisatawan lain dengan berbagai gaya mengolah kecapekan mereka sampai berhasil kembali ketempat parkiran.

 

 

 

Acara selanjutnya menuju air terjun irrenggolo yang kami ceritakan tadi lebih sebelum air terjun dolo. Mungkin kekasih saya ini tenaganya sudah terkuras habis saat di kawasan air terjun sebelumnya mukanya sudah menunjukkan capek yang tak karu-karuan tapi seru masih bisa bercanda karena dia memang belum pernah secapek ini ditempat wisata alam yang seperti ini.

Sampai di parkiran air terjun irrenggolo kami sempat salah arah saat tracking menuju air terjun maklum wisatawan di air terjun ini jauh lebih sepi dari pada air terjun sebelumnya. Akhirnya kami menemukan track sebenarnya dan perjalanannya untuk mencapai air terjunpun tak sejauh dari air terjun dolo.

Sesampainya di Air terjun baru disini kami bisa bilang Wow!masih alami alirannya pun masih bening struktur air terjunnya juga bagus sangat berseni dengan keunikan batu-batu yang mengantarkan aliran air yang mengalir meskipun tetap ada sisa-sisa sampah berserakan tapi sedikit tak sebanyak di air terjun sebelumnya mungkin dikarenakan tempat ini tak seramai air terjun sebelumnya.

 

 

Karena hari sudah mulai gelap dan perjalanan pulang kami masih jauh akhirnya kami tak sempat berlama-lama di kawasan air terjun irrenggolo ini. Kamipun langsung bersiap-siap menuju parkiran dan pulang ke Mojowarno meskipun sempat mampir makan malam di kota Kediri sebelum pulang.

Sampai Mojowarno istirahat baru paginya pulang menuju Sidoarjo buat kembali berutinitas untuk hari seninnya.

IMG_1215

IMG_1253

IMG_1319

 

IMG_1349

 

 

IMG_1365

 

IMG_1392

IMG_1399

IMG_1404

IMG_1405

IMG_1407

IMG_1462

IMG_1495

 

IMG_1517

IMG_1553

IMG_1577

 

Berikut Videonya :

 

Catatan :

Sebenarnya kedua air terjun ini masih bisa dibilang alami karena aliran airnya masih jernih tapi sampah-sampah di sekitar itu jangan sampai mengotori tempat wisata yang indah seperti ini di tempat wisata manapun di Indonesia ada baiknya kita sabagai wisatawan membawa plastik tersendiri untuk menampung sampah yang kita hasilkan sendiri misalnya seperti botol air minum atau tempat makanan kemudian yang membawa anak kecil dibawah umur itu sering-sering diingatkan untuk tak membuang sampah sembarangan. Dikarenakan menurut pendapat saya yang telah banyak mengunjungi kawasan wisata Indonesia adalah seperti ini sebagus atau sealami apapun tempat itu jika tidak dijaga kebersihannya ya tidak akan menjadi tempat yang indah lagi untuk dikunjungi dan semakin banyak tempat yang tadi bagus buat dikunjungi kemudian kotor oleh tangan kita sendiri semakin sedikit juga kita kan menemukan tempat-tempat yang bagus untuk masa depan dan keturunan kita kelak. Generasi yang akan datang takkan pernah bisa merasakan keindahan alamnya sendiri khusunya di negaranya sendiri di Indonesia akhirnya lebih memilih berpergian keluar negeri yang lingkungan wisatanya lebih bagus dan bersih. Padahal Indonesia ini adalah secuil tanah surga masak kita hanya bisa menikmati wisata-wisata buatan yang dikelola oleh pihak-pihak asing saja tanpa tahu keindahan alami Indonesia yang sebenarnya. Saya tak ingin air terjun ini menjadi rusak padahal sebenarnya indah seperti air terjun yang saya temukan di Nongkojajar Pasuruan yaitu Coban Waru bisa mampir ke link ini

Sekian terima kasih terus jelajah, temukan, jaga dan lestarikan  kekayaan alam Indonesia sebagai orang Indonesia.

Iklan

IMG_5099

Yup cerita perjalanan Sueto dilanjutkan lagi kali ini kami sueto tim pergi ke pulau sempu. Dari judulnya gelombang 2 berarti ada cerita perjalanan gelombang 1 tapi karena pingin posting gelombang 2 dulu ya sudahlah..Touring sueto gelombang 2 ini dilaksanakan bulan November 2012 sebetulnya keinginan ke Pulau Sempu termasuk Cagar Alam yang terletak di kabupaten Malang di wilayah pantai Sendang Biru ini sudah lama niatnya cuman baru dapat terlaksana di bulan November 2012 padahal rencananya sudah dari 2009 tapi akhirnya kesampaian juga alhamdulillah…

Kali peran utamanya adalah Bocel Sueto yup salah satu anggota sueto beranggotakan 6 orang kami pun berangkat dari surabaya minggu  pagi pukul jam 01.00 WIB langsung di trek sampe Malang yah karena jalannya sepi jadi santa-santai saja jalannya sampe di turen sudah sekitar jam 03.00 saja. Akhirnya kami berhenti sejenak untuk ngepom dan   beli nasi jagung kelihatannya nih anak-anak belum pada makan semua. Sesampainya di pantai Sendang Biru sekitar jam 04.15 langsung dilanjutkan shubuh dan istirahat untuk mengambil ancang-ancang ke sempu tapi waktu itu kepagian dan kapal masih karam jadi tunggu sebentar sampai ombak agak pasang.

Untuk kesempu kita harus bayar perizinan seharga 20ribu rupiah terus ditunjukkin ke nelayan pengantar nah untuk tarif menyeberang ini Rp100.000,- pokoknya PP terserah dengan tujuan manapun danau lele atau segara anakan. Kamipun memilih untuk  ke segara anakan saja. Yap mulai dari sini kamipun lupa membawa persedian air yang cukup buat 6 orang kalau treknya dari pantai kami diturunkan ke segara anakan masih jauh yah sekitar 1 jam perjalanan lah…Jadi ya dihemat-hemat saja airnya kebetulan memang cuaca waktu itu sangat terik.

Menyusuri wilayah hutan sebenarnya banyak jalan bercabang saat menuju ke segara anakan tapi karena sudah faham trek arah segara anakan akhirnya ya gak kesasar dan aman-aman saja meskipun jalannya sedikit berlumpur. Saat perjalanan kamipun banyak bertemu rombongan lain yah memang kawasan sempu ini sudah sangat terkenal di Indonesia karena cepatnya perkembangan informasi zaman sekarang jadi saat kami berada di segara anakan suasananya ya seperti taman bermain waterpark cuman kali ini nuansanya alam asli jadi lebih alami…Yup sesi foto-foto gak akan pernah terlewatkan disini..Oh iya kalau pagi matahari belum menyinari permukaan air tamapak segara anakan ini biasa saja seperti danau pada umumnya tetapi setelah agak siangan suasana memang menjadi indah dan menjadi khas segara anakan pulau sempu.

IMG_5092

IMG_5104

 

IMG_5111

IMG-20121118-00033

 

IMG_5146

 

IMG_5245

 

IMG_5267

IMG_5417

IMG_5431

 

IMG_5464

IMG_5468

IMG_5480

IMG_5482

IMG_5488

IMG_5492

IMG_5493

IMG_5506

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nah setelah merasa puas dan terasa panas terus kehabisan air kamipun akhirnya memustuskan kembali ke dermaga tempat kami dijemput oleh nelayan sebelumnya. Wah perjalanan kian terasa tanpa air tapi dengan semangat yang menggebu-gebu menginginkan air minum di pantai sempu kami pun berusaha sekuat tenaga hahaha…akhirnya sampai juga terus dijemput deh sekembalinya dari pulau sempu dan saat sampai di pantai sendang biru kami pun langsung bergegas menyegarkan dahaga yang haus akan air…Setelah itu kami langsung check out untuk kembali ke surabaya karena nantinya bakal di hadang macet berkepanjangan dari Malang kota sampai Lawang meski suasana mendung untung hujannya juga tidak deras..Akhirnya sampai Sidoarjo sekitar jam 5 sore menjelang magrib…

Yap kesan-kesannya Pulau Sempu itu bagi kami sangat indah dan masih indah sayang saat perjalanan menuju segara anakan masih banyak sampah plastik berkeliaran…Yah beginilah kalau tempat bagus tapi sudah ramai pengunjung beda halnya saat masih sepi dan alami…saya tak tahu kenapa orang-orang ini tidak peduli terhadap lingkungan katanya banyak yang mengaku pecinta alam tapi membuang sampah plastik sembarangan di tempat cagar alam seperti pulau sempu..Ya pesan kami kalu mau membuang sampah plastik yang tidak bisa di urai tanah sebaiknya disimpan sampahnya sampai ke pantai sendang biru baru di buang sabarlah sedikit hei kawan-kawan untuk lebih mencintai lingkungan dan alam Indonesia yang seperti surga kecil ini….Kemudian tarif surat izin penyeberangan pada saat kami pertama kali ke pantai sendang  tahun 2009 itu masih sekitar Rp 2000,- sekarang sudah Rp 20.000,-??wow naiknya 10x..belum ditambah biaya parkir kendaraan Rp 2000,- ditambah biasa masuk sendang biru Rp 6000,-/kendaraan ditambah biaya menyebrang ke Sempu Rp 100.000,- termasuk hitungan traveller yang tidak murah.

Ada baiknya fasilitas terus diperbaiki termasuk tempat pembuangan sampah yang jelas agar lingkungan juga tampak lebih bersih dan tidak mengecewakan kalau ingin dapat pemasukan lebih…karena wisatawanlah termasuk salah satu faktoryang  akan menunjang sektor perekonomian di pantai sedang biru kalau tempatnya sudah jelek terus sepi toh juga merugikan bagi kedua belah pihak..wisatawan yang pernah datang tak akan tertarik untuk datang lagi..Begitu juga dengan wisatawan kemanapun kalian berada selalu junjung yang namanya GREEN TOUR untuk kelestarian alam bersama.

Terima kasih semoga Sueto terus bisa menjelajah alam Indonesia!salam wildlife!

Mau promo travelnya bisa mampir ke link ini https://suetoclub.wordpress.com/2013/11/27/t-boss-tour-and-travel-partner-promotion-packet-2013/

Google Glass Kacamata Pintar?


Beragam aksi pamer telah dilakukan Google untuk membuktikan bahwa kacamata pintar Google Glass besutannya adalah nyata, dan bukan sekadar konsep.

Banyak pihak bertanya-tanya tentang cara mengontrol kacamata pintar itu. Sedikit demi sedikit, Google pun mengungkapkannya kepada media massa.

Salah seorang pendiri Google, Sergey Brin, memberi kesempatan kepada Spencer Ante dari The Wall Street Journal untuk menjajal kacamata pintar Google. Spencer mengikuti arahan Brin untuk mengontrol kacamata pintar dengan suara.

Ketika Ante mengatakan, “Okay, Glass,” yang keluar adalah beberapa pilihan fitur, termasuk fitur untuk melakukan panggilan telepon, merekam video, mengambil foto, atau menggunakan layanan peta digital Google Maps.

Selanjutnya, Ante memberi instruksi “Take a photo”, yang muncul kali ini adalah fitur untuk memotret atas apa yang dilihat Ante.

Pada bulan Mei lalu, Brin sempat memperlihatkan cara lain mengontrol kacamata pintar. Ia meletakkan jarinya ke tombol pada bagian kanan kacamata, lalu melakukan penggeseran, yang kemungkinan besar ia sedang membuka hasil foto di galeri. Tombol itu berupa trackpad yang bisa dinavigasikan dengan cara menggeser ke kanan-kiri dan atas-bawah.

Google telah memamerkan banyak foto hasil jepretan kacamata pintar yang dilakukan tanpa sentuhan tangan. Tak hanya itu, Google juga memublikasi video berdurasi 15 detik yang direkam dengan kacamata pintar.

Pada konferensi pengembang aplikasi Google I/O di San Fransisco, AS, Juni lalu, beberapa penulis blog dan wartawan teknologi diizinkan untuk menikmati video dari kacamata pintar.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2012/06/29/10375559/Kesan.5.Jurnalis.Menjajal.Kacamata.Pintar.Google


Kalau anda mempunyai kesempatan berjalan-jalan ke kota Bogor dan melewati puncak tidak ada salahnya jika anda mampir ke Telaga Warna. Di Taman Wisata ini anda akan menjumpai panorama alam yang khas dan unik. Selain itu anda dapat menyaksikan fenomena alam yang penuh dengan misteri dan nuansa mistik. Telaga Warna merupakan objek wisata danau kecil yang berada di Kecamatan Cisarua, tidak jauh dari puncak pass. Air danau ini dapat berubah warna-warni sesuai dengan alam saat itu.

Alam pegunungan Puncak yang sejuk dan berkabut, dengan panorama bukit dan tebing serta perkebunan teh yang menghampar di sepanjang jalan masuk ke lokasi telaga menciptakan pesona alam yang AMAZING bakal membuat anda terpesona.

Telaga Warna ini mempunyai nuansa mistik tersendiri, konon menurut masyarakat sekitar, disekitar telaga ini hidup dua ekor ikan purba yang apabila ada orang yang mampu melihat ikan tersebut berenang dan meloncat ke atas permukaan telaga, maka segala cita-citanya akan tercapai dan terkabul. Juga ada Mitos yang berkembang bahwa bagi siapa yang membasuh muka dengan air telaga ini akan selalu terlihat awet muda.

Cerita Rakyat Tentang Telaga Warna

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu.

Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.

Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.

Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.

Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.

Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.

Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.

Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.

Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.

Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.

Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu. Tangisannya diikuti oleh semua orang.

Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana.

Sekarang, danau itu disebut Talaga Warna. Danau itu berada di daerah puncak. Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.

Fasilitas

Fasilitas tempat makan, tempat belanja baju, tempat penjualan oleh oleh, ditambah pengaturan jam lalu lintas, sungguh memudahkan pelancong beracara ke sana, soal penginapan, jumlahnya berlimpah.tersedia kamar utk menginap mulai Rp 30 rb sampai 3 juta per 6 jam atau permalam. Juga banyak kegiatan yang bisa dilakukan di area ini seperti foto hunting, bird watching, tracking dan camping.

karena tidak ada restoran yg memadai, lebih enak membawa tikar dan makan sendiri utk kudapa saat bersantai di sana. namun, hati2 juga karena kalau menaruh makanan begitu saja di atas tikar, kera ekor panjang yg menjadi penghuni hutan telaga warna kerap tidak segan menyambar makan kita. namun, banyak juga pengunjung danau itu yg sengaja membawa makanan untuk disebar ke kera-kera tersebut.

Kuliner

Dikawasan puncak juga bisa menikmati berbagai makanan yg dijajah ratusan restoran yg tersebar sepanjang jalur puncak. kita bisa menikmati kudapan di warung atau lapak kakilima, mulai jagung rebus, ubu rebus, bubur ayam,somay, baso, batagor,samapai ayam bakar atau sate kambing.atau makanan cepat saji atau semi fast food, seperti KFC, pizza hut, dan broaster chicken, sambil menikmati pemandangan dari pegunungan dari restoran2 itu. namun di restoran2 itu tidak ada permainan anak-anak, jadi kesitu memang hanya untuk makan sambil menikmati suasana.

kalau ingin makan enak plus anak-anak punya kesempatan bermain-bermain, munkin restoran dulang dapat dipilih. kita bisa memesan menu special, gurame bumbu tauco yg harganya Rp50rb per 0.5 kg. ayam bekakak goreng atau panggang juga menjadi andalan retoran ini dgn harga Rp 45 rb/ekor.
tersedia pula timbel komplet seharga Rp 25 rb per porsi atau nasi liwet komplet dgn harga Rp 55 rb/porsi.

jika ingin mencoba jenis masakan lain, tak ada salahnya mampir ke restorn PONDOK BARONANg di kopo cisarua. resotan 2 lantai ini menyajikan masakan laut ala makkasar. para tamu biasanya memilih utk duduk di lantai atas karena mereka bisa bersantap sembari menikmati pemandangan alam indah. Menu yg patut dicoba, terung bakar unik dan sop ikan kerapu bercita rasa pedas, manis dan sedikit asam, campuran bumbu seperti serai,bawang bombai,dan daun jeruk,membuat nikmat masakan ini, ada juga kepiting saus padang .

Retribusi

Untuk menikmati keindahan panorama telaga warna itu cukup membayar karcis masuk Rp 2000 per orang atau Rp15 rb per orang ( utk warga asing ).sedangkan naik perahu di danau dikenai biaya Rp10rb per orang.
tersedia juga permainan atau fasilitas outbond, semisal flying fox, yg perorangnya dikenai biaya Rp 100 rb. kalao mau berwisata dgn lebih berkeringat, bisa ambil program jelajah hutan dgn biaya Rp100rb per orang, tetapi minimal harus 20 org dalam 1 perjalanan jelajah hutan.

Akses

Untuk ke telaga warna, selain bisa masuk berjalan kaki dari lokasi penjual sayur mayur dan buah buahan tepat di bawah paan nama telaga warna, juga daoat masuk dari jalan setapak melintas kebun teh setelah melalui rimba. lewat jalan ini,kendaraan bisa masuk dan parkir tidak jauh dari danau tersebut.

Transportasi

Jarak tempuh dari Jakarta melalui Cisarua sekitar 1 1/2 jam atau sekitar 80 KM sedangkan dari Bandung sekitar satu 1 jam 45 menit. Dari Puncak Pass melalui jalan setapak ke pintu gerbang kawasan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit.

Ini Videonya :


  

Telaga ngebel Ponorogo adalah salah satu tempat wisata yang menjadi andalan kota Ponorogo adalah telaga ngebel ( tlogo ngebel ). Danau yang memiliki daya pikat tersendiri bagi warga sekitar dan wisatawan yang mengunjunginya. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di danau ini, seperti berkemah, bertamasya, dan kegiatan lainnya.

Objek wisata air ini terletak 24 km ke arah timur laut menuju Ponorogo dari arah utara. Kawasan ini memiliki panorama menarik. Berada di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian 734 meter dpl, udara terasa sejuk. Suhu rata-rata 22-23 derajat Celcius. Ditambah dengan uap air yang menyegarkan suasana, orang akan betah berlama-lama di sini.

History

Konon cerita awal mula terbentuknya danau ngebel adalah penjelmaannya seekor naga, yang konon naga itu penjelmaan dari keris empu yang terkenal pada masa itu. Ketika sang naga meminta pengakuan kepada sang empu bahwa dia adalah anaknya, karena sang empu mengetahui bawasanya naga itu adalah penjelmaan keris pusaka, maka sang empu memberikan syarat kepada naga itu. Apakah syratnya, hemmm syaratnya adalah jika sang naga dapat melingkari gunung wilis denga tubuhnya, maka diakuinya dia menjadi anaknya.

Ternyata dibalik syarat yang diberikan sang empu kepada naga ada tipu daya. Karena sang naga tidak dapat melingkari gunung wilis dengan tubuhnya, maka dia menjulurkan lidahnya. Nah disinilah tipu daya itu. ketika sang naga menjulurkan lidahnya, tiba-tiba sang empu memotong lidah itu. Apa gerangan yang terjadi? Berubahlah lidah sang naga menjadi keris pusaka, sedang sang naga sendiri menjelma menjadi seorang anak yang bernama BARUKLINTING.

Disinilah awal permulaan ceritamya, tatkala sang naga telah menjelma jadi manusia, dia merasakan kelaparan yang amat sangat. Disaat itu bersamaan dengan adanya pesta dari seorang perempuan yang kaya raya. Ketika Baruklinting meminta makanan dipesta itu, bukan makanan yang didapat, akan tetapi diusir dan dimaki habis-habisan dia oleh sang perempuan kaya.

Baruklinting sakit hati dengan perlakuan yang diterimanya. Saat Baruklinting akan pergi dari desa itu, rasa laparnya belumlah hilang, ketika itu ada seorang nenek lewat dan memberinya makanan(mbok rondo). Baruklinting senang sekali karena rasa laparnya kini telah hilang oleh pertolongan mbok Rondo. Karena rasa sakit hatinya pada penduduk desa dan si perempuan kaya yang telah memaki dan mengusirnya, dia mempunyai rencana untuk membalasnya. Ketika rencana tersebut akan dilaksanakan, berpesanlah Baruklinting pada mbok rondo untuk mempersiapkan lesung(alat untuk menumbuk padi yang bentuknya seperti prahu) dan entong kayu(alat untuk mengambil nasi).

Berangkatlah Baruklinting kedesa itu, diadakannya sayembara, yang isinya: barang siapa dapat mencabut kayu yang saya tancapkan ini, maka saya akan meninggalkan desa ini. Semua penduduk desa mencobanya satu persatu, tapi apa gerangan yang terjadi? Tak ada satupun yang dapat mencabutnya. Ketika para penduduk desa tak sanggup mencabutnya, dicabutnya sendiri kayu itu. Apa gerangan yang terjadi? Keluarlah air yang deras dari bekas tancapan kayu itu. Tak sorangpun dapat menghentikan alirannya, terjadilah bencana air bah, tenggelamlah para penduduk desa itu, tak seorangpun selamat, kecuali Mbok Rondo sang dewi penolong Baruklinting, dengan menaiki lesung, sesuai amanat dari Baruklinting. Maka jadilah danau desa tersebut, yang sekarang dipanggil dengan sebutan Danau Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo selain tarian Reog khas Ponorogo .

Danau ini masih asri dan indah dengan pemandangan alam yang menajubkan. Dibalik keindahan danau ini menyimpan mitos yang sangat luar biasa hingga danau ini tetap tentram dan sejuk serta indah. Selalu tampak lenggang dan sedikit menyeramkan.

Activity in Ngebel Lake

Telaga dengan luas permukaan 1,5 km dan dikelilingi jalan sepanjang 5 km ini menjadi sumber ikan bagi penduduk setempat. Keramba dipasang berderet-deret di telaga. Setiap pagi dan sore, para pemilik keramba sibuk memberi makan ikan. Jumlah keramba yang terhampar di sini sekitar 900 yang dikelola 12 kelompok. Ikan yang ditanam adalah nila, wader, dan mujair.

Bagi yang tidak memiliki keramba, telaga ini menjadi tempat memancing yang menyenangkan. Aktivitas memancing banyak dilakukan sore hari. Biasanya mereka duduk di tepi telaga berlama-lama sambil menunggu kail-kail yang dipasang dimakan ikan.

Ingin melihat keramba dari dekat banyak caranya salah satunya mengitari telaga lewat jalan darat yang ada di sekeliling telaga cukup menyenangkan. Tetapi cobalah berkeliling dengan bus air. Ada dua bus air dengan kapasitas 20 penumpang yang siap mengantar mengelilingi telaga, melihat keramba dari dekat. Tarif naik bus air relatif murah. Dengan Rp 5.000 per orang, pengunjung bisa berkeliling menyusuri keluasan danau selama 30 menit.

Gandi, 47, pengemudi bus air di Telaga Ngebel menjelaskan, untuk memberangkatkan perahu yang disupirinya ada syarat khusus. Jika jumlah penumpang di di bawah sepuluh orang, maka bus air belum diberangkatkan. Jika penumpang tak sampai sepuluh orang, pendapatannya terlalu kecil.
“Boleh di bawah sepuluh orang, tetapi penumpang harus membayar lebih. Sekali jalan, minimal Rp 50.000 ribu,” kata Gandi.

Yang tak ingin segera beranjak dari telaga dan ingin menikmati malam di tepi telaga, pengunjung bisa menghabiskan malam di penginapan. Memang hotel atau penginapan belum sebanyak di Telaga Sarangan tetapi cukup menyenangkan jika membawa keluarga menginap. Salah satu penginapan yang dekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit.

Setiap akhir pekan jumlah pengunjung mencapai 2.500. Ini jumlah yang rendahh dalam perhitungan Pemkab Ponorogo melalui Dinas Pariwisata dan Seni.
“Kami terus berkampanye untuk mengembangkan wisata Telaga Ngebel. Imej saat ini, Telaga Ngebel angker, padahal tidak. Kami juga melibatkan 40 pamuda desa di dekat telaga untuk menjadi pemandu wisata,” kata Suhardjiman Darwanto, Kepala Seksi Rekreasi Dinas Pariwisata dan Seni Ponorogo.
Selain itu, saat hari-hari libur nasional, di Telaga Ngebel diadakan panggung terbuka. Harapannya, dengan adanya panggung terbuka, maka jumlah pengunjung meningkat.

Kuliner

Di sekitar telaga ini ada lima warung yang menjajakan ikan bakar. Yang membuat nikmat, ikan yang dibakar adalah ikan tangkapan dari telaga. Mereka baru membakar ikan jika ada yang memesan. Pengunjung boleh memilih ikan yang dikehendaki. Sambil menunggu ikan dibakar pengunjung bisa duduk mencangkung menikmati hembusan angin di telaga. Bau masakanan ikan bakar menusuk hidung dari dapur pun mengundang perut yang lapar. Sekitar sepuluh menit kemudian, hidangan ikan nila bakar pun tersaji lengkap dengan sambal dan lalapan plus nasi. Tak ada yang mengalahkan rasa nikmat makan di alam terbuka dengan seporsi ikan bakar segar. Harga yang dipasang pun tidak mahal. Satu prosi nila bakar Rp 5.000. “Bumbu ikan bakar, ya seperti memasak ikan bakar umumnya. Namun, kami memiliki resep khusus supaya rasanya lebih lezat,” tutur Ny Ani, salah satu pemilik warung ikan bakar di tepi Telaga Ngebel yang terkenal karena ikan bakarnya gurih dan sambalnya pas di lidah.

Berkunjung ke Telaga Ngebel, rasanya tidak cukup hanya menikmati keindahan alam dan sajian ikan bakar nila. Telaga Ngebel memiliki potensi pertanian dan perkebunan sebagai penghasil buah-buahan. Di sini bisa dijumpai durian, manggis, dan pundung. Buah-buahan itu bisa dijumpai saat musim penghujan atau sekitar bulan Desember hingga Maret. Begitu musim buah datang, pengunjung dari luar kota biasanya memadati jalanan tempat durian, manggis, dan pundung dijajakan. Harganya yang cukup murah membuat pengunjung selalu kembali saat musim buah. Durian, misalnya. Buah ukuran besar bbisa dinikmati dengan harga Rp 4.000 – Rp 5.000. Padahal, jika durian Ngebel itu sudah dibawa turun dan dijajakan di tepi Jalan Ponorogo-Madiun, harganya bisa mencapai dua kali lipat.
“Ngebel memang terkenal dengan durian. Selain murah, durian Ngebel itu enak dan isinya tebal-tebal,” sebut Ny Wiwik memuji durian Ngebel.
Saat musim durian, petani di kawasan Telaga Ngebel bisa tersenyum lebih lebar. Hampir setiap petani memiliki pohon durian di kebunnya. Ini bisa mendongkrak penghasilan keluarga.

Menu lain yang bisa dinikmati disini adalah yaitu ikan Ngogok dan ikan khas telaga lainnya. Ikan ini disantap dengan nasi tiwul, lalapan dan sambal pedas.

Transport

Menuju Telaga Ngebel tidak sulit. Jarak Telaga Ngebel dari kota Ponorogo sekitar 24km kalau dari Madiun sekita 40km. Kendaraan umum siap mengantar dari Terminal Ponorogo  Sub Terminal Jenangan, Ponorogo. Perjalanan dari Ponorogo makan waktu 45 menit. Jika dari Madiun hampir 1 jam tanpa menyentuh kota reog ini. Begitu lepas dari Madiun bisa melalui Mlilir atau Dolopo. Yang disebut terakhir ini adalah daerah surga durian dengan harga murah karena langsung mengambil dari kebun.
Seperti daerah pegunungan lain, sepanjang perjalanan terhampar pepohonan dan pemandangan menyejukkan mata. Dari kejauhan pantulan air telaga tampak berkilauan.

Homestay

Salah satu penginapan yang dekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit. Penginapan milik Pemkab Ponorogo dan memiliki sepuluh kamar ini disewakan Rp 45.000 – Rp 75.000 per malam.

Other Object in Ngebel Lake Ponorogo

Pletuk Waterfall(Air Terjun Pletuk berada di dusun Kranggan, Jurug kec.Sooko – Ponorogo) dan Selorejo Waterfall(Dari kantor kecamatan Ngebel kita ambil arah ketimur kira-kira 200m. Terus ada petunjuknya mulai dari situ, ikuti jalannya  kira-kira 12km dari danau. Cagar Alam Gunung Picis dan Sigogor(secara administrasi berada di Dusun Toyomerto, Desa Pupus, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo).


 

Nah kali ini cerita terusan dari perjalanan Cilegon…………..Hmm begini ceritanyo perjalanan saya tempuh naek bis dari Serang jam 3 sore terus nyampe terminal Yogya sekitar subuh jam5 pagi saat perjalanan ada sesuatu hal yang bikin saya prihatin waktu istirhat makan dirumah makan daerah indramayu ternyata didaerah situ banyak yang jual mizone 1botol 8ribu-9ribu huh kok tega ya sama pembeli mending minum aqua sajalah……..saat perjalanan tidurrr sampe pagi tiba2 saja udah nyampe yogya eh baterai habis cari charger dulu sambil minta jempud anggota sueto yang lain  deh……..Nungguuuuuuuuuuu terus dateng deh anak2…langsung menuju kawasan malioboro untuk mencari pijeman motor abis anaknya 5 motornya cuman 2….sambil makan dawet durian..akhirnya dapet dengan harga murah sekitar 40-50 ribu langsung menuju pantai gunung kidul lewat wonosari nih petanya

Dari wonosari menuju daerah pantai selatan kira2 kami menempuh perjalanan 2jam melewati pantai-pantai yang indah dan rata2 memang sudah ramai pengunjung akses jalannyapun sudah bagus…Jika anda punya waktu sempatkan berjalan-jalan menghabiskan semua pantai disini karena pantai di memiliki ciri khas yang berbeda-beda…

Pantai Siung  sendiri terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam perjalanan. Menjangkau pantai ini dengan sepeda motor atau mobil menjadi pilihan banyak orang, sebab memang sulit menemukan angkutan umum. Colt atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itupun mesti menunggu berjam-jam.

Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini. Maklum, banyak tantangan yang mesti ditaklukkan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang disertai turunan hingga panas terik yang menerpa kulit saat melalui jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang-ladang palawija. Semuanya menghadang sejak di Pathuk (kecamatan pertama di Gunung Kidul yang dijumpai) hingga pantainya.

Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur Yogyakarta – Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari – Baron dan Baron – Tepus adalah jalur yang paling mudah diakses, jalan telah diaspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta – Imogiri – Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena banyak jalan yang berlubang, sementara jalur Wonogiri – Gunung Kidul terlalu jauh bila ditempuh dari kota Yogyakarta.

Seperti sebuah ungkapan, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, begitulah kiranya perjalanan ke Pantai Siung. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Birunya laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihannya akan mengobati raga yang lelah.Tersedia sejumlah rumah-rumah kayu di pantai, tempat untuk bersandar dan bercengkrama sambil menikmati indahnya pemandangan.

Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.

Batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.

Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali menjadi salah satu pusat perdagangan di wilayah Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya di wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya mencari ikan di tepian.

Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo,diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah Winganun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempuh penduduk setempat untuk bertahan hidup.

Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pecinta alam dari Jepang memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 90-an, berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali memanfaatkan tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah, popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi.

Kini, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing. Jalur itu kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Banyak pihak telah memanfaatkan jalur pemanjatan di pantai ini, seperti sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah bersiap melakukan panjat tebing ketika YogYES mengunjungi pantai ini.

Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ini, tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak merusak lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam.

Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 – 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan untuk bermalam.

Saat malam atau kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin langka masih banyak dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigi kera, bukan jenis hewan lainnya.

Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang-orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulyo atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak lama lagi. Semakin banyaknya pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjat tebing menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan. Kunjungan wisatawan, termasuk anda, tentu akan semakin mempercepat teraihnya kejayaan itu.

Di Pantai ini ada anggota Sueto yang jauh2 n susah2 berkorban demi cinta loo…sampe triak2 segala diujung tebing momennya dia juga minta di foto2 sebagai surprise bagi pujaan hatinya waktu itu….ha2…

Hmm setelah puas foto2 dan mendaki di pendakian tebing2 pantai Siung kamipun pulang tpi biasa mampir malioboro lagi dan tak lupa oleh2 untuk sanak keluarga…….terus kan tadi orangnya 4 motornya 2 sekarang  orang nya5 motornya 2 wes pokoknya ada caranyalah…he2..Pokoknya bagi penggemar perjalanan inilah yang bisa Sueto oleh-olehkan….See Y!Next Trip

Bisa lihat videonya sebagai referensi

 

Mirror Labuan Lake


Jauh di pedalaman Kalimantan Timur sana, terbentanglah Danau Labuan Cermin. Danau bening ini istimewa karena memiliki laut di dasarnya. Laut di dasar danau? Benar, danau ini memiliki aliran air asin yang hanya ada di bagian bawah danau.

Labuan Cermin terletak di Kecamatan Biduk-biduk Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Jika dilihat di peta, letaknya tepat di punggung hidung Kalimantan. Tempat ini bisa ditempuh dalam tiga jam perjalanan laut dari Derawan.

Bagian atas Danau Labuan Cermin berisi air tawar seperti danau pada umumnya. Namun beberapa meter di bawahnya terdapat aliran air asin. Anehnya, kedua jenis air ini tidak tercampur. Secara kasat mata dapat dilihat bahwa air laut dan air tawar dipisahkan oleh lapisan serupa awan.

Belum ada yang melakukan penelitian di daerah ini sehingga terbentuknya fenomena ini masih menjadi misteri. Air yang konon juga menjadi tempat mandi para Raja Berau di masa lalu, juga dimanfaatkan warga sebagai sumber air bersih. Tak perlu bahan kimia, cukup siapkan pipa saja dan air bisa disedot untuk dialirkan ke rumah-rumah.

Lapisan keruh berwarna putih itu diduga hasil pembusukan organisme dasar labuhan yang terperangkap dan tak bisa pergi. Dua jenis air di danau ini juga menghadirkan organisme dari dua dunia. Ikan air tawar hidup di permukaan, sedangkan ikan air laut bisa ditemukan di dasar danau.

Danau mungil ini dikelilingi hutan dan ada tebing menjulang tinggi di salah satu sisinya. Sambil berenang kami disuguhi musik hutan — suara burung dan serangga. Tak mengherankan jika danau ini diberi nama Labuan Cermin: airnya jernih sekali sampai orang bisa bercermin di atasnya. Arus di beberapa tempat cukup kuat dan mudah menyeret orang yang tak bisa berenang.

Untuk menuju tempat ini kami harus menumpang sampan nelayan dan melewati perjalanan selama 15 menit, menembus semak bakau dan hutan. Hutan itu masih dihuni aneka binatang liar seperti monyet, bekantan, berang-berang dan beruang madu.

Karena jaraknya cukup jauh dari kota, jarang atau hampir tidak ada turis yang berkunjung ke sini. Tempat ini hanya dikenal oleh orang-orang lokal dari sekitar daerah itu. Fasilitas dan prasarana pun masih seadanya. Tempat kami menginap adalah sebuah Pusat Informasi Nelayan (PIN) binaan The Nature Conservancy, lembaga pegiat pelestarian lingkungan yang mengundang saya mengunjungi tempat ini.

PIN berbentuk rumah panggung di tepi muara sebuah sungai, hanya beberapa ratus meter dari laut. Rumah itu punya semacam dermaga kecil tempat menambatkan perahu. Sungai di depan PIN berair payau. Kadar keasinannya tergantung pada pasang-surut air laut. Ketika laut surut, sungai berubah menjadi sangat jernih sehingga dasarnya dapat dilihat dengan jelas.

Dari beranda kita bisa melihat ikan berseliweran. Ada ikan yang banyak durinya, ada ikan yang menyengat dan ikan yang bertubuh pipih panjang. Tak hanya dikunjungi oleh para nelayan, PIN juga menjadi tempat berkumpul anak-anak nelayan yang hendak menonton film tentang kehidupan laut atau membaca koleksi perpustakaan.

Tak jauh dari lokasi ini, penikmat wisata juga bisa mengunjungi pantai Teluk Sulaiman, yang tak kalah indah dengan Pulau Derawan. Kawasan itu juga terus ditingkatkan fasilitasnya sebagai daerah kunjungan wisata alternatif.

%d blogger menyukai ini: